Kumpulan Monolog “Para Pelaku”

Antologi Monolog Mata Kuliah Penulisan Kreatif II, FIB Unair

Judul: Para Pelaku
Penulis: Rizal Rakhmad, dkk
Pnerbit: Penerbit Revka Togamas Surabaya
Cetakan: Cetakan I, 2010

________________________________

KELAHIRAN
Oleh: Agus Budiawan

(SUMBI DUDUK DI ATAS DIPAN MENGENAKAN DASTER DENGAN CAHAYA REMANG DI SEBUAH KAMAR; MENGELUS-ELUS PERUTNYA YANG BUNCIT. SEDANG DI LUAR KODOK-KODOK MENYERINGAI, INGIN KAWIN)

SUMBI:
Kodok ngorek, kodok ngorek, ngorek di pinggir kali. Teok-tek-blung, teok-tek-blung, teok-teok-tek-blung…
Bocah pinter-bocah pinter njaluk dadi dokter, numpak opo-numpak opo, numpak helikopter…
Bocah nakal-bocah nakal njaluk dijamoni, jamu opo-jamu opo, jamu temu lawak pait…
(SUMBI MEMBAWAKAN LAGU DENGAN IRAMA TEMBANG JAWA)

(SUMBI SENYUM-SENYUM SAMBIL MENGELUS-ELUS PERUT BUNCITNYA SERAYA MENUNJUKKAN GERAKAN SEDANG MENAJAMKAN PENDENGARAN PADA SUARA-SUARA KODOK DI LUAR KAMARNYA)

SUMBI:
Nduk, sebentar lagi kamu akan lahir ke dunia ini. Sudah hampir delapan bulan kamu bermalas-malasan dan bersembunyi di perut Ibumu ini seperti sedang bermain petak umpet dengan teman-temanmu. Kamu aman di di sini, segalanya tercukupi. Bisa dibilang kamu sudah hidup bahagia. Kalau bisa Ibu ingin membiarkanmu selamanya berada di dalam perut ini, dan Ibumu ini tak akan pernah lelah menjagamu. Tapi kamu harus keluar, Nduk, sebentar lagi. Kamu akan memasuki dunia yang semestinya kamu masuki setelah keluar dari perut ibumu ini. Dunia yang penuh dengan bahaya, tapi kamu tenang saja, Ibumu ini akan tetap menjagamu dengan segenap jiwa dan raga, Nduk. Tentu kamu juga sudah bosan di dalam terus, bukan? Lagi pula, Ibumu dan Bapakmu sudah kangen menimang anak perempuan, Nduk.

Kelak kamu akan tumbuh menjadi bocah kenes, ayu, Nduk. Masuk sekolah kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, lalu kuliah. Ingat, Nduk, yang negeri. Kata orang biayanya lebih mura dari yang swasta. Tapi Ibu pengen kamu jadi dokter, Nduk. Kata orang biaya untuk jadi dokter tingginya minta ampun, jual tanah pun rasanya tak terbayar. Untuk itu kamu harus nyari beasiswa, jadilah anak yang pinter. Kata tetangga, kalau pinter itu bisa dapat beasiswa, sekolahnya gratis. Siapa yang tak mau sekolah gratis, Nduk? Tak ada. Apalagi Bapakmu hanya seorang petani, dan Ibumu ini hanya akan di rumah; memasak, mencuci, merawatmu, dan semuanya.

(SUMBI DIAM. DI LUAR TERDENGAR HUJAN MULAI TURUN. SUMBI BERDIRI MENDEKAT KE PINTU)
Bapakmu belum juga pulang, Nduk. Maghrib sudah jauh tertinggal. Apa yang bapakmu kerjakan di ladang sampai selarut ini? Sudah Ibu katakan berkali-kali pada Bapakmu itu:
“Pulanglah ketika hari mulai senja, jangan sampai menemui maghrib di luar rumah, ora ilok”.

Tapi, coba apa jawab Bapakmu:
“Celeng-celeng itu baru keluar ketika malam dan merusak tanaman. Siangnya aku harus menjaga jagung dan kacang-kacang kita dari gerombolan kera yang turun gunung kehabisan makanan. Aku tak mau panen kali ini gagal lagi. Mau pake apa untuk menyewa bidan untuk membantu kelahiran dan membiayai anak kita setelah kelahirannya? Pake daun?

Aku akan menjaga diriku baik-baik, juga tanaman kita. Kamu diam saja di rumah dan jaga baik-baik calon anak kita. Semoga saja anak kita ini akan menjadi seorang anak yang kelak bisa jadi tumpuan keluarga. Anak yang menjadi kehormatan keluarga. Anak yang akan memutus rantai kemelaratan yang selama beberapa keturunan melilit. Ya, paling tidak bisa menjadi anak yang membanggakan bagi kita.”

Ibu terpaksa nurut, nduk. Ya, hanya bisa nurut. Bapakmu yang menghidupi ibumu ini, juga kamu nanti, jadi ibu musti nurut. Bapakmu hanya anak dari seorang petani dengan sepetak ladang, Nduk, yang kini sedang ditanami kacang-kacangan dan jagung. Hm,..maka dari itu, kamu nanti harus jadi orang sukses, bisa hidup mandiri tanpa harus terus-terusan bergantung pada suamimu. Kalau dalam rumah tangga nanti suamimu nasibnya apes, ups, ibu tidak mendoakan nasibmu dan suamimu nanti jelek, Nduk. Tapi andai saja suamimu kelak bernasib tidak beruntung kamu masih bisa berdiri dan menguatkan suamimu. Jangan seperti Ibu. Jika sedang apes hasil ladang Bapakmu tak mencukupi sekadar untuk makan, sementara Ibu hanya berdiam diri saja di rumah. Bapakmu orang yang bertanggung jawab, Nduk. Saking cintanya dia melarang Ibu bekerja, walau sekadar membantunya di ladang menjaga tanaman dari segerombolan kera atau celeng.

(SUMBI KEMBALI DUDUK DI ATAS DIPAN. HUJAN DI LUAR SEMAKIN DERAS)

Ibu khawatir sama bapakmu, Nduk. Bapakmu itu orang yang baik, mencintai ibu seperti mencintai dirinya sendiri, bahkan lebih. Dia juga mencintaimu dan sangat menantikan kehadiranmu dengan penuh ketidaksabaran. Dia ingin mendengar suara tangis bayi di rumah ini, setelah dua puluh tahun Bapak dan Ibumu ini tinggal serumah sebagai suami istri. Kamu, Nduk, berkah tak terkirah yang diberikan Gusti Allah.

Ibu tak akan pernah lupa ketika pertama kali Bapakmu merayu Ibu:
(SUMBI TERSENYUM MERONA)
“Sumbi, seperti namamu “Sumbi” kamu adalah gadis yang ayu. Aku hanya memiliki sepetak ladang warisan orang tuaku untuk menanam benih-benih kehidupan kita kelak jika menjadi suami istri. Dan di rumah kita yang sederhana akan ramai oleh tangis bayi atau pertengkaran anak-anak atau gelak tawa anak-anak yang akan keluar dari rahimmu seperti rumput liar yang bermunculan dari dalam tanah di musim hujan.

Aku ingin menjadikanmu istriku dan ibu dari para Pandawaku. (CENGAR-CENGIR, TERSIPU) Hanya itu yang aku punya untuk membina keluarga kita. Aku akan sangat bersyukur kalau kamu mau menerima anak petani yang hanya akan bergelut dengan tanah ladang ini. Aku akan merasa beruntung. Tapi kalau sedang buntung, kamu menolak, ya, anggap saja nasib baik belum datang. ”

Bagitulah bapakmu, Nduk. Bapakmu orang yang tidak bisa menutup-nutupi isi hati terlalu lama. Dia sangat suka berterus terang. Tubuhnya yang dulu begitu gagah terlihat seperti tak berdaya di depan Ibumu ini. Bapakmu seperti remaja yang baru tahu cinta. (TERSENYUM BANGGA)

AkhirnyaBapak dan Ibumu menikah, Nduk. Sangat sederhana. Bapakmu memberikan Ibumu ini sepasang anting emas, tidak banyak memang, tapi bagi gadis baru gede seperti Ibumu dulu benda itu sudah bisa meluluhkan hati Ibu. Bukan pada karena antingnya, Nduk. Tapi karena bapakmu yang memberinya, kalau orang lain yang memberi tentu melirik pun Ibu enggan.

Lihat, betapa bapakmu juga begitu menyayangimu. Lihat ini, Nduk, (SUMBI MERAIH SEPOTONG KAIN DAN MENDEKATKAN KE PERUTNYA) sebelum kamu lahir Bapakmu sudah menyiapkan kain popok untukmu. Tentu dia juga tak akan keberatan jika harus membersihkan tubuh mungilmu dari kotoran ketika kamu ngompol atau buang air besar di tengah malam. Dia orang baik, Nduk. Kelak kamu besar bukan saja harus sukses, menjadi dokter, kamu juga harus menjadi orang baik, seperti Bapakmu.

Tapi ingat ya, Nduk. Setelah jadi dokter kelak kamu harus kembali ke desa ini. Jadikan Bapak dan Ibumu bangga memiliki anak seorang dokter yang bisa membantu tetangga dan warga lain yang sering sakit dan sulit mendapatkan pengobatan. Sekalinya ada puskesmas, untuk bayar pun mereka belum tentu mampu. Lagi pula dokternya mana ada yang mau dibayar pake beras, jagung, singkong, atau kacang. Padahal hanya itu yang bisa mereka hasilkan dari ladang-ladang mereka. Dijual pun harganya tak seberapa, Nduk. (TERMENUNG, TERLIHAT AIR MUKA SUMBI MENJADI SEDIH)

Ibu kepengen mendengar dari mulutmu sendiri waktu menerima warga desa kita yang sakit:
“Silahkan masuk, Yu, silahkan masuk Dik, Mbah, Kek. Apa keluhannya? Baiklah, berbaringlah di atas dipan akan saya periksa dulu. Oh, Mbak Yu sakit ini, Adek sakit ini. Sebentar saya siapkan obatnya. Soal biaya tak perlu dipikirkan. Ini bantuan kesehatan dari pemerintah pada warga sini yang kurang mampu melalui perantara saya. Semoga cepat sembuh.”

(SUMBI DUDUK TERDIAM. MELIPAT BEBERAPA POTONG POPOK YANG TIDAK LEBIH SEKADAR POTONGAN-POTONGAN KAIN. HUJAN SEMAKIN DERAS DENGAN PETIR YANG MENYAMBAR-NYAMBAR)
Oalah, Nduk, kilat dan geluduk begini ributnya Bapakmu belum juga pulang dari ladang. Ini gara-gara kera dan celeng yang sering merusak tanaman bapakmu! Ibu khawatir sekali sama Bapakmu, Nduk. Bapakmu bekerja sangat keras untuk menantikan kelahiranmu, untuk menyiapkan pendidikan bagimu, syukur-syukur kamu kejadian dadi dokter. Amin, Gusti Pengeran.

(DI LUAR SEMAKIN BERGEMURUH. SUMBI SEDIKIT TEGANG SAMBIL MENGELUS-ELUS PERUT BUNCITNYA KEMUDIAN MENDEKAT KE PINTU)
Kamu tau, Nduk? Dulu, duluuu sekali. Saat menjelang maghrib hujan turun dan gemuruhnya sama seperti saat ini. Ada orang yang menggedor pintu rumah kita. Jangan takut, dia bukan perampok, tapi tetangga kita. Dia bilang:
“Mbak Yu, suami Mbak Yu meninggal tersambar petir.”
Hahahahaa…. Mana mungkin, Nduk, bapakmu tersambar petir. Dia orang yang baik. Pasti tetangga kita itu salah lihat. Pasti yang tersambar petir itu celeng atau kera yang sering merusak tanaman bapakmu. Bukan bapakmu. Dia sekarang masih di ladang menjaga kacang dan jagung dengan baik dan menyuruh Ibu menjagamu dengan baik-baik juga.

(SUMBI MENCOBA MEMBUKA PINTU TAPI TAK BERHASIL. SUMBI MENGGEDOR-GEDOR PINTU BERHARAP SESEORANG MEMBUKAKAN DARI LUAR)
Cepat pulang, Suamiku..! pulang…! Jangan sampai petir-petir itu membunuhmu. Pulang…! (MASIH MENGGEDOR-GEDOR PINTU) cepat pulang, Suamiku….! Anak kita akan segera lahir. Anak kita akan segera sekolah dan menjadi dokter.

(TIBA-TIBA DARI BALIK DASTERNYA KELUAR BUNTALAN KAIN YANG KEMUDIAN DIRAIHNTYA SEPERTI MENGGENDONG BAYI)
Anak kita sudah lahir, Mas. Anak kita sudah lahir… (TERTAWA BAHAGIA)
Cah ayu, bapakmu sebentar lagi akan pulang pulang …
Sssssst….ssst…cup-cup-cup, Cah ayu… (LIRIH)

Tak lelo lelo lelo le dung,
Cep menengo anakku si kuncung,
Bopone mari lunga menyang kali,
Ngumbah jaran, kucing karo sapi.
(SUMBI MENIMANG ANAKNYA DAN MULAI NEMBANG. LIRIH)

Surabaya, Januari 2011

(Antologi monolog “Para Pelaku” Mata Kuliah Penulisan Kreatif II)


About this entry