DONGENG KEBAHAGIAAN

1

(Ilustrasi: “Happiness Sadness Mask” by Jordan Allen)

Cerpen Agus Budiawan

Kami sedang berkemas di rumah kami. Sebelumnya, ketika mendung mulai terbentuk di atas desa kami, kami sudah menyiapkan apa saja yang menurut kami perlu kami bawa. Beberapa tikar, gelas, piring, makanan dan apa saja yang ada, dan sekali lagi, yang sekiranya perlu. Kami bukan bersiap untuk pergi liburan keluarga atau semacamnya. Tapi, ini seperti sebuah ritual baru yang sekaligus menjadi satu-satunya hiburan di desa kami yang selalu sepi, seperti desa mati yang hanya mendapat kunjungan pada musim tertentu saja.

Ya, desa kami seperti daerah mati karena seluruh penduduk kami tak bisa lagi berbicara maupun bersuara. Hari-hari kami berjalan datar dan sepi. Meskipun begitu, kami tak pernah merasa bersedih karena kami telah diberi bekal kebahagiaan oleh seseorang untuk bekal meniti hidup yang semakin sulit, melilit, seperti ular yang siap menelan setiap saat.
Kalian tentu heran kenapa kami tetap bahagia meskipun mulut kami tak lagi bisa bersuara. Sebenarnya jawabannya cukup sederhana. Dengan diam, kami tak perlu menebar terror kebohongan di mana-mana. Dengan diam kami tak perlu membentak anak-anak atau istri-istri kami karena sedikit kesalahan yang bisa melukai hati. Dengan diam kami juga dapat menjaga lidah kami tetap bersih dari janji-janji. Kami hanya berbicara dengan isyarat. Maklum, suara kami sudah habis kami berikan pada seseorang yang telah memberi kami kebahagiaan, atau lebih tapatnya janji; akan memberi kebahagiaan pada kami lebih banyak lagi. Ya, bahkan anak-anak kami yang masih di dalam kandungan pun telah kehilangan suaranya untuk jaminan hidup dia di dunia kelak. Dan hari ini, desa kami seperti hidup kembali dari mati suri yang cukup lama: musim menebar janji dan angan-angan kebahagiaan dan kesejahteraan telah tiba.
Ketika waktunya telah benar-benar tiba, semua orang sibuk mengemasi barang-barangnya sehingga menimbulkan kebisingan yang memekakan telinga. Setiap orang sibuk mempercantik diri dengan pakaian paling baik yang mereka punya. Mereka juga akan membawa segala barang paling berharga yang tersisa. Begitu juga kami.
Kami semua berpacu dengan waktu. Ketika hujan mulai turun serempak, kami pun secara otomatis berhenti berkemas dan berhamburan ke luar rumah. “Jangan sampai melewatkan detik-detik kedatangannya.” Kata orang tua kami dulu. Kadang kami belum selesai memakai baju hujan sudah turun. Ada yang sisirnya masih nyangkut di kepala, ada yang resleting celana maupun roknya belum ditutup, dan yang paling parah adalah ketika belum sempat memakai celana. Anak-anak kami pun tertawa cekikikan – tetap tanpa suara – ketika melihat kami keluar rumah setengah telanjang.
Mungkin akan lebih baik jika kami beri tahu kepada kalian terlebih dulu tentang desa kami. Desa kami bukanlah desa dari negeri dongeng yang terletak di atas awan atau di bawah tanah. Desa kami benar-benar ada. Desa kami berada di pinggir kota tempat kalian tinggal. Entah desa kami benar-benar termasuk desa atau masih berada dalam wilayah pemerintah kota kalian. Jika dilihat dari peta, kami termasuk warga kalian. Tapi, kami lebih suka menamakan tempat kami desa, tempat yang bisa menawarkan keakraban yang hangat antara satu dengan yang lainnya. Sedangkan kota adalah tempat-tempat manusia iundividualis.
Kami seperti hidup di desa terpencil dari gemerlapnya kota metropolitan. Selama bertahun-tahun kami selalu meneriakkan kabar keberadaan koloni kami, manusia-manusia yang hampir habis berharap. Tapi, sepertinya telinga kalian sudah bebal dan tuli, atau mungkin sengaja acuh. Kami menjadi kaum yang terpinggirkan. Lamban tapi pasti kalian gerogoti tanah kami sedikit demi sedikit untuk membangun peradaban baru yang semakin memojokkan kami. Dan perlu kalian ketahui, kami sekarang hidup di tanah yang luasnya hanya dua kali luas lapangan bola, sementara jumlah kami semakin bertambah setiap bulannya.
Di desa kami tidak akan pernah kalian temui fasilitas hiburan, kesehatan, maupun pendidikan. Kalian hanya akan menemukan tempat sampah berukuran raksasa yang memakan hampir setangah lahan permukiman kami. Kami kadang berpikir akan jadi apa anak-anak kami jika kesehariannya hanya bergelut dengan sampah kaleng-kaleng rombeng.
Jangan kalian pura-pura simpati terhadap kami. Karena kami tahu sekarang musim sudah berganti hujan, dan musim menebar kebaikan demi kepentingan diri kalian sendiri telah datang. Jangan pikir kami menderita. Itu salah besar. Justru saat seperti inilah kebahagiaan kami akan datang. Ya, pada saat seperti inilah – ketika hujan mulai turun – akan datang seorang perempuan yang kami beri nama Perempuan Hujan. Dia akan memceritakan pada kami sebuah dongeng kahyangan yang bisa membuat kami bekal kebahagiaan sampai beberapa tahun ke depan. Dia hanya datang satu kali selama musim hujan: saat hujan pertama kali turun. Dia akan memberi kami bekal kebahagiaan sampai datangnya lagi hujan pertama beberapa tahun ke depan.
Dan hari ini adalah hujan pertama di tahun yang kelima sejak pertama kali dia datang. Entahlah, sekarang hujan tak bisa dihitung kapan datangnya, maka kami selalu siaga kalau tiba-tiba saja hujan turun.
Kami sudah menganggapnya sebagai malaikat penolong bagi kami. Sebab itulah kami dengan sukarela menyiapkan barang-barang yang perlu kami bawa untuk dihadiahkan kepada dia sebagai ucapan terima kasih.
*****
Kini, kami sudah berada di tempat yang lapang. Di bawah guyuran hujan kami membentuk sebuah lingkaran. Kami duduk dengan saling berpegangan tangan. Tua-muda, kecil-dewasa, laki-laki dan perempuan, semua tak sabar menunggu kedatangannya. Sementara itu di hadapan kami terdapat tumpukan barang-barang yang sudah kami siapkan sebagai hadiah.
Seperti tahun-tahun lalu, dia akan keluar dari balik lorong sempit nan gelap yang berada di ujung perkampungan. Menurut kabar burung yang kami dengar – yang sudah lama kami percayai – perempuan itu berasal dari kota seberang sana. Awalnya kami menganggap dia sama seperti yang lain – suka memeras darah kami – tapi kenyataannya dia bukan seperti mereka. Dia tidak simpati, tapi dia bangga dengan ketegaran kami. Untuk itu dia memberikan hadiah berupa dongeng kepada kami.
Sebenarnya dongeng yang dia ceritakan kepada kami sama persis seperti tahun-tahun lalu. Tapi toh dongeng itu mampu menyihir kami. Kami juga sebenarnya tidak begitu paham dengan dongeng yang dia ceritakan kepada kami. Tapi, dia mampu mengubah dongeng itu menjadi seperti mukjizat yang memberikan kebahagiaan langka kepada kami. Kami pun dengan senang hati memberikan barang-barang berharga kami sebagai hadia: karena menurut kami tak ada yang lebih berharga daripada kebahagiaan itu sendiri.
Hujan mulai deras. kami pun bersiap-siap menyambut kedatangannya. Kami tak pernah berpikir kalau-kalau desa kami akan tenggelam oleh air hujan yang semakin deras. Sepertinya, Perempuan Hujan itu telah melindungi desa kami dengan dinding tipis yang terbuat dari kaca bening. Jadi, kami tetap aman meskipun kota tetangga kami selalu dilanda banjir setiap tahunnya. Kami sungguh tidak pernah merasa khawatir. Apalagi sebentar lagi kami kedatangan tamu istimewa yang akan memnceritakan sebuah dongeng untuk kami.
Kami masih menunggu detik-detik kedatangan perempuan itu keluar dari balik lorong. Seperti biasa, dia akan berjalan mendekati kami dengan payung merah yang melindunginya dari hujan. Wajahnya putih bersih dengan rambut disanggul ke atas dan diikat dengan pita merah pula. Tubuhnya ramping seperti gadis Cina. Tapi, kami yakin dia bukan keturunan Cina. Dia sama seperti istri-istri kami, hanya saja dia terawat dengan sangat baik. Dia biasanya akan mengambil posisi di tengah-tengah lingkaran kami dan duduk di tempat yang sudah kami siapkan.
Dia kemudian akan duduk dengan lembut dan mulai bercerita. “Tahukah kalian bahwa ada sebuah tempat yang tak akan kalian temui kesedihan di sana?” dia jeda sejenak untuk memperbaiki posisi duduknya. “Di tempat itu yang ada hanya kebahagiaan. Di tempat itu semua orang mendapat derajat yang sama, keadilan yang sama, dan kekayaan yang sama. Tak ada yang menderita. Tahukah kalian di mana tempat itu?” dia jeda lagi untuk mengamati kami satu persatu seperti ingin mendengar sesuatu dari kami. “Tidak” kata salah seorang di antara kami, tetap tanpa suara. Kami akan tahu dia mengatakan itu tanpa harus bersuara karena telah terbiasa.
Mendengar itu biasanya dia akan berdiri dan menghampiri seseorang yang berkata tadi. “Kenapa?” tanyanya sambil mendekatkan bibirnya ke telinga seseorang tadi. “Karena kami adalah orang biasa, sementara anda adalah dewa…” kata seseorang tadi dengan sedikit bergetar karena kedinginan, tetap tanpa suara. Mendengar itu biasanya dia akan tertawa merdu dan berjalan memutari lingkaran kami sambil terus bercerita. “Aku adalah dewa penyelamat bagi orang-orang seperti kalian…dan di sinilah tempat yang berbahagia itu.” setelah itu apa yang dikatakan perempuan itu tak dapat lagi kami dengar. Kata-katanya seperti mantra yang bisa membuat kami tenggelam dalam alam bawah sadar kami.
Kejadian itu, seingat kami, berlangsung cukup lama sampai akhirnya kami terbangun dan menyadari hujan sudah reda dan langit kembali cerah. Barang-barang yang kami siapkan sudah hilang dari hadapan kami. Seketika itu kami akan bersorak gembira karena perempuan hujan itu bersedia menukar kebahagiannya dengan barang-barang kami. Sepanjang musim pun kami tidak akan merasakan kesedihan sampai hari ini datang kembali: saat kebahagiaan sedikit demi sedikit mulai luntur oleh waktu yang semakin tak menentu.
Kami tak pernah perduli meskipun harus duduk beralaskan tumpukan sampah dan genangan air yang berubah hitam. Kami tetap menunggu dengan hikmat dan terus membaca mantra untuk kedatangannya. Kami ingat, saat terakhir kali kedatangannya tahun lalu, dia mengajarkan kami sebuah mantra untuk mengharap kedatangannya.
Kami mulai resah. Dia belum datang sementara mantra sudah kami baca ratusan kali. Bibir kami pun mulai membiru karena dingin yang amat sangat. Anak-anak kami mulai roboh dan tersungkur di atas sampah. Air sudah mulai menggenangi sekitar kami. Tapi kami seperti tidak perduli dan tetap meneguhkan keyakinan bahwa sebentar lagi Perempuan Hujan itu akan datang.
Kenapa dia tak kunjung datang? Waktu yang semakin lama membuat keyakinan kami mulai surut dan terus menunggu adalah hal yang sia-sia. Tubuh kami sudah mulai membeku-membiru dan kami tak mau mati sia-sia. Kepercayaan kami sudah habis sampai di sini. Kami pun bergegas membereskan barang-barang kami: lebih tepatnya rongsokan. yang tak ada harganya lagi jika ditukar dengan kebahagiaan yang ternyata mahal. Harta berharga sudah kami tukarkan semua, termasuk suara-suara kami. Suara kami sudah kami serahkan untuk kebahagiaan yang singkat. Ternyata.
Kami mulai memanggul anak-anak kami yang mulai membeku bersama sampah-sampah ini kembali ke gubug-gubug kami dengan bibir biru menggerutu. Hujan bukannya mereda, tapi malah semakin deras saja. Kaki-kaki kami pun mulai sarat oleh sampah-sampah yang menghalangi langkah kami. Sementara itu, air sudah mulai tinggi.

Surabaya, Maret 2009

Judul asli adalah Perempuan Hujan, dipublikasikan buletin jurusan Sastra Indonesia Unair; Gatra (Gagasan Sastra) edisi I/Tahun I/Desember 2009.


About this entry