Kureng

1

(Ilustrasi: www.arthistoryarchive.com)

Cerpen Agus Budiawan*

HAMPIR semua orang yang ditanya siapa Kureng, pasti mereka menjawab “Jangan coba-coba cari masalah dengan orang itu”, “Bila berjalan di depannya menunduklah kalau tidak mau kena masalah”, ”Jangan dekati orang itu”, dan banyak lagi komentar-komentar lainnya yang bisa membuat nyali anda meleleh dan hanyut menyatu dengan comberan.
Kureng, pasti bukan nama dia yang sebenarnya. Cara membaca nama itu adalah huruf “e” dibaca seperti menyebut kata “reng” dalam kata “kelereng”. Seperti perihal namanya, orang juga tidak tahu berasal dari mana orang yang tubuhnya dipenuhi tato itu. Dia orang yang menakutkan dan selalu meresahkan warga, jadi semua orang senang ketika mendengar kabar bahwa Kureng telah meninggal dunia.
Salah satu warga bercerita kalau pagi-pagi ketika dia akan berangkat kerja, yang setiap hari lewat tempat mangkal Kureng beserta antek-anteknya, terlihat lengang. Hanya ada tubuh kureng yang menghamburkan bau alkohol dan bau aneh lainnya tergeletak sendirian. Dia memberanikan diri untuk memastikan apa yang terjadi dengannya
“Lalu?”
“Saya beranikan diri mendekati dia?”
“Lalu?”
“Dengan bibir gemetar saya mencoba manggil dia?”
“Lalu?”
“Tidak ada pertanyaan lain apa, selain ‘Lalu’?”
“He…Terus?”
“Hah! Dia meninggal.”
“Meninggal? Bagaimana kamu tahu?”
“Setelah aku periksa, dia tidak bernafas lagi.”
Mendengar berita itu kami merasa sangat bahagia. Kami merasa menjadi orang yang merdeka dari penindasan Kureng dan antek-anteknya yang memang tidak terlihat seharian ini. Hari bersejarah ini tidak boleh dilewatkan begitu saja, kami harus membuat acara, atau lebih tepartnya upacara kemerdekaan dan harus ada proklamator yang membacakan teks proklamasi kemerdekaan desa ini di depan semua warga.
“Pak Kades, bagaimana kalau kita buat upacara?”
“Untuk apa? Menghormati meninggalnya Kureng??”
“Ah, Pak Kades ini. Masak kita buat upacara buat orang seperti dia!”
“Lalu?
“Kita buat upacara untuk memproklamirkan kemerdekaan desa kita ini dari Kureng dan antek-anteknya.”
Pak Kades pun sangat setuju dengan usulan itu, karena selama ini Pak Kades dibuat seperti kambing congek oleh Kureng. Dia tidak bisa mengambil tindakan apa pun untuk mengadili Kureng yang kejahatannya sudah terbukti. Dia juga gerah karena Kureng juga tidak bisa disentuh oleh hukum negara sekalipun! Entah punya ilmu apa orang itu. Mungkin juga dia memiliki hubungan saudara dengan orang berpangkat.
Pak Kades kemudian mengumpulkan pembesar-pembesar dan orang-orang atau pemuda-pemuda yang dianggap berkompeten dalam hal ini. Tetapi sebelum membahas agenda upacara, ada satu masalah yang harus segera diselesaikan, yaitu jenazah Kureng.
“Antek-antek penjilat itu meninggalkan mayat Kureng begitu saja, mereka tidak mau mengurusinya, sebagai warga yang baik, bagaimana kalau kita urus terlebih dahulu jenazah almarhum?” usul salah seorang dari perkumpulan itu.
“Sopan sekali ucapanmu, Bang?!”
“Dia kan manusia juga. Biarpun perilakunya lebih liar dari binatang liar sekalipun, ganas, sifatnya jahat melebihi iblis paling jahat, toh, tubuhnya juga berbentuk tubuh manusia, tidak ada salahnya kita berbuat baik pada jenazahnya. Baik dari segi ucapan maupun perbuatan.”
“Dari pesantren mana kamu, hah? Manis sekali ucapanmu.”
Semua anggota tertawa kecuali yang berkata tadi.
“Benar Pak Kades, kalau tidak cepat-cepat kita kubur, baunya akan mengganggu kita juga.” Kata yang lain.
“Orang seperti dia tidak pantas dikubur. Hanyutkan saja ke suangai biar tidak mencemari tanah tumpah darah desa kita ini.” Yang lain menimpali.
“Kalau kita hanyutkan dan ternyata akan menyusahkan orang lain yang mungkin menemukan mayatnya terdampar di desa mereka, lalu apa bedanya kita dengan dia. Sama-sama menyusahkan orang lain.”
Akhirnya kesepakatan dapat diambil. Mayat kureng akan dikuburkan.
Setelah semua sepakat, Pak Kades memimpin seluruh warga mengurusi jenazah Kureng, mulai dari memandikan, menshalati, mengkuburkan, mendoakan dan upacara pelepasan kecil-kecilan. Warga sepekat membuatkan makam khusus buat Kureng, seperti halnya Makam Pahlawan bagi para pejuang. Tapi dengan nama yang lain, yaitu Makam Penjahat, bagi para penjahat, dan Kureng adalah penjahat pertama yang mendapat kehormatan itu.
Setelah prosesi pemakaman selesai, orang-orang yang berkempentingan dalam penyusunan agenda upacara kembali ke balai desa sementara yang lain menunggu berita keputusan hari dan jam pelaksanaan upacara. Setelah dibahas beberapa kali, akhirnya diambil kesepakatan bahwa upacara akan dilaksanakan pada hari ketiga setelah meninggalnya Kureng.
Agenda upacara disusun secara sederhana. Pemuda bernama Kino diberi tugas sebagai pimpinan upacara. Pemuda lain bernama Bone diberi tugas sebagai pembaca catatan kejahatan Kureng. Wanita cantik bernama Sri mendapat tugas sebagai pimpinan paduan suara yang dibentuk dengan seadanya. Para pemuda lainnya mendapat kehormatan sebagai pasukan pengibar bendera. Sementara Pak Kades bertugas sebagai komandan upacara sekaligus sang proklamator. Sementara warga lainnya akan menjadi saksi sekaligus penyemarak di hari kemerdekaan desa mereka.
Di tengah kesibukan mempersiapkan acara, terdengar kabar yang tidak bisa mereka percaya, sungguh mustahil, Kureng hidup kembali. Kabar ini masih simpang siur tapi sudah bisa membuat suasana desa menjadi tidak kondusif. Lubang kuburnya menganga kosong. Ada yang berpendapat kalau jenazah Kureng diambil oleh antek-anteknya. Ada yang berpendapat jenazah Kureng tidak diterima bumi. Jenazah Kureng dibawah makhluk gaib, dan lain-lainnya.
Orang boleh berpendapat berbeda-beda, tapi yang pasti kabar ini harus diluruskan dan jenazah Kureng harus segera ditemukan. Segala upaya telah dilakukan tapi hasilnya nihil. Jenazah Kureng masih belum bisa ditemukan sementara hari pelaksanaan upacara semakin dekat. Satu hari sebelum hari H dilakukan pertemuan darurat untuk membahas tentang pengunduran pelaksanaan upacara kemerdekaan sampai jenazah Kureng ditemukan.

Hampir tengah malam sebelum hari H, rumah pak Kades digedor sembarangan oleh seseorang dari luar. Pintu dibuka. Ternyata Kino yang berdiri di depan pintu dengan tubuh gemetar, keringat dingin berselancar di dahi dan sebagian tubuhnya telah basah.
“Kenapa kamu, Kin?”
“Itu pak…it..it…..”
“Itu apa, Kin?” Tanya Pak Kades sambil berusaha menenangkan Kino.
“Aku melihat Kureng disungai!”
“Maksud kamu jenazah Kureg hanyut di sungai? Bagaimana bisa?”
“Bukan hanyut, pak. Tapi dia sedang mandi di sungai.”
“Mandi di sungai? Mana mungkin. Pasti kamu salah lihat, Kin!”
“Saya yakin tidak salah lihat, pak. Dia kirim salam buat bapak. Dia ingin bertemu dengan pabak jam dua nanti di sebuah tempat.”
“Di mana?” Dia kemudian memberitahu tempatnya pada Pak Kades dengan berbisik.
“Baiklah, Kin. Kamu sekarang pulang dulu, tenangkan dirimu. Dan ingat, jangan beritahu siapa-siapa dulu sebelum berita ini jelas.” Kino mengiyakan dan segera pergi.
Pak Kades sebenarnya tidak bisa mempercayai ini, tetapi dia ingin memastikan apakah Kino benar.
Tepat jam dua dini hari Pak Kades berangkat sendiri ke tempat yang disebut Kino dengan perasaan campur aduk. Setelah berjalan cukup jauh membelah semak-semak ke pinggiran desa akhirnya sampai juga di tempat itu. Di situ Pak Kades bertemu dengan seseorang yang mungkin sejak tadi malam menunggu. Pak Kades tidak bisa melihat muka orang itu karena suasana begitu gelap.
“Selamat pagi, Pak Kades.” Sapa laki-laki itu.
“Selamat pagi.” Pak Kades sudah tidak asing dengan suara itu.
“Bagaimana kabar anda, pak?”
“Baik. Kaukah itu, Kureng?”
“Iya. Tapi, bapak jangan takut. Saya bukan hantu.”
“Tapi bagaimana mungkin. Kamu kan sudah meninggal?” kata Pak Kades sedikit gemetar. Tak percaya.
“Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, pak. Aku diberi kesempatan hidup kembali untuk memperbaiki semuanya.”
Mereka kemudian berunding masih dalam keadaan gelap, tanpa bisa melihat wajah masing-masing. Menjelang subuh perundingan mereka pun selesai. Pak Kades segera pulang.
Setelah shalat subuh berjamaah, Pak Kades menemui orang-orang yang sudah mendapat tugas dalam upacara yang akan dilaksanakan pagi nanti. Ketika matahari belum benar-benar tinggi. Mereka menyampaikan perintah dari Pak Kades kepada para petugas upacara lainnya agar segera mempersiapkan pelaksanaan upacara pagi nanti dan memberitahukan kepada seluruh warga. Tanpa banyak tanya, karena sudah mempercayakan hal ini sepenuhnya kepada kepala desanya itu, segera mereka melaksanakan perintah Pak Kades. Pagi pun datang, upacara akan segera dilaksanakan.
“Pak Kades, upacara bisa dimulai sekarang?”
“Tunggu sebentar, saya masih menunggu seseorang?”
“Menunggu siapa, pak”
“Sang Proklamator kita.” Mendengar itu, Kino – pemuda yang bertugas sebagai pemimpin upacara – sedikit terkejut.
“Bukankah Pak Kades sendiri yang akan menjadi proklamator?”
“Saya sudah menemukan orang lain yang cocok menjadi proklamator kita.”
“Siapa orang itu, pak?”
“Orang yang kamu temui di sungai.” Mendengar itu Kino terkejut.
“Maksud Pak Kades orang itu Kureng? Jadi benar dia….”
“Sudahlah, nanti saja saya jelaskan. Sekarang, segerah mulai upacaranya!”
“Baik, pak.” Kata Kino sedikit ragu.
Kino agak bingung dengan Pak Kades. Tapi, upacara tetap harus segera dimulai. Upacara pun dilaksanakan. Dimulai dengan sambutan oleh kepala desa. Kemudian dilanjutkan pembacaan catatan kejahatan Kureng oleh Bone. Setelah itu acara selanjutnya adalah pengibaran bendera merah putih diiringi lagu Indonesia Raya oleh tim paduan suara yang dipimpin Sri.
Meskipun upacara dilaksanakan secara sangat sederhana, mungkin juga tidak sesuai dengan upacara-upacara resmi pada umumnya, tapi para petugas dan anggota upacara memiliki rasa nasionalisme yang tinggi terhadap desa mereka.
Upacara berjalan dengan lancar dan penuh hikmat sampai pada acara selanjutnya, yaitu pembacaan teks proklamasi oleh Pak Kades. Semua orang berdebar-debar menunggu sang plokamator keluar dari balik tirai dan menaiki panggung kecil yang sudah disiapkan sebelumnya. Nama Pak Kades dipanggil beberapa kali tapi tidak ada tanda-tanda Pak Kades akan keluar dari balik tirai itu. Di tengah kecemasan orang-orang yang terlibat dalam upacara bersejarah ini, seseorang keluar dari balik tirai dan langsung naik ke atas panggung. Sorak-sorai pun pecah setelah beberapa menit terkurung dalam kebekuan.
Teks proklamasi dibacakan dengan semangat yang meluap-luap dan diakhiri dengan kebahagiaan yang berlipat ganda. Tak henti-hentinya semua berteriak.
“Merdeka!”
“Merdeka!”
“Hidup Desa Kijang”
“Hidup, Pak Kades sang proklamator!!”
Ditengah riuh-rendah semua orang yang terlibat dalam upacara ini, Kino diam terpaku di tempatnya melihat Pak Kades sendiri yang menjadi proklamator, bukan Kureng. Dia sibuk dengan pikirannya sendiri.

Surabaya, 23 Juli 2008
_________________
*Agus Budiawan, lahir di Gresik, Jawa Timur. Masih tercatat sebagai mahasiswa jurusan Sastra Indonesia di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Surabaya.


About this entry