Mendamba Kota yang Manusiawi

Oleh: Jairi Irawan*
Jawa Pos, 12 Desember 2010
Judul buku : Imajinasi tentang Kota: 10 Cerpen Pilihan Festival Seni Surabaya 2010
Penulis : Agus Budiawan, dkk.
Penerbit : Festival Seni Surabaya 2010
Cetakan : Pertama, November 2010
Tebal : vii + 82 halaman

BAGAIMANAKAH wajah kota sesungguhnya?
Pada setiap orang, Jawaban terhadap pertanyaan itu bisa jadi akan berlainan. Pengalaman bacaan dan pengamatan terhadap kehidupan perkotaan merupakan salah satu sebabnya.

Tapi, bagaimana jika pertanyaan itu dialamatkan kepada seorang pencerita yang hampir setiap hidupnya bergulat dengan rangkaiam kata dan makna, penikmat sekaligus pengamat simbol-simbol kehidupan?

Santo Agustinus lewat karyanya, De Civitate Dei atau Kota Tuhan, bisa menjadi salah satu contoh. Karya yang ditulis pada tujuh belas abad lalu itu menggambarkan perputaran roda kehidupan kota Roma yang diwarnai religiusitas masyarakatnya. Tapi, suatu saat kota tersebut menemui kehancuran yang tak lain disebabkan degradasi akhlak masyarakatnya sendiri.

Rusak atau tidaknya akhlak telah diserahkan kepada individu manusia oleh Tuhan. Bentuk amanah tersebut tidak lain dan tidak bukan berupa “kebebasan”. Di sinilah logika manusia akan ditantang untuk ikut bermain dalam kehidupan — menggunakan kebebasan untuk nilai-nilai kemanusiaan atau nilai-nilai kebinatangan.

Secara sadar atau tidak, nilai-nilai kebinatanganlah yang sering lebih dominan muncul. Tuhan pasti tahu konsekuensi amanah tersebut. Karena itu, Tuhan perlu turut campur meredakannya melalui utusan “gaibnya”. Meminjam istilah Agustinus yang dirangkai Goenawan Mohamad, Tuhan akan lebih “memunculkan kebaikan dari dalam kedurjanaan” daripada mencegah kedurjanaan.

Pada 2002 muncul sebuah film karya Fernando Meirelles yang berjudul Cidade de Deus juga bermakna “Kota Tuhan”. Cerita itu ber-setting di Rio de Jeneiro yang pada 2014 menjadi salah satu venue pertandingan Piala Dunia.

Film tersebut mengisahkan sebuah kehidupan yang dibangun di tengah persaingan perdagangan narkotik, kekerasan, dan pembunuhan — antitesis De Civitate Dei-nya Agustinus. Tapi, toh hidup dan kehidupan telah memaksa masyarakatnya untuk tetap bertahan.

Dalam dinamika sejarahnya, banyak kota di Indonesia, semisal Jogjakarta, Jakarta, dan Surabaya, terlahir sebagai pusat-pusat politik tradisional. Kemudian kota-kota tersebut sedikit dipoles kolonial baik administrasi maupun tata letaknya, sehingga lebih menarik dan “modern”.

Efek dan kesan “modern” itulah yang lantas menarik masyarakat pedesaan untuk tinggal di dalamnya. Dengan bekal seadanya dan entah akan jadi apa nantinya, yang penting bisa merasakan aroma modern. Fakta-fakta tersebut bisa dikatakan sangat sering singgah dalam indera kita melalui laporan-laporan yang tersaji dalam media massa-media massa tanah air.

Perbedaan karakteristik geografi maupun masyarakatnya adalah salah satu permasalahan yang harus dihadapi pendatang. Jika tidak segera menyesuaikan, pendatang akan menjadi semacam “yang lain”, the other, dalam kehidupan bermasyarakat.

Individu yang semula bisa berdamai dengan alam harus bergulat dengan rimba beton. Lebih parah lagi, yang semula terbiasa saling bertegur sapa antarwarga harus berhadapan dengan sikap individualistis masyarakat kota.

Secara teori, meminjam istilah kurator buku Imajinasi tentang Kota ini, kota seharusnya menjadi model terakhir secara ruang yang memberikan kehidupan yang memadai bagi manusia (hal. 80). Ternyata faktanya berbicara lain.

Hampir seluruh kota di Indonesia gagal memenuhi fungsinya untuk memanusiakan manusia. Masalah demi masalah datang berganti. Penyelesaian masalahpun terkadang menimbulkan masalah baru. Kesemuanya berjalinkelindan membentuk lingkaran yang tiada putusnya.

Setidaknya, jawaban-jawaban bagaimana wajah kota menurut pencerita cukup luas tersaji dalam kumpulan cerpen ini. Penulis-penulis dalam kumpulan cerpen ini lebih memilih penggambaran kota dari sudut pandang “orang yang kalah”.

Hampir semua tokoh di dalamnya adalah orang yang tidak memiliki akses kekuasaan, miskin, dan golongan minoritas — salah satu ciri khas masyarakat urban. Tidaklah mengherankan jika yang terekam dalam jejak alur, setting, penokohan, dan dialognya merupakan gambaran sebuah kota yang negatif (hal. 79).

Kehidupan kota ibarat perilaku raksasa buas yang hendak memangsa manusia. Jika pun tidak demikian, kehidupan kota memaksa manusia untuk memangsa manusia lain. Hukum rimba telah menjadi pilihan untuk mempertahankan hidup. Siapa memiliki kekuasaan, maka dialah yang akan menang dan berkesempatan untuk mempertahankan hidup.

Sebaliknya, yang tidak memiliki nyali untuk memangsa harus siap-siap dijadikan objek permainan manusia lain.

Kumpulan cerpen ini dibuka dengan cerpen Deru Kereta. Romansa cinta tukang becak, pelacur, dan pemilik wisma. Cinta yang tumbuh subur di tengah pergulatan hidup masyarakat bawah — sangat jauh jika dibandingkan dengan cerita-cerita sinetron kita yang menggambarkan cinta dan kasih sayang di lingkungan orang kaya. Ada semangat, rindu, cemburu, dan dendam yang menjadi bumbu romansa cinta segitiga itu. Tapi sayang cinta tersebut harus berakhir dengan tragis. Setragis kisah Romeo dan Juliet.

Ikatan kemanusiaan yang selalu diagung-agungkan dan dihembuskan oleh ulama dan para pemangku agama tidaklah cukup untuk mengimbangi kerasnya kehidupan di perkotaan. Hubungan yang dibangun atas dasar saudara akan bisa hancur apalagi jika sekadar hubungan mitra kerja. Cerita ini mengilhami S. Jai dalam cerpen ‘Pulang’.

Digambarkan bahwa Raksu dan Zulaikah adalah sepasang pekerja di sebuah agen kantor pos. Belakangan banyak yang menilai bahwa barang dagangannya, terutama materai, ternyata adalah barang second. Usut punya usut yang melakukan pencucian tersebut adalah sang bos yang tak lain masih ada hubungan kerabat dengan dirinya. Demi menghindari perbuatan dosa, keduanya memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya tersebut (hal. 21)

Cerpen “Slum” akan membawa imajinasi kita ke alam nyata seperti tragedi pembakaran Pasar Turi. Hanya bermodalkan beberapa liter minyak tanah atau bensin dan sedikit tebal telinga, urusan akan beres (hal. 43-54).

Cerpen garapan Akhmad Faisal akan memberikan gambaran yang kongkrit. Tidak hanya sebatas imaji seorang Faisal tetapi realita yang mau tidak mau mengharuskan kita untuk memercayainya.

Masih banyak imajinasi negatif dalam buku ini. Penggusuran, kriminal, rasisme, dan banjir masih menjadi topik hangat dalam bercerita tentang kota. Pertanyaannya kini, bagaimanakah imajinasi kota menurut anda?

_____________________________
*Penulis Resensi adalah penikmat buku. Sekarang aktif di Center for Religious and Community Studies (CeRCS) Surabaya.


About this entry