Suparto Brata Tentang Bedah Buku “Mozaik Ingatan”

247109_150810538325153_100001886225571_326862_4659471_nCerita Suparto Brata ………

Siang hari launcing buku Kornea Hati selesai, sore harinya habis magerip ada tamu dari kelompok sastra Cak Die Rezim, Finsa Saputra dan Itok K, memberi buku Antologi 14 Cerita Pendek MOZAIK INGATAN serta mengundang saya untuk hadir esok harinya (Senin 27 Juni) di Fak.Ilmu Budaya Unair, Ruang Sidang Lt II jam 0900-1200. Acaranya mendadak, jadi undangannya lisan begitu. Kok saya diundang? Ya, menurut Finsa, itu merupakan balas budi karena saya sudah memberi endorsement di sampul luar belakang pada buku itu. Lo, aku tidak ingat memberi endorsement itu. Belakangan ini semua permintaan yang melibatkan saya harus menulis, saya hindari. Sebab sejak bulan Maret kemarin komputer saya rewel. Saya ingat saya menolak keinginan Mas Sunaryono Basuki Ks untuk memberi ulasan pada bukunya. Begitu juga saya tidak menyanggupi menuliskan kata pengantar untuk buku tulisan Mas Koes Indarto ITI KATHA AJII-SAKHAA (buku kisah Ajii-Sakhaa, guru sastera di wilayah Nusajawa bahasa Jawa Kuna). Ya karena komputer rusak, saya jadi kesulitan mengetiki gagasan-gagasan saya. Hari-hari itu hingga hari ini pengetikan saya di komputer agak tersendat.

Namun saya memang rajin menghadiri bedah buku, selagi ada undangan, meskipun hanya hadir sebagai penonton dan pendengar belaka. Betapapun itu mempertemukan saya dengan masyarakat sastra. Saya perlu dan butuh. Kalau siang hari, saya bisa datang. Kalau malam hari, maaf, mata saya sulit untuk memandang malam.

Sebenarnya saya masih trauma kemarin disuruh bedah buku antologi puisinya Dokter Armanto, karena puisi saya tidak kuasai. Karena itu saya tanya, undangan bedah buku MOZAIK INGATAN ini saya datang sebagai apa? “Sebagai tamu,” tegas Itok. Dan kalau perlu kendaraan besok akan dijemput. Acaranya mulai jam 0900. Baiklah, saya bilang saya siap dijemput jam 0800. Kalau sebagai tamu, menonton dan mendengarkan pertemuan sastra, saya memang suka dan butuh. Apalagi dijemput. Saya pasti siap.

Karena habis magerip, saya tidak sempat membaca buku MOZAIK INGATAN. Mata saya kurang jelas untuk membaca buku dengan sinar lampu. Karena itu sinar matahari saya butuhkan untuk membacai buku-buku.

Keesokan harinya, jam 0800 saya sudah siap dijemput. Menunggu jemputan, saya bukai buku MOZAIK INGATAN. Melihat wajah buku, saya ingat artikel sastra di Jawa Pos Minggu yang saya baca sebelum berangkat ke Perpustakaan Rungkut kemarin. Betul. Itulah bukunya. Maka saya baca lagi artikel SANGGAHAN KEMATIAN PROSA SURABAYA. Saya setuju, prosa Surabaya tidak mati, kok. Ini harus saya buktikan nanti di bedah buku di Unair. Aku ambili buku-buku prosa tulisan orang Surabaya di almariku, saya bawa ke Unair sebagai bukti bahwa prosa Surabaya tidak mati.

Buku MOZAIK INGATAN saya bukai. Tidak sempat baca cerita pendeknya yang dimuat, saya coba bacai sekilas hal-hal yang bukan cerita pendek. Di halaman awal ada catatan semacam kata pengantar, antara lain dengan judul: “Ingatan Perlawanan yang Belum Usai” tidak tercatat nama penulisnya, di akhir halaman ada tulisan semacam kritik tentang tulisan 14 cerita pendek di buku itu, dengan judul: “Narasi Fotografi Distopia” tulisan Bramanto. Saya sempat membaca dua “Kata Pengantar” itu.

Membaca “Kata Pengantar” yang berjudul Ingatan Perlawanan yang Belum Usai, ingatan saya melayang mengomentari. Saya kutip beberapa bait yang tersurat: Tujuh penulis dalam buku antologi CDR ke-2 ini (termasuk CDR sebagai komunitas, semoga) tidak ingin menjadi “Timur”, yang terancam bisu selamanya sebelum orang-orang brilian seperti Said, Spivak, dan Homi Bhaba, hadir. Tujuh penulis tersebut tidak sudi menjadi Timur yang mengalami ambivalensi. Di satu sisi membenci ketertindasannya, di sisi yang lain justru mengagumi keperkasaan Barat. Bahkan dalam konteks tulisan ini (diakui atau tidak, tulisan ini memang sangat kontekstual) mereka lebih tepat disebut mengalami desublimasi represif. Ambevalensi masih mengindikasikan kesadaran akan “ketertindasan”, sedangkan mereka yang mengidap virus desublimasi represif justru tidak menyadari “ketertindasan”-nya, dan dengan konyol malah merayakannya. Selama mereka bisa tampil, maka tak ada masalah dengan “ketertindasan”.

Saya kutip tulisan itu, karena banyak ahli sastra mengatakan bahwa tokoh-tokoh cerita buku saya adalah bukti jelas apa yang dikatakan oleh Homi Bhaba, tokoh “Timur” yang mengalami ambivalensi. Membenci ketertindasan, tetapi sekali gus konyol mengagumi keperkasaan “Barat”.


Sumber: http://supartobrata.com/?p=801


About this entry