Catatan Kematian Olivia

1

(Ilustrasi: “Dance of Fire” by Irina Sztukowski)

Cerpen Agus Budiawan

1.
Sunyi merambat seperti kegelapan yang mampu menghadirkan segala kemungkinan. Tubuhku lunglai. Aku mendekap erat bantal guling di sampingku sebagaimana aku mendekap Olivia sebelum tubuhnya rebah ke lantai. Dalam kegelapan yang tidak terlalu sempurna kulihat sinar berkilat dari mata pisau yang tajam. Dengan gerak tangan lincah bak seorang cellis, tanganku menggerakkan pisau di leher Olivia seperti sedang memainkan violencello. Sejurus kemudian leher jenjang Olivia mengucurkan cairan dari kerongkongannya yang menganga. Tubuh Olivia tersungkur di lantai porselen dengan teriak yang terbungkam. Mulut Olivia telah tersumbat sabun mandi yang dengan kasar kujejalkan ke mulutnya sebelum meregang nyawa.
Sekuat tenaga kucoba mengusir bayangan-bayangan bagaimana Olivia belingsatan melawan maut. Sementara di luar gerimis yang turun menimbulkan dentuman-dentuman kecil saat jatuh di atas kanopi yang terbuat dari bahan seng. Hujan batukah? Atau hujan gumpalan darah? Aku masih mencoba mendekap erat-erat bantal guling di sampingku untuk mengusir segala bayangan yang mungkin datang menghunus pisau dan ingin menjadikan leherku seperti lantai dansa. Tapi air hujan yang menetes dan merambat pelan pada kaca jendela kamar seperti berubah menjadi semacam teror yang tak kuasa kulawan. Dalam bayanganku, Olivia meronta-ronta melawan sakit menjelang ajal dengan cairan merah pekat menggenang di sekelilingnya. Gerak tak karuan Olivia menimbulkan suara kecipak seperti bayi mengacak-acak air kencingnya.
Begitukah Olivia harus mati?

2.
Aku mencintai Olivia seperti aku mencintai diriku sendiri. Seperti sebuah janji purba yang selalu ditulis para pujangga, aku pun akan bersedia untuk mengucap ikrar setia dalam hidup maupun mati dengannya. Setelah menetapkan hati, kami akan melanjutkan hubungan saling setia ke arah sebuah ritual sakral bernama pernikahan. Lalu dari buah cinta kami akan terlahir anak-anak lucu yang akan meramaikan keluarga kecil kami. Begitukah takdir hidup yang akan aku jalani?
Aku bertemu dengan Olivia adalah sebuah kebetuan yang indah. Tapi benarkah itu hanya sebuah kebetulan? Tak ada yang kebetulan. Bahkan kematian yang selalu datang dengan tiba-tiba dan mengejutkan sekalipun bukanlah sebuah kebetulan. Semua berjalan di jalannya masing-masing. Mungkin berabad-abad yang lalu kisahku dan Olivia sudah dicatat dalam buku sejarah kehidupan manusia. Jika sebuah hujan akhirnya mempertemukan aku dan Olivia, tentu itu hanyalah sebuah alur yang memang harus kulalui untuk bertemu dengannya.
Seperti sebuah cerita fiksi yang ditulis pengarang melodramatik, hubungan kami diperlakukan sebagai sebuah cerita yang bisa digubah sesuai mood pemilik takdir. Hubungan kami awalnya ditulis dengan kebahagiaan dan kehangatan cinta yang meleburkan ego masing-masing untuk belajar saling mengerti. Tetapi lama-lama cerita kami kemudian dibenturkan dengan berbagai masalah. Laki-laki lain mulai hadir di tengah-tengah ikatan kami yang tak lagi erat. Ketakutan akan kehilangan justru menjadikan ego masing-masing begitu kuat dan sukar diredam. Aku takut kehilangan Olivia, sementara dia menginginkan laki-laki itu.
Haruskah Olivia mati?

3.
Kegelapan merambat, menyembunyikan segala kemungkinan yang khayali. Mungkinkah aku bisa melawan kehilangan? Sepertinya aku tak akan pernah mampu melihat Olivia menari di atas penderitaanku. Aku tak bisa melihat Olivia bersanding di pelaminan dengan laki-laki lain yang dengan begitu egois merampasnya dariku. Bukankah cinta memang egois?
Cinta harus memiliki, karena cinta hanya sempurna jika dua hati menjadi satu. Tidak adil rasanya jika aku menyaksikannya bahagia sementara aku terjerembab di lubang kesengsaraan karena remuk redam kehilangan cinta yang begitu kuagungkan. Jika aku tak bisa memilikinya, maka orang lain pun tidak.

4.
Seperti itukah Olivia harus berpisah dengan kehidupannya?
Aku tahu rahasia yang tersimpan di dalam hatinya. Dia tak perlu mengatakan sesuatu karena matanya telah berbicara banyak dengan sendirinya. Kedua matanya seperti ingin mengatakan padaku bahwa telah hadir sosok laki-laki lain yang telah merasuki hidupnya. Karena laki-laki itu pula dia ingin pelan-pelan menyingkirkan aku dari hatinya. Bukankah begitu? Ah, dia tak perlu menjawab. Aku telah pandai membaca matanya. Aku tahu apa yang harus kulakukan. Menyembuhkan hatinya rasanya tidak mungkin. Dia sudah terlanjur mengisi ruang di hatinya dengan laki-laki lain. Aku yakin apa yang harus kulakukan.
Setelah pesta kecil-kecilan untuk memperingati hari kelahirannya usai dan tetamu sudah lenyap dari rumahnya, kuikuti Olivia ke kamar mandi. Kamar mandi berubah menjadi ruangan sunyi hingga suara tetesan air dari keran air yang tidak tertutup dengan rapat pun bisa terdengar dengan jelas. Dari belakang tubuh Olivia yang terlihat dari cermin sedang berusaha merapikan kecantikannya, aku datang dari belakang dan pelan-pelan mendekap tubuhnya dengan lembut. Olivia tersenyum. Dia masih menganggap aku tak pernah tahu rahasia hatinya.
“Apakah kau mencintaiku, Olivia?” Bisikku pelan di dekat telinganya.
“Apa lagi yang harus kau tanyakan? Aku mencintaimu.” Olivia terkekeh.
“Benarkah?”
Olivia mengangguk dengan ragu. Senyum yang coba dia simpulkan di bibirnya yang merah darah terasa hambar di mataku.
Dalam kegelapan yang tidak terlalu sempurna, pelan-pelan kuambil pisau dari balik kemeja yang kukenakan. Sebuah takdir telah kupilih. Aku akan mengantarnya ke surga kemudian aku sendiri akan meyusulnya. Seperti yang pernah kubayangkan dan kucatat dalam kisah percintaan kami, kudekap erat tubuh Olivia seperti ular melilit mangsanya. Olivia sedikit meringis menahan nyeri dalam dekapanku. Aku tersenyum. Olivia menimpali, tapi tetap hambar di mataku.
Pelan-pelan kuarahkan mata pisau yang berkilat ke leher Olivia yang jenjang. Dengan gerak tangan lincah bak seorang cellis tanganku menggerakkan pisau di leher Olivia seperti sedang memainkan violencello. Seperti seorang pemain orkestra simponi yang akan mencapai titik klimaks, kupercepat gerakan tangan dan kutekan kuat-kuat pisau di leher Olivia. Sejurus kemudian bunyi cessss menyeruak dalam keheningan kamar mandi yang ternoda. Leher jenjang Olivia benar-benar mengucurkan darah merah pekat dari kerongkongannya yang menganga. Tubuh Olivia tersungkur di lantai porselen dengan teriak yang terbungkam sabun mandi batangan.
Detik-detik yang menyakitkan sedang menjerat leher Olivia yang tak henti-hentinya mengucurkan darah. Matanya membelalak, tapi pandangannya kosong. Aku bergidik. Dia mencoba mendekap lehernya sendiri yang luka dengan kedua tangannya yang berlumur merah. Dia meronta-ronta melawan sakit menjelang ajal dengan dikelilingi cairan merah pekat menggenang. Gerak tak karuan Olivia menimbulkan suara kecipak air seperti bayi mengacak-acak air kencingnya. Seperti inilah Olivia harus mati.
Aku menyaksikan di depan kedua mataku sendiri bagaimana kematian itu begitu menyakitkan. Aku telah mengantar Olivia ke surga. Tapi, setelah melihat tubuh Olivia yang begitu lelah dan menyedihkan aku ingin menggubah catatan takdirku sendiri. Aku ingin tetap hidup.

5.
Angin dengan bau amis beberapa kali menyergap tubuhku pada malam-malam yang ganjil sejak kematian Olivia. Kurasakan Olivia hadir bersama angin-angin yang menggetarkan. Mungkinkah dia hidup kembali? Mungkin saja, tapi dengan wujud yang berbeda. Mungkin memang dia telah hidup kembali dan hadir di sekitarku dengan tatap tajam haus darah. Mengamatiku di setiap gerak yang kubuat dengan penuh keragu-raguan. Aku pun sepertinya dituntut oleh keadaan untuk mempersiapkan diri kalau-kalau Olivia tiba-tiba memelukku dan meyarungkan pisau yang sama di perutku.
Ketakutan itu benar-benar ada. Bisakah kau membayangkan ketika ingin membasuh muka di kamar mandi sementara ada sosok lain yang tak terlihat sedang mangematimu dari belakang? Lalu dengan perlahan-lahan seuntai bisik menyapa telingamu. Bisik yang sama seperti bisikku sebelum membuat tubuh Olivia terjerembab ke lantai.
“Apakah kau mencintaiku, Kekasihku?” Bisik suara itu, begitu dingin. Selembut angin malam yang mistis.
Kamar mandi yang sunyi sudah mampu menciptakan teror tersendiri. Setiap sudut kamar mandi seperti menyuarakan bisik yang sama. Keran air, bak mandi, saluran pembuangan air, WC duduk seperti serempak memuntahkan bisik yang sama. Pelan dan begitu lembut hingga membuat tubuhmu menjadi dingin. Dan di sisi mana pun kamu berdiri di ruangan seperti itu, bayang-bayang kematian seperti selalu siap mendekapku dari belakang.

6.
Aku merasakan kehadiran Olivia pada malam-malam berikutnya bersama angin yang bertiup pelan membelai tengkuk leherku. Aku merasa Olivia hadir di setiap sudut ruangan ini dan mengamatiku dengan diam-diam. Diam-diam mungkin Olivia sedang berjalan ke arahku lalu merangkulku dari belakang ketika aku sedang menyaksikan siaran televisi. Akupun hanya bisa merasakan rangkulan itu seperti angin lembut yang membelai leherku. Atau tanpa sepengetahuanku dia dengan penuh manja tidur di pangkuanku, atau menyandarkan kepalanya di pundakku, tapi lagi-lagi aku hanya bisa merasakan tiupan angin yang menjadi dingin.
Ketika aku ingin merebahkan tubuhku pun ada rasa yang sama. Aku kembali merasakan kehadiran Olivia ketika kusibak selimut di malam yang lagi-lagi terasa begitu ganjil. Aku seperti melihat Olivia duduk di salah satu sudut ranjang seperti dulu. Kalau dulu Olivia duduk manis dengan kecantikannya yang memesona, kini dia tampak menyedihkan. Tubuhnya yang dulu harum kasturi kini berganti amis darah. Kurebahkan tubuhku dan dengan sekuat tenaga kucoba meyakinkan diri.
“Olivia sudah mati. Dan takdir tak akan membiarkannya hidup kembali,”
Mataku enggan terlelap. Malam menjadi berjalan sangat lamban. Bayangan ketika Olivia meregang nyawa tak henti-hentinya menakutiku. Dapatkah kau bayangkan ketika kau berada pada tempat yang menurutmu aman tapi justru di situ sangat kental aroma maut yang menyeruak?
Aku limbung. Malam semakin berjalan dengan lamban. Setiap tarikan napasku mencium bau amis. Aku merasakan wajah Olivia yang kuyuh dan pucat berada tepat di atas wajahku. Wajah yang bopeng tak beraturan. Mata yang dalam dan gelap. Aku seperti merasakan ada tangan-tangan dari bawah kasur yang dengan lembut meraba-raba tubuhku. Bisakah kau merasakannya? Kemudian dengan tangan yang entah itu, tubuhmu didekap dengan erat hingga tak kuasa berlari. Atau ketika kau sedang dilanda lelah dan ingin sejenak tengkurap, detik itu pula kau mencoba bangkit secepat kilat karena menyadari tubuhmu menindih sebuah sosok yang pernah kau bunuh beberapa hari yang lalu?

7.
Aku terkesiap. Tubuhku merinding seperti merasakan ribuan semut merayap-rayap di sekujur tubuhku. Ruangan yang kurasa bisa menyelamatkan aku dari ketakutan yang mengendap di dasar hati berubah menjadi ruang gelap dengan aroma arwah-arwah panasaran yang begitu kental. Bisakah kau bayangkan ketika kau selesai membasuh muka dengan air untuk meredahkan ketakutan, justru yang kau lihat adalah sosok wanita yang sedang tersenyum kepadamu? Atau pada sebuah malam yang lelap kau dengar derap langkah dari kamar mandi dan perlahan-lahan suara itu menuju ke arahmu? Atau suara keran air yang mengucur deras dengan sendirinya. Suara kecipak air. Suara kecicikan. Suara tawa, tangis, dan sebuah panggilan menyebut namammu yang terdengar berasal dari lubang pembuangan air yang dalam dan gelap? Mungkin cerita-cerita seperti itu hanya ada di dalam cerita atau film misteri. Tapi percayalah, aku bisa merasakannya.
Aku merasakan kematian begitu dekat denganku. Begitukah catatan takdirku? (*)

Jojoran Asri, Maret 2011

*Mmasuk Antologi Cerpen “Kisah Misteri Kelahiran dan Kematian” 2011.


About this entry