Ingatan Tentang Perlawanan yang Belum Usai

247109_150810538325153_100001886225571_326862_4659471_nPengantar Kumpulan Cerpen “Mozaik Ingatan”
“Mereka tak bisa tampil sendiri. Mereka perlu ditampilkan.”

Kredo Karl Marx tentang eksistensi kaum proletar yang disitir oleh Edward Said dalam bukunya yang fenomenal “Orientalisme” di atas secara eksplisit menunjukkan bagaimana dunia barat seolah memiliki kekuatan yang absolut untuk mendefinisikan ‘timur’ dengan segala ornamennya. Timur adalah dunia yang papa, bahkan untuk menampilkan dirinya sendiri. Timur adalah bisu, tanpa suara. Bahkan untuk sekedar mengerang kesakitan karena penindasan barat.
Di lain pihak, barat adalah sebuah kekuatan dahsyat yang menindas, yang coba disamarkan dengan analogi bapak-anak. Bagaimana otoritatifnya seorang bapak, itu demi kebaikan si anak. Barat adalah bapak yang mengerti apa yang baik dan apa yang buruk bagi si anak. Timur adalah anak yang tersesat jika tanpa arahan dan asuhan barat.
Previlege berupa kekuatan otoritatif yang dimiliki oleh barat tersebut telah melalui fase-fase ‘perebutan’ dan ‘pemeliharaan’. Setelah merebut tampuk kekuasaan otoritatif, maka barat akan memeliharanya dengan menempatkan kaum intelektualnya pada institusi-institusi yang memiliki peranan penting dalam membangun common sense masyarakat. Maka terpeliharalah kekuasaan hegemonik yang dimiliki oleh barat.
Singkat kata, Barat sebagai institusi (beserta intelektualnya yang tersebar di berbagai posisi) akhirnya memiliki pilihan; menampilkan (baca: mendefinisikan) si anak patuh dengan citra yang baik, atau menghapuskan keberadaan si pemberontak yang tak ingin dianggap anak yang patuh (yang bahkan tak sudi dianggap anak) dari ingatan setiap orang, atau mungkin juga ditampilkan dalam wajah yang seram dan tak sedap dipandang.
Tujuh penulis dalam buku antologi CDR ke-2 ini (termasuk CDR sebagai komunitas, semoga) tidak ingin menjadi timur, yang terancam bisu selamanya sebelum orang-orang brilian seperti Said, Spivak, dan Homi Bhaba, hadir. Tujuh penulis tersebut tidak sudi menjadi timur yang mengalami ambivalensi. Di satu sisi membenci ketertindasannya, di sisi yang lain justru mengagumi keperkasaan barat. Bahkan dalam konteks tulisan ini (diakui atau tidak, tulisan ini memang sangat kontekstual) mereka lebih tepat disebut mengalami desublimasi represif. Ambevalensi masih mengindikasikan kesadaran akan ‘ketertindasan’, sedangkan mereka yang mengidap virus desublimasi represif justru tidak menyadari ‘ketertindasan’-nya, dan dengan konyol malah merayakannya. Selama mereka bisa tampil, maka tak ada masalah dengan ‘ketertindasan’.
Sampai kapanpun timur yang semacam itu tidak akan pernah bisa mandiri. Eksistensi mereka hanya menunggu belas kasihan barat. Seperti kredo Marx di atas: Mereka tak bisa tampil sendiri. Yang menjijikkan, ada kecenderungan mereka ingin dianggap sebagai barat pula, sehingga prestise dan harkat mereka akan terangkat. Sebab bagaimanapun barat adalah cerita tentang kejayaan dan kekuasaan tiada batas. Akhirnya, sikap dan tingkahlaku timur yang terobsesi pada barat ini menjadi jumawa dan angkuh, bahkan melebihi barat yang sesungguhnya.
Tujuh penulis dalam buku ini dan komunitas CDR pada umumnya, ingin seperti Said, Spivak dan Bhaba. Ketiga tokoh ini tidak hanya sekedar menyadari adanya penindasan, bahkan mereka menelanjangi bagaimana barat mempertahankan pengaruhnya terhadap timur yang mengenaskan tersebut. Demikian juga tujuh penulis CDR dalam buku ini, mereka tidak mau terlalu bergantung pada institusi atau komunitas yang sudah mapan yang cenderung menyerupai strereotipe barat di atas; memiliki kekuasaan hegemonik dan memelihara kekuasaannya tersebut dengan menempatkan intelektual-intelektualnya pada posisi-posisi tertentu.
Dengan modal dan habitus (meminjam istilah Bourdieu) yang dimiliki, mereka berjuang dalam ranah (field) sastra dan seni Indonesia, dan Jawa Timur pada khususnya. Meski pada momen tertentu mereka akan mengalami kekalahan yang tidak dapat dihindari, sebab di dalam ranah tersebut banyak kekuatan-kekuatan yang memiliki modal dan habitus yang lebih mumpuni. Namun setidaknya mereka tidak dengan cuma-cuma ‘menyerahkan diri’ pada struktur. Mereka memiliki Agensi, kata Anthony Giddens.
Maka, seperti halnya buku pertama, “Gugatan Para Pengigau” (2009), tujuh penulis serta CDR sendiri sekali lagi ingin mendefinisikan dirinya sendiri, sembari menolak kredo Marx: “Kami bisa tampil sendiri. Kami tidak perlu ditampilkan.”
***
Buku ini memang sengaja memilih 14 judul cerpen penulis CDR yang pernah dipublikasikan di berbagai media massa, untuk mengabarkan bahwa mereka telah berproses. Berproses, yang akan selalu diakhiri dengan proses yang lain. Sebuah kegiatan yang terkadang menyenangkan, namun di lain waktu sangat menjemukan.
Proses dari waktu ke waktu yang akhirnya mengantarkan mereka pada apa yang dikatakan oleh Jacques Lacan sebagai fase ‘individualisasi kedirian’ atau fase cermin. Sebab, layaknya seorang bayi yang selalu meyakini bahwa dirinya adalah satu kesatuan dengan sang ibu, penulis-penulis dalam buku ini pun pada awalnya menganggap bahwa mereka merupakan satu kesatuan dengan berjubel buku yang telah mereka baca.
Dengan bergulirnya waktu, maka mereka akan mengenali diri mereka melalui proses‘salah mengenali’ (misrecognition). Inilah fase cermin yang dikatakan oleh Lacan. Ketika sang bayi menatap wajahnya di dalam cermin, dan memahami bahwa dirinya adalah individu yang ‘satu’. Pun demikian para penulis dalam buku ini. Melalui perjalanan yang telah dilalui, mereka akhirnya menyadari bahwa mereka adalah penulis yang unik, berkarakter, dan orisinil.
Buku ini juga merupakan sepotong ingatan. Ingatan yang menuntun mereka melintasi gurun penuh debu muslihat. Gurun penuh perompak yang kadang menyergap di tengah perjalanan. Hingga akhirnya mereka tiba pada waktu saat ini. Membungkus ingatan-ingatan tersebut dalam sebuah peti ajaib, agar kelak bisa digunakan pada masa-masa genting. Dan hanya dengan ingatan itu maka mereka akan mengerti bagaimana harus bereaksi terhadap masa depan. Sekali lagi, buku ini merupakan ingatan. Ingatan mereka tentang perjalanan dan perlawanan yang belum usai.
Sekian selamat membaca.

Editor


About this entry