AKU DAN LAUT

1

(Ilustrasi: “Sunset View from the Bridge” by Oksana Veber)

Cerpen Agus Budiawan

BAGIKU laut adalah pelarian yang sempurna ketika aku tak bisa lagi mempercayai cinta dan persahabatan. Laut menciptakan sebuah harmoni yang tak pernah berakhir. Tapi, semakin lama aku di sini, semakin aku benci dengan diriku sendiri yang tak bisa membuangmu dari ingatanku.
Mengingatmu membuat hatiku yang mulai sedikit berbentuk, hancur kembali, seperti pasir yang berserakan dan hanyut bersama ombak yang menepi. Langit memang masih berawan dan ombak masih berbuih, tapi cinta dan persahabatan yang telah kubina sekian lama telah hancur terbentur karang.
Ingatan itu semakin brutal menyerang ketika aku berusaha untuk melupakannya. Ingatan tentang Andi, ingatan tentang Emi, silih berganti menerorku dari kesendirian yang sunyi. Mereka tak pernah memberiku kesempatan untuk memikirkan yang lain, hanya memikirkan mereka.
Andi adalah sahabatku dari kecil. Tak ada yang bisa mengerti apa yang aku rasakan melebihi dia. Bagiku dia adalah seorang sahabat yang sejati. Tapi, aku telah melakukan kesalahan karena sedikit melupakannya ketika aku bertemu Emi. Waktuku lebih banyak tersita untuk Emi, pacarku, dan hanya datang padanya ketika aku ada masalah.
“Ada apa lagi? Emi?” Tanya Andi ketika aku datang menemuinya.
“Bukan, tapi aku. Aku dan kamu. Persahabatan kita. Maafkan aku…”
“Sudahlah, cinta memang egois, teman. Aku juga pernah berada pada posisi sepertimu sekarang. Bagaimana hubunganmu dengan Emi?”
“Baik-baik saja…”
Aku tak bisa bertahan lebih lama lagi, aku pun berpamitan untuk pergi. Dan, aku telah membohongi sahabatku. Entahlah, apa dia bisa membaca mataku atau tidak, yang jelas aku belum bisa mengatakan apa-apa padanya. Hubunganku dengan Emi sebenarnya sedang tidak baik. Tapi, tak adil rasanya selalu menjadikannya sebagai pelarianku ketika ada masalah. Akupun pergi ke laut.
Sampai di tepi laut yang landai dengan pasir putih yang membentang, mataku kembali menangkap ketenangan yang abadi. Aku duduk bersandar pada sebuah pohon yang rimbun daunnya meneduhkanku dari panas yang menyengat. Udara sejuk dari samudra menerpaku, memilukan hatiku.
Emi, gadis yang aku kenal beberapa bulan yang lalu, yang kemarin masih menjadi pacarku, adalahgadis yang manis. Citra baik dan wajahnya yang cantik membuatku ingin mendapatkan hatinya. Dan setelah aku berhasil memilikinya aku dipaksa oleh keadaan untuk merelakannya menjadi milik orang lain.
Pertengkaran kecil yang sering terjadi memang telah membukakan mataku untuk bisa melihat apa yang sebenarnya apa yang ada di hatinya bahwa dia tidak mencintaiku, bahwa ada hati orang lain yang bersemayam pada sebuah ruang di hatinya.
“Ndi, apa kita harus selalu seperti ini hanya karena masalah kecil?” kata Emi.
“Ini bukan masalah kecil, Emi. Ini masalah besar. Ini masalah hati.”
“Hati?”
“Aku merasa selama ini kamu tidak cinta aku. Kamu memang ada di sini, tapi pikiranmu entah ke mana. Selalu seperti itu.”
“Kalau boleh jujur, aku memang tidak pernah cintamu. Aku juga sudah lelah…” katamya dengan membuang nafas yang dalam.
“Lalu, untuk apa hubungan ini?”
“Ucapan terima kasih untuk semua yang telah kamu lakukan untukku.”
Ya, ucapan terima kasih mungkin memang lebih pantas dia berikan untukku, bukan balasan cinta. Dan yang tak pernah bisa aku terima adalah laki-laki yang selama ini dicantai Emi adalah Andi, sahabatku sendiri. Sebab itulah, dengan perasaan hancur kutemui Andi yang tak tahu apa-apa, karena Emi belum mengungkapkannya pada Andi. Dan kini, aku berada di sini.
Kulihat kapal-kapal kecil nelayan berlayar membelah samudra. Burung-burung camar terbang dan sesekali menukik menyambar ikan-ikan kecil sebagai pelepas lapar. Bocah-bocah asik berkejaran dengan ombak. Pertunjukan ini mampu sedikit mengobati perasaanku yang kalut.
Semilir angin memejamkan mataku; bersandar pada batang pohon, beralaskan pasir putih, beratapkan rimbun dedaunan. Kurasakan kesejukan meraba seluruh tubuhku yang ringkih. Tapi, semua itu musnah katika kurasakan ada tangan memegang pundakku.
“Kita harus bicara.” Kata Andi yang kini sudah duduk di sampingku.
“Soal apa?”
“Emi.”
“Kamu sudah tahu rupanya. Aku rasa semuanya sudah jelas.”
“Aku minta maaf, aku…”
“Aku sudah tahu. Kamu tidak salah dalam hal ini. Tapi aku yang salah, memaksakan apa yang sebenarnya tidak bisa kumiliki.”
“Tapi….”
“Sudahlah. Aku yakin kamu bisa membahagiakan dia.”
Aku kemudian beranjak pergi. Tak kuhiraukan teriakan Andi yang ternyata mengikutiku dan berhasil menangkapku. Aku berontak dan tak kuasa menahan amarah, angin menuntunku mengepalkan tangan dan mengarahkannya ke wajah Andi, dia pun tersungkur di pasir.
Itulah saat terakhir aku bertemu Andi. Setelah itu dia memutuskan pergi ke seberang pulau untuk melanjutkan studinya. Sementara itu aku memutuskan pergi ke kota. Dia meninggalkan sepucuk surat untukku yang tak pernah kubuka. Sebuah perpisahan yang getir bagi dua manusia yang pernah berikrar untuk menjadi seorang sahabat sejati.
Satu tahun berselang, entah karena tidak sengaja atau sudah menjadi takdir, aku bertemu Emi. Dia terlihat semakin cantik dengan penampilannya yang sederhana. Kecantikan kembang desa alami, tanpa polesan kosmetik yang akan semakin merusak warna ayunya. Aku harap ada kabar yang aku dapat darinya; tentang hubungannya dengan Andi.
“Hi, Ndi, apa kabar?” sapa Emi.
“Baik.”
“Bagaimana denganmu?”
“Baik.”
“Bagaimana hubunganmu dengan Andi?” mendengar pertanyaanku, Emi sedikit terkejut.
“Andi belum cerita ke kamu soal ini? Dia bilang dulu sudah meninggalkan surat untukmu?” dengan tergesa-gesa segera kuambil surat dari Andi yang tak pernah kukeluarkan dari tas yang selalu kubawa.
Kubaca satu persatu tulisan dari orang yang sudah sangat aku kenal. Sebuah pengakuan yang membuatku merasa menjadi seorang sahabat yang sangat kejam. Kubaca pengakuan Andi yang memang menyukai Emi tapi mundur ketika dia tahu aku juga menyukai gadis yang sama. Kubaca pengakuan Andi yang tidak mau menerima cinta Emi dan lebih memilih mempertahankan persahabatan denganku…
“Itu benar. Selama ini kami sering berkirim surat. Tapi, aku kecewa karena setiap surat yang dia kirimkan padaku selalu menceritakan dirimu dan persahabatan kalian. Dia tidak mau hanya karena cinta, persahabatan yang selama ini dengan susah payah kalian bangun hancur begitu saja.”
Aku masih terpaku pada surat Andi, tapi pikiranku membaca hal yang lain. Membaca kenangan, membaca perjuangan, membaca kepalan tangan yang dulu pernah mendarat ke wajah sahabatku, membaca, dan membaca sampai aku lupa mana yang masih pantas aku baca selanjutnya.
“Bagaiman kabar dia sekarang? Bukankah seharusnya dia sudahberada di sini?” pertanyaanku membuat Emi mulai berkaca. Ah, siapa pun yang melihat gadis secantik dia menitihkan air mata, pasti ingin mendekapnya dan memberikan ketenangan agar gadis itu tidak pernah takut dan menitihkan air matanya lagi. Tapi,
“Seminggu yang lalu aku menerima kabar kalau besoknya dia akan pulang..” belum selesai dia berbicara, isakannya semakin dalam, aku tidak tega melihatnya, tapi aku harus tahu apa yang terjadi. Isaknya membuatku takut, pasti ada sesuatu yang menimpa Andi.
“Kapal yang dia tumpangi tenggelam..” tangis Emi semakin tak terbendung. “Dia dan penumpang lainnya sampai sekarang belum ditemukan. Semua keluarga korban pasrah mendengar konfirmasi dari tim SAR bahwa pencarian akan dihentikan karena sudah tidak ada tanda-tanda keberadaan mayat-mayat mereka.”
Kudengar kabar itu seperi halilintar yang menyambar tepat di depan daun telingaku. Hatiku semakin tak bisa aku jamah, tenggelam ke dalam kepiluan yang paling dalam, bibirku hanya bisa terkatup, dan hatiku hanya bisa berucap lirih “Maafkan aku…..”
Sejak saat itu, bagiku laut bukan hanya sekedar sebagai pelarian semata, tapi sebagai tempat penebusan dosa dan sekaligus sebagai sahabat yang mengembalikan cinta dari seseorang yang kini telah menyatu dengan samudra. Tapi, semakin lama aku di sini, semakin aku benci dengan diriku sendiri yang masih tak bisa membuangnya dari ingatanku.

Surabaya, Februari 2009

Sumber: Dipublikasikan Radar Surabaya, Minggu, 30 Agustus 2009


About this entry