MAKAM PAHLAWAN

1

(Ilustrasi: “Morris Graves and His Birds” by Terry Grant)

Cerpen Agus Budiawan

TUBUHNYA sudah sedikit membungkuk, rambutnya sudah jarang dan beruban, matanya sudah rabun, bentuk tulang-tulangnya terlihat begitu jelas dibalik kulit keriputnya, langkahnya sedikit terseok-seok dan efek lain dari ketuaan tak mampu menghentikan kebiasaannya saat pagi datang. Sebelum embun benar-benar kering disapu sinar matahari, dia tak pernah alpa mendatangi sebuah tanah lapang di belakang sebuah pabrik gula yang ditumbuhi rumput ilalang setinggi dada orang dewasa.

Dia selalu datang dengan mengenakan pakaian rapi, berdiri di seberang jalan yang membelah tanah lapang dengan ladang penduduk. Dia mengangkat tangan kanannya tepat di atas pelipisnya sehingga membentuk posisi penghormatan. Karena bajunya kedodoran, siluet tubuhnya tampak seperti ranting kering yang ditiup angin. Dia akan betah berlama-lama memandang seluruh tanah lapang: sejauh mata memandang. Seketika itu matanya berkaca.

Ketika sinar matahari mulai menyengat, dia akan meninggalkan tempat itu dan kembali ke gubugnya yang berdiri di sepetak tanah di ujung pertigaan desa: jalan desa paling luar. Tak banyak lagi orang yang mengenal dia. Orang-orang hanya tahu sedikit tentang dia: dia sedikit tak waras!

Begitulah. Warga desa mulai mengasingkan dia. Dia tak pernah diikutsertakan dalam setiap kegiatan desa. Saat ada bantuan sembako dari pemerintah pun dia tak masuk dalam daftar orang yang menerima bantuan itu. Entah bagaimana dia bisa bertahan hidup sampai sekarang. Padahal, banyak orang yang tahu dia tak punya pekerjaan.

Keesokan harinya, di tengah jalan sebelum kembali ke gubugnya, dia menyempatkan diri singgah ke warung di pinggir jalan.

“Mau beli apa?” Tanya penjual dengan ketus.

“Cuma mau numpang ngadem, neng.” Katanya sambil mencari tempat duduk paling ujung.

Menyadari ada yang datang para pelanggan yang tadi sedang asik membicarakan sesuatu hal kini diam, sedikit menggeser tempat duduk mereka menjauhi dia. Dia mencoba menajamkan indera pendengarannya. Mungkin dia bisa menangkap pembicaraan mereka lagi: yang memaksanya untuk bertandang. Tapi telinganya tetap hanya mendengar desiran angin.

Dia bergeming. Menunggu mereka menunjukkan belangnya sangat mudah. Tetap di situ. Tetap tenang. Dan mereka tidak akan kuat menahan pembicaraan lebih lama lagi.

“Kek, boleh saya tanya sesuatu?” kata seseorang yang bertopi, memberanikan diri. Dia hanya mengangguk kecil.

“Apa yang anda lakukan di sana?” katanya sambil menunjuk ke arah tanah lapang itu.

“Menghormati para pahlawan.” Dia menjawab dengan mantap.

Mendengar jawaban itu mereka saling berpandangan satu sama lain. “Menghormati para pahlawan?” Tanya seseorang yang berkacamata kemudian.

Dia geram mendengar pertanyaan itu. Dia merasa dilecehkan sebagai salah seorang pejuang. Dia kemudian menjawab dengan mengajukan beberapa pertanyaan. “Siapa nama ibu dan bapakmu? Siapa nama kakek dan nenekmu?” matanya mengarah tajam pada seseorang yang berkacamata. Dia menjawab dengan lancar pertanyaan-pertanyaan itu.

“Kamu salah satu pemilik saham di pabrik gula itu?”

“Bagaimana anda tahu?”

“Aku tahu siapa kakekmu.” seseorang yang berkacamata menekuk dahi, tak percaya.

“Anda kenal kakekku?”

“Aku kenal dengan baik siapa dia!”

Dia kemudian menceritakan hubungannya dengan kakek seseorang yang berkacamata tadi. Sekitar tahun 50-an, mereka adalah partner yang cukup kompak, baik dalam bekerja maupun berjuang. Mereka sama-sama bekerja sebagai buruh di pabrik gula yang sampai sekarang masih berdiri di sana itu.

Dia dan ribuan orang berjuang untuk menyingkirkan batu-batu sisa kolonial yang masih duduk di kursi-kursi penting perusahaan. Tak lama, akhirnya batu-batu itu berhasil dilempar jauh-jauh. Menjadi mandiri memang tak mudah, tapi, toh, akhirnya perusahaan dapat berjalan dengan stabil. Tapi, pada tahun 60-an ke atas negara mulai tidak stabil, yang secara tak langsung sangat berpengaruh pada perusahaan. Puncaknya pada tahun 1965. Banyak buruh di-PHK dan banyak juga yang menjadi target operasi keamanan

Di tengah pemecatan besar-besaran itu, kakek seseorang yang berkacamata itu malah naik pangkat. Karena kecewa, akhirnya mereka yang di-PHK melakukan perlawanan terus menerus, menuntut hak-hak mereka yang belum dibayar. Selama itu pula banyak buruh yang ditangkap dan dijebloskan dalam kerangkeng. Tak sedikit pula orang-orang yang tak diketahui lagi nasibnya. Dia sendiri, yang dianggap sebagai penggerak kaum buruh, menjadi target utama penangkapan.

“Bagaimana kelanjutannya?” Tanya seseorang yang berkumis. Penasaran.

“Akhirnya aku tertangkap di rumah kakekmu.” katanya sambil menunjuk seseorang yang berkacamata. “Bukannya perlindungan yang aku dapat dari sahabatku itu. Tapi sebaliknya.”

Dia kemudian melanjutkan ceritanya. Selama itu banyak buruh yang meninggal karena kelaparan. Sementara itu, demi perjuangan ini dia tetap berusaha untuk bertahan hidup. Dan bagi yang masih hidup bertanggung jawab untuk mengurus sediri pemakaman teman-temannya.

“Dengan tangan ini aku menggali dan kemudian menimbun tubuh-tubuh yang meninggal sebagai seorang pahlawan di tempat itu.” Katanya sambil mengangkat kedua tangannya. Sementara itu air mata mulai menggenangi matanya yang memerah. Seketika itu semua diam. Sepi.

“Bagaimana anda bisa bebas seperti sekarang?” Tanya seseorang yang berambut panjang kemudian.

“Beberapa bisa bebas setelah keamanan aman terkendali.”

“Yang lainnya?”

“Yang lain tak pernah diketahui lagi rimbanya.”

“Apa yang anda lakukan setelah bebas?” Tanya seseorang yang botak.

“Mulai menjalani hidup lagi dari nol.”

“Lalu apa yang didapat oleh mereka yang telah mati?” Tanya seseorang yang berkumis.

“Jangan kau pakai kata ‘mati’ untuk mereka. Kata itu hanya pantas disematkan pada para pecundang dan penjilat yang demi secuil kekuasaan bisa melakukan apa saja, seperti kakekmu!” katanya berapi-api dan menatap tajam pada seseorang yang berkacamata ketika mengucapkan dua kata yang terakhir.

Seseorang yang berkacamata hampir saja naik pitam dan memukul kakek itu kalua saja seseorang yang berkumis tak segera mencegahnya. “Jangan kamu ambil hati ucapan orang gila itu. Dengarkan saja, hitung-hitung biar warung ini tidak sepi.” Bisiknya, sangat pelan. Kata-kata kakek itu seperti tamparan baginya, tapi, benar juga, tak ada gunanya menghajar orang gila macam kakek reot itu.

“Seharusnya mereka mendapat penghormatan ya, kek?” kata seseorang yang berkacamata sambil mengedipkan mata kirinya kepada seseorang yang berkumis.

“Benar. Mereka seharusnya mendapat penghormatan yang tinggi. Tapi, sayang mereka tidak mendapatkan sesuatu yang semestinya mereka dapatkan.”

Kemudian dia mengeluh kalau sudah beberapa kali dia mendatangi rumah kepala desa, meminta agar tempat itu dibersihkan dari tumbuhan liar. Dia juga meminta agar di depan tempat itu didirikan plang bertuliskan “MAKAM PAHLAWAN” sebagai sedikit bentuk penghormatan. Tapi, permintaannya itu hanya dianggap sebagai angin lalu semata.

Pernah juga dia mengirim surat kepada presiden agar tempat itu dijadikan sebagai salah satu tempat bersejarah, karena di tempat itu telah tertimbun beribu-ribu kerangka para pejuang. Tapi dia tak pernah mendapatkan satu pun balasan dari puluhan surat yang sudah dia kirim.

Sempat dia berpikir untuk membersihkan sendiri tempat itu, tapi bagaimana mungkin dia mampu? Sempat juga beberapa kali dia membuat plang seadanya dengan tulisan yang hampir tak terbaca. Tapi, keesokan harinya, dia tak menemukan lagi plang itu. Hilang tak bersisa.

Dia berpikir berkali-kali. Dia memaksa pikirannya bahwa nama tidak begitu penting lagi baginya: juga bagi mereka; para pahlawan. Yang mereka inginkan hanya sekedar penghormatan dari kita, yang dapat menikmati ketentraman ini dengan cuma-cuma.

Tapi itu beberapa waktu yang lalu, ketika tak ada satu orang pun yang mau mendengar cerita dan kelu-kesanya. Kini, setelah bercerita panjang lebar di warung itu, semangatnya kembali berkobar. Nama dan titel menjadi sangat penting, dan harus dia perjuangkan demi menghormati jasa-jasa mereka. Dia merasa memperoleh dukungan dari mereka: orang-orang yang dari tadi mendengarkan ceritanya; atau malah tidak perduli sama sekali?

“Maukah kalian membantuku?”

“Membantu apa, kek?”

“Membersihkan tempat itu.” katanya, disertai dengan senyum lebar. Matanya berbinar. “Sekalian mendirikan plang nama di depannya.” Lanjutnya.

Mereka mengangguk pelan sambil tersenyum kecil, tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Dia girang bukan main melihat anggukan kecil itu. Dia berdiri dari tempat duduknya, sedikit meloncat-loncat, dan kemudian berlalu pergi meninggalkan warung itu.

Dia berlari agak terseok-seok menuju tanah lapang itu. Dia ingin mengabarkan berita gembira kepada rekan-rekan seperjuangannya. “Kalian akan dikenang banyak orang sebagai pahlawan!” Mungkin kata-kata itulah yang ingin dia sampaikan kepada mereka.

Setelah tubuh kakek itu tak terlihat lagi. Orang-orang di warung tadi memulai lagi pembicaraan mereka. “Makam Pahlawan??” kata seseorang yang berkacamata, memulai pembicaraan. Mereka semua kemudian tertawa sekeras-kerasnya sambil memegangi perut.

Sementara itu, di bawah terik matahari yang menyengat: di seberang jalan yang membelah tanah lapang dengan ladang penduduk. Dia kembali mengangkat tangan kanannya tepat di atas pelipisnya sehingga membentuk posisi penghormatan.

Surabaya, 25 November 2008

Sumber: Dipublikasikan Radar Surabaya. Minggu, 15 Februari 2009


About this entry