Cak Die Rezim

cover jadi smalll sOleh: nGa
Pengantar Jurnal Komunitas CDR Surabaya, “Gugatan Para Pengigau” 2009.

I_Catatan Kecil: Saya

Om Swastyastu
“Siluman: ada tetapi tidak ada; terdeteksi tetapi keberadaannya tidak dapat diketahui; nyata tetapi bukan berarti eksis.”
Begitu kira-kira interpretasi awal saya atas komunitas Cak Die Rezim (CDR). Komunitas ini sebenarnya komunitas maya yang berdiri atas dasar kebutuhan media massa. Komunitas jadi-jadian; wadah untuk tampil gagah-gagahan. Penambah biodata agar kapabilitas terkesan tidak meragukan. Tanpa ada perkumpulan formal, tidak ada kongkow-kongkow, atau dalam istilah anak sekarang: “tidak gaul”. Singkatnya, CDR sebagai komunitas maya mencoba dihadirkan secara elegan, tanpa harus merendahkan diri, dan dimaksudkan sebagai kebutuhan beradaptasi pada kekuatan otoritas media massa. Itu saja.

Sejarah Cak Die Rezim (CDR) secara manasuka dinamai menurut pertimbangan lidah dan pusar. Tanpa melalui proses kinerja otak sebagaimana orang tua menamai anaknya. Artinya, memang tidak ada muatan apa pun atau arti filosofis tersendiri dengan nama itu. Kata “Cak Die” diberikan dari sebuah nama warung kopi di mana pertama kali komunitas maya itu digagas. Sedangkan, kata “Rezim” menjadi kata pelumas dari kata sebelumnya—Cak Die—agar mudah diingat dan diucapkan. Lubrikasi tersebut membantu melicinkan penyebutan “Cak Die Rezim” agar mendekati kata yang sudah dikenal oleh masyarakat umum: Cak Durasim. Meskipun terkesan tidak kreatif, bersifat benalu, dan ndompleng nama besar, tetapi bukankah hal itu justru menjadi Point plus untuk sebuah komunitas maya? Para penggagas CDR tidak pernah malu karena mereka tahu tidak ada larangan menggunakan nama yang hampir serupa. Lagipula Teori Ekonomi Pemasaran justru menganjurkan teknik-teknik penamaan (naming) seperti itu [baca: Dr. H.J. v.d. Schroeff dan Drs. A. TH. De Lange, 1967, saduran atau terjemahan Drs. Oei Bien Gan (bila percaya)].
Seiring dengan terbangunnya hubungan kekerabatan antar-pengguna fasilitas CDR yang semakin intens, celetukan-celetukan pun terasa serius. Keisengan untuk mengkonkretkan komunitas maya ini pun kadang-kadang mencuat di tengah-tengah percakapan, tersirat di persimpangan lanturan yang urakan, dan menjelajah di antara gelaran tikar yang setiap malam selalu dipenuhi dengan satu jenis minuman pahit dalam gelas masing-masing. Anehnya, alam seperti menghendaki celetukan sederhana itu meningkatkan tensi tiap jam 12 malam, hingga menyentuh titik kulminasi, yang pada akhirnya mereka sendiri tidak sadar sudah terlibat serius di dalamnya. Mereka yang terlibat tidak pernah sedikit pun membatasi perdebatan. Mereka juga membiarkan dialektika menyimpulkan carut-marut percakapan mereka. Dari pengamatan seperti itu, pada akhirnya saya menjadi tahu, klimaks percakapan mereka tidak jauh dengan hukum kausalitas. Mereka percaya bahwa menanam bibit baik akan menghasilkan buah yang baik pula. Dan, kesepakatan untuk mengkonkretkan CDR, mereka yakini merupakan bibit unggul yang siap ditabur, ditebar dalam tabir. Barangkali.
Barangkali saya patut berterima kasih kepada arek-arek yang memberi kepercayaan kepada saya untuk merangkum profile CDR ini. Saya tahu menerima tawaran itu berarti membawa konsekuensi yang sangat berat di tas ransel yang akan saya bawa pulang. Saya menerima mandat ini bukan karena saya merupakan salah satu orang yang tahu seluk-beluk sejarah CDR. Bukan itu. Saya hanya bermaksud menyambut niat baik arek-arek yang hendak menyalurkan jiwa berkesenian dalam wadah CDR. Oleh sebab itu, sebisa mungkin tulisan ini akan saya jadikan pondasi awal untuk membangun rumah besar CDR. Rumah yang membebaskan, sembarangan, tanpa aturan, berani mengekspresikan keliaran, urakan, tetapi yang tetap harus punya sikap. Rumah ini rumah tanpa pretensi politis, dalam tataran idealisme semua harus pure art, tapi dalam realitasnya boleh disublimkan pada aspek komersial.
Saya yakin memperkenalkan suatu kebaruan merupakan tugas yang berat. Saya tidak yakin bisa mengkonkretkan komunitas ini tanpa bantuan arek-arek yang mempunyai visi sama. Sebenarnya untuk memperkenalkan suatu kebaruan dibutuhkan waktu yang lama, tidak instan. Sejarah telah mencatat bahwa mayoritas orang berotak besar saja; seperti filosof, ilmuwan, dan analis, kurang-lebih memerlukan tiga per-empat kehidupannya untuk mengutarakan ide-ide cemerlang, orisinal, dan otentik. Apalagi bila diketahui sebenarnya waktu tiga per-empat usia mereka itu hanya sekadar digunakan untuk menata jalur keluar-masuk rongga pernafasan agar dapat terlihat tenang, tanpa dibuat-buat ketika mereka akan menyampaikan gagasan kepada khalayak luas.
Seorang pemberontak juga mengalami hal yang sama ketika keadaan lingkungan sosial sekitarnya meminta dia bertindak secara riil untuk mengubah sistem yang telah mapan (topia); sistem yang dianggap telah merugikan kepentingan umum. Mereka, sang Revolusioner itu, membutuhkan waktu lama untuk membentuk sistem sosial baru yang lebih baik. Mereka akan menghabiskan waktu untuk mempelajari medan, memahami karakteristik lawan, mengenali kekuatan diri sendiri, mempercayai kekuatan takdir (Tuhan, alam, dan sejarah), bahkan butuh waktu lama untuk menyelesaikan perdebatan (dari dalam maupun kontak dari luar) ketika berada di garis batas akhir: “harus bergerak atau duduk manis sebagai umat; penganut sistem yang baik”.
Di samping itu, sifat kebaruan yang membutuhkan waktu lama tertera dalam simfoni gerak alam. Hukum langit telah menakdirkan bahwa rentang waktu turunnya kabar kebenaran untuk memperbarui jalan kehidupan para umat manusia terjadi berabad-abad lamanya. Persoalan ini sudah jelas dan dapat diakses lebih akurat dalam roh sejarah, jadi saya tidak perlu berlarat-larat tentang hal ini di sini.
Saya tidak bermaksud menyamakan diri dengan mereka. Saya hanya ingin mengungkapkan bahwa persoalan kebaruan merupakan masalah rumit dan berat. Saya tidak mungkin mengorbankan sebagian besar waktu saya hanya untuk menciptakan kebaruan. Mustahil. Saya sudah cukup nyaman dengan keadaan sekarang. Semua sudah siap tersedia. Bagi saya, tidak ada yang perlu dikurangi maupun ditambah-tambahi. Tiap kali mengingat beban tugas, jiwa kekanak-kanakan saya terus-menerus berteriak: ada permainan lebih menarik daripada sekadar persoalan memperkenalkan CDR. Akan tetapi, saya harus tetap bertanggung jawab pada apa yang telah diputuskan secara bersama.
Sales Marketing. Saya justru mengidentifikasikan diri dengan seorang Sales Marketing. Atau lebih tepatnya, Sales Marketing Spesial. Disebut Spesial karena saya bekerja pada perusahaan yang baru berdiri. Perusahaan yang belum dikenal, masalah kualitas masih dipertanyakan, dan ketahanannya belum teruji seutuhnya. Keberadaan saya sebagai sales memang dapat menunjang kemajuan suatu perusahaan. Asalkan saya mempunyai strategi jitu agar dapat membawa perkembangan perusahaan baru ini bertahan sampai kurun waktu bertahun-tahun lamanya. Sales Spesial seperti saya tidak perlu menjual produk, tetapi cukup memfamiliarisasikan nama perusahaan. Saya hanya perlu menyampaikan kalimat sakti kepada orang; seperti: “Apa pun produknya, barang baru pasti bernilai jual lebih mahal dibandingkan barang second.”, atau “Jangan terima bila segel rusak.” Selesai sudah satu masalah.
Setelah mengucapkan kalimat sakti itu, lantas saya akan berdoa minta agar dalam sekejap saya segera terkena amnesia. Lupa ingatan. Dengan begitu, saya berharap semua orang berupaya mengingatkan saya kembali bahwa komunitas baru CDR masih menjadi tanggung jawab saya. Salah satu cara untuk mengembalikan beberapa ingatan saya, mereka akan menyusun tiap kata yang dulu pernah saya sampaikan untuk memperkenalkan komunitas baru—CDR—ini. Mereka akan mencoba mengingatkan saya pada setiap detail kata seperti: “Apa pun produknya, barang baru pasti bernilai jual lebih mahal dibandingkan barang second.”, atau “Jangan terima bila segel rusak.”, hingga mereka yang berusaha menyembuhkan saya dari penyakit amnesia mengerti sendiri bahwa CDR itu barang baru. Barang baru pasti bernilai……
Keseluruhan kejadian tersebut pernah bergerak bebas menjadi kehidupan dalam ratusan urat syaraf otak saya. Kehidupan yang tak kasat mata. Saya tidak tahu kalau gesture tubuh saya sangat responsif dengan kehidupan dalam tersebut. Segala tindak tanduk saya bergerak menurut aturan irama tempo yang sangat cepat. Ketika itu saya masih merasa wajar-wajar saja karena saya tidak pernah meragukan kepandaian organ tubuh dalam menetralisir ancaman-ancaman. Tapi sepandai-pandainya tubuh menutup kegelisahan, ternyata para aktor psikoanalisa masih sanggup memaknainya. Seorang teman berkelakar mengingatkan, “Cak, Perempuan memang seperti itu. Menggelisahkan.” Saya bingung; bukan bingung karena ternyata ada yang tahu saya sedang gelisah, tetapi saya bingung; saya sebenarnya sedang berhadapan dengan siapa: orang pintar atau paranormal’kah? Perempuan memang cukup menggelisahkan, tetapi saya tidak pernah menggaris-bawahi perempuan-nya melainkan kata menggelisahkan-nya. Dengan perkataan lain, arek-arek sepertinya sudah tahu bahwa saya sedang menggelisahkan sesuatu.
Saya nyruput kopi mencoba memburamkan bayang-bayang peristiwa kronologis yang terjadi dalam benak. Jika tidak bisa menghilangkan bayang-bayang yang semakin nyata itu, setidaknya saya bisa mengacak-acak susunan kronologis kejadiannya. Akan tetapi pekatnya kopi malah membuat bayang-bayang semakin melekat erat. Kegelisahan pun kian menjadi-jadi. Saya melihat arek-arek masih asyik meneguk ampas CDR dalam kopi. Memprediksi kadar manis dalam kepahitan. Raut mereka seperti bayi, tak berdosa, Innocent, dan seolah semua baik-baik saja. Padahal di hadapannya ada seseorang yang cemas memikirkan harga untuk membesarkan dan membenarkan senyum jabang bayi di kemudian hari.
Daripada kegelisahan ini mengejawantah menjadi keringat panas-dingin, mending saya tuangkan dalam secarik kertas. Dan, beginilah hasilnya: menjadi kata pengantar pertama dalam jurnal CDR. Unsur elementer yang terlalu naif, sangat subjektif, dan tidak objektif menempatkan tulisan ini tidak diperuntukkan pada kalangan serius: profesor dan kritikus. Bukan membatasi diri, tetapi catatan kecil ini memang belum mengandaikan hadirnya pembaca.
Sejauh ini saya masih belum memperkenalkan CDR, saya hanya mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran saya. Dengan perkataan lain, saya masih menceritakan diri saya sendiri. Oleh karena itu, selanjutnya saya akan mengubah sudut pandang dengan mengatas-namakan “kami”. Selain karena alasan pereduksian unsur personal, juga karena saya takut kebiasaan terbata-bata saya menghambat apa yang hendak saya sampaikan. Taruhlah, saya…(terbata-bata) ng….(sedang memikirkan predikat untuk saya). Saya… ng…. Sayang. Di Betawi obrolan terbata-bata seperti itu pasti mengundang cemoohan: Kenalan aje belon udah panggil sayang-sayang. Siape sih lu? Di Surabaya pasti lebih bernada sarkas: Sayang, sayang. Opo ndasmu jaluk diberang ta? Maka dari itu untuk menghindari kecelakaan di jalan raya, saya akan meninggalkan diri di sini dan selamat bertemu dengan kami.

Om Shanti Shanti Om

II_Berkas: Bercak Memoar Kami

Salam Budaya
Di sini, kami tidak sedang bicara hebat tentang makrokosmos, kami juga malas membahas dunia yang tidak pernah lelah memungut puing-puing sejarah, kami tidak pernah membeberkan tanggung jawab moral untuk negara, kami tidak ingin terjebak pula dalam paham kedaerahan yang sempit, kami tidak hendak memahami bahwa masing-masing kehidupan manusia pasti menganut salah satu ideologi yang pernah tersingkap, dan kami selalu lupa mempertimbangkan keseimbangan (equilibrium) antara kewajiban yang telah kami lakukan dengan hak yang kami terima. Kami memang sengaja tidak menaruh porsi itu di sela-sela percakapan kami, tetapi bukan berarti kami mati rasa, atau mencoba bersikap apatis dengan segala keruwetan menahun itu. Sewaktu-waktu kami akan menyinggung hal itu tetapi tentunya tidak sekarang. Sebab, kami hanya segelintir orang iseng yang kebetulan baru bertemu di sebuah warung sederhana—yang tidak mungkin langsung membicarakan hal sebesar itu. Lagipula menurut hasil kesepakatan bersama, kali ini kami hanya boleh mengutarakan terlebih dahulu keberadaan komunitas Cak Die Rezim—CDR; tanpa “neko-neko”.
“Pagupon omahe dara, melok nippon tambah sara.” (Cak Durasim)
Seperti halnya hubungan kedekatan nama yang hampir serupa antara Cak Die Rezim dan Cak Durasim, prinsip kami pun selaras dengan ungkapan Cak Durasim. Kami telah menggaris-bawahi kesesuaian prinsip CDR dengan ungkapan Cak Durasim tersebut. Oleh sebab itu, kami yakin rencana awal CDR untuk ‘mengada’ eksis secara mandiri merupakan hal yang tidak mungkin tertangguhkan lagi. CDR pasti menjadi komunitas baru di tengah-tengah hiruk-pikuk parade komunitas yang lain.
Kami tidak ingin mengambil jalan pintas mencari nama besar pribadi melalui perkumpulan yang sudah terakui. Kami ingin belajar dari awal. Berkembang bersama dalam proses. Atau mungkin kami hanya ingin melepas naluri yang selalu ingin bebas; tidak ingin menyerahkan diri pada kesengsaraan (sara); tidak ingin mengikuti (melok) arus yang dikembangkan oleh komunitas-komunitas yang telah mendahului kami. Kami akan terus mencoba menentukan gerak bebas menurut kehendak kami sendiri. Sebab, sudah saatnya bagi kami untuk mengoptimalkan segala perasaan yang kami punyai. Perasaan yang digunakan mulai awal sampai akhir untuk menikmati kejatuhan, meratapi kegemilangan, dan menggilai masa kegamangan bersama komunitas baru CDR ini.
Kami tidak akan menebar ancaman. Kami sahabat masyarakat seperti halnya aparat. Menurut pandangan hukum perundang-undangan, jika kelak ada perselisihan antar-komunitas, hal itu hanya ulah oknum yang tidak bertanggung jawab. Catat. Sebatas oknum tak bertanggung jawab. Anggota kami tidak lebih dari jari-jari tangan dan kaki, jadi tidak mungkin kami bertindak anarki. Prespektif kami: daripada mengungkapkan kebencian dengan bertindak anarki, lebih baik kami menikmati kopi Cak Die. Sebab kami mengerti apa pun yang kami benci bila sudah waktunya nanti pasti akan mati-mati sendiri. Bukankah tidak baik mengotori tangan tanpa menghasilkan satu pun hasta karya? Selain itu, kami juga tidak akan meraih simpati. Siapa pun yang suka dengan cara kami mari bergabung bersama kami. Jika tidak berkenan dengan cara kami menikmati kopi di Cak Die, kami harap kita jangan saling memusuhi.
Seiring dengan terbentuknya nama CDR, sepatutnya kami harus menciptakan kualitas nilai filosofi tentang nama CDR. Dasar muatan yang kuat akan menentukan jalan terbaik selanjutnya. Akan tetapi, kami tidak mungkin mengkhianati diri kami sendiri. Sedari dulu CDR memang tidak mempunyai falsafah tersendiri. Kami tidak akan mengada-ada tentang hal ini. Jika komunitas maya CDR terbentuk oleh faktor kebetulan, maka cukup begitu kebenaran yang akan kami laporkan; tanpa harus diembel-embeli apa pun. Kami takut sesuatu yang diawali dengan pengkhianatan akan menghasilkan penyangkalan. Oleh sebab itu, perihal nama CDR yang akan kami perikan selanjutnya, lebih tepat bila dikatakan sebagai hasil pembelaan diri (apologia) kami.
Cak Die Rezim. Sekilas lebih dekat bila ditafsirkan pada bidang politik. Kata rezim selalu membawa efek determinan. Otoritas dan kekuasaan yang menjadi titik pusat dari segala bentuk mobilitas. Perihal pencantuman kata rezim dalam CDR karena kami memang pernah merasakan sendiri kekuatan dominan yang tidak mungkin kami lawan itu. Emosi kami seolah-olah dibawa ke sebuah permainan. Permainan yang belum terselesaikan sehingga kami dipaksa penasaran untuk melanjutkan; sampai-sampai kami selalu dibuat merindukan kehadiran regime itu. Barangkali tanpa kekuasaan itu kami tidak akan bertemu dalam satu lingkaran perkumpulan liar. Artinya, kami tidak akan dapat mendirikan sebuah komunitas.
Cak Die merupakan nama pemilik warung kopi, tempat di mana kami pernah memformulasikan deklarasi berdirinya CDR. Persenyawaan antara Cak Die dan Rezim dapat menghilangkan kesan kekentalan unsur politis yang dibawa oleh kata seram: Rezim. Cak Die Rezim, bila pembaca tidak hati-hati membaca kata itu pasti langsung merajuk pada satu kata: Cak Durasim. Itu berarti kata Cak Die Rezim memiliki potensi untuk mewakili komunitas seni. Alasan kedua inilah yang kami buat untuk melatar-belakangi berdirinya CDR; komunitas yang bergerak di bidang seni. Sedangkan kekuatan makna awal “Rezim” seperti penjelasan sebelumnya tidak berarti otomatis menghilang. Kekentalan kata seram Rezim itu masih setia menandai adanya politik di tengah-tengah CDR yang sudah resmi berlabel seni itu. Politik yang dimaksud bukan terjadi di tubuh CDR, melainkan berada di tengah-tengah percakapan kami. Dengan perkataan lain, mahasiswa FISIP yang berserakan dan membaur bersama kami di warung Cak Die, telah menciptakan atmosfir politik seperti itu di telinga kami.
Selain itu dalam dunia komputer, CDR dapat ditafsirkan sebagai tempat untuk membaca file CD. CD-R dalam CPU tidak bisa digunakan untuk menyimpan (burning) file baru. Artinya, CDR hanya berfungsi untuk membaca setiap file yang sudah tersimpan dalam CD. Dalam konteks Cak Die Rezim (CDR), kami pun menyadari bahwa masih banyak hal yang perlu kami baca untuk meningkatkan daya jelajah kreatifitas kami. Memang belum sepantasnya kami menelurkan karya, sebab kami masih harus konsisten dalam membaca. Akan tetapi, sewaktu-waktu kami pun butuh mengeluarkan karya seni sebagai percobaan ujian atas pembacaan kami. Kami juga perlu berdebat masalah sepele untuk mencairkan ketegangan dalam pembacaan-pembacaan kami.
Komunitas CDR bergerak dalam bidang Seni dan Budaya. Sebenarnya kami belum menguasai materi dasar tentang seni dan budaya. Jadi modal kami hanya nekad ketika mendirikan komunitas ini. Jalur ini akan terus kami lalui. Tidak peduli ada orang yang akan menganggap remeh komunitas baru ini. Kami akan tetap setia berjalan tegap pada jalur seni-budaya. Sebab, kami masih mampu belajar, kami tidak pernah takut salah, dan kami tidak mungkin terperosok ke lubang hingga dua kali. Masalah seni-budaya tersebut kita bicarakan panjang lebar nanti pasca komunitas CDR ini sudah diresmikan menjadi wadah seni.
Tanpa berbasa-basi lagi, kami persilahkan saja teman-teman untuk menempati ruang dalam CDR. Cari tempat seluas-luasnya, senikmat-nikmatnya, senyaman-nyamannya untuk membaca dan berkarya. Ketertiban dan keamanan kini telah menjadi tanggung jawab sesama warga CDR. Pesan kami, jangan pernah mengganti cat rumah dengan warna kelam. Di atas jam 12 malam kurangi bercanda karena bisa mengganggu kekhusukan seisi rumah. Satu pesan lagi, jika ingin menikmati kopi di malam hari, minta ke Cak Die. Selamat berkarya!

Salam Apolitis

III_Basa-Basi: Kita

Ass. Wr.Wb.
Tidak realistis. Para penggiat seni seperti kita memang terlampau asyik dalam dunia yang tidak realistis. Kita selalu membangga-banggakan diri sendiri; kita tidak pernah mengkalkulasi berapa prosentase masyarakat yang acuh pada seni; kita merasa berdiri di menara gading sambil meyakinkan diri bahwa semua orang pasti menggemari karya seni; kita cenderung memilih ber-demokrasi dari, oleh, dan untuk kalangan sendiri; cara kita bicara pun selalu mengandung busa arti “Dunia milik kita”; tetapi kita kerap lupa di luar dunia seni kita, nilai guna selalu lebih menarik perhatian dibandingkan kualitas estetika.
Pemantik basa-basi kita ini akan menggugah ego para pekerja seni; termasuk ego kita sendiri. Dalam waktu dekat, kritik, seminar, esai yang bernada resistensi pasti datang silih-berganti menjawab pemantik yang kita beri arti realistis ini. Sebab, ini masalah subtil! Kritik, seminar, dan esai yang akan datang itu merupakan langkah mempertahankan eksistensi seni dengan nama lain, kedok lain, alias, atau pun nama samaran lain. Katanya agar terlihat terhormat dan tidak kekanak-kanakan. Kita tahu strategi “pertahanan terbaik ialah terus menyerang” pernah diadopsi dari salah satu langkah bertahan yang sudah teruji sangat taktis. Siasat yang samar, menyenangkan, dan dapat meminimalisir ancaman. Akan tetapi di mata pengamat seperti kita, justru yang terlintas jelas dari taktik seperti itu, yakni silhouette, simbol ketakutan.
Ketika kita terfokus pada perdebatan, keadaan mayoritas orang yang secara substansial menjadi tolok-ukur dalam perdebatan kita, justru tidak pernah menganggap penting isi pembicaraan kita. Kita hanya merasa dipandangi. Salah tingkah sendiri. Kita berorasi dengan retorika yang konvensional; menyitir tokoh-tokoh yang telah usang beratus-ratus tahun lalu; kita juga tampil bak raja yang bicara dengan bau mulut dewa, tapi kita tidak bisa mengerti, bahwa di mata orang yang tidak pernah peduli, kita sebatas pahlawan yang terlambat masuk kuliah akibat beberapa persimpangan lampu merah telah dibajak oleh ambulans penghantar jenasah beserta para iringan beribu-ribu muka; muka wibawa, tampang bersahaja, raut lelah, hingga muka preman yang terlena membawa bendera duka.
Percuma. Mereka tetap memilih melakukan rutinitas yang selaras dengan tawaran zaman. Bisa makan, istirahat, sekali tempo memanjakan diri, bisa berinteraksi sosial, cukup sudah disebut hidup. Sendok untuk makan, gitar untuk nyanyi, ada rokok dirokok, ada buku dibaca, selesai masalah hidup. Rumitnya teknik mencipta estetika seni hanya membuang-buang waktu. Time is money, bung. Yang tidak bisa menghargai waktu hanya bisa menikmati secangkir kopi di Cak Die. Salah satunya seperti kita ini.
Ada saja waktu luang lain yang menghadang ketika kita membuang waktu di Cak Die. Bagi orang yang menghargai kehidupan, mungkin waktu luang itu menjadi tidur panjang. Bagi orang yang sangat menghargai waktu bisa menjadi uang. Sedangkan bagi kita yang gemar membuang waktu luang ternyata berbuah komunitas baru.
Oleh sebab itu, kita disebut sebagai sekumpulan orang yang membentuk spirit realistis mandiri dari pandangan kita yang kurang realistis menanggapi zaman. Kita berdiri di atas kaki komunitas baru: Cak Die Rezim—CDR. Komunitas yang gemar membuang waktu, komunitas yang tidak punya nilai guna, nilai fungsi, tetapi memiliki spirit sejati untuk mencari. Seperti penjaga makam yang terus bertugas menjaga sesuatu yang dia sendiri tidak mungkin mengambilnya, sekali pun ada yang memberi.
Selamat meninggalkan dunia maya, CDR.

Wss. Wr.Wb.*


About this entry