AGIL

1

(Ilusrasi: “Calling the Cildren to Dinner” by Judy)

Cerpen Agus Budiawan

AGIL masih memandangi wajahnya di cermin dengan pupuhan bedak putih dan sedikit lipstik memerahi bibirnya. Meski begitu, Agil merasa tak ada yang perlu ditakuti dari cermin di depannya yang menampakan wajahnya itu. Dia juga merasa tak tak ada yang aneh dari dirinya dengan pakaian yang sedang dikenakannya – rok yang sedikit kedodoran serta kaos berwarna pink pressbody bergambar tiga cewek jagoanyang disukainya; The Powerpuff Girls. Hanya saja, Agil merasa was-was dengan keberadaan sosok laki-laki yang mengamatinya dari belakang. Dengan pakaian dan dandanan seperti itu membuat tubuh Agil menjadi tampak lucu.

Di belakang Agil, Asrul – bapak Agil – duduk di atas sebuah kursi yang terbuat dari jalinan rotan sedang mengamati anaknya dengan pakaian yang baru dia beli dari pasar kaget. Laki-laki itu pula yang membedaki dan memerahi bibir anaknya. Meskipun roknya sedikit kedodoran, Asrul tampak puas melihat anak sematawayangnya dengan pakaian seperti itu. Tetapi tidak dengan Ira, istri Asrul, yang terlihat gelisah mengamati sosok anak kecil dalam balutan pakain perempuan yang sedang tak berdaya di depan cermin itu. Bukan karena tidak cantik atau tidak lucu. Sebaliknya, Agil tampak seperti bocah yang dikaruniai keayuan wajah, kenes.
Agil menunduk tak bergerak di depan cermin, hanya tanganya saja tampak sibuk memilin ujung roknya. Dia tak berani menangis atau laki-laki berkumis tebal yang sedang mengamatinya dari belakang akan menghunus kayu rotan yang akan mengasari pantatnya.
“Sekarang kamu bisa bermain dengan teman-temanmu!” perintah Asrul kepada Agil, setengah membentak.
“Tidak mungkin dia bermain dengan pakaian seperti itu, Mas?” Ira angkat suara demi membela anaknya.
“Kenapa? Dia cocok memakai pakaian itu.”
“Dia akan ditertawan teman-temannya, Mas.” Ira memohon.
“Ambilkan boneka dan alat masak-masakan yang biasa dia mainkan!”
“Mas serius melakukan ini pada Agil? Bagaimana kata tetangga nanti?” Asrul tak mengindahkan protes istrinya dan bangkit dari kursi untuk mengambil sendiri boneka serta alat masak-masakan yang sering dipakai oleh Agil bermain bersama teman-teman perempuannya.
Ira, istrinya, diam tak bisa berbuat apa-apa ketika suaminya kembali dengan membawa sendiri boneka serta peralatan masak yang ditumpuk menjadi satu di dalam kardus. Asrul kemudian membanting kardus berisi maianan itu tepat di depan Agil yang masih berdiri sesunggukan di depan cermin.
“Kamu mau nangis? Wajar, kamu kan perempuan!” bentak Asrul pada Agil lalu kembali ke tempat duduknya semula.
Asrul mengalihkan pandangan pada perempuan yang sedang gelisah berdiri di samping tempat duduknya, “Itu kan yang kamu inginkan?” kata Asrul kepada Ira yang kemudian menatap mata suaminya yang menjadi merah – seperti iblis yang siap memangsa malaikat-malaikat kecil yang beterbangan di langit.
“Kamu terlalu keras mendidik dia, Mas.” Protes Ira, berpaling dari pandangan mata suaminya.
“Kamu yang terlalu memanjakan dia. Kamu juga salah memperlakukan dia sebagai seorang anak.”
“Apanya yang salah? Karena dia minta boneka sebagai mainan dan alat masak-masakan itu? Dia hanya anak kecil, Mas.”
“Memang salah. Karena mainan itu mainan perempuan. Kamu harus sadar, Ra. Anakmu itu laki-laki.”
Ira menjadi suruk dan tak bisa menjawab lagi. Keinginannya untuk memiliki anak perempuan begitu besar hingga memperlakukan Agil layaknya anak perempuan yang dia idam-idamkan.
KETIKA pernikahan Asrul dan Ira memasuki tahun ketiga, kebahagiaan keluarga baru itu semakin lengkap dengan hadirnya jabang bayi yang tumbuh di dalam rahim Ira. Sebagai ibu yang mengharapkan bayinya perempuan, Ira sudah memiliki keyakinan kalau anak yang dikandungnya akan lahir sebagai seorang perempuan. Karena itu, jauh-jauh hari Ira sudah mempersiapkan segalanya. Ira pun mengabaikan saran suaminya agar memeriksakan kandungan Ira untuk mengetahui jenis kelamin calon anak mereka. “Biar surprise, Mas.” Kata Ira bersikukuh.
Sejak itu Ira menjadi lebih sering kelihatan bergaul dengan anak-anak perempuan tetangga yang sedang bermain. Bahkan tak jarang Ira mengundang mereka bermain di teras rumahnya. Ketika melihat anak perempuan yang lucu dia pun tak segan mecium serta mencubit gemas seraya bergumam semoga anak di kandungannya lucu seperti anak perempuan itu. Ketika belanja ke pasar pun Ira lebih tertarik dengan pakaian-pakaian perempuan. Melihat perangai istrinya itu, Asrul sesekali menjadi gemas juga, “Kita periksakan saja kandunganmu, Ira. Siapa tahu anak yang kamu kandung itu laki-laki, dan tak ada gunanganya barang belanjaanmu itu.”
“Amit-amit jabang bayi, Mas. Ini bawaan orok, Mas. Aku yakin anak di kandunganku ini perempuan.” kata Ira sambil mengelus-elus perut buncitnya.
Sejak itu, Asrul yang sebenarnya menginginkan anak laki-laki segagah dirinya tak peduli lagi dengan apa yang dilakukan istrinya itu. Entah istrinya membeli bando, gelang plastik, peralatan masak-masakan, atau perlengkapan untuk anak perempuan lainnya Asrul tak mau ikut campur.
Begitulah, akhirnya Agil lahir sebagai anak laki-laki. Asrul bahagia menyambut kelahiran pahlawan kecil yang sehat dan gagah seperti dia waktu bayi dulu. Tapi, meskipun Agil tumbuh sebagai anak yang tampan, Ira tetap memperlakukan Agil layaknya anak perempuan. Baju serta gelang plastik dikenakan pada Agil yang waktu itu berusia dua tahun. Dengan pakain perempuan Agil memang terlihat ayu hingga orang-orang yang tak mengenal dekat keluarga Asrul pun menyangka bahwa Agil adalah perempuan.
Perlakuan Ira kepada anaknya bukan berarti tanpa tentangan. Asrul berkali-kali membentak istrinya itu agar memberi pakaian yang pantas kepada anak mereka – pakaian layaknya anak laki-laki lain. Tetapi, Ira selalu mencari pembelaan kalau Agil masih kecil dan tak akan menimbulkan masalah yang berarti jika memakai pakaian perempuan. “Toh, tetangga-tetangg gemas melihat Agil dengan pakaian seperti itu.”
“Tapi dia laki-laki, Ira.”
“Biarlah, Mas. Anak masih kecil ini.”
“Iya, tapi dia laki-laki.”
“Iya, sayang sekali dia laki-laki. Kalau saja dia perempuan, pasti akan menjadi perawan yang ayu.” Gumam Ira, lebih pada dirinya sendiri.
“Kamu keterlaluan, Ira.”
Asrul hanya bisa menahan amarah di dalam hati. Meskipun wajahnya cukup sangar dan tak segan berbuat kasar, perempuan bukanlah objek pelampiasan tangannya. Bagi Asrul, perempuan adalah makhluk yang lemah dan harus diperlakukan seperti kaca. Karena itu dia hanya menatap geram pada mata istrinya yang bening itu tanpa mengambil tindakan apa-apa lalu pergi dengan kesal.
Di usia yang keenam tubuh Agil mulai menunjukkan kegagahan seperti bapaknya ketika menginjak usia yang sama – tubuhnya tegap dengan rambut hitam lurus. Meskipun begitu, Agil tumbuh menjadi anak laki-laki yang lemah-gemulai. Ketika para teman laki-lakinya sedang bermain sepak bola, Agil akan terlihat di antara anak-anak perempuan yang sedang bermain lompat tali.
Sudah beberapa kali kayu rotan mengasari pantat Agil dan meninggalkan bekas memar yang begitu menyakitkan bagi anak seusia Agil. Dalam keadaan seperti itu, sering Ira tak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah suaminya memberi “pelajaran” pada Agil. Kejadian seperti ini sepertinya akan terus terjadi andai saja Ira tak mengancam akan melaporkan suaminya itu ke polisi dengan tuduhan kekerasan terhadap anak.
Sejak itu Asrul menjadi acuh dengan perlakuan istrinya yang tak berubah kepada Agil. Asrul memang tak pernah lagi mengasari pantat anaknya setelah mendapat ancaman dari istrinya, tetapi lama-lama kesabaran Asrul pun meledak seperti bom waktu. Diam-diam Asrul pergi ke pasar kaget dan membeli beberapa pasang pakain perempuan untuk Agil. Dengan tangannya sendiri Asrul memakaikan rok yang sedikit kedodoran dan kaos mini berwarna cerah pada Agil. Tak lupa Asrul mengambil bedak dan lipstik dari meja rias Ira dan mendandani Agil.
“Dia sudah menjadi perempuan sekarang. Seperti yang kamu inginkan.” Kata Asrul kepada istrinya yang tersedu di sampingnya. “Apa kamu juga akan melaporkan aku ke polisi atas perbuatanku ini?” lanjut Asrul.
Ira semakin tersedu melihat perangai suaminya yang telah mendandani Agil seperti seorang anak perempuan. Polesan bendak dan lipstik yang begitu kacau membuat Agil seperti anak yang mengalami keterbelakangan mental. Agil gemetaran di depan cermin. Bukan takut pada penampakan wajahnya di cermin, tapi takut pada rotan yang mungkin akan mengasari pantatnya lagi.
“Antar dia keluar. Biarkan dia bermain dengan teman-temannya.” Perintah Asrul kepada istrinya.
“Dengan pakaian seperti itu, Mas? Aku pun tak pernah mendandani Agil seperti itu.” Ira tetap mencoba meyakinkan suaminya akan tindakannya itu.
Meskipun tak rela, Ira tak bisa berbuat apa-apa dan akhirnya menuntun anaknya ke depan pintu. Hanya sampai di pintu Ira berhenti dan memandangi tubuh anaknya dalam pakain perempuan menghambur menjadi satu dengan teman-temannya. Sementara itu, Asrul bangkit dari tempat duduknya dan mendekat ke arah jendela. Dari sisi lain kaca jendela yang gelap itu, Asrul mengamati anaknya dengan matanya yang berair.
Agil yang sedari tadi takut kepada bapaknya hingga gemetaran di depan cermin berubah menjadi ceria dalam permainan yang dia mainkan dengan teman laki-laki dan perempuannya. Teman-temannya terpingkal melihat Agil dengan pakain seperti itu, tapi itu cuma sebentar karena kemudian teman-temannya mempunyai ide untuk memainkan sebuah permainan. Permainan yang akan mereka mainkan adalah cerita cinta puteri Cinderella dan pangeran tampan. Sudah bisa ditebak, Agil berperan sebagai puteri Cinderella yang memakai sepatu kaca sedangkan salah satu dari teman laki-laki Agil menjadi sang pangeran tampan. Dalam cerita, pangeran sedang mencari puteri sebagai pendamping dan pilihan jatuh kepada pemilik sebelah sepatu kaca yang tertinggal di dalam sebuah pesta dansa. Permainan pun dilanjutkan dengan peragaan dansa Agil dan teman laiki-lakinya yang berperan sebagai pangeran itu.
Asrul meneteskan air mata melihat anaknya berdansa ala kadarnya dengan rok sedikit kedodoran. Tak bisa dia bayangkan bagaimana kelak Agil tumbuh dewasa menjadi laki-laki yang gemar bersolek dan berpakaian layaknya perempuan, atau bahkan anak kecil dengan kaos mini itu kelak tak segan memilih jalan hidup sebagai perempuan yang rupawan dan menyukai laki-laki. Membayangkan hal itu hati Asrul seperti diperas sampai kering dan menimbulkan kesakitan yang luar biasa. Asrul pun merasa lemas dan terkulai di atas kursinya sedang mata merah menerawang langit-langit rumah dengan tatapan kosong. Air matanya semakin memenuhi kelopak matanya yang kemudian jatuh berderai.
Di sisi lain, Ira yang masih berdiri di bingkai pintu, mengamati Agil yang sedang asik berdansa. Sesekali Ira membasuh air matanya yang jatuh ke pipi. Dalam pengharapan yang begitu besar, Ira membayangkan andai saja anak laki-laki dengan pakain perempuan yang sedang berdansa itu adalah perempuan. Anak perempuan normal seperti anak perempuan lainnya. Anak perempuan yang kelak bisa merawat orang tuanya ketika usia merubah rambut menjadi putih dan menggerus kekuatannya. Anak perempuan yang akan membawakan padanya, ke rumah sederhana ini, seorang menantu yang tampan serta cucu yang lucu.
Ira terus memandangi Agil yang kini sedang memainkan adegan pernikahan dengan sang pangeran. Dengan berat hati Ira memalingkan pandangannya dari Agil karena menyadari bahwa anak yang terbalut dalam pakaian perempuan itu adalah Agil anak laki-lakinya, bukan anak perempuan. Ira kemudian menghampiri suaminya yang terkulai di atas kursinya. Asrul tertidur, entah sampai berapa lama.(*)

Surabaya, Mei 2010


About this entry