Kumpulan Puisi “Sajak-Sajak Sepi”

Judul: Sajak-Sajak Sepi
Penulis: Nailil Farikhah, dkk
Pnerbit: Penerbit Revka Togamas Surabaya
Cetakan: Cetakan I, 2010

__________________________

Puisi Agus Budiawan
aku yang sendiri dalam nyanyianmu

telah kau rangkai manik-manik katamu
dalam setiap bait kenanganku
membentuk sebuah bingkai berkilauan
bak permata yang diguyur dengan warna senja
“untuk ku sematkan pada matamu yang sayu seperti pagi berkabut” katamu
di ambang cakrawala melumat habis
matahari,
aku yang sendiri
masih di sini,
menatap kosong pada gumpalan awan
yang masih sedikit menyimpan jingga
mendengarkan celoteh ombak
kejar menepi
merintang ditulisanku
kau bernyanyi dalam syairku
*

tak pernah ku dengarmu
tapi tiap ucap katamu
terdengar olehku seperti suara bisu
“setiap kataku adalah nyanyian.” lirihmu
membuatku sejenak lelap dalam kebahagiaan
semu
“nyanyianku adalah serenade duka.”
katamu yang penghabisan
meninggalkan secarik kertas buram
yang telah lusuh dalam genggaman
adalah syair yang telah ku tulis dengan lidahmu
“pernah selarik cahaya
terlahir dalam bahasaku
sedikit langkah dari cinta
malam merekah. Malam kehadiran.”
**

malam menyandera langit
menggelantungkan bola memancar
aku yang sendiri
bergeming
mengenangmu adalah kesakitan
selalu tumbuh dan mati
lalu
meninggalkan benih kesakitan lainnya.

merintang ditulisanku
kau bernyanyi dalam syairku

nyanyianmu masih ku dengar
merambat di atas pasir
yang berserakan di otakku
bergelantungan di dahan
yang mengakar di hatiku
berlari dengan langkah hentak
di atas jantungku yang membiru
malam menjagaku dengan nyanyiannya sendiri
nyanyian seorang pembunuh kepada mayat
yang tergeletak dihadapannya
nyanyianmu berusaha membunuhku pelan-pelan

(Surabaya, 2010)

Catatan:———-
* “Suaramu” karya Aejandra Pizarnik.
** “Langkah Yang Hilang” karya Aejandra Pizarnik

rasanya baru kemarin

rasanya baru kemarin
aku melihat kanak yang meraung
tak rela berpisah dengan bapaknya
rasanya baru kemarin
aku melihat puluhan manusia berarak mengusung keranda
melantunkan lafal-lafal kebesaran
dalam hentakan sandal-sendal jepit
rasanya baru kemarin
aku mendapatkan sebuah nama
pada pahalan batu cadas

lima tahun sudah, tapi rasanya baru kemarin
aku terbaring menahan gigil
dengan jubah sehelai yang cuma satu-satunya
rasanya baru kemarin
tapi kain yang ku kenakan telah lapuk
tapi tubuhku semakin habis terkikis
tapi rumput liar tumbuh begitu subur
tapi nisan telah menua

rasanya baru kemarin

(Surabaya, 07 Februari 2005)

pengaduan

pada lamunku aku mengadu
tentang bocah
memapah dahaga
dalam balutan dresscode asing
kedodoran

pada rasa aku mengadu
dari panas kemarau
tanah hitam

pada deru aku mengadu
asap hitam
bak kabut gaib
penghalang
jalan yang masih panjang

(Surabaya, 28 Agustus 2005)

(Antologi “Sajak-Sajak Sepi” Mata Kuliah Penulisan Kreatif II)


About this entry