SENYUM TERINDAH DI SEPOTONG SENJA

2

 

(Ilustrasi by Kunstarena)

Cerpen Agus Budiawan

(Cerpen Favorit LMCR-2010 Lipe Ice – Selsun Golden Award)

Tahukah kau, Maya, senyummu melambungkan anganku sampai ke pucuk cemara yang baru saja diguyur rintik gerimis yang tenang tanpa gemuruh petir dan halilintar. Senyummu kubungkus dalam butiran-butiran selaksa embun dan kugantungkan di setiap ujung daun cemara hingga tampak kemilau oleh sapuan sinar matahari yang mengendap-endap di balik awan yang belum cerah sepenuhnya. Dan ketika angin bertiup sepoi, butiran-butiran air selaksa embun yang telah kuisi seluruhnya dengan senyummu itu jatuh ke bumi seakan mengabarkan berita bahagia; dari setiap senyummu yang jatuh ke tanah akan menumbuhkan tunas-tunas yang nantinya akan mekar menjadi tanaman liar yang tak kalah indah dengan mawar yang dijual di tokoh-tokoh bunga dekat pertigaan itu…

Sampai di situ Mahendra berhenti menulis. Dia tersenyum sendiri memandang seorang gadis yang gambarnya terpenjara dalam pigura berukir motif bunga dengan kaca bening yang selalu disapunya dengan kain; seakan tak membiarkan setitik debu pun menodai wajah ayu gadis pujaannya itu. Ya, hanya dengan begitu dia bisa mengagumi wajah gadis itu sepuasnya tanpa harus takut kalau-kalau ketahuan. “Kau tampak manis dalam balutan jilbabmu, Maya.” Gumam Hahendra.
Kedua bibirnya mengatup, tak mudah baginya menggapai merpati yang sedang terbang membumbung tinggi di angan-angan. Cinta dalam diam membuatnya merasa telah memiliki segalanya, hanya saja, belum sempurna. Dengan bersandar pada tembok, Mahendra mengingat kembali saat-saat bersama Ester, karibnya:
“Kau mencintainya, Mahendra?” Tanya Ester.
“Entahlah, cinta hanyalah sebuah nama. Entah perasaan yang selalu bergemuruh di dadaku ini harus kuberi nama apa. Cinta?” kata Mahendra. Gelas berisi orange juice yang tinggal sedikit itu diputar-putarnya hingga menimbulkan gelombang kecil disertai suara gemelinting yang ditimbulkan oleh benturan balok-balok es batu seukuran jempol kaki dengan dinding gelas.
“Diam itu terasa lebih indah. Bisa kau bayangkan ketika gadis yang kau cintai tampak di pelupuk mata dengan senyum yang selalu tersungging di kedua pipinya yang ranum. Setelah itu kau tulis apa yang baru kau lihat itu dengan rangkaian kata-kata yang bisa membuat jantungmu berdebar karena mengingat senyum itu.” Lanjut Mahendra.
“Tak selamanya diam itu indah, Hen.” Protes Ester.
Sebagai karib tentu Ester berkeinginan membantunya.

Diam tak selamanya indah? Mahendra ragu, keyakinan yang berbeda membuatnya harus surut dalam segala kemungkinan yang dia ciptakan sendiri. Dia bangkit dari kursi dan berjalan malas ke dekat jendela. Dari jendela itu dia bisa melihat atap perumahan sederhana yang terhampar begitu luas di bawah sana. Dari tempatnya berdiri dia melihat pada sebuah rumah yang di situ hidup sebuah keluarga bersahaja. Di rumah dan keluarga seperti itulah Maya menjalani kehidupannya.
Dia membayangkan Maya mengenakan jilbab persis seperti yang ada di foto itu, sedang bibirnya komat-kamit melantunkan ayat suci dengan suara lengkingan yang menggetarkan tanpa cacat. Sebagai qori’ suaranya indah bak lantunan seruling penggembala kerbau di tengah persawahan yang meliuk-liuk mengikuti angin yang menghela rerumputan. Suara itu pun seakan masih melekat dan terngiang di telinganya.
Entah sudah berapa lama dia berdiri di dekat jendela dengan mata yang tak pernah lepas dari rumah Maya yang hanya kelihatan atapnya itu sampai dia disadarkan oleh pantulan sinar matahari yang mulai beranjak turun mengenai kaca dan menerobos sampai ke retina matanya. Dia memicingkan kedua matanya dan tak lama kemudian dia pergi menghadap sebuah tembok yang di atasnya terpacak patung Yesus yang terpasung pada kayu salib. Dia berdiri dengan kedua lututnya lalu menjalin kedua tangannya dan mendekatkan pada dada sedang wajahnya tertunduk hikmat.
“Apa yang kau pinta, Hen?“ suara itu mengagetkan Mahendra yang kemudian berdiri setelah membentuk tanpa salib dengan tangan kanannya.
“Aih, kau rupanya, Est.”
“Kau tampak murung hari ini. Aku puny ide, bagaimana kalau sore ini aku ajak kau jalan-jalan?”
“Aku tak apa-apa, sungguh.”
“Sudahlah, aku tahu. Aku sudah kenal kau dari kecil, Hen. Kita ke taman saja, bagaimana?”
Mahendra Mengangguk.
Di sebuah taman komplek perumahan sederhana itu, Mahendra dan Ester berjalan melintasi jalan setapak yang terbuat dari kerikil-kerikil halus berwarna hitam. Di beberapa sudut terdapat pohon-pohon besar yang mengelilingi taman dan terdapat kursi-kursi berbahan semen di bawanya. Mahendra dan Ester kemudian duduk di salah satu kursi.
Angin sore menerbangkan dedaunan kering yang tanggal dari rantingnya dan berkelebatan di hadapan mata Mahendra dan Ester yang tetap diam tanpa sepatah kata pun terucap dari keduanya. Bibir mereka terasa keluh dan enggan berucap seperti kehabisan suara, sedang dingin mulai menguliti.
“Aku dengar Maya akan melanjutkan kuliah ke luar negeri.”
Kata Ester yang mendadak itu membuat Mahendra kaget. Lebih-lebih Mahendra tergeragap dengan apa yang dikatakan oleh Ester. Maya akan melanjutkan kuliah ke luar negeri?
“Kau serius, Est? dari mana kau tahu itu?”
“Maya sendiri yang bilang. Ayahnya ingin dia melanjutkan kuliah di Mesir.”
“Dia pantas mendapatkan itu. Dia memang gadis yang pintar.”
“Cuma itu komentarmu?”
“Lantas, apa yang harus aku katakan? Dia pergi untuk kebaikannya. Aku turut berbahagia untukknya.”
“Dia akan berangkat lusa.”
“Secepat itu…” Kata Mahendra, pelan. Jelas kata itu ditujukan pada dirinya sendiri.
“Apa kau tak ingin mengatakan sesuatu sebelum dia pergi?”
“…..” Mahendra termenung.
Jelas Mahendra tak mampu melihat gadis dalam foto berbingkai yang selalu dikaguminya itu pergi dan hanya meninggalkan punggung untuk dilihat yang akan semakin menjauh dan mengecil lalu hilang begitu saja, tanpa bisa berbuat apa-apa untuk sekadar menahannya sebentar untuk mengutarakan perasaannya.
“Kau mencintainya, bukan?” Mahendra diam mendengar pertanyaan Ester yang begitu sulit untuk dikatakannya dengan jujur. “Kau akan tetap diam sementara dia akan pergi, Hen?” lanjut Ester.
“Tuhan, jika dia bukan untukku…” kata Mahendra dalam hati; tertahan sejenak seakan menahan sesuatu agar tak jatuh dari matanya, “Jika dia bukan untukku, izinkan aku untuk melihat senyumnya yang terindah di sepotong senja kali ini…”
“Kau dengerin aku kan, Hen?”
“Iya. Aku dengar, aku juga melihat.”
“Apa?”
“Maya. Aku tak pantas untukknya.”
“Tak pantas?”
“Tahulah kau, Est. Aku dan dia berbeda.”
“Karena dia Muslim dan kamu seorang Kristen?”
Mahendra menunduk dalam. Andai saja perbedaan itu tak ada, pikirnya.
“Kau dulu yang katakan padaku bahwa agama hanya seperti alat transportasi dan tuhan seperti sebuah tujuan, Hen?” kata Ester yang terheran-heran dengan Mahendra yang seperti melupakan kata-katanya dulu, “Dengan naik bis, kereta, atau bis kita akan tetap sampai pada tujuan kita, Tuhan; tujuan semua manusia yang beragama.”
Mahendra bisa mengatakan itu dengan enteng kepada Ester yang dulu jatuh cinta pada seorang pemuda Hindu. Ester dan pemuda Hindu itu sempat berpacaran beberapa bulan sebelum akhirnya hubungan mereka berakhir setelah si pemuda Hindu mengambil keputusan untuk mengabdi pada Biara sebagai seorang Biksu.
“Meskipun hubunganku berjalan dalam beberapa bulan saja, paling tidak aku berani mengungkapkan perasaanku dan sempat merasakan cintanya.” Kata Ester. “Kau tahu, Hen? Kebahagian bagi seseorang yang di dalam hatinya tersimpan rasa cinta untuk seseorang adalah mengungkapkan perasaan itu kepada orang yang kamu cintai itu. Tak perduli apakah cintamu bertepuk dua tangan atau hanya sebelah tangan.” Lanjutnya.
Mendengar itu, Mahendra tetap saja diam.

Sementara itu, di sore dan di taman yang sama Maya sedang berjalan-jalan seorang diri dan melihat punggung Mahendra dan Ester sedang duduk berdua di bangku taman di bawa sebuah pohon besar yang sesekali menggugurkan daunnya yang kering akibat tiupan angin yang sebentar-sebentar menerpa.
Sebenarnya Maya tak ada keinginan untuk pergi ke taman itu, tapi dia hanya menyanggupi permintaan Ester agar Maya bersedia meluangkan sedikit waktunya untuk ke taman komplek sebelum pergi, “Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, May, penting.” Bujuk Ester ketika itu.
Maya berjalan pelan menuju Mahendra dan Ester. Maya memang berjalan dengan penuh kehati-hatian, langkahnya ringan seperti kapas yang diterbangkan angin hingga dua orang yang masih duduk itu tak menyadari kedatanganya.
“Selamat sore, Ester, Hendra.” Sapa Maya mengagetkan Ester dan Mahendra yang langsung menoleh ke belakang dan mendapati Maya sudah berdiri di belakang mereka.
“Sejak kapan kau berdiri di situ, May?” tanya Ester.
Mahendra hanya terbengong, terheran-heran, menjadi salah tingkah mendapati Maya tiba-tiba muncul di belakangnya.
“Baru saja. Aku sebenarnya tak ingin mengganggu kalian, tapi Ester memintaku ke sini.” Kata Maya yang tentu saja ditujukan untuk Mahendra.
“Duduklah.” Ester berdiri dan mempersilahkan Maya menduduki tempatnya.
Maya duduk bersebelahan dengan Mahendra tanpa perasaan canggung sedikit pun. Hanya Mahendra yang berkeringat dingin melihat sosok gadis yang sedang duduk di sebelahnya itu; gadis yang sudah sejak lama diakaguminya. Gadis di sebelahnya itulah yang selalu menyita perhatiannya dengan diam-diam, bahkan dengan nekat Mahendra juga telah mengambil foto Maya yang dulu terjatuh dan menaruhnya dalam bingkai berukir motif bunga sehingga dia bisa melihat wajah gadis dalam foto itu dengan sempurna.
“Waktuku tak banyak, Est.” Kata maya sambil melihat pada Ester kemudian kepada Mahendra.
“Baiklah.” Kata Ester sambil melihat Mahendra kemudian pergi meninggalkan mereka.
Mahendra yang berusaha menahan Ester dan menyuruhnya kembali menjadi percuma karena kata-kata yang ingin keluar dari mulut Mahendra tertahan oleh kegugupan yang ditimbulkan oleh perasaannya sendiri sementara sosok Ester sudah terlanjur menghilang di antara pepohonan di sisi lain taman.
Kini Mahendra dan Maya hanya berdua saja. Beberapa saat mereka terdiam sebelum akhirnya Maya mempertanyakan perihal kepentingan apa hingga Ester memintanya untuk ke taman sore ini.
“Aku rasa Ester yang mengatur semua ini.”
Maya tampak bingung, tak mengerti apa yang dikatakan Mahendra tentang Ester yang mengatur semua ini?
“Dia mengatur pertemuan ini.”
“Jadi yang berkepentingan ini kamu, Hen?”
“Sungguh aku tak pernah meminta Ester melakukan semua ini, May.” Kata Mahendra, gugup.
“Kamu jangan gugup begitu. Yang penting aku sudah ada di sini dan kamu bisa mengatakannya.”
“Mengatakan apa?”
“Mana aku tahu. Kata Ester ada sesuatu yang penting. Jadi, pasti ada yang ingin kamu katakan padaku?”
Entahlah, Mahendra harus marah atau berterimakasih pada Ester yang membuatnya menjadi seperti kambing congek yang tak bisa berbuat apa-apa di depam Maya yang sesungguhnya, bukan gambar Maya di dalam bingkai.
“Aku dengar kamu akan pergi?”
“Iya. Lusa.”
“Aku cuma ingin bilang kalau aku sudah lancang mengambil fotomu yang terjatuh kala itu.” Kata Mahendra dengan amat pelan.
“Ah, itu rupanya yang ingin kamu katakan?” kata Maya dengan tawa ringan. “Aku sudah tahu kamu mengambilnya.”
Mahendra terkejut mendengar apa yang dikatakan Maya.
“Maaf, aku akan mengembalikannya padamu.” Kata Mahendra. Sementara itu Maya tak memberikan reaksi apa-apa. “Ada sesuatu yang lebih penting dari itu, May.”
“Apa?”
“Bagaimana jika ada gadis Kristen yang mencintai pemuda Hindu?”
“Kenapa kamu membicarakan masa lalu Ester?”
“Bukan itu maksudku. Bagaimana menurutmu jika ada sepasang kekasih yang berbeda keyakinan?”
“Perbedaan itu sangat indah.”
“Meskipun pada akhirnya mereka berpisah?”
“Aku rasa mereka berpisah bukan karena perbedaan yang kamu maksud.”
“Tapi kenyataannya pemuda Hindu itu meninggalkan Ester karena ingin menjadi Biksu?”
“Mereka bisa mengambil pelajaran dari setiap kejadian bukan?”
“Iya. Tapi meskipun perbedaan itu indah, perbedaan juga bisa menjadi hantu yang terus menguntit di belakang kita.”
“Bukankah keindahan dan ketidakindahan atau kebahagiaan dan ketidakbahagiaan sudah memiliki tempatnya masing-masing, Hen?”
“Ya. Dan perbedaan adalah tempat bagi ketidakindahan dan ketidakbahagiaan itu sendiri.”
“Sebenarnya apa yang ingin kamu katakan, Hen? Maafkan, waktuku tak cukup banyak.”
“Ah, tidak. Aku hanya berharap kamu hati-hati di negara orang dan kamu bisa mencapai apa yang kamu cita-citakan.”
“Terima kasih.”
“Berapa lama kamu akan pergi.”
“Mungkin tiga tahun.”
Perih juga perasaan Mahendra mendengar waktu yang begitu lama harus dia lewatkan tanpa Maya; tanpa pernah berhasil mengungkapkan perasaannya.
“Apakah kamu keberatan kalau sebelum pergi aku ingin melihat senyummu?” dengan pergulatan hati dan perasaan bergemuruh akhirnya Mahendra berhasil mengatakan itu; hanya sebatas itu!
Dengan agak berat Maya mencoba mengembangkan senyumnya. Senyum Maya tak semanis biasanya, seperti ada perasaan yang tertahan dan ingin keluar tapi tak kuasa. Tapi bagi Maya, senyum itulah yang paling indah karena di balik senyumnya itu ada sesuatu yang ingin diisyaratkan kepada Mahendra.
Mahendra menangkap ketidakbiasaan dari senyum Maya yang langsung memalingkan muka seakan takut perasaan yang tersembunyi di balik senyumnya terbaca oleh Mahendra: senyum yang tak biasa, tapi tetap indah.
Maya berdiri dan mengulurkan tangan sebagai tanda kebersamaan yang harus terpisah untuk waktu yang cukup lama. Mahendra yang tampak ragu akhirnya menerima jabat tangan Maya. Maya pun pergi meninggalkan punggung untuk mata Mahendra yang tak mau alpa menuruti langkahnya.
Dalam setiap langkah Maya berdoa.“Tuhan, jika dia untukku sampaikan isyarat di balik senyum terindah di sepotong senja kali ini.”
“Tuhan, jika dia bukan untukku, izinkan aku memiliki senyumnya yang terindah di sepotong senja kali ini…” gumam Mahendra sementara matanya tak pernah lepas dari punggung Maya yang semakin menjauh.***

Surabaya, 2010


About this entry