Lonceng Kecil yang Berdenting

1

(Ilustrasi: “Yellow Trees” by Nancy)

Cerpen Agus Budiawan

Aku termenung dalam angan yang muram. Tak lepas kedua mataku yang masih menyisakan duka memandangi bandul lonceng yang bergerak menurut kuasa angin. Gemerincing lonceng kecil yang tergantung di ranting bunga yang meranggas itu jelas ingin menyuarakan rangkaian bebunyian. Tapi entah mengapa lonceng itu seakan bisu membelai telingaku. Dari teras tempatku bersimpuh inilah dulu kusaksikan Suamiku menggantungkan lonceng itu dengan tanganya. Dengan penuh hati-hati diikatkan lonceng itu seakan tak ingin mematahkan rerantingan yang terlihat rapuh.

“Jadikan lonceng ini sebagai temanmu dikala sendiri.” Kata Suamiku seraya mengecup keningku yang diguyur dengan warna senja keemasan.

Tak bisa kubayangkan dalam angan paling purba sekalipun bahwa Suamiku akan meninggalkan aku, secepat ini. Mempercayai kenyataan yang menampakkan wujudnya di pelupuk mata bukanlah sesuatu yang mudah. Ingin sekali tidak mempercayai apa yang terjadi. Tapi foto Suamiku jelas mengabarkan kisahnya sendiri. Wajahnya yang lembut dengan alis tipis, parasnya yang meneduhkan, dan senyumnya yang tulus berubah menjadi wajah yang bopeng berkalang abu.

Kehilangan adalah kesakitan yang lain. Bagiku yang lebih menyakitkan adalah mengetahui bahwa Suamiku bukan hanya korban, tapi sekaligus sebagai pelaku dalam dentuaman malam itu. Tak sedikitpun aku mampu membayangkan bagaimana repihan api yang berpijar merah menyala itu menembus tubuh Suamiku dan menjadikannya seperti daun-daun bunga dimakan ulat di taman rumah, lalu meranggas dan tumpas. Tak bisa kubayangkan tubuh Suamiku menggenlinjang seperti ikan di atas panggangan. Kemudian meregang nyawa dengan tubuh penuh luka. Tak pernah bisa kubayangkan bagaimana kesikatan sedemikian itu yang menjemput Suamiku.

Dia telah pergi, meninggalkan buah cinta yang kini meringkuk dalam rahimku sebagai segumpal darah tak berdaya yang kelak akan terlahir sebagai anak manusia. Anakku, kado terakhir yang ditinggalkan Suamiku.

***

Bertahun yang lalu Aku duduk di sudut teras rumah sebagai seorang istri yang kehilangan suami. Dan sekarang Aku akan menghadapi kehilangan untuk kedua kalinya, sebagai seorang ibu. Segumpal darah dalam rahimku yang ditinggalkan oleh Suamiku kini tumbuh besar menjadi anak yang tampan. Kini anak yang sudah berumur belasan tahun ini pun sudah harus pergi. Waktu seakan cepat berlari sementara Aku hanya bisa duduk sendiri memandangi satu-satunya anak di rumah ini pergi. Sebentar lagi dia akan berlalu dari rumah yang telah melahirka dan membesarkannya. Meninggalkan Aku seorang diri.

“Kamu sudah akan pergi, Amri?” Sambutku ketika kusadari Amri menjijit ranselnya dari dalam rumah. Amri mengangguk kecil.

“Sebelum kamu pergi, ada baiknya kamu ziarah ke makam ayahmu.”

“Orang-orang akan mencelaku, Ibu.”

“Mencela untuk apa? ayahmu bukanlah perampok atau penjahat.”

“Ayah pembunuh! Teroris! Itulah yang mereka katakan.”

Kata-kata itu memang sudah tak asing di telingaku. Kata itu selalu menerorku dalam hari-hari yang sulit sejak kepergian Suamiku. Aku tak harus menangis lagi karena itu. Bertahun Aku telah hidup dengan umpatan dan tatapan sinis dari orang-orang sekitar. Aku masih bisa menahan diri. Mereka menyalahkan Suamiku yang telah membunuh puluhan nyawa tak berdosa pada hari jahanam itu. Aku masih bisa bertahan. Tapi kata-kata yang keluar dari mulut mungil Amri pula yang membuatku tak mampu lagi untuk bertahan. Tanpa bisa kukendalikan lagi, aku merasa mataku mengeluarkan air yang menganak sungai di pipiku.

“Duduklah, Amri.”

Amri menuruti permintaanku dan duduk di kursi berhadapan langung denganku – perempuan yang telah melahirkan dan membesarkannya seorang diri. Aku menatap mata Amri yang terlihat seperti menyimpan api yang membara. Aku pun menjadi tergetar karena mata itu pula yang terlihat di mata Suamiku ketika meninggalkan rumah. Keesokan harinya kabar itu pun sampai ke telingaku, bahwa telah terjadi sebuah ledakan di sebuah hotel dan Suamiku ikut terbunuh sebagai korban sekaligus pelakunya.

“Bersabarlah, Amri. Sempurnakanlah kesabaran itu, dan teguhkanlah kedudukan kamu, dan patuhlah kepada Allah, semoga kamu menjadi orang yang beruntung.”

Aku yang merasa sedikit menjadi tua tak pernah kehilangan harapan atas anak yang kini tertunduk dihadapanku itu. Anak inilah yang kelak dengan penuh bakti membersihkan nama ayahnya sendiri, juga nama ibunya. Di setiap senja terbenam dan mega berangsur hilang, Aku selalu teringat kepada Rahmanu, almarhum Suamiku yang malang. Ramai orang yang berteriak lantang dan menghujat Suamiku sebagai teroris, dan tak menerima jasadnya dikebumikan di daerah tempat tingal mereka. Sekejap saja Suamiku menjadi hina dan terasing dari tempat tinggalnya sendiri.

“Ayahmu hanya tidak tahu, Amri. Ayahmu ingin pulang sebagai Sahid. Tapi dia tak tahu jalan mana yang sebenarnya harus dia lalui.”

“Sahid?”

“Ayahmu pernah bercerita kelak ia ingin terbang seperti seekor burung di surga sesuka hati bersama bidadari-bidadari. Dia juga ingin berada dalam golongan orang yang akan berjabat tangan dengan malaikat pada hari keluar dari kuburnya sebagai syuhada. Tapi ayahmu melupakan sesuatu yang sangat penting, Amri.”

“Apa itu, Ibu?”

“Islam bukanlah kepalan tangan yang menghantam sesama saudara. Islam juga bukan desingan peluru atau dentuman bom. Islam adalah angin lembut yang menyejukkan siapa saja yang berdiri dan diterpa olehnya.”

“Tapi bukankah Ayah terlahir dan besar sebagai seorang Islam, Ibu?”

“Itu benar, Amri. Tapi rupanya tipu daya setan lebih kuat dari iman ayahmu. Ayahmu telah berbelok dari jalan yang sudah digariskan.”

Batinku seperti diombang-ambing gelobang kehidupan yang bisa saja menggulungku dan anakku ke dasar yang curam. Anak sekecil itu laiknya seekor burung yang baru bisa belajar terbang, tapi harus menghadapi luasnya cakrawala dan setiap saat harus berhadapan dengan angin yang kencang. Aku khawatir kelak anakku tak tahu kapan harus mendarat di pohon yang aman demi menunduk pada kuasa alam yang tak mungkin untuk dilawan, dan kapan harus terbang kembali untuk menggapai kemenangan.

Dalam diam yang getir, angin sepoi dan lonceng yang berdenting menghadirkan suara tersendiri yang memecah keheningan. Lonceng kecil yang digantungkan oleh tangan almarhum Suamiku itu rupanya akan menjadi pesan yang akan sampai ke tanganku. “Sebagai temanmu dikala sendiri.”

“Kamu tahu lonceng itu, Amri?” kataku sambil menunjuk ke arah lonceng yang berdenting di atas ranting bunga bougenvile, yang kini daunnya hijau dan bunganya berwarna merah muda.

Amri diam, sepertinya tak mampu mengartikan isyarat apa yang hendak kuutarakan dengan lonceng itu.

“Apa jadinya jika lonceng itu diterpa badai dan bukan angin sepoi seperti sekarang?”

Amri masih diam, seperti sedang ditelan keraguan yang membuatnya tetap diam.

“Jika yang menerpa lonceng itu adalah badai, maka suara nyaring yang dihasilkan akan membuat sakit telinga orang yang mendengarnya. Tapi, coba kamu dengarkan. Suara lonceng itu begitu teduh dan damai karena angin sepoi yang lembut telah menggerakkan lonceng itu dengan kasih.”

Kulihat Amri masih mengamati lekat-lekat pada bandul lonceng yang tergantung itu, seperti sedang memikirkan sesuatu. Entahlah.

“Amri, anakku. Lonceng itu benda yang damai dan mampu menghasilkan dua suara. Pertama adalah suara teduh dan indah, dan yang kedua adalah suara nyaring yang menyakiti telinga, tergantung angin atau tangan seperti apa yang menggerakkan. Begitu juga Islam. Bayangkan Islam seperti sebuah lonceng. Jika tangan-tangan yang penuh kasih dan cinta yang membawanya, maka Islam akan menjadi suara yang teduh dan damai bagi setiap makhluk di muka bumi ini. Dan bisa kamu bayangkan sendiri jika lonceng itu berada ditangan yang salah apa jadinya.”

Amri menunduk. Semoga dia mengerti maksudku.

Berat rasanya bagiku melepas kepergian Amri. Tapi aku juga sadar pendidikan Amri lebih penting dari apa pun. Jangan sampai teror yang dia rasakan dari almarhum ayahnya membekas dalam dada anak itu dan menjadikannya manusia yang salah dalam memilih jalan pulang.

Dan hari ini anak sematawayangku itu akan memasuki dunia pesantren dengan bekal sedanya. Mengirimnya ke pesantren bukanlah sebagai upaya untuk mengusirnya jauh-jauh dari kehidupanku, tapi untuk mendekatkannya pada kebenaran yang indah; kebenaran agama yang damai. Bagiku memberikan sedikit bekal kehidupan menjadi penting bagi anak sekecil Amri. Ibaratnya kain dia masih putih, dan kehidupanlah yang akan mewarnai kain itu. Aku hanyalah orang tua yang mengupayakan terbaik bagi dia.

“Aku sudah harus pergi, Ibu.” Kata Amri setelah melihat jam di tangannya.

Aku bangkit demi mengikuti Amri yang seperti tak sabar ingin segera pergi dari hadapanku. Maafkan aku, anakku.

“Baik-baiklah di sana.”

Amri mengangguk dan tanpa isyarat dia meraih tanganku dan menciumnya dengan lembut. Melihat anak yang tertunduk di hadapanku ini aku kembali mengingat bagaimana terakhir kali aku melihat Ayahnya pergi setelah aku mencium punggung tangannya dengan penuh kasih. Tak kuasa aku menahan butiran air mata yang keluar dari pelupuk mataku lalu jatuh tak tertahankan lagi.

“Amri anakku! Ayah dan Ibumu telah memilih Islam dengan rela hati. Dan kamu pun terlahir sebagai orang Islam yang penuh dengan kedamaian. Sekarang kamu akan pergi dengan sukarela pula. Demi Allah, yang tiada tuhan selain Dia. Kamu  adalah putera dari seorang lelaki yang khilaf akan tipu daya.

Esok pagi bukan lagi Ibumu ini yang akan membangunkanmu dan membuatkan sarapan untukmu. Esok pagi kamu akan berada di tempat yang baru, insya Allah dalam keadaan selamat. Keluarlah dari bilik yang membelenggumu. Kelak gunakanlah semua pengalamanmu dan mohonlah pertolongan dari Allah. Jika kamu melihat api pertempuran semakin hebat dan kamu dikelilingi oleh api peperangan yang sedang bergejolak, masuklah kamu ke dalamnya sebagai air sejuk yang memadamkan segala amarah.”

Amri mengangguk lalu menjinjit tas ranselnya dan berlalu meninggalkan aku yang masih terpaku sendiri di teras rumah dengan air mata yang terus berderai. Aku tak ingin anak itu pergi dengan damai dan kembali sebagai orang yang tersesat. Doa yang selalu kulantunkan dalam sujud panjangku semoga selalu menuntun jalan anak itu dalam perlindungan Tuhan Yang Maha Kasih.

Kini, lonceng kecil yang berdenting di ranting bebunga itu benar-benar akan menemaniku dalam kesendirian yang panjang ini.***

Surabaya, 12 Februari 2011

*MASUK 30 PESERTA TERBAIK LOMBA CERPEN ISLAMI LAZUARDI BIRRU 2011


About this entry