Secangkir Kopi Segudang Gagasan

user6046_pic923_1238984929

Oleh : Arief Junianto
Surabaya Post. Minggu, 1 Februari 2009

Harga yang murah, jajanan yang beraneka, adalah alasan mengapa orang datang ke warung kopi. Secangkir kopi, sebatang dua batang rokok, merupakan syarat mutlak penghuni warung kopi. Sedangkan bagi mereka yang tidak merokok, secangkir kopi dan beberapa gorengan adalah sajian nikmat dari warung kopi yang semakin hangat.
Bagi segelintir orang, warung kopi juga merupakan tempat yang cocok untuk menumpahkan gagasan. Tidak jarang lahir gagasan besar dari tempat kecil macam begini. Beberapa komunitas yang menelorkan wacana-wacana kritis juga banyak lahir di tempat sepele seperti ini.
Ambil contoh, Cak Die Rezim (CDR), Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar (FS3LP), dan Komunitas Orang-Orang Penggemar Indie Film (KOPI) STIKOSA AWS. Ketiga komunitas ini merupakan bukti bahwa kopi dan warung kopi merupakan awal lahirnya gagasan penting justru dari tempat yang kerap dianggap remeh.Seperti yang dijelaskan oleh Risang, salah seorang penulis CDR bahwa CDR lahir dari kegelisahan para penulis muda melihat kondisi penulis-penulis muda yang memprihatinkan karena adanya monopoli dan dominasi dari beberapa kelompok. Pada awalnya kegelisahan ini hanya sekedar kegelisahan yang tidak terlampiaskan. Dari secangkir kopi, diskusi mulai berawal. “Dengan CDR kami para penulis muda punya wadah untuk mempublikasikan karya, sekaligus menelorkan wacana-wacana baru tentang sastra”, terangnya.
Berbeda lagi dengan FS3LP. Komunitas yang melahirkan banyak sastrawan muda ini berawal dari warung kopi yang mereka namakan sendiri dengan sebutan ‘Mak’. Di tempat ini, mereka biasa berkumpul. Bahan obrolan biasanya muncul begitu kopi mulai disruput. Ketika ditanya mengenai rasa kopi dari ‘Mak’, Denny Jatmiko mengatakan ‘Mak’ merupakan tempat yang paling ideal bagi mereka untuk berkumpul. Bahkan, nama FS 3LP sendiri, diambil dari tempat ini. Nama Luar Pagar dalam singkatan FS3LP diambil dari tempat mereka nongkrong yang berada tepat di luar pagar kampus.
Selain itu, komunitas kreatif lain yang tercipta dengan berlatar belakangkan kopi adalah KOPI. Komunitas ini terbentuk pada tahun 2002. Nama kopi diambil dari tempat dimana gagasan untuk mendirikan sebuah kelompok pecinta dan penggiat film indie pertama kali muncul, yakni di warung kopi.
Komunitas-komunitas yang lahir dari warung kopi merupakan komunitas yang anggotanya lebih memiliki sifat solider. Solidaritas ini lahir karena persamaan yang mereka rasakan ketika sudah berada di warung kopi. Secangkir kopi yang mereka pesan pada dasarnya menjadi bukti bahwa tidak ada yang perbedaan di warung kopi. Semua sama. Sebab yang mereka makan, minum dan pesan pun tidak memiliki harga yang jauh berbeda. Ini yang membuat mereka kemudian merasa sama. (*)


About this entry