Puisi Agus Budiawan

Termuat dalam buku Antologi Puisi Festival Bulan Purnama Trowulan Majapahit 2010

SECANGKIR JELAGA

kata menguap, hilang
duduk dalam kantuk
– pada tatap yang semakin rabun

kulihat jelaga
kulihat rupa

kutatap risau yang mengembun
di dinding-dinding kaca
– halusinasiku, entahlah
hatiku terasa mulai dingin

sedikit kuasah ingatan
di mana letak kubuat senyummu berubah masam
ternyata, itu…, aku pikir terlambat..

kamu sudah berlalu
menjinjit luka..
pada jemarimu,
yang dulu pernah kau gunakan untuk membelaiku
pada jemarimu,
yang dulu pernah kau gunakan untuk memapahku
menuntunku pada sebuah percumbuan yang intim

bagaimana bisa kamu pakai jemarimu itu
untuk membawa luka?
adakah kamu berusaha menghapus kisah
pada jemarimu yang kurasa indah
– selentik pucuk cemara yang ranum

kutatap jelaga
kutatap rupa
kutatap risau yang mengembun
di dinding-dinding kaca.

(Surabaya, 14 Oktober 2009)

ELEGI SEBUAH PAGI

Masih saja kau berkeras
Menyusun batu-batu yang rompal
– akibat palu godam yang dia ayunkan
untuk meruntuhkan keras hatiku, kesahmu
untuk tungku, katamu
Berkeras ingin kau bangun perapian
Pada tanah yang masih menyimpan basah
sedang gerimis masih saja turun
dan kayu bakar yang belum kau susun
meskipun hanya satu dua ranting
terlanjur basah

Kau masih berkeras
Mengaduk-aduk hikmat
Abu sisa pembakaran semalam
– untuk sarapan kita pagi ini, katamu

Ranting yang pada daunnya
Masih terdapat butiran-butiran air
Sisa hujan tadi malam
Jatuh bersama gerimis yang baru saja turun
Mengenai wajahmu
Saat tanpa alasan kau mendongak ke atas
– di manakah matahari, tanyamu
Aku lalu mendekat
Dan tak ada alasan untukku tak memelukmu
– Puasa lagi kah kita hari ini? lirihmu
Tanganku pun terasa semakin erat.

Surabaya, 20 Oktober 2009


About this entry