Membaca Kesakitan “Dua Sisi Susi”

249528_218449114842161_100000312235362_797383_1116082_nOleh Badrul Munir Chair, pecinta sasta tinggal di Yogyakarta.

Judul BukU : Dua Sisi Susi
Penulis : Donatus A. Nugroho, Dkk.
Tebal : Viii + 314 halaman
Penerbit : Universal Nikko, Jakarta
Tahun terbit: Cetakan pertama, Juli 2011
Harga : Rp 55.000

“Susi ternyata seorang psikopat yang punya kemampuan telekinetis.”
Begitulah isi pesan yang dikirimkan Rena kepada Tio ketika dalam sekapan Susi dalam Cerpen Ilmu Hitam Susi (Ceko Spy). Kalimat di atas hanyalah satu contoh dari sekian ‘kesakitan’ tokoh bernama Susi dalam kumpulan Cerpen Dua Sisi Susi (Universal Nikko, Jakarta: 2011) ini. Siapa sebenarnya Susi? Jawabannya akan kita temukan dalam duapuluh empat kisah misteri dengan tokoh bernama Susi dalam buku ini. Keseluruhan Cerpen dalam buku ini mengisahkan perihal ‘kesakitan’ yang dialami oleh tokoh bernama Susi. ‘Kesakitan’ itu lahir dari orang-orang sekitar Susi ataupun ‘kesakitan’ Susi sendiri.
Dalam Cerpen Rembulan itu Berwarna Hitam (Richa Miskiyya) misalnya, diceritakan Susi adalah seorang anak yang menyaksikan kematian ibu kandungnya yang dibunuh ayahnya—yang suka main perempuan. Karena kesaksiannya itulah Susi menyimpan ‘kesakitan’ dan berniat membalas dendam atas kematian ibunya dengan menjadi Pelacur. Akhirnya, Susi berhasil menuntaskan dendamnya dengan membunuh ayahnya ketika datang ke tempat pelacuran.
Juga dalam Dongeng Putih (Agus Budiawan), Susi menyaksikan ibunya dibunuh sang ayah di kamar mandi. “Ambillah pisau ini! Bunuh ayahmu! Kuliti ayahmu!” itulah pesan terakhir sang ibu menjelang kematiannya. Kata-kata ibunya itu terus terngiang di benak Susi sehingga membuat Susi trauma dan menyimpan ‘kesakitan’. Akhirnya, Susi memilih mengiris nadinya sendiri, menancapkan mata pisau ke lehernya sendiri!
‘Kesakitan-kesakitan’ serupa juga berhasil dilukiskan dalam kisah-kisah Susi lainnya. Cerita demi cerita disajikan dengan gaya kejut apik dan lecutan emosi yang membuat pembacanya akan begidik, atau setidaknya membuat bulu kuduk berdiri. Namun, betapapun perihnya ‘kesakitan-kesakitan’ itu, tidak serta-merta menjadikan Susi sebagai tokoh jahat dengan akhir cerita yang berujung kematian (sisi hitam), namun juga menyajikan tokoh Susi yang baik hati dan akhir cerita yang bahagia (sisi putih), sehingga ceritanya tidak monoton.
Sayangnya, petikan paragraf yang disajikan di bawah judul dengan huruf tebal di awal cerita membuat pembaca mudah menerka jalan ceritanya. Fragmen yang menjadi kalimat kunci dalam setiap cerita yang telah disusun apik oleh para penulis menjadi runtuh karena pembaca sudah terlebih dahulu disuguhi semacam sinopsisnya.
Terlepas dari itu, keduapuluh empat Cerpen yang ditulis oleh siswa anggota Cerita Nulis Diskusi Online (CENDOL) ditambah tiga penulis senior ini layak kita nikmati. []

http://www.facebook.com/groups/212158505467096/doc/278732828809663


About this entry