DERU KERETA

1

(Ilustrasi by Robin)

Cerpen Agus Budiawan

“Dia masih mencoba mempertahankan dirinya untuk tetap berendam lebih lama lagi di dalam kubang air berlumpur itu. Dia tak bergeming dan mencoba untuk tetap tenang agar tak menimbulkan kecipak air yang bisa menggagalkan persembunyiannya. Walaupun lumpur di wajahnya sudah mengering dan retak-retak serta menimbulkan rasa gatal, dia tetap bertahan atau nyawanya akan melayang di tempat itu juga. Tak dia hiraukan pula nyamuk-nyamuk kelaparan mengerubungi tubuhnya yang tak berbaju sampai rasa gatal bercampur nyeri pun dengan brutal menyerang.
“Aku harus bertahan.” Gumamnya.
“Dari balik persembunyiannya dia melihat di sekelilingnya banyak bayangan hitam yang sedang mencarinya. Dalam penglihatan matanya semua bayangan itu menghunus parang, pentungan, balok kayu, dan sebagainya.
“Aku tak akan rela mati konyol di tempat ini!” sekali lagi dia bergumam.
SUARA gemelotak jalur rel yang sedang dilintasi roda-roda besi kereta api memecah keheningan sejenak bersama sirine kereta yang merang-raung, atau bunyi peluit penjaga stasiun yang bertugas mengabarkan keberangkatan dan kedatangan kereta. Di sudut stasiun ini aku menemukan pemandangannya yang tak aku temukan di stasiun Gubeng, Balapan, Tugu, Lempuyangan, atau stasiun-stasiun lain yang pernah kusinggahi. Stasiun Wonokromo menyuguhkan hal berbeda ketika malam mulai turun. Di sekitar tempat itu mulai bermunculan tenda-tenda non-permanen beratap terpal plastik dengan rangka kayu. Ketika malam semakin jatuh dalam kegelapannya, kehidupan lain yang penuh tawa-canda wanita-wanita penjaja cinta dan suara pria di warung remang yang jumlahnya puluhan itu pun mulai menggeliat; kehidupan malam dimulai. Kehidupan galamor kelas bawah yang menggairahkan. Para pelacur pun mulai melancarkan rayuan maut atau promosi diskon harga pakai akan menarik laki-laki berkantong tipis. “Yang penting laku,” kata seorang pelacur kemudian menggandeng seorang laki-laki tua memasuki bilik terpal miliknya.
Jangan dibayangkan di tempat ini akan kalian temui deretan akuarium yang memamerkan ikan-ikan hias seperti di Dolly. Jangan pula dibayangkan sebuah opera prostitusi seperti di tivi-tivi yang mementaskan keglamoran dunia malam dengan minuman keras ternama atau pria dengan jas berdasi dengan bau parfum menyengat merek luar negeri. Atau jangan pula dibanyangkan lampu warna-warni diskotik serta perempuan montok yang selalu menempel lekat-lekat pada setiap lelaki yang berkantong tebal. Jangan dibayangkan. Cukup hanya dengan melihat sekilas kalian akan tahu apa yang ada: hanya warung-warung yang menjual makanan serta minuman keras kelas teri, wanita menor yang sudah kendor, dan juga laki-laki yang pakaiannya tidak bermerek – tanpa bau parfum, tapi hanya aroma khas balsem atau minyak telon untuk mengusir angin.
Kalau bukan karena suatu hal yang sangat penting, aku pun enggan memasuki dunia lain ini. Dunia ini menyajikan opera recehan yang diaktori oleh perempuan-perempuan yang akan memasuki usia senja serta laki-laki bau tanah atau laki-laki dengan modal seadanya. “Aku mencari, Ngatijo.” Tanyaku pada salah seorang yang sedang duduk-duduk di warung remang-remang itu dengan kopi hangat tersaji di meja. Aku rasa semua orang di tempat itu mengenal baik siapa Ngatijo. Apalagi sejak kejadian tadi pagi yang membuatNgatijo semakin dikenal.
“Sampean lurus saja ke sana.” Aku pun mengikuti arah telunjuk laki-laki tadi.
Sudah aku bilang, kalau bukan karena suatu hal aku pun enggan memasuki daerah ini. Karena itulah, aku pun tak begitu mengenal tempat ini dengan baik. Karena itu aku harus beberapa kali bertanya pada orang-orang setempat untuk bisa menemukan rumah Ngatijo. Setelah beberapa kali bertanya akhirnya aku pun bisa menemukannya. Rumahnya tak jauh dari jembatan Jagir – utara stasiun, berada di perkampungan Bratang Tangkis, nama itu pun aku tahu dari warga sekitar.
“Saya menyediakan lima kamar…” kata Ngatijo. Aku pun diajaknya melihat kamar-kamar tersebut. Masing-masing kamar kurang lebih berukuran 1×2 meter. Menurut berita yang kubaca di media, tempat itulah yang dipakai secara bergantian oleh pelacur ketika transaksi dengan pria hidung belang. Pintunya pun hanya sehelai selambu, bahkan ada yang dari bekas spanduk kampanye. “Sesuai kesepakatan, ongkosnya sekali pakai Rp 5 ribu…” Ngatijo menjelaskan.
Di dalam setiap kamarnya tergeletak selembar kasur yang sudah menjadi keras. Bilik-bilik tersebut tidak berlampu dan hanya mengandalkan pantulan cahaya dari lampu 15 watt yang berada di kamar mandi di ujung bilik. Cahaya remang-remang di dalam bilik itulah yang menyelimuti desahan yang diiringi suara aliran air di pintu Sungai Jagir. Atau kalau kereta sedang lewat raungan lokomotif dan gemuruh kereta yang melintas akan mengiringi desahan yang semakin liar.
Aku pun sampai pada satu bilik yang kasurnya berlumur darah. Di tempat inilah pembantaian itu terjadi.
“Sebenarnya hal ini tak perlu terjadi andai saja Sunarko tak terlalu gegabah memainkan celuritnya…” Ngatijo mulai bercerita sesuai permintaanku.
Berdasarkan cerita Ngatijo, kejadian itu berlangsung hampir tengah malam – celurit Sunarko menebas leher seorang pelacur bernama Sulastri yang dianggap sebagai kembangnya Jagir serta temannya sendiri, Ngatmo. Kematian Ngatmo barangkali hanya akan menjadi kejadian sampingan yang bisa dengan mudah dilupakan. Tapi, kematian Sulastri sungguh tak bisa diterima. Sulastri ibaratnya sudah menjadi magnet yang bisa menarik pembeli.
Tidak ada yang tahu pasti dari mana Sulastri berasal. Tahu-tahu dia sudah ada di tempat itu dan menggelar dagangan bersama perempuan-perempuan lain yang sudah lama dagang di tempat itu. Kabar angin menyebutkan kalau Sulastri berasal dari Madiun dengan alasan kalau dia bicara medok-nya minta ampun. Ada juga yang bilang kalau Sulastri asli Mojokerto, Gresik, dan Lamongan. Ada juga yang bilang kalau Sulastri asli Madura hanya gara-gara ada seorang tukang becak yang habis pakai tidak bisa bayar dan terhadap laki-laki itu Sulastri menonjok tepat pada moncong yang mungkin tadi sudah menikmati dadanya. Selama tiga hari laki-laki itu tak kelihatan narik becaknya. Laki-laki itu meriang, begitu kata tetangganya. Tapi prediksi itu kemudian dibantah oleh orang-orang karena logat Sulastri tak ada Madura-nya sama sekali. Sampai saat ini asal muasal Sulastri pun tak banyak lagi dibicarakan. Laki-laki yang biasa mangkal di situ hanya banyak membicarakan kemampuan Sulastri yang bisa dibilang memuaskan daripada perempuan-perempuan lainnya.
Umur Sulastri tidak muda lagi, kira-kira 35-40 tahunan, tentang hal ini pun tak ada orang yang mengetahuinya dengan pasti. Meskipun begitu, dia masih termasuk perempuan yang laris. Barangkali pengalaman Sulastri yang telah bertahun-tahun menjual jasa membuatnya pandai memberi pelayanan pada laki-laki bangkongan yang masih gila jajan. Pelanggannya pun tidak terhitung jumlahnya, termasuk di antara pelanggan-pelanggan itu adalah Sunarko dan Ngatmo. Dua laki-laki bangkongan yang yang sudah lama ditinggal mati istri-istrinya itu bahkan hampir setiap satu minggu sekali tak pernah absen. Dari kedua laki-laki bau tanah itulah segala persoalan kemudian mulai muncul.
Hari itu sepanjang pagi sampai siang hari Sunarko terlihat tekun menggenjot becaknya, bisa sampai 4-5 kali sehari. Semangatnya dalam bekerja memang tak bisa dipandang sebelah mata. Meskipun umurnya sudah lebih dari setengah abad, kekuatannya menggenjot becak bisa dibilang masih berada di atas sedikit dari kekuatan laki-laki lain yang seumuran dengannya. Bisa dimungkinkan, kekuatannya akan menjadi berlipat ganda apabila yang digenjotnya bukan lagi becak, tapi Sulastri. Sunarko merasa tergelitik birahinya ketika mengantarkan pelanggan perempuan yang memiliki bodi padat-berisi dengan becaknya setelah belanja di mal pusat grosir di daerah itu. Malamnya, ketika akan mengunjungi gubuk Sulastri dengan menahan birahi seakan mau meledak, Sunarko menemukan los itu dalam keadaan kosong.
Dari tukang becak lainnya, Sunarko tahu kalau Sulastri sedang diboking Ngatmo, temannya sendiri, dan mengajaknya bergulat di bilik yang sudah disediakan oleh Ngatijo. Kejadian seperti itu sudah berlangsung beberapa kali hingga membuat Sunarko mulai berang. Pertengkaran antara dua laki-laki bangkong yang sudah berteman sejak lama itu pun tak bisa terelakkan lagi karena keduanya sama-sama enggan memakai jasa selain Sulastri. Meskipun perkelahian itu cuma berlangsung sebentar karena banyak orang yang melerai, tapi kejadian malam itu merupakan awal dari kejadian-kejadian berikutnya.
Sebelumnya, menurut kabar yang beredar – ini pun aku tahu dari cerita Ngatijo – Sulastri telah menyanggupi permintaan Sunarko untuk tidak melayani laki-laki lain selain dirinya, “Nanti sampean tak sirih!” kata Sunarko. Meskipun harus melewati perjuangan yang tidak sebentar, akhirnya Sunarko bisa meyakinkan Sulastri kalau dirinya masih sanggup mencari uang untuk hidup mereka kelak kalau sudah kawin. Meskipun begitu bukan berarti Sulastri serta merta berhenti untuk melayani laki-laki lain. Selama dirinya belum resmi disirih, dia akan tetap berjualan. Hal ini membuat hati Sunarko cemburu. Karena itu dia harus membuktikan kata-katanya kepada Sulastri dengan bekerja lebih keras dan membawakan beberapa lembar uang untuk membuktikannya.
Selama menunggu kepastian dari Sunarko, ternyata diam-diam Sulastri juga menerima tawaran Ngatmo yang juga menaruh cinta padanya dan berniat akan mengawininya dan membawanya pergi dari daerah itu, “Mau kerja apa kalau sampaen pergi dari sini?” kepada Sulastri, Ngatmo menjanjikan akan mengajaknya pulang ke kampungnya di pedalaman Lamongan dan menggarap tanah yang ditinglkan oleh almarhumah istrinya. Meskipun begitu, banyak orang tidak yakin keseriusan Sunarko dan Ngatmo mengawini Sulastri – mungkin dengan begitu mereka bisa menikmati servis Sulastri tanpa harus membayar. Cinta segi tiga tukang becak dan pelacur. Lucu. Tapi manusiawi, pikirku. Tapi, sejak pertengkaran itu semua orang yakin kalau Sunarko dan Ngatmo memang serius untuk ngajak Sulastri kawin.
“Malam itu kejadiannya begitu singkat…” Ngatijo sedikit bergetar ketika mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Trauma orang tua itu mungkin begitu besar, introgasi yang dilakukan polisi terhadapnya sebagai saksi juga bisa membuatnya ketakutan sebab dia bilang sebelumnya tak pernah berurusan dengan polisi.
Malam itu Sunarko datang melabrak dengan menghunus celurit. Sekali menyibak selambu yang menutupi bilik dan jeritan itu pun terdengar begitu menakutkan. Ngatijo yang mengamati dari sudut yang tak terlihat oleh Sunarko tak bisa berbuat apa-apa, ketakutan. Ngatmo dan Sulastri tak bisa menyelamatkan diri dari sabetan celurit Sunarko. Pasangan yang sedang bergulat itu pun terkulai di kasur dengan bercak darah segar. Mereka berdua mati seketika dalam keadaan masih telanjang bulat.
“Dia kabur mendengar teriakanku…”
“Apa bapak yakin kalau pelakunya adalah Sunarko?”
“Saya sepenuhnya yakin, Mas. Mata saya belum rabun.”
Menurut cerita Ngatijo, setelah membunuh Ngatmo dan Sulastri, Sunarko melarikan diri dan membuang celuritnya di sungai untuk menghilangkan barang bukti. Setelah itu Sunarko berlari beberapa meter kemudian menyeburkan dirinya sendiri ke sungai, bersembunyi.
“Bagaimana bapak bisa tahu begitu detail?”
“Diam-diam saya mengikutinya.”
“Bukankah bapak ketakutan saat itu?” Ngatijo diam.
Ngatijo mengajakku keluar dari rumahnya. Bulan di langit bersinar remang – tertutup awan hitam yang kelam. Perasaanku malam berjalan begitu cepat. Laki-laki tua itu mengajakku duduk di sebuah kursi tua di depan teras rumahnya. Setelah aku menemukan kesempatan yang baik, aku kembali mengajukan pertanyaan padanya, “Bagaimana Sunarko bisa mati di tangan warga?”
“Malam itu bulan tidak cukup terang…” dia diam. Aku diam demi mengaharap dia akan segera melanjutkan ceritanya, “…aku bisa mendekati persembunyiannya tanpa dia mengetahui keberadaanku. Dia masih mencoba mempertahankan dirinya untuk tetap berendam lebih lama lagi di dalam kubang air berlumpur itu. Dia mencoba untuk tetap tenang agar tak menimbulkan kecipak air yang bisa menggagalkan persembunyiannya.”
Ngatijo selanjutnya menceritakan kalau malam itu banyak warga yang sedang mencari pembunuh Sulastri dan Ngatmo dengan membawa parang serta benda apa saja yang bisa dipakai untuk menghantam Sunarko. Kematian Sulastri sungguh tak bisa diterima. Mereka mengumpat. Kematian Sulastri membuat mereka hanya bisa membayangkan bagaimana kepiawaian Sulastri melayani pelanggannya, dengan memainkan kelaminnya untuk mencari kenikmatan sendiri. Sedang dengan pelacur lain mereka belum menemukan ke-Sulastri-annya.
Seketika itu Ngatijo berteriak untuk membongkar persembunyian Sunarko. Menurut ceritanya pula, mendengar teriakan Ngatijo yang membongkar persebunyiannya, Sunarko kalang kabut seperti ikan terkena pancingan. Warga pun memburu ke arah teriakan dan mengangkat tubuh kurus Sunarko ke pinggir sungai. Tubuh Sunarko pun dengan tanpa daya menerima hantaman benda tumpul serta sayatan parang tajam yang kemudian menumpas nyawanya.
Pagi harinya mayat Sunarko yang tersangkut di pintu air Jagir diangkat oleh petugas medis kemudian memasukkannya ke dalam mobil ambulance dan melarikannya ke rumah sakit. Pada saat itu juga Ngatijo dibawa ke kantor polisi sebagai saksi. Setelah memberikan saksi, Ngatijo diizinkan pulang tapi sewaktu-waktu bisa dipanggil kembali untuk memberikan informasi yang diperlukan polisi.
“Seberapa penting Sulastri bagi lokalisasi itu?”
“Sangat penting. Kecantikan yang belum sepenuhnya pudar serta servis yang memuaskan sangat dirindukan setiap laki-laki di sini.”
“Termasuk bapak sendiri?” aku memberanikan diri untuk menanyakan hal itu karena dari beberapa orang yang sempat aku temui mengatakan kalau Ngatijo juga menaruh cinta pada Sulastri, “Sayang Sulastri hanya mau uangnya saja. Ngatijo loyo. Burungnya tidak bisa berdiri.” Kata salah seorang kepada saya sambil berbisik.
Aku tahu juga dari orang itu kalau Ngatijo sangat sensitif bila berbicara tentang “burung” di depan matanya, “Bisa-bisa sampean ditempeleng!” dari beberapa kabar juga mengatakan kalau Ngatijo orangnya keras dan tukang ngibul, “Katanya, dulu di kampung dia punya empat istri, padahal burungnya itu kan terkena flu akut…..” Banyak kabar yang aku terima, dan aku sungguh tak tahu mana yang bisa aku percaya. Tapi, aku sudah tak memerdulikan apakah Ngatijo pembual atau burungnya loyo, yang pasti pertengkaran antara Sunarko dan Ngatmo pernah terjadi, itu karena memperebutkan Sulastri dan sekarang mereka bertiga telah tewas. Dengan fakta itu aku bisa meyakini kalau kali ini Ngatijo tidak sedang membual, apalagi polisi pun memintanya menjadi saksi. Aku sudah tahu apa yang harus aku tulis.
Setelah merasa cukup mendapatkan bahan untuk tulisanku, aku berpamitan dan sebelum subuh aku sudah bisa menyelesaikan tulisanku dan segera melayangkannya ke koran tempatku magang melalui surat elektronik. Di depan layar komputer aku hanya berharap nanti sore bisa melihat tulisanku terpampang di rubrik berita sore yang akan menentukan nasibku di koran tersebut.
Kurebahkan tubuhku di atas kasur tipis dan merasakan dunia ini sama saja, hanya laku kehidupannya yang berbeda dan aku baru saja keluar dari kehidupan lain di sisi kota metropolitan yang penuh kegemerlapan hiburan malam dengan penuh kemewahan kaum berduit serta sisi remang-remang a la kelas bawah berkantong tipis yang sama-sama menawarkan kesenangan dunia.
LAMAT-LAMAT telingaku mendengar suara yang aku tahu kemudian dari tivi yang lupa kumatikan. Aku melihat jam di meja kecil dekat komputerku yang juga masih menyala menunjukkan pukul 06.30. Aku tertidur rupanya. Kujernihkan pendengaranku. Kantuk seakan ngacir tak berbekas ketika kudengar berita tentang pembantaian tiga orang yang mangkal di sekitaran stasiun Wonokromo, yaitu Sulastri seorang PSK, Sunarko dan Ngatmo tukang becak. Menurut berita tersebut pelaku pembunuhan Sunarko yang berprofesi sebagai tukang becak dan Sulastri yang merupakan seorang pekerja seks dilakukan oleh Ngatijo, seorang warga setempat yang menyewakan kamarnya untuk tempat transaksi seks.
“Sesuai kesepakatan ongkosnya sekali pakai Rp 5 ribu…” kata Ngatijo menjawab pertanyaan wartawati tivi. “Sunarko yang membunuh mereka karena cemburu. Setelah itu membuang celuritnya ke sungai untuk membuang barang bukti dan menceburkan dirinya ke sungai untuk bersembunyi.
“Dia masih mencoba mempertahankan dirinya untuk tetap berendam lebih lama lagi di dalam kubang air berlumpur itu. Dia tak bergeming dan mencoba untuk tetap tenang agar tak menimbulkan kecipak air yang bisa menggagalkan persembunyiannya …………………
“Dari balik persembunyiannya dia melihat di sekelilingnya banyak bayangan hitam yang sedang mencarinya. Dalam penglihatan matanya semua bayangan itu menghunus parang ……………………..” penjelasan Ngatijo persis dengan yang dia ceritakan kepadaku.
Aku tahu jawaban Ngatijo itu tak sesuai dengan apa yang ditanyakan oleh wartawati yang terlihat masih sabar menghadapi laki-laki tua yang aku tahu dari warga sekitar impoten itu. Dari beberapa narasumber yang diwawancarai beberapa saat kemudian memberikan keterangan yang beragam. Ada yang mengatakan tak percaya Ngatijo pelakunya. Ada yang percaya Ngatijo melakukan itu karena sewa kamarnya tak pernah dibayar oleh Sulastri. Ada yang mengatakan kalau Ngatijo balas dendam karena cintanya ditolak oleh Sulastri karena Ngatijo impoten. Dan keterangan-keterangan lainnya yang sungguh membingungkanku. Tapi dari bukti-bukti yang diperoleh polisi mengutkan sangkaan bahwa pembunuhnya adalah Ngatijo.
Sejenak aku berpikir, pekerjaan seorang pencari berita tak semudah yang kubayangkan. Aku ingin memejamkan mata lagi ketika narator berita di tivi itu mengatakan bahwa tersangka, Ngatijo, yang diduga berpura-pura gila agar lepas dari jeratan hukum itu akan dibawah ke rumah sakit jiwa untuk memastikan kondisi kejiwaannya. Pikiranku menjadi kosong seketika. Langit-langit kamarku yang berukuran sempit menjadi seperti langit yang tak kenal batas. Pikiranku melayang-layang tak tentu arah – dibawa angin yang bertiup mengikuti naluri semesta. Rasanya mataku menuntutku untuk memejamkannya kembali, sementara kereta yang melintas di luar sana masih menyisakan deru.(*)

Surabaya, September 2010

**Masuk 10 besar cerpen terbaik Festival Seni Surabaya 2010 dan dibukukan dalam antologi cerpen” Imajinasi tentang Kota” yang diterbitkan oleh Festival Seni Surabaya 2010.


About this entry