Dongeng Putih

Untitled-1

(Ilustrasi: “Murder in the Library” by Stefan Krikl)

Cerpen Agus Budiawan

Susi melihat bayangan Ibu yang selalu menyayanginya duduk di sudut kamar mandi. Ibu Susi sering terlihat mencuci di tengah malam yang gigil. Tak pernah selesai. Susi hanya bisa mengamati Ibunya dari posisi berjarak. Ibu Susi hanya menunduk dan terus mengucek pakaian satu persatu. Mata Ibu Susi tak pernah mau berpaling dari pekerjaannya untuk sekadar menoleh ke arah Susi. Kalaupun mau berpaling, itu hanya untuk memberikan isyarat pada Susi agar segera kembali ke kamar dan tidur.

Beberapa hari sejak kejadian itu Susi sering terbangun di tengah malam. Ia tidur dengan gelisah. Sebab itulah meskipun matanya tertutup ia masih bisa mendengar sayup-sayup suara dari kamar mandi; suara seseorang sedang mandi atau suara orang yang sedang mencuci. Sejak itu pula Susi menyadari kehadiran sosok Ibunya yang telah lama meninggal. Ia senang karena Ibunya telah kembali. Ibu yang selalu dirindukan dalam hari-harinya yang sepi.

Tapi apakah Ibu Susi nyata adanya? Entahlah. Ayah Susi yang sesekali terbangun hanya mendapati sosok Susi seorang diri di sudut kamar mandi seperti sedang mengamati sesuatu. Sejak kematian Ibunya, baru kali ini Susi menjadi akrab kembali dengan kamar mandi. Kamar mandi menjadi sebuah ruang pelarian yang sempurna bagi jiwa-jiwa yang sepi. Kamar mandi menghadirkan sebuah melodi kesendirian yang merdu. Lewat suara titik air yang menetes dari keran yang tak tertutup dengan rapat hingga menghasilkan suara tik tik tik yang sangat pelan dan lamban.

Hampir setiap malam Susi diperdengarkan dongeng yang berasal dari kamar mandi. Dongeng yang sekiranya sedikit demi sedikit mampu membangkitkan jiwa-jiwa sunyi yang bersemayam di dalam diri Susi. Dongeng tentang kematian Ibu yang selalu menyayanginya di tangan Ayahnya sendiri. Setelah semuanya berakhir, ia bisa terlelap di kamar mandi dan bangun keesokan harinya ketika tangan Ayahnya dengan kasar menarik tubuhnya.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

“Menemani Ibu.”

“Diam kau! Tak ada siapa-siapa di sini.”

Setelah itu Susi hanya bisa menuruti tangan Ayah yang menuntunnya pergi. Sementara ia tertatih menuruti tarikan Ayahnya, ia masih bisa melihat sosok Ibunya yang masih sibuk mencuci.

***

Kamar mandi telah menjadi tempat yang diakrabi Susi sejak ia kecil. Ia selalu ingin menemani Ibunya yang sedang mencuci. Ia bisa mengingat dengan jelas bagaimana dulu ia suka bermain di bak mandi seperti ikan kecil yang tak bisa hidup tanpa air. Ia bisa menghabiskan waktu berendam di bak air bersama bebek kecil mainannya. Tidak seperti Ibu Susi yang selalu menyayanginya, Ayah Susi lama-lama menjadi geram dengan kebiasaannya. Bukan hanya lantaran kebiasaan Susi yang gemar bermain air, tapi lantaran biaya hidup yang semakin mencekik leher. Kebutuhan hidup semakin banyak dan sulitnya mencari pekerjaan membuat Ayah Susi mudah marah. Kejadian kecil sudah bisa membangkitkan emosi. Pertengkaran menjadi sering terjadi di keluarga kecil Susi. Tak jarang bentakan dan pukulan mampir di wajah lugu Susi dan juga Ibunya.

Puncak kemaran Ayah Susi terjadi di suatu sore yang rintik. Entah dari mana, Ayah Susi terlihat datang dengan menenteng sebuah bungkusan hitam. Setelah dibuka, bungkusan kain hitam itu berisi bubuk putih seperti bedak yang dicampur dengan bunga melati. Bubuk dan bunga melati itu kemudian ditabur di setiap sudut rumah. Ibu Susi yang mencoba menanyakan hal itu hanya mendapat pukulan sebagai jawaban. Susi yang melihat kejadian itu dari sela-sela pintu kamar mandi hanya bisa meringkuk, ketakutan. Tubuhnya menggigil.

Keesokan harinya, ketika Susi sedang asik bermain dengan bebek kecil mainannya, Ayah Susi datang menghampiri Ibunya yang sedang mencuci pakaian. Dari balik baju yang kumal, Ayah Susi mengeluarkan sebilah parang yang berkilat. Melihat itu Susi menjadi gagap dan tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Mata Susi membelalak mengucurkan air mata. Ia berharap ini hanya mimpi yang tak akan pernah terjadi. Tapi ini bukan mimpi buruk yang beberapa kali menganggu tidurnya. Segalanya baru saja terjadi di hadapannya. Ia melihat sendiri tubuh Ibunya terjerembab di lantai porselen setelah parang yang berkilat itu mengasari leher Ibunya. Seperti seorang tukang jagal hewan yang pernah ia saksikan ketika hari raya besar, Ayah Susi menggorok leher ibunya sampai darah terkuras habis.

Susi tak bisa bergerak. Ia ingin berteriak, tapi gagap. Ingin menangis, tapi tertahan. Ia tak bisa berbuat apa-apa melihat tubuh Ibunya yang pucat kehabisan darah dan tak berdaya kemudian tersungkur di lantai. Darah menggenang bercampur dengan busa sabun cuci yang membuih. Setelah membunuh Ibunya, Ayah Susi mengangkat mayat Ibunya dan memasukkannya ke dalam bak mandi lalu menimbunnya dengan adonan semen hingga melenyapkan sosok Ibu dari pandangan mata Susi untuk selamanya. Setelah selesai dengan pekerjaannya, Ayahnya menghampiri Susi yang masih meringkuk di sudut kamar mandi.

“Jangan banyak bicara! Kau mengerti?!”

Bentak Ayah Susi sebelum benar-benar meninggalkan tubuh kecilnya yang masih menggigil. Pandangan mata Susi tak pernah mau lepas pada bangunan persegi panjang dari semen yang melenyapkan tubuh Ibunya itu. Entah apa yang ada di benak Susi saat itu. Ia hanya tetap diam. Tak bersuara.

***

Sejak kejadian yang menimpa Ibunya sewaktu kecil, Susi yang awalnya periang dan suka bermain kemudian tumbuh menjadi gadis yang tertutup dan pendiam. Bayangan tentang kejadian yang menimpa Ibunya selalu ada di dalam memori otaknya. Lebih-lebih ia sangat merasakan kehilangan sosok Ibu yang selalu meyanyanginya. Hal itu membuat Susi lebih sering menghabiskan waktu untuk menyendiri di kamar mandi; berharap bisa bertemu sosok Ibu yang selalu dirindukannya.

Kepribadian Maya yang pendiam dan tertutup itu membuat ia sulit bergaul. Ia menjadi canggung ketika sedang berada di keramaian. Susi menjadi semakin dijauhi teman-temannya. Sejak itu pula ia lebih senang menghabiskan waktu di sebuah bangunan tua di sisi lain kesunyian kota. Dan di tempat itu pula ia bertemu dengan seorang wanita dengan jiwa sunyi lainnya. Wanita itu memperkenalkan diri sebagai Maya. Melihat Susi dan Maya layaknya melihat bayangan diri sendiri. Mereka memiliki kesunyian masing-masing yang saling mengikat antara yang satu dengan yang lainnya.

“Aku Susi.” Susi memperkenalkan diri.

Perkenalan ganjil Susi dengan Maya berlanjut sampai beberapa waktu. Mereka menjadi teman. Kebanyakan waktu mereka habiskan di luar rumah; di museum, bangunan tua, atau tempat-tempat lain yang jarang didatangi orang. Mengenal Maya membuat Susi seperti hidup kembali. Seperti jiwa yang hilang bersama Ibunya dulu telah kembali. Apakah Maya adalah penjelmaan Ibunya?

Sejak mengenal Maya, Susi semakin jauh dari lingkungan teman-temannya. Ia selalu abai terhadap siapa dan terhadap apa pun. Hampir seluruh waktunya hanya untuk Maya. Apakah Maya benar-benar penjelmaan Ibunya? Atau mungkin Maya hanya sosok fiktif yang ia ciptakan sendiri untuk menemaninya? Entahlah. Sejak kehadiran Maya dalam kesunyiannya, Susi menjadi memiliki semangat kembali.

“Apakah Ibumu juga mati di tangan Ayahmu?” Tanya Maya.

“Benar. Bagaimana bisa sama denganku?”

“Benarkah? Persamaan itulah yang mungkin mempertemukan kita.”

Susi tersenyum, tapi tetap dengan senyum yang ganjil. Orang biasa yang melihatnya tidak akan pernah bisa menemukan senyum itu di wajah Susi. Tapi lihatlah dengan cermat. Susi benar-benar bisa tersenyum. Senyum yang dingin.

“Ayah sekarang menjadi orang kaya.” Susi bergumam.

“Begitu juga Ayahku. Rumahnya yang dulu kecil dan sederhana kini menjadi rumah mewah dan indah. Ayah telah sukses dalam setiap pekerjaannya dan tak ada lagi kesusahan yang mencekik lehernya seperti dulu. Ayah telah mengorbankan Ibu untuk semua itu.”

Susi menatap Maya. Susi seperti tak bisa percaya bagaimana kejadian yang menimpa dirinya sama persis seperti apa yang terjadi pada diri Maya. Susi diam sejenak. Ia seperti sedang berpikir keras tentang Maya. Apakah Maya adalah benar penjelmaan Ibunya? Atau hanya bayangan dirinya yang kemudian hidup menjadi sosok lain bernama Maya?

Susi belum berhasil menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu. Tapi sejurus kemudian tubuhnya bergetar ketika melihat Maya mengeluarkan sebilah pisau dari balik jaketnya. Mata Susi membelalak sama seperti ketika melihat Ayahnya menghunus parang dan perlahan-lahan mendekati Ibunya yang sedang mencuci. Keringat dingin keluar dari pori-pori kulitnya. Mulutnya meracau tapi tak ada suara yang keluar. Susi menghindar. Ia merasakan ngilu yang hebat di lehernya ketika melihat pisau terhunus di tangan Maya.

“Tenang, Susi. Aku tak akan menyakitimu.”

“Jauhkan itu dariku!”

Susi terpojok di sudut bangunan tua. Maya terus mencoba mendekati Susi dengan tangan menghunus pisau. Selama itu pula Susi terus berteriak.

“Menjauh dariku!”

“Aku membunuh Ayahku dengan pisau ini.”

“Jauhkan pisau itu dariku!”

Tubuh Susi kuyuh, pucat pasi seperti kehabisan darah. Matanya merah membelalak. Bayangan tubuh Ibunya yang tersungkur di lantai bertahun yang lalu terlihat jelas di pelupuk matanya. Ia menjerit sejadi-jadinya. Ia melolong seperti anjing menyambut purnama. Mengingat kejadian itu membuat Susi ingin membunuh Ayahnya. Tetapi setiap milihat pisau terhunus, tubuhnya menjadi kacau. Susi berkali-kali meminta Maya membuang jauh-jauh pisaunya. Tapi tak ada tanggapan dari Maya. Tak ada lagi sosok Maya yang menghunus pisau. Tak ada orang lain selain ia sendiri.

***

Susi terbangun di tengah malam oleh mimpi. Keringat dingin membanjiri tubuhnya. Dalam mimpi yang gelap terlihat samar-samar sosok Maya kembali datang kepadanya dengan menghunus pisau. Mata pisau yang tajam itu seperti ingin menguliti tubuhnya. Sosok Maya kala itu tak ubahnya sosok Ayahnya yang membunuh Ibunya. Susi bangkit dari pembaringannya lalu berjalan menuju kamar mandi.

Seperti malam-malam yang telah lalu, Susi memasuki kamar mandi seperti memasuki dunia kesunyian yang lain. Ia melangkah penuh hati-hati. Ia seperti takut kalau-kalau menginjak kaki Ibunya, mungkin tangan Ibunya, atau mungkin juga kepala Ibunya. Apakah kau tak pernah menyentuh apa-apa ketika kau sedang  meraih gagang gayung? Atau ketika kau ingin buang air kecil? Apakah kau tidak merasakan kalau ada sosok lain yang selalu mengamatimu di kamar mandi? Jika kau bisa melihatnya mungkin kau akan lebih berhati-hati, karena di ruang paling sunyi seperti kamar mandi sekalipun sebenarnya kau tidak sendirian.

Susi sungguh bisa merasakan kehadiran Ibunya. Ia bisa melihat sosok Ibunya sedang mencuci pakaian di dekat bak mandi. Ibu Susi tersenyum. Susi ikut tersenyum. Tapi senyum mereka dingin, seperti senyum bengis seorang pembunuh. Lalu dengan gerak sedemikian rupa Ibu Susi mengambil sebilah pisau dari tumpukan cuciannya.

“Ambil pisau ini! Bunuh Ayahmu! Kuliti Ayahmu!”

Kata-kata itu membuat telinga Susi sakit. Lebih-lebih lagi ia merasakan ngilu yang sangat hebat di lehernya ketika melihat ujung pisau yang runcing itu mendekat ke arahnya.

“Ambil pisau ini! Bunuh Ayahmu! Kuliti Ayahmu!”

Suara-suara itu terus menyerang telinga Susi seperti mata pisau yang tajam. Susi tak sanggup, ingin melawan. Ia menguatkan hati ingin meraih pisau itu dan menghunjamkan tepat di jantung Ayahnya. Tapi apa yang kemudian dilakukan Susi tak pernah terbayangkan dalam pikirannya sedikitpun. Susi meraih pisau itu dari tangan Ibunya yang bermata Maya. Ia kemudian menarik sosok Ibunya yang bermata Maya itu hingga terjerembab di lantai yang basah.

Susi menghunus pisau itu lalu mulai menguliti sosok Ibunya. Ia menancapkan mata pisau di pergelangan tangan, pergelangan kaki, lalu ditarik sampai ke pundak, paha, lalu perut, leher, punggung, lalu mencungkil kedua bola mata Ibunya seperti mata Maya yang gelap dan sunyi. Susi tertawa. Wajahnya dingin ketika mulai memotong-motong tubuh Ibunya. Tapi apa yang kemudian terlihat adalah Susi sedang menguliti dirinya sendiri. Ia mengiris nadinya sendiri, menancapkan mata pisau ke lehernya sendiri, dan mencungkil kedua matanya sendiri. Tak ada sosok Ibunya atau mata Maya. Lihatlah, Susi masih berusaha menguliti dirinya sendiri. (*)

Jojoran Asri, Maret 2011

Judul BukU : Dua Sisi Susi
Penulis : Donatus A. Nugroho, Dkk.
Tebal : Viii + 314 halaman
Penerbit : Universal Nikko, Jakarta
Tahun terbit: Cetakan pertama, Juli 2011
Harga : Rp 55.000

PENGUMUMAN FINAL LOMBA
KUMCER TERHEBOH TAHUN INI
(Universal Nikko+mayokO aikO)
DUA SISI SUSI
(The Black and White Stories of Susianne van der Kraaft)

images


About this entry