ELEGI TAMAN KOTA

1

(Ilustrasi: “The Garden City” by Madart)

Cerpen Agus Budiawan

Kini bulan April tahun dua ribu sembilan, mendung selalu terlihat muram. Kadang ceria, tapi keceriaan yang dibuat-buat pada akhirnya akan sirna dan terlihat wajah aslinya: muram kembali. Aku masih di sini, dan mungkin akan selalu setia di sini. Membaca surat-suratmu yang seperti datang bersama angin. Aku tak pernah tahu siapa yang menaruh surat ini, di bangku taman ini. Yang aku tahu hanya ingatanku tentang kata-katamu, “Dua bulan sepeninggalku, datanglah ke sini, kan kamu temui pesanku di sini.”
Suratmu telah sampai di tanganku, surat kelima setelah kamu pergi. Dalam surat pertama sampai yang kelima selalu kau tulis tentang hari ini: tentang hari di mana kamu akan memberitahuku akan sebuah rahasia yang membuatmu harus meninggalkan aku. “Tunggulah suratku selanjutnya, kamu akan tahu semua.”
Kadang, di saat seperti ini aku menjadi sangat cengeng, bukan menangis, tapi lebih pada menyalahkan waktu. “Kenapa kau temukan aku dan dia kalau akhirnya kau pisahkan jua.” Itu membuatku menjadi sedikit melankolis, atau mungkin cenderung perengek. Menjadi dewasa terasa sangat sulit ketika dihadapkan dengan permasalahan cinta yang harus terpisah. Cinta yang tak sampai adalah perlakuan waktu yang sangat kejam. Kadang bisa membuat seseorang sampai membunuh dirinya. Tapi, aku tak sebodoh itu.
Di bangku taman inilah dulu kamu membersihkan daun-daun kering yang berserakan di atasnya agar aku bisa duduk dengan nyaman. Kamu pegang tanganku dan menuntunku untuk duduk seperti aku orang yang renta, padahal aku masih sangat kuat. Tapi aku tahu, kamu perlakukan aku seperti itu lebih karena kamu anggap aku sebagai ratumu.
“Kamu pernah ke tempat ini sebelumnya?” kamu mulai menanyakan sesuatu yang membuatku semakin merasa nyaman.
“Pernah. Dulu. Setiap hari minggu pagi ayahku mengajakku ke sini.”
“Bersama ibumu?”
“Sebelum aku bisa mengeja huruf-huruf dan munghitung angka-angka, ibuku sudah meninggal.” Mendengar jawabanku, kamu bilang maaf karena tak bermaksud membuatku sedih. Aku pun hanya tersenyum. Bukan sekadar tersenyum, tapi senyum bahagia karena perhatianmu padaku.
“Kamu tahu kenapa taman ini deberi nama Taman Bungkul? Aku pikir, nama itu sedikit menyerempet pada tempat-tempat keramat. Tapi, nyatanya tempat ini cukup indah….” kamu menanyakan sesuatu yang sebenarnya sudah menjadi rahasia umum, tapi mengingat kamu bukan asli Surabaya aku menjadi maklum. Kemudian aku ceritakan sedikit tentang asal muasal nama taman ini dan kamu pun mengangguk hikmat sedang matamu tak pernah lepas memandangi wajahku. Aku tak perduli apakah kamu serius mendengarkan ceritaku atau hanya ingin melihatku dari dekat, yang pasti aku bahagia diperhatikan olehmu.
Aku tak akan pernah lupa waktu itu; waktu pertama kali kamu mengajakku jalan. Sebuah kesederhanaan yang kadang bisa mengalahkan kemewahan dengan telak. Duduk di bangku taman dengan menikmati satu botol minuman segar dikelilingi lampu-lampu berwarna keemasan. Jika melihat ke arah jalan, banyak lalu-lalang kendaraan dengan lampu menyala berkejaran. Sepertinya biasa saja, tapi bagi orang yang sedang memadu kasih segalanya akan tampak menjadi lebih indah.
Tapi, keindahan yang dulu tak berlaku lagi sekarang. Keindahan itu kini murni hanya menjadi milik kenangan. Kamu pergi tanpa penjelasan, dan aku tunggu penjelasanmu, di sini. Telah kutunaikan pesanmu yang sudah berkali-kali kau tuturkan dalam surat-suratmu. Di bangku taman ini. Aku harap suratmu yang terakhir ini tidak datang bersama angin. Tapi, datang bersama wujud nyatamu yang telah lama hilang dari pandanganku.
Hampir habis kesabaranku menunggu suratmu yang tak kungjung datang sebelum akhirnya seseorang menghampiriku. Kamu pasti tahu, di kota besar seperti ini tak sedikit orang yang berniat jahat. Apa lagi waktu semakin larut dan taman mulai sepi. Dulu kamu selalu menghawatirkan aku ketika harus pergi sendiri. Tapi, kekhawatiranmu kini tak ada lagi. Kamu tega membiarkan aku menunggumu sampai selarut ini sampai laki-laki ini menghampiriku.
“Nona yang bernama Nora?” aku sedikit gemetar. Tapi sebisa mungkin aku tetap tenang dan mengangguk.
“Ada surat buat nona.” Dia mengambil sesuatu dari balik jaketnya dan memberikannya padaku. Aku kegirangan, apa yang aku tunggu akhirnya datang juga. Karena terlalu sibuk dengan kelegaanku, aku tak menyadari kalau orang itu sudah angkat kaki dan hilang di antara kelengangan taman yang semakin sepi.
Aku terpaku membaca suratmu. Aku tak tahu haruskah aku menangis, menjerit, sedih, bahagia, marah, atau justru malah berterima kasih.

****
Aku tak tahu harus memulainya dari mana, karena bagiku, hari ketika aku bersamamu adalah hari yang paling indah dan terlalu singkat untuk dilewati. Mencintaimu menjadikan aku semakin optimis menjalani hidup. Tapi, lama-lama aku sadar, akan ada hati lain yang aku sakiti jika aku pergi. Tapi, aku tak bisa berbuat apa-apa.
Aku tak akan pernah lupa pertama kali kita jalan. Di sebuah taman yang aku yakin sekarang kamu pun ada di situ. Aku singkirkan daun-daun kering yang berserakan di atas bangku dan menuntun tanganmu untuk duduk sebagai ratuku. Sangat sederhana: hanya ada lampu taman dan sebotol minuman dingin. Tapi, itulah keindahan yang aku peroleh dari kesederhanaanmu.
Aku merasa bersalah telah meninggalkanmu dengan beribu pertanyaan yang tak akan pernah bisa kamu jawab satu pun. Jangan gelisah, surat ini akan memberitahu semuanya kepadamu. Tentang aku yang telah lama sakit, tentang harapan yang semakin surut, tentang kamu yang kemudian datang memberikan semangat baru untuk tetap tegar menjalani hidup yang singkat, dan juga tentang kepergianku yang tiba-tiba.
Aku terlahir sebagai anak terakhir dari empat bersaudara. Mungkin nasibku sedikit sama denganmu: ibuku meninggal setelah melahirkan aku. Tinggal ayahku sendiri yang harus membesarkan aku dan saudara-saudaraku. Ketika kami semua beranjak remaja, satu persatu saudara-saudaraku meninggal. Kakak pertamaku pergi lebih dulu, lalu kakak ketiga, dan kemudian kakak keduaku. Mereka bukan meninggal karena kecelakaan atau karena ayahku tak sanggup memberi mereka makan. Tapi, mereka mewarisi penyakit mematikan yang konon katanya berasal dari kakek buyutku. Ayahku tak bisa menerima kepergian mereka satu persatu. Ayahku pun akhirnya gila dan dua bulan kemudian dia ditemukan oleh perawat mati gantung diri di kamarnya.
Kamu tentu ingat pertama kali kita bertemu dulu. Di sebuah jembatan penyebrangan. Waktu itu penyakitku sedang kambuh, sangat menyakitkan. Aku ke tempat itu untuk menghilangkan rasa sakitku; loncat dari jembatan dan berharap ada mobil yang melindasku dan mati seketika tanpa harus merasakan sakit yang amat sangat lebih lama lagi. Tapi, ketika kamu menyapaku, aku merasa kamu adalah malaikat yang diutus Tuhan untuk menyelamatkan aku.
Semakin hari, kita semakin tak terpisahkan, hati kita seperti telah terikat dengan benang yang kuat. Semangatku untuk hidup kembali pulih, karena kini aku hidup bukan hanya untukku sendiri, melainkan aku juga hidup untuk kamu.
Aku memang sengaja tak memberitahukan ini padamu, bukan karena aku tak jujur, tapi lebih karena takut kamu akan pergi dariku. Memang aku egois, tapi bukankah cinta memang egois? Itu juga yang aku lakukan ketika memaksa merekam setiap senyummu dan tak pernah mengizinkanmu ketika akan merekam senyumku. “Kamu egois!” rengekmu menja. Mungkin itu kamu anggap tak berguna, tapi bagiku itu sangat berguna.
Sangat berat mengambil keputusan ini, tapi aku harus pergi. Aku merasakan tubuhku sudah hampir kalah oleh penyakit ini. Dan sekarang aku sudah berada di sebuah tempat di mana kita belum pernah menjamahnya. Di sini aku bisa melihat gunung dari dekat. Melihat pohon-pohon pinus yang gagah berdiri. Melihat air kali yang bening serta mendengarkan gemericiknya. Ini semua menjadikan dingin yang menggigilkan tubuhku terasa sedikit hangat.
Aku pernah memiliki keinginan untuk mengajakmu ke kebun teh, tentu kamu masih ingat bukan? Melihat hamparan kebun teh yang hijau di tanah yang berbukit-bukit, sangat indah. Tapi maaf, sepertinya keinginanku tak akan pernah bisa menjadi nyata. Aku hanya mampu ke tempat ini, tanpamu. Bukan untuk menghabiskan waktu luang atau bahkan bersenang-senang. Tapi, untuk mencari tempat terindah untuk menunggu malaikat maut menjemputku.
Aku bawa bersamaku rekaman senyummu, karena aku sengaja merekamnya untuk saat seperti ini. Aku tak mau melihatmu menangis. Dan ketika aku tulis surat ini, aku masih melihat senyummu sampai aku menyerahkannya pada seseorang yang akan mengantarkannya padamu. Aku tak tahu apakah ketika surat itu sampai padamu aku masih bisa melihat senyummu. Hanya yang aku tahu, aku akan pergi dengan bahagia bersama senyummu.

*****
Aku masih terpaku membaca suratmu. Aku tak tahu haruskah aku menangis, menjerit, sedih, bahagia, marah, atau justru malah berterima kasih. Aku merasakan ada cairan yang meleleh di mataku dan kemudian membanjiri pipiku. Aku mulai beranjak pergi menerobos kelengangan taman kenangan sedirian sebelum akhirnya hujan yang mulai turun menemani langkahku.

(Surabaya, 29 April 2009)

Sumber: Dipublikasikan Radar Surabaya, Minggu 25 Oktober 2009


About this entry