Kumpulan Cerpen “Lelaki yang Dibeli”

Judul Buku : Lelaki yang Dibeli
Penulis : Gusrianto, dkk
Editor : Abdul Wachid, B.S dan Heru Kurniawan
Penerbit : Obesesi Press & Buku Litera
Cetakan Pertama : Mei 2011
Halaman : xviii + 318; 14 x 21 cm
ISBN : 978-602-99074-5-2

Cerpen-cerpen lain yang ikut mendampingi cerpen “Lelaki yang Dibeli” juga berdiri utuh untuk menceritakan perbedaan lingkungan kebudayaan suatu daerah, kepercayaan daerah masing-masing serta konflik tersendiri di berbagai lingkungan di Indonesia. Secara sepintas saja, dalam antologi ini kita akan mendapati kisah tentang lapisan masyarakat adat yang hendak dipecundangi lewat iming-iming pinjaman uang dan pelayanan perkreditan lewat cerpen “Desa Tomatoae” karya Imran Makmur (Mahasiswa Universitas Hasanuddin Makassar), kisah keluarga di Lembah Baliem yang mengejar imaji kemakmuran dengan upaya mistik menjadi babi jadi-jadian lewat cerpen “Noken Baliem” karya Angga Aryo Wiwaha (Mahasiswa STAIN Purwokerto), kisah eksploitasi industri di kampung Sendang lewat cerpen “Cerita-cerita dari Kampung Seberang” karya Musyafak Timur Banua (Mahasiswa IAIN Walisongo Semarang), kisah biografis tokoh peranakan Cina yang diceritakan secara berbingkai lewat peristiwa pengguratan tungkai kembang yang membusuk lewat cerpen “Bunga Delapan Dewa” karya Sunlie Thomas Alexander (Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta).

Secara komunal, 34 cerpen dalam antologi ini telah tampil untuk mengisahkan keberbagaian kepelikan-keresahan-kesulitan-kegetiran pelbagai sisi kehidupan daerah-daerah di Indonesia. Dan saya kira, meski karya sastra semacam tak jarang ditanggapi sekadar sebagai cerita rekaan, segala peristiwa yang mengada dalam cerpen tetap berpotensi untuk dibaca sebagai simulasi kreatif dalam rangka perangsangan emotif bagi pembaca untuk berani membayangkan bahwa masih ada kemungkinan-kemungkinan terciptanya tata nilai baru dan terbentuknya spirit masyarakat yang berniat menemukan identitas diri yang khas.

34 Penulis:

1. ”Lelaki yang Dibeli” karya Gusrianto (Mahasiswa Universitas Terbuka (UT) UPBJJ Padang).
2. ”Noken Beliem” karya Angga Aryo Wiwaha (Mahasiswa STAIN Purwokerto).
3. ”Wali Gila yang Mati di Delta Mursongai” karya Royyan Julian (Mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM).
4. ”Bunga Delapan Dewa” karya Sunlie Thomas Alexander (Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta).
5. “Desa Tomatoae” karya Imran Makmur (Mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar).
6. ”Cerita-cerita dari Kampung Seberang” karya Musyafak Timur Banua: (Mahasiswa IAIN Walisongo Semarang).
7. “Prosesi” karya Yudhistira (Mahasiswa Inatitut Seni Indonesia (ISI) Padang).
8. “Malano dan Radiah yang Berkarib dengan Tungku” karya Alizar Tanjung (Mahasiswa IAIN Imam Bonjol Padang Sumatera Barat).
9. “Tamu Agung” karya Kristin Fourina (Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)).
10. “Panaongan” karya Badrul Munir Chair (Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta).
11. “Ziarah Tubuh” karya Agus Budiawan (Mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) Surabaya).
12. “Senandung Pojian” karya Muh. Husen Arifin (Mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang).
13. “Rokat Tanah” karya Khairul Umam (Mahasiswa STKIP PGRI Sumenep).
14. “Kampung dari Rahim Laut” karya Galih Pandu Adi (Madura).
15. ”Radio” karya Wildan Mishbahuddin (Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta).
16. ”Hikayat Kematian” karya Saiful Anam Assyaibani (Mahasiswa Universitas Islam Darul Ulum Lamongan (Unisda).
17. ”Suara” karya Faisal Syahreza (Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung).
18. ”Cowongan” karya Titik Yayuk Wijayanti (Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto).
19. ”Abah Barca” karya Hilal Ahmad (mahasiswa IAIN Sultan Maulana Hasanudin Banten).
20. “Kerbau Terbang Wak Demang” karya Syarif Hidayatullah (Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (Uhamka) Jakarta).
21. “Kembang Setaman” karya Siti Nur Azizah (Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto).
22. “Panjang Ilang, Uba Rampe di Danyangan” karya Okta Adetya (Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)).
23. ”Sula” karya Niduparas Erlang (Mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Banten)
24. ”Rebutan Jamban” karya Yunita Dwi Liandar Wati (Mahasiswa Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang)
25. ”Cintaku Terperangkap Di Lembar Buku” karya Esti Nuryani Kassam (Mahasiswa Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY)
26. ”Lejar” karya Inung Setyami (Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta)
27. ”Perempuan Kutukan” karya Marsus (Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)
28. ”Cerita Dari Padang Ara” karya A’yat Khalili (Madura)
29. “Pesona Ledhek Ngrajek” karya Dewi Nina Sari (Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto)
30. “Neptu” karya Mulasih (Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP))
31. “Tumpeng” karya Wiwit Mardianto (Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto)
32. “Tanah Warisan” karya Mariatul Kiptiah (Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto)
33. “Sedekah Cinta” karya Krisananto (Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto)
34. “Permata Si Mbok” karya Dwi Setyowati (Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto)

FOTO TENTANG BUKU

Launching & Bedah Buku “Lelaki yang Dibeli”, STAIN Purwokerto 26 Mei 2011. Kiri: Sunlie Thomas Alexander, Angga Aryo Wiwaha, Gusrianto, Ahmad Tohari (Sastrawan), Abdul Wachid B.S. (Penyair).

Ahmad Tohari (Sastrawan).

Bersama pemenang dan nominator cerpen.

Bersama Munajat Sunyi (cerpenis muda Jogja), dan Galih Pandu Adi (penyair muda Semarang).

Bersama Galih Pandu Adi (penyair muda Semarang).

Agus Budiawan, Petani yang coba pegang Buku.

Galih Pandu Adi (penyair muda Semarang).

–oo0oo-


About this entry