DIA SI PEMULUNG

1

(Ilustrasi: “Scavengers” by Meghan Hildebrand)

Cerpen Agus Budiawan

Aku sebenarnya tidak merasakan apa-apa sebelum hari ini. Aku pikir, hari itu adalah hari jenuh yang sedang menghinggapi dia sehingga sepertinya dia tak ada gairah sedikitpun dalam hidupnya. Dia melewati sebuah gang kecil dan berlalu pergi begitu saja tanpa sedikit pun melirik pada sebuah tempat yang seharusnya dari tempat itulah, paling tidak, dia bisa mendapatkan sesuatu yang berharga bagi dirinya.
Meskipun aku tidak mengenali dia secara pribadi, tapi aku sudah tidak merasa asing dengan dia. Hampir setiap sore hari aku melihat dia menerobos gang-gang kecil di sekitar tempat tinggalku. Dari penampilannya aku langsung mengetahui kalau profesi dia adalah seorang pemulung. Tapi, aku rasa dia pemulung yang ‘istimewa’. Aku bisa mengatakan demikian karena karung yang dia bawah selalu terlihat baru: tak terlihat noda sedikitpun. Kait dari besi yang dia bawah pun masih terlihat mengkilat, tak ada tanda-tanda habis dipakai mengorek-ngorek tempat sampah.
Jika pikiran positifku yang berbicara, maka aku akan menganggap dia sebagai pemulung baru. Atau, paling tidak dia selalu mengganti karung kotornya dengan karung yang bersih. Tapi, menurutku itu sedikit tidak masuk akal. Selain aku selalu melihatnya dengan penampilan yang sama, mengganti karung setiap hari adalah pemborosan yang sangat bodoh. Dan jika pikiran negatifku yang berbicara. Maka, aku akan mengatakan kalau dia adalah maling yang berkedok sebagai pemulung. Dia berkeliling guna menakar-nakar waktu yang relatif aman untuk melancarkan niat jahatnya sekaligus menggambar tempat mana yang bisa menjadi sasaran empuk. Tapi, bukanlah hakku untuk menentukan siapa dia. Untuk saat ini biarlah aku menganggapnya sebagai pemulung yang sedang tak bergairah.
Dan sore ini, aku sengaja duduk di depan rumah menunggu dia lewat. jika dilihat dari kebiasaan, maka tak lama lagi dia akan lewat di depanku. Dan ternyata memang benar. Dari kejauhan aku melihat dia berjalan agak pelan: tak seperti biasanya. Sepertinya ada beban berat yang harus dia bawa sehingga mengurangi kelincahannya. Ketika dia semakin dekat, aku pun mempersiapkan diri untuk sekadar menyapa. Tapi kata yang sudah sampai di kerongkongan harus kutelan kembali ketika dari dekat aku melihat karung yang dia bawah sangat kotor dan menimbulkan bau yang tidak enak. Aku mulai merasakan mual yang tak tertahankan. Aku beranjak pergi dan aku melihat dia tersenyum kecil kepadaku sebelum akhirnya kututup pintu rapat-rapat.
Semalaman aku tidak bisa memejamkan mata barang semenit pun. Bau itu masih menyerang perutku sehingga mual yang mulai sedikit reda kambuh lagi. Ibu tak mencium bau apa pun ketika aku tanyakan soal bau yang membuatku tak bisa tidur itu, ibu menyarankan aku supaya memakai minyak pewangi untuk menghilangkan bau itu. Tapi percuma, bau itu semakin menyengat. Kepalaku malah ikut-ikutan pusing, mataku sedikit rabun dam setelah itu aku tak sadarkan diri sampai aku menemukan diriku sudah terbaring di kamarku pada pagi harinya. Dan aku bersyukur, kini bau itu sudah hilang sama sekali dari penciumanku.
Sore harinya, aku melihat dia lalu-lalang di sekitar rumahku. kalau tak salah hitung, dia sudah memutar sebanyak tiga kali. Aku masih trauma dengan bau itu sehingga lebih memilih tetap berada di kamar dan mengamati dia dari jendela. Aku semakin heran dengan apa yang aku lihat. Hari ini lain dari yang kemarin. Karung yang dia bawah sore ini terlihat penuh tapi masih terlihat bersih. Sebenarnya siapakah orang itu?
Pikiranku kini sedikit banyak tersita pada pemulung itu. Bukannya apa-apa, tapi ini menyangkut keamanan sekitar tempat tinggalku. Apalagi akhir-akhir ini banyak warga sekitar yang mengeluh kehilangan. Memang barang yang hilang bukan barang-barang berharga: hanya pot bunga dan barang-barang berbahan plastik lainnya. Tapi, ini sudah mencapai pada tingkat meresahkan warga. Jadi, aku sebagai orang yang diberi kepercayaan dalam hal ini harus bergerak cepat. Atau kalau tidak, laporan kehilangan akan sering terjadi.
Karena kepercayaan itulah pada sore berikutnya aku menunggu dia di bawa pohon mangga: tempat biasa dia berteduh ketika hujan maupun ketika panas yang amat sangat. Tempat itu hanya berjarak kira-kira seratus meter dari rumahku, hanya saja jalan yang aku lalui untuk mencapai tempat itu banyak belokannya. Lama aku menunggu tapi dia tak datang juga. Akupun bersiap untuk pulang dengan tangan kosong karena hari sudah mulai gelap. Tapi, ditengah jalan aku berpapasan dengan orang yang dari tadi kutunggu.
“Selamat sore, pak. Aku sudah lama menunggu bapak.”
“Menungguku?”
“Iya. Aku ingin bicara sedikit dengan bapak. Mari kita duduk di situ saja.” Kataku sambil menunjuk ke arah bangku yang tidak jauh dari tempat kami berpapasan.
Dia menurunkan karung dari pundaknya ketika aku persilahkan duduk di sampingku. Aku lihat wajahnya penuh dengan tanya tapi tetap tenang. Jika melihat sikapnya itu, aku pikir dia tak ada tampang untuk menjadi seorang pencuri berkedok pemulung. Tapi hati orang siapa yang tahu? Jika disuruh memilih lebih senang menghadapi orang yang tenang atau yang gagap, aku lebih suka memilih yang gagap.
“Maaf mengganggu pekerjaan bapak. Saya di sini mewakili warga sekitar sini untuk….”
“Aku tahu maksud saudara.” Dia memotong sebelum aku selesai menyampaikan maksudku. Baguslah kalau begitu. Berarti aku tak perlu lagi merasa bersalah harus menyatakan sekaligus menanyakan pada dia apa yang ada di dalam pikiranku: yang belum tentu benar. “Saudara ingin menanyakan soal kehilangan yang sering terjadi itu kan?”
“Maaf, pak. Saya tak bermaksud menuduh bapak. Cuma, selama ini kami hanya melihat bapak yang ada di sekitar tempat tinggal kami ini.”
“Jika aku mengaku mencuri, apa yang akan kalian lakukan terhadapku?” dia menanyakan hal yang sulit untuk aku jawab. Inilah sebabnya kenapa aku lebih suka menghadapi orang gagap daripada orang yang tenang dalam menghadapi sebuah permasalahan.
“Tentu kami akan memafkan bapak jika mau mengembalikan barang-barang yang telah bapak ambil.”
“Kalau seandainya aku mengaku tidak mengambilnya, apa yang akan kalian lakukan?”
“Kami akan mencari pelakunya.”
“Tentu kamu tahu guyonan ‘kalau maling ngaku, penjara akan penuh’ bukan? Apakah ada saksi yang melihat aku mengambil barang-barang kalian?” aku menggeleng. Memang selama ini tak ada satu pun orang yang melihat dia mengambil sesuatu dari rumah-rumah warga.
“Tentu kamu bisa bersikap bijak dalam hal ini, anak muda. Baiklah, aku mohon pamit.” Aku tertegun melihat kharismanya yang tenang. Secepat kilat aku berpikir bahwa orang tua ini tak pantas menjadi seorang pemulung apalagi sebagai pencuri. Aku kemudian berusaha agar dia tak cepat pergi. Masih ada sesuatu yang menghantuiku tentang dia. Dan, di luar dugaanku dia ternyata dengan tenang duduk kembali di sampingku.
“Ada apa lagi, anak muda?”
“Namaku Gino. Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan pada bapak.”
Dengan agak terbata-bata aku menanyakan perihal apa yang aku lihat selama ini. Tentang karungnya yang selalu baru, tentang kait besinya yang selalu mengkilap, dan tentang karung penuh muatan yang membuat perutku mual sampai pingsan tempo hari itu.
Dia hanya tersenyum kecil setelah mendengar pertanyaan-pertanyaanku itu. Dia kemudian mengambil karung di sampingnya yang tampak penuh dan memperlihatkan isinya padaku. Aku sedikit tak percaya dengan penglihatanku sendiri ketika aku melongok ke dalam karung. Apakah rasa pusing bercampur mual yang membuatku sejenak merasa rabun kambuh lagi sehingga karung yang sepertinya penuh muatan terlihat kosong?
“Kamu tidak salah lihat, anak muda.” Katanya ketika melihatku mengucek mata untuk meyakinkan penglihatanku.
“Bagaimana mungkin?”
“Aku memang pemulung. Tapi aku bukan pemulung barang-barang yang ada di tempat itu. Aku memulung barang-barang yang jauh lebih mahal dan berharga dari itu semua.
“Adakah yang lebih berharga bagi seorang pemulung melebihi itu semua?”
“Ada. Kenangan. Aku memulung kenangan yang dibuang pemiliknya begitu saja. Mereka tak pernah sadar bahwa kenangan indah atau kenangan buruk sama penting dan berharganya. Mereka seharusnya menyimpan baik-baik kenangan mereka untuk cermin di kemudian hari. Dengan kenangan buruk, paling tidak kamu mampu melihat kalau kamu pernah terjatuh dan yakin bisa lebih baik lagi. Dan akan semakin baik. Dan dengan kenangan indah, kamu bisa bercermin bahwa di tengah kesulian dan kesedihan, kamu pernah mengalami kebahagiaan. Dan dengan itu, kamu akan yakin bisa mencapainya lagi.”
“Adakah orang yang membuang kenangan indahnya?”
“Ada. kenangan indah bersama seseorang yang kamu cintai. Dengan berjalannya waktu kamu akan berusaha sekuat tenaga untuk membuangnya jauh-jauh dari ingatan kamu. Hanya karena orang yang kamu cintai kini menjadi milik orang lain.”
“Lalu yang kemarin itu?”
Mendengar pertanyaanku itu, dia tersenyum. Tapi, aku bisa melihat ada kegetiran di balik senyumnya yang lembut. Kemudian dengan perlahan dia menceritakan semuanya. Sejak pertama dia mengenal seorang gadis kemudian jatuh cinta. Cintanya disambut oleh gadis itu dan akhirnya mereka pun berikrar untuk saling setia, apa pun yang terjadi. Tapi, di tengah kebahagiaan mereka tersulut setitik api yang nantinya membesar dan membakar hati mereka. Ya, orang tua gadis itu tak pernah setuju dengan hubungan mereka dan memutuskan untuk menikahkan anak mereka dengan orang lain yang lebih berharta.
“Suatu sore kami bertemu untuk sama-sama mencari jalan keluarnya. Tapi, keinginanku untuk memiliki dia seutuhnya begitu besar. Aku tak rela dia menjadi milik orang lain.”
“Lalu?”
“Dia menyerahkan hidupnya padaku. Dan dengan tangan ini aku membunuhnya.” Aku terperanjat. Aku tak menyangka orang setenang dia adalah seorang pembunuh.
“Setiap sore aku berusaha memulung kenangan-kenangan kita yang tersebar di kompleks ini. Aku persembahkan kenangan-kenangan indah itu kepada dia sebagai hadiah. Karena aku tak pantas memilikinya. Karena itu semua terlalu berharga untuk dibuang.”
“Kemarin yang kamu lihat itulah kenangan pahit itu: hadiah yang cukup pantas untukku sendiri. Dan yang ini, kenangan indah terakhir yang aku pulung dari kompleks ini. Sekaligus hadiah terakhir yang bisa aku hadiahkan padanya.”
Otakku mendadak kosong mendengar cerita pemulung itu. Aku tak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa memandanginya ketika bangkit dari duduknya. Dia merapikan karungnya dan kemudian memanggulnya kembali. aku pun tak bisa mencegahnya lagi ketika dia beranjak pergi menjauhiku. Dari kejauhan aku terus memandangi dia yang berjalan gontai.

Surabaya, Maret 2009

Sumber: Dipublikasikan Radar Surabaya, Minggu, 29 Maret 2009


About this entry