Catatan Kurator: Tentang Imaji Kota yang Negatif

coverMembaca kota berarti juga membaca serangkaian tanda-tanda, baik verbal maupun non verbal. Kota kadang menampakkan dirinya dalam berbagai ragam cara dan membentuk komunikasinya masing-masing. Kota menyingkapkan dirinya lewat berbagai penanda dan penangkapan kota juga selalu berbagai rupa.
Keragaman dalam menyatakan perihal kota tidak lepas dari aspek pengalaman si pemandang itu sendiri dari rupa-rupa kehidupan kota. Jalan, baliho, sampah, perempatan macet, perumahan sumpek, kemewahan lampu-lampu mall, etalese manekin telanjang, politisi, polisi, perampok, pelacur, pencopet, tukang palak, pak ogah adalah hal-hal yang membentuk keseluruhan sebuah kota.
Walaupun secara teoritis kota berpotensi disederhanakan dalam himpunan-himpunan berupa rumusan, namun demikian kota terus menerus bergerak sehingga setiap rumusan tampak hanya menangkap jejak-jejaknya saja. Apalagi ketika rumusan itu berangkat dari konteks ruang dan waktu berbeda.
Dalam perkembangannya, kota tidak lain sebuah situs tempat berbagai aspek yang berupa infrastruktur maupun gagasan bertemu dan berkait sedemikian rupa yang memunculkan sejumlah kompleksitas. Adapun dugaan atau upaya penengaraian secara teoritis berhasil secara konsep, namun yang menyentuh pada hal-hal yang paling mendasar ketika kota ingin diraih lewat pengalaman. Tampak rumusan itu keluar dari permasalahan dan memang rupanya teori atau rumusan itu ada batas cakupannya.
Cara paling kena memang pengalaman. Tapi yang jadi masalah biasanya pada sisi pengucapan/pembahasan/artikulasi. Bahasa selalu menjadi masalah, terutama bila bahasa dikaitkan dengan penampakan realitas. Bahasa cukup dengan dirinya sendiri dan dianggap tidak memiliki kredibilitas mengungkap apa itu kenyataan, terlebih bahasa yang dipakai penuh dengan kepentingan politik kekuasaan. Dengan kata lain, kenyataan yang muncul lewat bahasa tidak lain kebingungan manusia sendiri untuk meraih kenyataan.
Barangkali dari kebuntuan pentingnya pengalaman dan bahasa, seni dianggap masih memiliki peluang untuk membicarakan apa itu kenyataan. Seni, dalam konteks ini sastra, tidak berpretensi membentuk rumusan sahih dalam berhadapan dengan kenyataan baik secara metodologi maupun artikulasinya. Sastra adalah serangkaian pengalaman dan dengan rendah hati mencari bahasa pengungkapan yang paling mewakili. Jika setiap pengarang sastra menuliskan pengalamannya yang ada dalam kenyataan yang dialaminya bersama badan organisasinya, maka pilihan bahasa ungkapannya tidak lain sejauh mana apa yang dirasakan terwakili. Pengalaman dan bahasa diletakkan dalam wilayah subjektif dan dari sana barangkali percik-percik kenyataan itu menampakkan diri.
Rangkaian bahasa-persoalan-penulis dalam karya kreatifitas sastra berada dalam satu tingkat yang barangkali sulit diuraikan dalam bahasa verbal semacam ini. Imaji, hasrat, getir, ingatan, masa lampau, masa depan, norma dan seterusnya muncul dalam gumpalan kreativitas. Karya seni, bersama kreatornya, secara agak berlebihan kadang diartikan legislator dunia.

***

Kota pun muncul secara beragam dalam 10 cerpen pada lomba yang diadakan Festival Seni Surabaya. Kota yang dihadirkan dalam 10 cerpen tersebut seakan mengingatkan kembali bagaimana kota-kota di Indonesia dialami oleh sekian penghuninya.
Permasalahannya kota adalah tempat sebagian besar umat manusia tinggal baik di Indonesia maupun di dunia. Sementara, desa kian menyempit lantaran banyaknya urbanisasi, juga desa dalam perkembangannya berubah menjadi kota-kota kecil yang terjalin satu sama lain membentuk wilayah perkotaan.
Dengan demikian, kota rupanya menjadi pilihan terakhir bagi ruang kehidupan umat manusia. Konsekuensinya, kota seharusnya model terakhir yang secara ruang memberikan kehidupan yang memadai bagi bagi manusia. Nyatanya, hal itu masih jauh dari harapan. Kota-kota di Indonesia bukan saja merupakan pertunjukan ketimpangan ekonomi dan social, tetapi juga gagalnya pengelolaan kota sehingga kota semacam Jakarta dan Surabaya jadi langganan banjir, kemacetan lalu lintas, tingginya angka kriminalitas, kasus rasial, hilangnya peran ruang public, dan individu mesti menyelenggarakan sendiri oase-oase atas banalitas kota. Karena itu, kenyamanan hidup di kota seakan perkara individual. Jika tidak betah di kota, silakan mencari tempat tinggal yang lain.
Kondisi semacam ini rupanya berkorelasi dengan cerpen-cerpen yang masuk dalam lomba Cerpen Festival Seni Surabaya 2010 yang mengusung tema “Imajinasi tentang Kota”. Tokoh-tokoh dalam cerpen tersebut tidak lain sekelumit pengalaman bagaimana harus bertahan di kota yang penuh masalah tersebut.
Cerpen “Setelah Malam Pertama” karya Denny Prabowo mengisahkan satu episode hidup dengan dua generasi berbeda. Seorang perempuan bercerai gara-gara semenjak malam pertama perikahannya tidak mengeluarkan darah perawan menimbulkan hubungan kaku yang berujung perceraian. Sementara anak perempuan dari perkawinan itu pada masa remajanya tidak tahu siapa lelaki yang menghamilinya lantaran kehidupan malam yang dijalaninya. Cerpen ini begitu impresifnya tanpa upaya member tahu bahwa cerita itu berkisah tentang sebuah keluarga di kota. Tegangannya begitu terasa.
Cerpen “Deru Kereta” karya Agus Budiawan mengambil latar kehidupan tukang becak dan pelacuran di stasiun Wonokromo, Surabaya. Cerpen ini refleksi imaji dari suasana kehidupan stasiun yang liar, kemiskinan, dan kriminalitas. Paduan roda kereta yang beradu dengan rel disandingkan dengan kerasnya hidup di tengah kemiskinan, seks, dendam.
Sementara cerpen “Surga Terakhir” karya Choirul Wadud, “Slum” karya Hanif Nasrullah, “Rumah” karya S. Jai, “Wartawan” karya Ahmad Faishal, tidak lain kisah yang muncul dari persoalan-persoalan materi. Materi merupakan faktor paling sering muncul mempengaruhi perilaku dan nasib para tokoh-tokohnya. Apa-apa yang jadi pilihan personalnya berkait erat dengan materi yang melingkupinya. Demikian pula, cerpen “Stasiun Gubeng” karya Zaki Zubaidi. Secara implicit, unsure materi berperan membentuk adegan-adegan konyol di dalam kereta api maupun yang ada di Stasiun Gubeng. Sedikit dengan konteks social berbeda cerpen “Kuburan Kota Bunga” karya Hanna Fransisca bicara hal yang sama.
Sedasng cerpen “Hujan Terus Turun” karya Guntur Alam berkisah tentang kota yang tidak diuntungkan oleh alam dan salah kelola sehingga sebuah kota metropolitan terus-menerus kebanjiran.
Cerpen “Siluet Balerina” karya Sulfiza barangkali tidak bersoal dengan keterbatasan materi lantaran secara ekonomi keluarga itu sukses. Justru sukses materi ini sering menimbulkan masalah hanya mereka etnik China. Mengambil latar pergolakan politik 1998, etnik China berada dalm posisi tidak menguntungkan. Sebagai minotitas mereka tidak punya posisi tawar. Dalam relasinya dengan sesame sipil dicibir lantaran ketimpangan ekonomi sekalipun mendapat dengan cara yang benar. Pun secara militer dipojokkan untuk mengalihkan isu-isu demi kepentingan politik. Contoh adegan mengenaskan dalam cerpen itu:
“… Sempat kudengar seorang iblis berteriak ‘Kapan lagi menikmati perempuan China?!’. Padahal tak seorang pu perempuan China di sana. Sahabat-sahabatku itu investor dari Korea Selatan, Taiwan, Hongkong, Filipina dan Thailand yang kebetulan saja terlihat China.”
“Bagaimana Anda bias lolos?” desakku.
“Aku pura-pura mati dan membiarkan diri diperkosa,” tuturnya hampa.
Oh, Tuhan! Wajahnya sama sekali tak terlihat China.
Dari 10 cerpen tersebut tampak kota-kota besar di Indonesia menyimpan persoalan yang sewaktu-waktu meledak dan menjadi bencana social dalam skala luas. Kota-kota itu tidak Cuma tidak layak huni karena sebab-sebab ekonomi tetapi juga menyimpan kebrutalan yang mengerikan.
Imaji tentang kota dalam 10 cerpen benar-benar negative, penuh daya resisten atas ruang yang ditinggalinya, putus asa, dan tidak ada pilihan lain kecuali bentuk kehidupan yang fatalis.
Apa yang menarik dari perhelatan lomba cerpen Festival Seni Surabaya 2010 ini pertama, begitu antusiasnya para penulis sebab naskah 368 cerpen yang masuk berasal dari penulis di banyak kota di Indonesia. Kedua, imaji kota yang dihadirkan dalam cerpen-cerpen tersebut adalah imaji tentang negatifnya kota. Tentunya ini meneguhkan kembali pendapat dan pandangan banyak orang tentang kota semenjak dulu: kota tidak menawarkan kenyamanan, kedamaian, ketentraman. Kota dianggap sebagai sumber segala hal yang besifat negative. Persoalannya, jika kota itu meluas dan menyulap apa pun yang bukan kota menjadi kota, berhasrat mengubah setiap menusia menjadi manusia tipikal kota, lantas apa yang harus dilakukan? Kalau sudah seperti ini, ini bukan hanya persoalan sastra, tetapi persoalan semua pihak yang berkait dengan kehidupan kota itu. (*)

Shoim Anwar
Imam Muhtarom
Widodo Basuki


About this entry