BONEKA JERAMI

2

(Ilustrasi: “The Eagle’s Nest” by Erika Huddleston)

Cerpen Agus Budiawan

SEBENARNYA aku hanyalah anak yang dilahirkan dari rahim seorang petani. Sejak kecil tubuhku telah akrab dengan tanah. Bau badanku pun bau tanah. Warna kulitku adalah warna tanah. Dan kami hidup dengan mengandalkan tanah. Seperti tanah yang dipupuk dan diairi untuk menghasilkan tanaman yang unggul, aku pun diberi makan dan diberi pendidikan dengan cukup baik; supaya menghasilkan manusia yang unggul, bermanfaat bagi orang lain, dan bisa membanggakan orang tua. Begitulah, orang tua selalu menginginkan anaknya lebih baik dari dirinya.

Aku tumbuh menjadi anak yang selalu ingin tahu. Kata Bapak, anak sepertiku nantinya akan tumbuh menjadi anak yang cerdas. Meskipun Bapak adalah seorang dengan pendidikan rendah, beliau tahu apa yang dinamakan kritis. Aku akan selalu menanyakan pada beliau tentang segala hal yang terasa asing di telingaku. Seperti pada suatu ketika di sekolah aku mendapatkan pelajaran agama yang mengisahkan tentang muasal diciptakannya manusia.

“Manusia diciptakan Tuhan dari tanah lalu ditiupkannya ruh.”

Pelajaran itu sangat menarik bagiku. Dulu setelah mendapat pelajaran itu di sekolah, aku langsung mencoba untuk mempraktekkannya. Di sawah aku bisa mendapatkan bahan baku yang melimpah untuk membuat manusia. Aku mengambil beberapa kepal tanah dan membentuknya menjadi seekor sapi, dan bukan manusia. Karena waktu itu Bapak ingin sekali memiliki sapi sendiri untuk ingon-ingon[1] dan keperluan membajak sawah. Jadi aku ingin sekali membuatkan Bapak sepasang sapi jantan dan betina yang kelak akan beranak-pinak. Tapi setelah aku tiup, tanah berbentuk sapi itu tetap kukuh seperti sedia kala. Saat itu aku menangis dan berlari ke arah Ibu dan Bapak yang sedang sibuk menanam biji-biji jagung di lubang-lubang kecil lalu menimbunnya dengan tanah.

“Ada apa, Eko?”

“Kenapa ini tidak bisa hidup?”

Aku menunjukkan sapi-sapian terbuat dari tanah sawah yang ada di tanganku kepada Bapak. Melihat kepolosanku Ibu dan Bapak berhenti melempar biji-biji jagung ke lubang kemudian tertawa.

“Itu hanya tanah, Eko. Bagaimana mungkin bisa hidup.”

“Tapi kata ibu guru manusia diciptakan Tuhan dari tanah?”

Sebenarnya waktu itu aku juga tidak yakin dengan apa yang aku lakukan. Ibu guru bilang manusia diciptakan dari tanah, dan bukan sapi. Tapi aku ingin menghadiahkan Ibu dan Bapakku seekor sapi yang ada di tanganku. Setelah itu Bapak mengajakku menepi dan duduk di pematang sawah, sementara Ibu terus melanjutkan melempar biji-biji jagung.

Siang itu matahari cukup terik, tapi masih terasa ramah di kulit kami yang setiap harinya memang sudah akrab dengan sinar matahari. Sesekali angin yang berhembus kencang menggerakkan boneka jerami yang masih terpacak lesu di tengah sawah. Musim panen padi yang pertama telah usai dan kini memasuki musim tanam padi yang kedua. Jika musim sedang baik maka dari satu petak sawah bisa tiga kali panen. Tetapi musim sedang tidak baik, hujan yang turun tidak mampu membuat tanah menjadi gembur. Jadi Ibu dan Bapak memilih menanami sawah dengan jagung. Dengan pergantian tanaman, maka selesailah tugas boneka jerami yang renta dan mulai lapuk itu.

Ketika padi milik orang tuaku serta petani yang lain memasuki musim isi[2] sampai dengan musim tunggu, boneka jerami itulah yang setiap hari, siang-malam, menjaga padi dari serangan hama burung yang semakin bandel saja. Tumpukan jerami sisa musim panen yang sudah-sudah bisa dimanfaatkan untuk membuat boneka dari jerami yang biasa disebut orang-orangan sawah. Jerami dirangkai sedemikian rupa hingga membentuk wujud seperti seorang petani lengkap dengan pakaian dan capingnya. Setelah itu boneka jerami diletakkan di tengah sawah. Beberapa musim yang lalu boneka jerami itu sudah berhasil mencegah burung hinggap di pucuk-pucuk padi. Tapi sekarang burung-burung menjadi semakin berani, boneka jerami tak lagi mampu mengusir burung-burung seorang diri. Karena itu Ibu dan Bapak secara bergantian ikut menjaga padi sampai panen tiba.

“Kalau ndak begitu burung-burung itu yang panen duluan, kita hanya dapat kulitnya dan jeraminya saja,” begitu kata Ibu.

Pandanganku kembali mengarah ke arah Bapak yang kemudian melepas caping dan menunjukkan beberapa rambutnya yang sedikit memutih. Bapak lebih memilih mengajakku duduk di bawah pohon mangga di dekat pematang karena anginnya yang sejuk.

“Manusia diciptakan dari tanah, jin diciptakan dari api, dan malaikat diciptakan dari cahaya.” Bapak berbicara seperti guru agamaku yang sedang mengajar murid-murid di kelas, “semua itu adalah kekuasaan Tuhan, Eko. Dia bisa menciptakan apa pun. Dia juga bisa menciptakan tanah ini dan menumbuhkan apa saja darinya. Kita bisa terus hidup dari tanah ini. Sementara kita hanyalah manusia-manusia biasa, bukan Tuhan. Kewajiban kita adalah menjaga dan memanfaatkan pemberian tuhan ini dengan sebaik-baiknya.”

Bapak berkata demikian sambil menepuk-nepuk tanah yang sedang kami duduki. Ibu yang masih sibuk menanam biji jagung sesekali mencuri pandang ke arah kami. Ketika mataku dan mata Ibu tak sengaja bertemu, aku dan Ibu pun saling tersenyum menahan malu.

“Ini adalah tanah yang diwariskan oleh nenek moyang kita secara turun temurun. Dari tanah inilah keluarga kita menggantungkan hidup. Nanti tanah ini akan menjadi milikmu, lalu anak-anakmu. Kamu harus menjaganya baik-baik. Satu-satunya lahan kehidupan bagi petani seperti Bapak dan Ibumu dan petani-petani lainnya ya hanya dari sawah. Kalau tidak ada sawah mau makan dari mana?”

Bapak mengusap-usap rambutku yang kemerahan karena terlalu banyak tersengat matahari. Raut muka Bapak memancarkan sebuah harapan besar; aku harus menjaga tanah ini dengan baik. Sejenak aku diam dan berpikir. Lalu kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut mungilku.

“Aku ingin jadi polisi, Pak,” aku melontarkan cita-cita itu karena suatu ketika menyaksikan kegagahan polisi dalam menangkap penjahat di televisi.

“Kenapa kamu ingin jadi polisi?”

“Nanti kalau ada orang yang mencuri tanah Bapak akan saya tangkap.”

“Kalau mau jadi polisi, kamu harus jadi polisi yang baik.”

“Eh, ndak mau ding… aku mau jadi tentara,” aku mengatakan itu saat teringat pada boneka jerami di tengah sawah itu. Di bayanganku, boneka jerami itu seperti seorang prajurit gagah perkasa yang tak kenal lelah menjaga padi milik orang tuaku serta petani-petani lainnya.

“Apapun pekerjaanmu nanti, kamu harus bekerja dengan baik.”

Wajah Bapak menjadi sumringah mendengar celotehku. Bapak mencubit pipiku dengan kedua tangannya yang hitam dan kasar lalu melanjutkan pekerjaannya menyusul Ibu. Dari jauh aku melihat Bapak dan Ibu mengobrol sebentar kemudian Ibu menatap ke arahku dan tersenyum. Aku tersipu. Aku kembali menyibukkan diri dengan sapi-sapian terbuat dari tanah yang sedikit bopeng karena tanpa sadar terjatuh. Aku merapikan bentuk sapi itu dan bergegas membuat lagi.

Sapi-sapian yang sudah kubuat tadi adalah sapi jantan lengkap dengan tanduknya yang terbuat dari patahan ranting kecil. Sekarang aku akan membuat sapi betina. Dalam bayanganku sapi-sapian jantan dan betina itu nantinya akan tumbuh besar dan berkembang biak dengan jumlah yang banyak.

SEBENARNYA aku hanyalah anak dari seorang petani yang kini menjadi seorang penyanyi. Tapi aku bukanlah penyanyi yang sesungguhnya. Aku bukan seorang penyanyi seperti Rhoma Irama atau Iwan Fals. Aku kini adalah anak petani yang menjadi tentara dan sekaligus sebagai penyanyi. Aku telah berhasil menjadi seorang tentara seperti yang aku ungkapkan kepada Bapak di pematang sawah yang terik.  Ibu dan Bapak bangga melihat anaknya yang berasal dari keluarga seorang petani bisa menjadi tentara. Aku akan melindungi orang tuaku.

Entah bagaimana nasib menuntunku. Lama-lama pelajaran yang aku dapat tidak lagi sebatas pada bagaimana merakit dan menggunakan senjata, bagaimana strategi bertahan dan berperang, atau bagaimana menanamkan sifat rela menyerahkan jiwa dan raga demi keamanan negara. Di samping itu, di sela-sela latihan aku juga dididik untuk menjadi seorang penyanyi. Sejak kapan tentara menjadi penyanyi? Selama ini tentara dipandang sebagai makhluk menakutkan dengan karakter keras yang hanya akrab dengan senjata dan perang. Jadi jika ada tentara yang menyanyi dengan cukup baik dan bisa menghibur masyarakat, maka dia adalah tentara yang akan dianggap istimewa.

Setelah menjadi penyanyi segalanya seperti akan menjadi lebih mudah. Kesan garang dan keras yang selama ini melekat pada sosok tentara perlahan-lahan hilang di benak masyarakat dengan kehadiranku. Dengan begitu tidak butuh waktu lama untuk menarik perhatian mereka. Aku kemudian menjadi semakin dekat dengan masyarakat. Aku menjadi tentara yang dicintai dan dieluh-eluhkan. Jika dulu tentara ditakuti, maka dengan nyanyianku tentara menjadi semakin dicintai.

Sejak itu aku semakin jarang dikirim ke daerah-daerah konflik, melainkan lebih sering di kirim ke daerah-daerah tertinggal yang masih membutuhkan hiburan. Jika dulunya tentara sepertiku ditugaskan negara untuk berperang, maka kebanyakan waktuku sekarang habis untuk menghadiri undangan sebagai seorang penyanyi. Dengan singkat aku benar-benar sudah menjadi tentara istimewa – tentara  yang tidak hanya gemar meneriakkan semangat perjuangan melawan serangan musuh, tapi juga sebagai tentara yang pandai menyanyi.

Semakin lama aku menjadi tentara yang semakin dicintai masyarakat. Kehadiranku selalu ditunggu. Hidupku pun menjadi seperti selebritis baru yang selalu diburu mata kamera. Ibu, aku telah menjadi penyanyi! Anakmu bukan lagi menjadi seorang tentara yang dieluh-eluhklan karena berhasil menumpas musuh negara yang ingin merampas tanah-tanah kita. Bukan karena berhasil mencegah bom meluluhlantakkan masjid-masjid dan gereja-gereja. Bukan karena berhasil memberhangus sarang-sarang koruptor. Sungguh aku dieluh-eluhkan dan menjadi seorang pahlawan hanya karena menyanyi!

Tapi kini aku sudah berada di antara barisan yang menenteng senjata. Barisan di mana seharusnya aku berada. Dengan begini aku bisa merasa benar-benar menjadi seorang tentara yang gagah dan disegani. Aku sudah berdiri di antara barisan tentara-tentara lain dengan wajah beringas tanpa kenal menyerah. Barisan sudah dirapatkan. Di depan kami juga sudah terpasang tameng-tameng anti peluru. Di belakang kami masih ada beregu-regu tentara lainnya lengkap dengan mobil patroli dan kendaraan lapis baja. Tapi kami bukan hendak berperang, Ibu. Sama sekali bukan.

Di saat-saat seperti ini seharusnya aku bangga. Pakaianku sudah lengkap dengan helm, senjata, dan tameng untuk mempertahankan keamanan negara. Bukankah ini yang aku cita-citakan? Aku akan menjadi tentara; menjaga stabilitas keamanan dan juga menjaga tanah kita dari orang-orang yang ingin merampas dengan semena-mena. Jika melihat anakmu seperti ini mungkin kalian akan bangga hingga terbang ke angkasa.

Tapi aku sungguh berharap kalian tak pernah melihat apa yang akan aku lakukan di tempat ini. Aku yakin jika melihat ini kalian pun akan menangis. Karena jauh di dasar hati aku ingin menangis. Tapi seorang tentara sudah lama diharamkan menagis. Tentara tidak boleh lemah. Aku harus tetap menenteng senjata dengan gagah berani. Tak perduli meskipun lawan yang ada di hadapan kami bukan musuh negara atau komplotan teroris. Orang-orang yang bergerombol di hadapan kami adalah para petani biasa seperti Ibu dan Bapak juga.

“Eko, kau harus menyanyi!” terdengar suara dari belakang.

Aku memang harus menyanyi, membuai para petani itu dengan hiburan hingga melupakan segala permasalahan yang mereka hadapi. Aku hanya bertugas untuk menyanyi, agar lebih dekat dengan mereka dan menjadi tentara yang dicintai. Dengan begitu kami bisa mendekati para petani itu pelan-pelan hingga dengan suka rela melepaskan tanah-tanah sumber penghidupan mereka. Bukan. Itu bukan tanah-tanah para petani itu, tapi tanah negara yang harus kami ambil kembali untuk kepentingan negara. Setidaknya itu menurut kami; menurut surat-surat tanah yang ada di tangan kami. Tapi para petani itu tetap bersikukuh mengaku pemilik sah tanah-tanah itu. Dan untuk itu mereka siap mati untuk mempertahankannya. Karena itulah aku harus menyanyi.

“Eko, kau harus menyanyi!”

Terdengar lagi suara komandan dari belakang. Aku lega. Aku tak harus menenteng senjata untuk melukai para petani itu. Aku hanya harus menyanyi, itulah tugasku. Aku telah menjadi tentara yang terlanjur dicintai masyarakat. Tapi apakah aku akan tetap dicintai? Mereka adalah petani-petani seperti Ibu dan Bapak yang mengandalkan tanah-tanah itu sebagai satu-satunya sumber kehidupan; orang-orang yang mengggantungkan hidup dari hasil tanah yang diwariskan oleh nenek moyang mereka. Bagaimana aku bisa menyakiti mereka? Di dalam tubuhku mengalir darah seorang petani. Aku hanya akan menyanyi, bukan menenteng senjata.

“Ayo mulai menyanyi!”

“Siap, Ndan!”

Aku keluar dari barisan dan berlari menuju mobil patroli. Tempatku yang kosong kemudian diisi oleh tentara lainnya. Aku setengah berlari menuju mobil patroli dan meloncat ke atasnya. Aku mulai menyanyikan lagu yang sudah dikenal oleh setiap orang tanpa iringan musik. Dari atas mobil aku membayangkan sekelompok petani yang ada di hadapanku adalah orang-orang yang sama ketika meneriakkan kebanggaanya kepadaku saat menyanyi di atas panggung. Tapi bukan, mereka tidak sedang mengacung-acungkan spanduk bertuliskan ‘I Love You Eko’ atau melambai-lambaikan tangan untuk menyambutku dengan riang gembira. Mereka mengacungkan sabit, cangkul, linggis, dan juga bambu. Mereka berteriak menghujatku, bukan menyanjungku.

“Kami butuh keadilan, bukan nyanyian!”

Mereka seakan sudah terbangun dari buaian lagu-lagu indah yang aku nyanyikan. Aku memang hanya perlu menyanyi. Mendekati para petani yang ingin mencari hiburan sejenak setelah lelah memeras keringat menggarap sawah-sawah mereka. Aku hanya perlu menyanyi agar dicintai, lalu menunggu mereka lengah akan segala permasalahan yang membelit tanah mereka.

“Tanah-tanah ini milik kami!”

Hanya itu yang mampu mereka buktikan. Mereka tak punya surat tanah yang sah. Surat tanah yang diwariskan orang tua mereka hanya berupa coret-coretan tangan yang menerangkan batas kepemilikan tanah yang ditandai dengan petok[3]. Seperti mereka, Ibu dan Bapak pun tak pernah mengenal surat tanah. Umumnya tanah-tanah di desa, tanah Ibu dan Bapakku pun hanya ditandai dengan petok yang sudah disepakati bersama oleh warga desa. Sementara kami bisa dengan mudah membuat surat-surat resmi untuk tanah-tanah yang menurut kami adalah milik kami.

“Kalian perampok rakyat sendiri!”

Dalam hati aku menangis, tapi yang aku bisa hanya terus menyanyi – mencoba menenangkan para petani yang sudah mendidih direbus amarah. Dari atas mobil aku melihat bebatuan mulai melayang di udara. Di antara para petani itu aku seperti melihat wajah Ibu dan Bapak. Aku seperti melihat Ibu dan Bapak sedang menanam padi di tanah yang digenangi air. Ah, tidak. Aku seperti melihat Ibu dan Bapak menanam jagung di tanah yang tandus. Aku melihat Ibu dan Bapak menyekah peluh lalu menegak minuman dari botol bekas air mineral yang sedikit lumutan. Aku melihat Ibu dan Bapak membisu, mematung, dan berubah menjadi sepasang boneka jerami di tengah gemuruh burung-burung yang menyerbu padi.

“Mereka sudah semakin beringas. Turun! Ambil senjatamu!”

Terdengar komandan memerintahkan aku untuk segera menghentikan nyanyianku dan bergabung dengan pasukan lain yang terus bertahan dari lemparan batu dan bambu-bambu. Sebenarnya aku ingin terus menyanyi, tapi aku adalah tentara yang diwajibkan patuh pada pimpinan. Aku harus menenteng senjata dan melawan rakyatku sendiri; melawan Ibu dan Bapakku sendiri. Mungkin Ibu dan Bapakku sekarang menangis di depan televisi menyaksikan aku berada di antara kerusuhan ini.

Suara dentuman dari moncong senapan-senapan pasukan menambah keriuhan. Pasukan itu tidak sedang membidik burung-burung yang beterbangan di atas langit sana, tapi ingin memberikan peringatan agar para petani berhenti menyerang dan mundur. Tapi suara senapan itu tak ubahnya seperti auman singa ompong yang tak mampu menghentikan perlawanan mereka.

Puluhan peluru menembus udara hampa, tapi aku masih bergetar menenteng senapan yang menggantung di pundakku. Para petani terus menyerang. Peluru-peluru kemudian  secara bergantian berhamburan mengikuti garis horizontal. Tapi tak satu pun peluru keluar dari senapan yang aku bawa. Aku gemetar, tak sampai hati memuntahkan peluru yang akan menembus tubuh Ibu dan Bapakku sendiri. Aku semakin bergetar.

“Aku ingin menyanyi.”

“Angkat senjatamu!”

Para petani terus merangsek ke depan. Para pasukan di depanku masih mencoba bertahan dan sesekali melancarkan serangan balik. Petani-petani itu bukanlah orang-orang yang sedang berebut ingin berfoto denganku. Para pasukan di depanku ini bukan pula hendak menertibkan orang-orang yang ingin meminta tanda tanganku. Kita adalah dua kubu yang saling bertahan dan saling menyerang.

“Aku ingin menyanyi.”

“Angakat senjatamu!”

“Aku ingin menjadi penyanyi.”

“Tarik pelatuknya!”

“Aku tak ingin jadi tentara.”

Aku mengabaikan perintah komandan untuk menenteng senjata lalu kembali meloncat ke atas mobil patroli. Dari atap mobil kulihat para petani kalang kabut melawan pasukan yang terus merangsek ke depan dan semakin beringas. Aku ingin terus menyanyi, tapi nyanyianku tak mampu lagi menghibur orang-orang yang dulu memujaku. Aku merasakan tubuhku keluh. Aku seperti berubah menjadi seperti boneka jerami di tengah sawah yang tak lagi ditakuti burung-burung. *

Surabaya, 20 April 2011

 

 * Juara I Airlangga Art Festival 2011 dan masuk buletin GATRA (Gagasan Sastra HMD Sasindo) Edisi 2011


[1] Peliharaan

[2] Musim isi adalah ketika padi mulai berbuah dan merunduk.

[3] Semacam tanda yang digunakan untuk menandai batas-batas tanah kepemilikan. Tanda itu bisa berupa pohon, batu, atau pasak yang terbuat dari semen.


About this entry