Tempa Diri Bersama Menjadi Penulis Indonesia Masa Depan

Oleh: Risang Anom Pujayanto
Radar Surabaya, Minggu 1 Februari 2009

Komunitas Cak Die Rezim (CDR) berawal dari komunitas maya yang sama-sama menyukai tulis-menulis. Mereka berharap CDR melahirkan penulis-penulis ternama nasional masa depan dari Surabaya.

Sejarah CDR bisa ditelusuri dari artinya. Memang tidak ada muatan filosofis tersendiri dengan nama tersebut. Kata Cak Die diberikan dari sebuah nama warung kopi di mana komunitas maya itu digagas. Sedangkan, kata Rezim menjadi kata yang begitu saja dipilih agar mudah diingat dan diucapkan. Menurut salah satu penggagas CDR Wildansyah Bastomi, kata-kata tersebut seperti lubrikasi yang membantu agar Cak Die Rezim lebih enak diucapkan siapa saja.

”Supaya mendekati kata yang sudah dikenal oleh masyarakat umum, Cak Durasim,” lontarnya.

Kendati terkesan mendompleng nama besar, tetapi hal itu justru menjadi poin plus untuk sebuah komunitas maya. Seiring dengan terbangunnya hubungan kekerabatan antarpengguna fasilitas CDR, yang semakin intens, maka timbul keinginan untuk mengkonkretkan komunitas maya ini. Dari warung kopi tepi di bilangan Jl Airlangga Surabaya, hanya menggelar tikar sederhana, maka timbullah kesepakatan di antara mereka.

”Kami menyepakati bahwa CDR berdiri pada 8 Agustus 2008,” katanya.

Wildansyah menambahkan, hingga kini telah tercatat ada sekitar puluhan anggota yang telah tergabung dalam keanggotaan aktif CDR. Mereka adalah penulis-penulis muda berbakat yang sedang merintis karir kepenulisan. Bidikannya, karya-karya seni, seni lukis, drama, prosa, puisi dan esai.

”Asalkan ada sangkut pautnya dengan seni, budaya dan humanisme,” ujar pria yang berpengalaman sebagai actor dalam beberapa pementasan drama tersebut.

Warung Cak Di berada di dekat pintu masuk Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Seluruh anggota CDR menyelenggarakan pertemuan rutin pada Jumat Malam. Dalam perkumpulan tersebut, pada intinya percakapan mereka selalu berkutat tentang kesenian. Menurut penuturan anggota CDR Finsa, komunitas ini selalu terbuka bagi siapa saja yang memiliki kepedulian dengan dunia kesenian.

”Bagi komunitas lain yang ingin membuka diskusi tentang seni dan budaya, dipersilahkan datang Jumat malam di sini (warung Cak Di, red),” ujarnya.

Di awal 2009, komunitas CDR telah banyak menunjukkan eksistensi di Jawa Timur secara personal maupun kelompok. Beragam festival kepenulisan Jawa Timur banyak direbut anggota-anggota CDR. Demikian juga, dalam tataran kepenulisan di media massa. Banyak sekali penulis CDR telah mewarnai media-media Jawa Timur hanya dalam rentang waktu hitungan bulan.

”Barangkali penulis-penulis ternama nasional masa depan bisa jadi akan berasal dari Surabaya. Kami memang sedang proses ke ranah nasional,” tutur Eko Darmoko, salah satu cerpenis berbakat CDR. (nga)


About this entry