Kumpulan Cerpen “Dongeng Sepertiga Malam”

Judul: Dongeng Sepertiga Malam
Penulis: Agus Budiawan, dkk
Pnerbit: Penerbit Revka Togamas Surabaya
Cetakan: Cetakan I, 2010

________________________________

Dongeng di Sepertiga Malam
Cerpen Agus Budiawan

Angin malam menyelinap melalui rekahan dinding-dinding kayu yang mulai merapuh dan melesat menuju tempat pembaringanku. Aku pun terbangun setelah merasakan angin itu seperti berubah wujud menjadi tangan-tangan halus dan dingin yang membelai keningku seperti yang selalu dilakukan ibu untuk membangunkanku sewaktu kecil. Ingin rasanya beranjak untuk menyumpal setiap celah yang menganga di dinding kayu lalu menyurukkan tubuh kembali ke dalam lambung selimut yang akan mengantarku kembali pada tidur yang nyenyak. Tapi, setelah berhasil menambal beberapa celah dinding dengan lembaran-lembaran kardus atau koran aku tak lagi bisa memejamkan mata yang masih merah.
Kulihat jam di atas meja, hampir jam dua. Rasanya akan lebih enak kalau aku kembali tidur. Tapi, yang bisa ku lakukan hanya iseng mengamati jarum jam yang terus berputar. Aku harap mataku akan lelah dan mudah untuk dipejamkan kembali. Ah, percuma saja, bukannya melemah dan memejam, mataku justru bertambah lebar dan tak merasakan kantuk sedikitpun. Aku pun membayangkan bagaimana jikalau jarum jam ini berputar mundur – apakah bisa kembali kutemukan tidur yang nyenyak?
Bukan hasrat untuk kembali tidur yang ku dapatkan ketika mencoba menjadi seperti orang tak waras membayangkan jarum jam berputar ke belakang, tapi bayangan sosok ibu lah yang kemudian menjelma dalam otakku. Tangan-tangan ibu yang menjadi dingin terkena air wudlu itu lah yang selalu membelai keningku untuk membangunkan aku dari tidur pulas. Setelah bangun dengan bermalas-malasan aku pun biasanya akan menuju kamar mandi dan mempraktekkan cara berwudlu seperti yang diajarkan ibu lalu bergegas menemui ibu yang sudah menunggu di sepertiga malam.
“Habil masih ingat yang diajarkan ibu kemarin, bukan?”
Aku menganggukkan kepala dengan malas lalu mengikuti gerakan ibu dari belakang. Waktu itu umurku tujuh tahun, dan sejak itu ibu selalu membangunkanku di sepertiga malam untuk ikut menunaikan shalat malam bersama ibu yang menjadi imam. Ya, ibu yang harus menjadi imamku sekaligus imam keluarga karena ketika aku masih bayi ayah telah kembali ke pelukan tuhan.
Setelah ritual itu ibu tak membiarkan aku kembali ke kamar untuk melanjutkan mimpi-mimpi indah, tapi ibu akan bergeser beberapa depa hingga kami saling berhadapan. Melihat ibu sekarang seperti sedang melihat guru ngaji di surau milik Abah Muksin selepas ashar yang rutin dilakukan anak-anak seumuranku di kampung. Dengan masih mengenakan mukenah, ibu akan mulai mendongeng.
“Kamu tahu kenapa Rosul tak pernah meninggalkan shalat malam? Karena tuhan akan memberikan hadiah bagi siapa saja yang mau bangun di sepertiga malam dan melaksanakan shalat dan berdoa.”
Mendengar itu aku menjadi bersemangat dan perlahan-lahan kantuk yang menggelantung di kelopak mataku berangsur-angsur hilang. Hadiah? Aku mulai tertarik untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ibu selanjutnya atau balik bertanya tentang sesuatu kepada ibu.
“Apa tuhan itu Sinterklas, ibu?”
Mendengar pertanyaan polos dari seorang anak yang baru menginjak umur tujuh tahun seperti aku tidak membuat ibu menjadi jengkel. Bagi anak-anak sepertiku memang lebih mudah mengingat bagaimana orang gendut itu membagi-bagikan hadiah pada anak-anak yang sudah berbuat baik kepada orang tua mereka di tivi-tivi.
“Bukan Sinterklas, Habil, tapi malaikat.”
“Malaikat itu sepeti apa, Ibu?”
“Malaikat itu berasal dari cahaya dan memiliki sayap yang indah.”
“Apa malaikat itu burung, ibu?”
“Bukan, anakku. Malaikat itu tak bisa dilihat. Malaikatlah yang akan turun dari langit dan memberikan hadiah dari tuhan kepada kita apabila mau berdoa dan berbuat baik kepada orang lain. Tadi sudah berdoa, belum?”
Aku menggeleng dengan penuh semangat hingga kopiah yang agak kedodoran bergeser-geser mengikuti gerakan kepalaku seperti hendak terlepas. Aku pun kemudian berdoa dengan memejamkan mata menuruti instruksi ibu yang menyuruhku untuk berdoa kepada tuhan. Setelah selesai berdoa dan menunggu beberapa menit aku pun memprotes ibu karena apa yang aku pinta dalam doaku tak segera terkabulkan.
“Sabar, Habil. Sekarang Habil tidur dulu, nanti ibu minta kepada tuhan agar berkenan mengabulkan doa Habil, ya?”
Mendengar janji ibu aku pun bersemangat menuju kamar tidur untuk kembali hadir dalam mimpi-mimpi indah bersama teman-teman sepermainan yang sering muncul dalam tidurku.
Ketika pagi datang ibu sudah harus bergegas membawa karung kumal menuju universitas untuk mencari botol-botol bekas di sekitar gedung-gedung yang megah. Sedangkan aku mengekor di belakang ibu dan tak pernah lupa membawa pedang mainan bekas seperti milik superhero yang ada di tivi-tivi. Setelah hari menjadi siang, aku dan ibu akan melanjutkan dengan menjadi loper koran di pertigaan lampu merah. Sementara ibu sibuk menjajakan koran di pinggir jalan, aku dengan tubuh mungilku mulai berkeliling melewati sela-sela kendaraan yang sempit ketika lampu berubah merah untuk membantu ibu menjualkan koran.
Sepanjang hari yang kulakukan bersama ibu tak jauh berbeda dengan hari-hari sebelumnya atau tahaun-tahun sebelumnya. Ketika hari masih pagi kami mencari botol bekas air mineral dan akan turun ke jalan ketika hari sudah mulai siang untuk berjualan koran. Lalu ketika sore hari sudah mulai turun – ketika tubuh telah lelah – kami pun akan kembali ke rumah di bawah jembatan layang yang rentan terjadi penggusuran.
Sore hari setelah sejenak istirahat aku baru bisa bermain dengan teman-teman di daerah itu. Permainan yang kami mainkan hanyalah sepak bola dengan lahan seadanya. Sementara itu, di rumah ibu sibuk membereskan botol-botol bekas untuk dikumpulkan menjadi satu dan kemudian dijual kiloan. Permainan yang singkat pun akan berakhir ketika terdengar suara adzan terdengar lirih di langit-langit rumah kami di antara deru kendaraan yang melintas di atas jembatan serta matahari yang telah turun ke peraduannya. Setelah malam menyelimuti perumahan kumuh kami dengan siluet lampu-lampu jalanan yang memancarkan sinar tidak terlalu terang kebanyakan waktu akan aku gunakan untuk membaca buku-buku bekas yang ibu ambil dari tong-tong sampah.
Malam-malam itu pun kemudian datang kembali bersama tangan-tangan dingin ibu yang basah oleh air sungai berwarna keruh yang mengalir tidak jauh dari tempat tinggal kami – membangunkan tubuh mungilku dari buaian mimpi-mimpi indah bersama teman-teman sepermainanku.
Setelah dengan berat hati membuka mata aku pun berjalan ke kamar mandi yang di situ sudah tersedia seember air yang bisa kugunakan untuk berwudlu yang sudah disipkan ibu. Setelah shalat aku menagih janji kepada ibu tentang hadiah-hadiah yang akan diberikan oleh tuhan jika dengan ikhlas bagun malam untuk shalat dan berdoa.
“Sabar, Habil. Tuhan tak akan ingkar janji.” Kata ibu dengan lembut sambil mengusap kepalaku. “Memangnya habil minta apa kepada tuhan?” lanjut ibu kemudian.
“Habil minta buku, ibu.”
“Buku?” kata ibu mengulang permintaanku sambil mengangguk kecil, “Tidurlah, tuhan janji kepada ibu akan memberikan Habil sebuah buku esok pagi.”
Dengan penuh semangat aku pun berlari menuju kamar dan mencoba sekuat tenaga untuk memjamkan mata dan menemukan sebuah buku baru ada di sampingku ketika aku membuka mata esok pagi.
Ibu tidak bohong, dan tuhan tidak mengingkari janji. Aku menemukan buku baru tergeletak di sampingku lengkap dengan pensil dan penghapus ketika mata mungilku menjenguk sinar matahari pagi yang menyelinap dari sela-sela dinding rumah yang terdiri atas papan-papan bekas. Sejak hari itu aku selalu bersemangat bangun di sepertiga malam untuk mengekor di belakang ibu dan mengikuti gerakan-gerakan shalat dan selalu berdoa untuk meminta sesuatu kepada tuhan. Setelah selesai shalat aku pun memejamkan mata dan berdoa dengan keseriusan kanak-kanak dan berharap tuhan akan mengabulkan permintaanku esok pagi.
“Habil minta apa kepada tuhan?”
“Bola plastik. Apakah tuhan juga mau memberi Habil bola plastik, ibu?”
“Pasti, anakku.”
Aku ingat beberapa hari yang lalu bola yang kami pakai untuk bermain melambung terlalu jauh lalu jatuh ke sungai dan hanyut entah ke mana.
Ibu tak pernah bohong, dan tuhan tak pernah ingkar janji. Keesokan paginya aku sudah menemukan bola plastik berwarna abu-abu tua dengan garis hitam teronggok di samping tempat tidurku. Sore harinya kami kembali bermain sepak bola bersama teman-teman yang tampak jauh lebih gembira.
Aku yang masih kanak memandang heran kepada ibu yang mendadak menjadi sedih di sepertiga malam berikutnya karena doa yang ku lafalkan sehabis shalat. Dalam doa itu aku meminta kepada tuhan agar tuhan mau memasukkan ayah ke dalam surga. Hal itu aku lakukan lantaran ibu yang selalu bercerita tentang sifat pekerja keras dan giat bekerja yang dimiliki ayah. Kata ibu juga, kebiasaan ayah yang harus aku tiru mulai kecil sampai dewasa nanti adalah membiasakan bangun di sepertiga malam untuk menunaikan shalat malam dan memanjatkan doa di waktu yang mustajabah.
“Tuhan pasti memasukkan ayah ke surga, Habil.” Kata ibu sambil membasuh air mata haru yang menganak sungai di pipinya yang mulai keriput.
Kenangan tentang ibu dengan dongeng-dongengnya di sepertiga malam yang selalu diperdengarkan di telingaku membuatku menjadi merasa bersalah. Dongeng-dongeng ibu tentang sifat mulia para nabi dan mukjizat yang dimiliki serta kepatuhan ummat terpilih yang selalu berserah dan meminta kepada tuhan tak pernah absen di sepertiga malam yang sunyi dan meneduhkan. Tetapi yang membuatku tak pernah bisa melupakan rasa bersalah yang baru bisa kusadari setelah lebih dari dua puluh tahun menghirup kehidupan adalah doa-doa dan permintaanku kepada tuhan yang dulu terlontar dari mulut kecilku.
Sekali waktu ibu bercerita tentang hadiah-hadiah masa kecilku. Dan juga tentang keluguanku yang mempercayai hadiah-hadiah itu turun dari langit perantara malaikat – ketika umurku tujuh tahun. Ibu telah menjadi tua dan renta. Karena doa-doa masa kecilku ibu harus bersusah paya hutang kesana-kemari untuk membelikanku buku, pensil, penghapus, bola, dan lain-lainnya.
“Ibu berbohong, dan tuhan tak menepati janji.”
“Itu memang dari tuhan Habil, dan ibu sebagai perantaranya.”
Aku lihat ibu bersedih ketika aku mengatakan hal itu. Ibu terlihat mengucap doa pada mulutnya yang tak bersuara sambil tangannya mengelus dada, sementara biang air mata mulai terlihat di pelupuk matanya yang telah rabun. Beberapa minggu kemudian ibu dijemput malaikat untuk kembali kepada tuhan. Menyusul ayah ke surga? Ah, rasanya tidak mungkin. Ibu tidak akan menyusul ayah ke surga, tapi ibu akan ke surga seorang diri karena aku yakin dalam perjalanannya ke surga ayah akan tersesat dari jalannya.
Ayah bukan orang mulia seperti yang dulu pernah ibu ceritakan kepadaku. Ayah bukanlah orang yang giat bekerja, apalagi manusia taat beragama yang tak pernah alpa menunaikan shalat malam. Setelah bertahun-tahun lamanya baru aku tahu bahwa ayah seorang kriminil. Mulai mencopet sampai merampok pernah dia lakukan, dan waktu naas itu pun datang menjemput ayah. Dia tertangkap massa ketika akan merampok ibu-ibu yang akan berangkat ke pasar dan nyawa ayah tak tertolong lagi.
“Masih ada waktu,” gumamku sambil melihat jam.
Aku pun bergegas mengambil air wudlu dan menunaikan shalat malam dan mengirimkan beberapa doa untuk ibu. Setelah itu aku baru bisa memejamkan mata dengan mudah dan tidur dengan gelisah bersama mimpi-mimpi masa lalu yang sering hadir di sepertiga malamku.
Dalam mimpi yang sering datang itu aku melihat ibu duduk di hadapanku sedang membacakan dongeng untukku tentang cerita para nabi. Sambil mendengarkan dongeng ibu, aku memejamkan mata mungilku yang mulai sayu dan mulut kecilku komat-kamit merapal doa-doa. Setelah selesai berdoa dan mendengar ibu bertanya aku pun membuka kedua mataku yang penuh dengan cita-cita masa kanak. Aku melihat ibu masih tersenyum di hadapanku dan mengulang pertanyaannya.
“Habil minta apa kepada tuhan?”
“Habil ingin sekolah, Ibu.”

(Surabaya, 2010)


About this entry