TELAGA ANJING

1

(Ilustrasi: “Boat Lake Marine” by Emil Nolde)

Cerpen Agus Budiawan

Sebelum kejadian kemarin itu, penduduk kampung Wotan hidup dalam damai dan sejahtera dalam segala kesederhanaannya. Penduduk yang tinggal di kampung ini pun tak lebih dari seratus kepala keluarga yang hidup dengan mengandalkan sawah dan ladang. Nama kampung kami memang tak begitu akrab terdengar di telinga orang-orang, tapi keberadaan kami benar-benar nyata. Kami bukanlah liliput-liliput yang hidup di batang-batang tanaman jamur atau batang pohon-pohon kerdil di kampung antaberanta yang hanya ada di dalam dongeng ninabobo pengantar tidur.
Kampung Wotan terletak di antara hamparan ladang, persawahan, dan hutan-hutan yang menyembunyikan kampung kami dari dunia luar. Sepanjang hari – mulai pagi sampai menjelang sore hari – banyak dihabiskan warga yang menggantungkan hidup sebagai seorang petani untuk menggarap sawah dan ladang. Tanaman yang digarap bermacam-macam mulai dari menanam jagung, padi, kacang-kacangan, mentimun, dan lain sebagainya. Dan ketika hari berganti malam dengan kesunyiannya serta derik belalang atau jangkrik disertai siulan angin sepoi menjenguk pucuk dedaunan dan ranting-ranting, membuat kampung kami bagai sebuah panggung orkestra mini. Suasana seperti itulah yang dengan sempurna menggantikan keriangan celoteh para petani serta lenguhan kambing-kambing dan lembu-lembu di persawahan pada siang harinya.
Tapi ketenangan yang sepertinya akan menjadi kekal untuk selamanya itu tiba-tiba hilang hanya dalam waktu beberapa hari saja. Tanpa sebab yang pasti kemarin malam kampung kami kedatangan tamu sekawanan anjing yang menyerbu telaga dengan lolongan yang mengerikan. Rumahku yang berada di tempat yang agak jauh dari telaga memang tak bisa ikut merasakan langsung kegaduhan itu. Tapi beberapa warga yang rumahnya berdekatan dengan telaga mengaku tak bisa tidur semalaman. Kedatangan sekawanan anjing malam itu membuat heran seluruh kampung karena selama ini kejadian seperti itu tak pernah ada.
Datangnya sekawanan anjing malam itu (dan malam-malam berikutnya) sekiranya bisa dijadikan suatu petanda bahwa ada sesuatu yang sedang tidak beres terjadi di kampung ini. Kedatangan sekawanan anjing malam itu tentu ada kaitannya dengan hilangnya Suroto, sahabatku, anak dari keluarga Bapak Ngasem, sehari sebelumnya. Bisa jadi Suroto meninggal dan mayatnya teronggok di sekitar telaga hingga bau bangkai yang menyengat menarik sekawanan anjing kelaparan itu untuk datang. Tapi pagi harinya ketika beberapa warga, termasuk Bapak Ngasem, yang menyisir di setiap sudut telaga tidak menemukan tanda-tanda keberadaan sesosok mayat yang mencurigakan. Hanya saja di batang pohon Jarak besar yang tingginya mencapai lima puluh meter terlihat baret di sana-sini seperti cakaran kuku atau gigitan taring tajam.
Sejak kejadian itu hampir setiap malam sekawanan anjing itu kembali datang menyerbu telaga. Sejak itu pula mulai ada beberapa pengaduan dari keluarga-keluarga yang mengaku kehilangan anak mereka. Bapak Sarikan, Ibu Sumi, Mbah Matrub, Pak Subhan, berturut-turut mengaku kehilangan anak dan cucu mereka. Tapi menduga Suroto dan anak lainnya mati dimangsa anjing-anjing itu rasanya tidak mungkin. Selain tak ditemukan sisa dari potongan tubuh mereka, Suroto dan anak yang lainnya sudah tak terlihat sejak sore hari ketika pulang dari sawah atau ladang, sementara sekawanan anjing-anjing itu baru menunjukkan taringnya ketika malam hari.
Kampung kami menjadi gempar dengan hilangnya Suroto dan anak-anak lainnya serta datangnya sekawanan anjing setiap malam itu. Ibuku pun mulai melarangku keluar rumah selepas maghrib walau hanya untuk membeli rokok atau bermain kartu di warung – meskipun sebenarnya lelaki seusiaku sudah bisa menjaga diri sendiri. Aku rasa anak-anak lain di kampung ini mengalami hal yang sama; dilarang keluar rumah selepas maghrib. Selanjutnya malam-malam di kampung kami pun menjadi mencekam dengan lolongan sekawanan anjing yang selalu terdengar menakutkan.
Ketika berdiam diri di rumah, kudengar dari cerita Bapak tentang hilangnya anak-anak dari kampung kami itu mungkin ada kaitannya dengan isu yang berkembang akhir-akhir ini, “Selat Madura sedang meminta tumbal”. Ini berkaitan dengan akan dibangunnya jembatan yang menghubungkan pulau Jawa dengan pulau Madura yang sudah lama diwacanakan oleh pemerintah. Hal itu menjadi cukup beralasan, “Jembatan itu minta pondasi awal yang terdiri atas kepala-kepala manusia”. Itu mungkin menjadi alasan mengapa wacana pembangunan jembatan itu sampai sekarang belum pernah terealisasi.
“Kepala yang terkumpul belum mencukupi,” kata Bapak suatu malam.
“Kenapa harus kepala?” tanyaku.
“Beton saja tidak cukup. Selat Madura minta sedekah laut demi keamanan bersama. Kalau tidak begitu, nanti yang kena adalah para pekerja dan pengguna jembatan.”
Berkaitan dengan itu, Bapak juga bercerita tentang pemberontakan di Madiun yang pecah pada tahun 1965 dan berakhir ketika memasuki tahun 1966. Setelah pemberontakan antara tahun 1966 sampai dengan tahun 1980-an masih dapat dirasakan dampaknya di daerah Kecamatan G. Jauh di luar kampung – tepatnya di sebuah jembatan yang membelah hutan jati – terjadi pembantaian besar-besaran terhadap para pengikut komunis yang dilakukan oleh orang-orang berseragam dibantu penduduk setempat, dan mayatnya dibiarkan teronggok di bawah jermbatan. Keesokan harinya ketika akan dimakamkan secara massal, mayat-mayat yang berjumlah puluhan itu seluruhnya tak utuh lagi; semua kepalanya telah hilang. Pada waktu itu tak ada yang tahu kenapa harus kepala yang hilang. Tapi memasuki tahun 1990-an, misteri hilangnya kepala-kepala itu menjadi sedikit terkuak; proyek besar sudah direncanakan. Benarkah?
Kebenaran tentang cerita Bapak bukanlah sebuah kebenaran mutlak, tapi cukup bisa membuatku berpikir untuk memercayainya. Apalagi dengan hilangnya Suroto, Dedi, Hamid, Ali, Zudi, Zaenal dan Amin yang begitu misterius dengan jarak yang hanya satu sampai dua hari saja membuat apa yang diceritakan oleh Bapak cukup beralasan. Mayat mereka tak pernah ditemukan dan bau busuk dari tubuh-tubuh mereka pun tak pernah tercium. Mengetahui hal itu, para keluarga korban hanya bisa pasrah dan berharap isu-isu itu tak benar dan anak-anak mereka kembali ke rumah dengan selamat.
Kemudian, yang menjadi petanyaan selanjutnya dari kemungkinan yang ada adalah siapa pelaku dari semua ini? Orang dari kampung sendiri rasanya tidak mungkin. Selama bertahun-tahun kami semua hidup dalam damai. Tapi menduga orang luar pun tidak cukup kuat, sebab di kampung ini tak pernah kedatangan orang asing karena letak kampung yang cukup jauh dari daerah kecamatan, apalagi dari kota Kabupaten G. Kalaupun ada yang datang itu pun hanya penjual kayu bakar atau alat-alat rumah tangga yang kedatangannya tak tentu. Menuduh Wak Tasripin juga tidak mungkin. Meskipun dia pendatang, tapi dia juga dulunya warga kampung sini juga.
Wak Tasripin dulu meninggalkan kampung ini dan ikut anaknya tinggal di Surabaya – dimana anaknya menikah dengan orang setempat. Beberapa bulan yang lalu dia kembali seorang diri ke kampung dengan tubuhnya yang sudah tua dan bongkok. Menduga Wak Tasripin sebagai pelakunya bisa saja, tapi juga tidak mungkin dengan mempertimbangkan sifat baiknya selama di kampung dulu, sebelum ke Surabaya. Rumahnya yang dekat dengan telaga memungkinkan laki-laki malang itu juga tak bisa tidur semalaman akibat lolongan sekawanan anjing itu.

***

Misteri menghilangnya beberapa anak dari kampung kami selanjutnya menjadi teror yang seakan tak menemukan jalan keluar. Polisi yang diharapkan bisa memecahkan masalah ini rupanya tak banyak membantu. Polisi-polisi hanya sekali datang untuk meninjau tempat-tempat dan orang-orang yang mencurigakan, setelah itu mereka tak datang-datang lagi. Mungkin letak kampung kami yang terpencil membuat aparat kesulitan. Mungkin juga tugas pencarian terhadap anggota-anggota pergerakan yang masih banyak berkeliaran menyita banyak waktu mereka. Entahlah, apapun alasannya yang pasti sejak kedatangan pertama itu mereka tak pernah datang lagi.
Setiap orang di ladang maupun sawah menjadi lebih sering membicarakan perihal menghilangnya anak-anak itu daripada mengurusi tanaman mereka. Burung-burung kuntul yang banyak beterbangan di atas ladang dan persawahan pun menjadi tampak seperti segerombolan burung pemakan bangkai yang menemukan makanan melimpah. Sapi-sapi dan kambing-kambing seperti berubah wujud menjadi anjing dan serigala-serigala haus darah, hingga waktu yang dihabiskan oleh petani di lagang atau sawah menjadi lebih singkat dari biasanya. Jika sebelumnya warga baru pulang ketika mendekati maghrib, maka kini selepas ashar para petani sudah berbondong-bondong menjinjit cangkul, sabit, dan menuntun lembu atau kambing mereka pulang lebih awal.
Ketika akan pulang melewati telaga aku berpapasan dengan Wak Tasripin di bawah pohon Jarak yang ranting dan dahan-dahannya menjulur hampir menyentuh rerumputan – seperti tangan-tangan iblis menjenguk mangsa – sedang mengamati baret-baret di batang pohon.
“Sedang apa, Wak?” Wak Tasripin sedikit kaget mendengar pertanyaanku yang tiba-tiba itu.
“Ah, kau rupanya, Sam. Bikin kaget saja.”
“Maafkan, Wak. Aku habis dari sawah dan tak sengaja melihat Wak di sini.”
“Bisa kau pikirkan kenapa anjing-anjing itu berisik setiap malam hanya untuk membuat baret-baret di pohon ini?” aku tangkap kata-kata Wak Tasripin itu bukan sebagai sebuah pertanyaan yang harus kujawab. Tapi hanya sebuah keheranan seperti warga yang lain kukira.
“Kau ada waktu, Sam?” Tanya Wak Tasripin kemudian.
“Iya, Wak?” tanyaku, mencoba memastikan ucapan Wak Tasripin.
“Kalau ada waktu, bertandanglah sebentar ke rumah.”
Setelah berpikir sejenak aku pun menerima undangan Wak Tasripin untuk bertandang ke rumahnya. Hal itu kulakukan bukan karena aku sudah akrab atau sudah mengenal dengan baik siapa Wak Tasripin, tapi hanya lantaran tak enak menolak undangan untuk sekadar bertandang. Ketika Wak Tasripin ikut pindah ke Surabaya dengan anaknya, umurku belum genap tujuh tahun, jadi apa yang aku tahu tentang Wak Tasripin hanya dari cerita Ibuku dan Bapakku, itu pun tak banyak.
Aku duduk di teras dan mengamati sekeliling rumah sementara Wak Tasripin masuk ke dalam rumah. Bisa kalian bayangkan bagaimana rupa rumah dari kayu yang tak terawat selama bertahun-tahun? seperti itulah rumah Wak Tasripin. Banyak sisi rumahnya yang rapuh dimakan rayap, tiang-tiang yang mulai doyong atau dinding dari sesek yang banyak berlubang dan ditambal dengan sobekan kardus. Dengan kondisi rumah seperti ini, sekali tiupan angin ribut bisa saja merobohkan rumah ini.
“Tubuhku sudah terlalu tua untuk membetulkan rumah ini.” Wak Tasripin keluar dari rumah dengan membawakan aku segelas air putih, dan mendapati aku sedang mengamati rumahnya.
“Terima kasih, Wak.”
“Tak perlu sungkan, hanya air putih.” Kata Wak Tasripin kemudian duduk di sebelahku, agak jauh.
“Menurut Wak Tasripin kenapa anjing-anjing itu datang ke telaga setiap malam kalau hanya untuk meninggalkan baret di pohon Jarak itu? Aku heran saja, sebelumnya tak pernah terjadi hal seperti itu. Ini terjadi justru sejak Suroto dan anak-anak lainnya hilang. Apa ada hubungannya, Wak?”
“Saya turut simpati tentang Suroto, temanmu. Terus terang setiap malam saya juga terganggu dengan ulah anjing-anjing itu. Tapi saya hanya berdiam diri di rumah. Saya tak berani keluar rumah atau akan menjadi santapan anjing-anjing kelaparan itu.” Aku diam, berharap Wak Tasripin melanjutkan berbicara.
Selama menunggu Wak Tasripin kembali berbicara tedengar lagu mengalun dari celah-celah dinding sesek di belakangku. “Badai selatan berikanlah gelaran harapan cinta bahagia…musnah harapan ditelan gelombang…” (1) Lagu yang suaranya tak begitu jernih itu berasal dari radio yang dibawah Wak Tasripin dari kota, begitu kata Wak Tasripin. Setelah memberi tahu perihal radio yang didapatnya dari kota itu, Wak Tasripin kembali berbicara, cukup panjang lebar.
“Berakhirnya tahun 1965 dan memasuki tahun 1966 dan tahun-tahun sesudahnya, membuat harapan semua orang tentang keamanan yang terjamin semakin membuncah. Tidak terkecuali di Surabaya. Pemberontakan di Madiun pasti tak bisa secara utuh kau rasakan di sini, tapi dampak dari semua itu bisa saya rasakan di seluruh kota. Meskipun tahun 1965 dan 1966 sudah jauh tertinggal di belakang dan sekarang sudah memasuki tahun 1990-an, tapi menurut berita yang berhembus mengabarkan pencarian orang-orang berseragam terhadap sisa-sisa orang yang terlibat dalam pergerakan di Madiun dan pembentukan kembali sebuah perlawanan di Blitar Selatan tahun-tahun sesudahnya masih gencar dilakukan. Orang-orang yang kalah di Madiun dan Blitar Selatan kemudian melarikan diri ke kota lain untuk bersembunyi dan perlahan-lahan menggalang kekuatan baru. Surabaya menjadi tempat yang aman untuk dijadikan tempat pelarian. Akan tetapi lama kelamaan Surabaya menjadi begitu ramai dan tidak aman lagi, sehingga banyak yang melarikan diri ke pelosok-pelosok. Kota sudah tidak aman lagi.”
“Itu sebabnya Wak kembali ke kampung ini?”
“Itu bisa dikatakan sebagai salah satu alasannya.”
“Kalau begitu Wak punya alasan lain?”
“Anak dan menantuku hilang entah ke mana. Di kota saya tak punya pegangan hidup, jadi saya memutuskan kembali ke kampung ini.”
“Lalu hubungannya cerita Wak dengan hilangnya Suroto dan lainnya?”
“Saya rasa Suroto dan anak-anak yang lainnya diculik,” kata Wak Tasripin, mencoba menduga.
“Diculik? Mana mungkin?”
“Mereka butuh kaderisasi untuk meneruskan perjuangan mereka. Perjuangan petani!”
Aku sangsi atas apa yang barusan dikatakan oleh Wak Tasripin. Rentang waktu tahun saat pemberontakan itu pecah sampai dengan sekarang sangat jauh. Kata Bapak memang pemberontakan itu pernah ada, tapi tak ada kaitannya dengan kampung ini, atau anak-anak dari kampung ini. Sejak tahun itu sampai dengan hari ini tak pernah ada orang berseragam yang mendatangi kampung ini dengan tujuan mencari buronan. Itu sudah cukup membuktikan bahwa kampung kami bersih dari orang semacam itu.
“Itu sudah lama berlalu, Wak, tidak mungkin.”
“Tahu apa kau tentang hal itu. Kau masih anak bau kencur. Kau dengar di radio? Di Jakarta sedang gonjang-ganjing. Tentu saja kau tak akan tahu. Di sana para pemuda sedang berjuang menggulingkan pemerintah, memberontak!”
“Suroto dan yang lainnya dikirim kesana?”
“Tidak, Sam. Tidak. Suroto dan yang lainnya masih belum bisa apa-apa, masih butuh proses yang tidak sebentar.”
“Lalu bagaimana dengan isu pembangunan jembatan di Selat Madura yang butuh kepala manusia sebagai sedekah laut?”
Mendengar pertanyaanku Wak Tasripin tertawa cukup keras seperti menertawakan kebodohanku. Sebenarnya aku juga merasa sangsi dengan isu itu, tapi hal itulah yang dipercaya seluruh warga kampung ini yang juga kupercayai, kecuali laki-laki tua bongkok yang belum puas menertawaiku itu.
“Saya sudah tinggal lama di Surabaya dan tak pernah mendengar berita seperti itu. Sudahlah, Sam. Soroto dan anak-anak yang lainnya sudah tak akan kembali lagi. Mereka telah mengabdi untuk memperjuangkan hak-hak petani seperti kalian. Sampaikan itu pada orang tuamu dan seluruh warga di sini. Hahahaha,” tawa itu membuatku ingin sekali menghajar laki-laki tua itu. Sejenak aku merasa menyesal telah menerima undangannya untuk bertandang.
Setelah percakapan ganjil dengan Wak Tasripin itu selesai aku kemudian berlalu. Sambil berjalan sesekali kucoba menengok ke belakang dan mengamati Wak Tasripin. Laki-laki tua bongkok itu terlihat sedang berjalan mendekati pohon Jarak.
Sesampainya di rumah kepalaku hampir ditempeleng Bapak yang mengetahui aku baru saja bertandang ke rumah Wak Tasripin. Sambutan tak bersahabat dari Bapakku itu membuatku tak berani berkata-kata tentang apa yang kami bicarakan; tentang menghilangnya Suroto dan anak-anak lainnya.
“Seharusnya kamu jangan mendekati rumah orang aneh itu!”
“Orang aneh?”
“Orang itu gila. Mana ada orang waras yang berbicara dengan pohon?”
“Dia begitu karena warga sini tak ada yang mau berbicara dengannya, termasuk kita.”
“Jangan bodoh, Sam. Dia sepanjang hari hanya berdiam diri di rumah dan keluar rumah hanya untuk berbicara dengan pohon! Mana ada yang berani mendekati dia dan berbicara dengannya, kecuali kamu!”
“Lalu apa salahnya? Dia toh warga sini juga.”
“Kau sudah pintar menjawab, Sam. Mau kamu kehilangan kepalamu juga, hah?”
Mendengar itu kepalaku menjadi dingin setelah sempat memanas akibat sambutan Bapakku yang tak begitu rama. Namun aku menjadi sadar atas kekhawatiran Bapak yang berlebihan; pengintai kepala masih berkeliaran di luar sana.
Aku tak bisa membayangkan ketika hari mulai agak gelap sepulang dari rumah Wak Tasripin ada seseorang atau segerombolan orang mengintai dari tempat-tempat tak terlihat olehku. Pengintai itu kemudian dengan cepat menyergapku dari semak-semak dan dengan brutal merampok kepalaku. Setelah mendapatkan kepalaku, tubuhku yang tak utuh lagi itu pun kemudian akan dibuang begitu saja seperti bangkai tikus tak berguna. Tak bisa kubayangkan.

***

Satu bulan sejak menghilangnya Suroto, Dedi, Hamid, Ali, Zudi, Zaenal dan Amin kampung kami tetap didatangi sekawanan anjing yang menyerbu telaga pada malam hari. Menurut kyai dan orang pintar yang sudah ditanyai hanya mengatakan bahwa ketujuh anak itu sudah meninggal tanpa diketahui keberadaannya. Apa yang disampaikan oleh kyai dan orang pintar itu membuat dugaan Wak Tasripin tentang penculikan menjadi terpatahkan, setidaknya itu menurutku.
Pencarian pun semakin gencar dilakukan. Tapi setiap usaha pencarian yang dipimpin kepala kampung beserta seluruh warga tidak menemukan titik terang. Tanda-tanda yang bisa dijadikan sebagai petunjuk keberadaan mayat mereka pun belum bisa kami dapatkan. Mungkin saja mereka menjadi korban pembunuhan dan mayatnya telah ditimbun dengan tanah sehingga pencarian kami serasa menjadi sia-sia.
Ketika kami semua akan mengakhiri pencarian dan pulang melewati pohon Jarak di samping telaga, kami mencium bau busuk menyeruak dari semak-semak. Tapi kegembiraan kami yang mengira akan menemukan tanda-tanda keberadaan mayat Suroto dan yang lainnya menjadi pupus karena ternyata bau busuk itu berasal dari bangkai tikus. Beberapa warga sempat menduga kedatangan sekawanan anjing di dekat telaga mungkin bisa dijadikan petunjuk di mana keberadaan ketujuh mayat anak-anak kampung itu. Tapi dugaan itu kemudian pupus dengan ditemukannya bangkai tikus yang sudah tercabik-cabik dan dikerubuti lalat itu teronggok di semak-semak dekat telaga. Pasti bau bangkai tikus itulah yang mengundang sekawanan anjing kelaparan menyerbu telaga setiap malamnya.
Dari usaha pencarian yang tak menghasilkan apa-apa itu kemudian para keluarga korban dibantu warga kampung lainnya sepakat untuk membuat pusara bagi ketujuh anak itu sebagai tanda. Selanjutnya di pusara buatan itulah nantinya para keluarga korban datang jika ingin mendoakan anak-anak atau cucu mereka yang telah hilang entah kemana. Setelah pembuatan pusara itu selesai, doa besar-besaran untuk ketujuh anak yang hilang akan segera digelar di kampung.
Dalam doa bersama yang dilaksanakan selepas maghrib di mushola itu dihadiri seluruh warga desa. Tapi di antara warga-warga itu tak terlihat laki-laki tua bertubuh bongkok. Wak Tasripin tak datang meskipun menurut keterangan beberapa warga sudah mengundangnya. Tak datangnya Wak Tasripin memenuhi undangan warga menguatkan dugaan bahwa orang tua bongkok itu memang telah mengalami gangguan kejiwaan hingga tak bisa lagi bersosialisasi dengan warga kampung seperti dulu.
Ketika waktu isya datang doa berhenti sejenak untuk melaksanakan shalat isya berjamaah dan dilanjutkan dengan shalat ghaib, setelah itu doa dilanjutkan kembali. Doa masih berlangsung ketika dari kejauhan terdengar lolongan sekawanan anjing bergerak mendekat ke telaga. Setelah ritual mengirim doa selesai dilaksanakan dan berhasil menyusun keberanian, seluruh warga akhirnya sepakat bergegas menuju telaga menyerbu anjing-anjing yang nyalaknya semakin menakutkan. Mushola yang letaknya tak terlalu jauh dari rumah Wak Tasripin, dan dari telaga, bisa mendengar dengan jelas lolongan anjing serta desis dari moncong-moncong yang lapar itu bertambah banyak daripada malam-malam sebelumnya.
Bagaimana terkejutnya warga kampung ketika dalam cahaya kilatan api obor yang mereka bawa memperlihatkan sekawanan anjing itu bukan sedang mencabik-cabik bangkai tikus yang teronggok di dekat pohon Jarak. Sekawanan anjing itu pun tidak sedang berebut menggigit atau mencabik-cabik batang pohon Jarak. Tetapi anjing-anjing itu justru mondar-mandir mengelilingi rumah Wak Tasripin yang tampak gelap. Anjing-anjing itu berputar-putar seperti berusaha mencari jalan masuk ke dalam rumah. Ada yang mencoba mencabik-cabik lubang dinding yang terbuat dari sesek dan ada juga yang menunggu di depan pintu dengan terus menggonggong.
“Kenapa anjing-anjing itu menyerbu rumah Wak Tasripin?” Tanya salah seorang warga dalam keriuhan pikiran masing-masing.
“Jangan-jangan…” Bapak Ngasem mencoba mengandai-andai dengan suaranya yang bergetar.
“Jangan-jangan apa?” seorang warga menimpali.
“Mayat Suroto dan anak lainnya ada di dalam rumah itu?”
“Benarkah? Kalau begitu kita harus mengusir anjing-anjing itu terlebih dulu.”
“Atau jangan-jangan…”
“Jangan-jangan apa lagi?”
“Wak Tasripin meninggal!”
“Meninggal?”
“Benarkah? Atau jangan-jangan…”
Semua warga yang ikut dalam gerombolan itu mermiliki dugannya masing-masing dengan masih berdiri di tempat tanpa bisa berbuat apa-apa. Aku sendiri membayangkan bagaimana perasaan Wak Tasripin mengetahui anjing-anjing itu tidak sedang menyerbu pohon Jarak di dekat telaga, tapi rumahnya. Apa jangan-jangan benar dia sudah meninggal? Kalau benar masih hidup seharusnya dia bisa berteriak meminta pertolongan.
Semakin malam kami semakin tak tahu harus berbuat apa. Anjing-anjing itu jumlahnya semakin bertambah. Lolongan anjing-anjing itu sepertinya hendak mengundang anjing-anjing lainnya yang kemudian berdatangan. Melihat hal itu nyali kami semakin ciut. Pilihan yang kemudian kami ambil adalah membiarkan anjing-anjing itu berada di rumah Wak Tasripin sedangkan kami pulang ke rumah masing-masing dan berencana kembali lagi esok harinya.

***

Satu minggu terasa berjalan begitu lambat karena kami hidup dalam sebuah teror tak tampak yang seperti masih mengintai di setiap atap rumah kami. Siang hari kami masih sibuk menggarap ladang atau sawah dengan obrolan yang berbeda. Jika sebelumnya obrolan yang sering dibicarakan adalah tentang menghilangnya ketujuh anak itu, maka akhir-akhir ini kematian Wak Tasripin menjadi obrolan baru.
“Kenapa Wak Tasripin bunuh diri?” pertanyaan itu masih sering ada disertai dengan jawaban yang berbeda-beda pula, tapi sebatas praduga yang mungkin salah dan mungkin juga benar. Dan ketika malam, nyalak moncong anjing-anjing yang selalu menyerbu telaga masih saja terdengar menakutkan, dan cukup membuat kami hanya bisa meringkuk di dalam rumah tanpa bisa berbuat apa-apa. Apalagi sejak meninggalnya Wak Tasripin anjing-anjing mulai bertambah jumlahnya. Anjing-anjing itu tidak hanya menyerbu telaga, tetapi juga menyerbu rumah yang ditinggalkan Wak Tasripin.
Mayat Wak Tasripin sudah kami makamkan dengan baik di pemakaman kampung. Mungkin beban berat hidup dalam kesendirian membuat Wak Tasripin kemudian memilih gantung diri. Dalam penelusuran rumah Wak Tasripin pagi itu kami terkejut menemukan tubuh tua Wak Tasripin dalam keadaan tak lagi bernyawa menggantung di dalam rumah. Dari situ terjawablah sudah apa yang membuat sekawanan anjing itu menyerbu rumah Wak Tasripin malam sebelumnya. Dan dengan begitu, harapan untuk menemukan tanda-tanda keberadaan mayat ketujuh anak itu kembali pupus dengan sendirinya.
Aku yang ikut dalam penggeledahan rumah Wak Tasripin tidak terlalu terkejut ketika melihat tubuh Wak Tasripin tergantung di pilar-pilar penyangga rumah. Aku pun tak merasa aneh ketika menemukan sebuah radio yang masih menyala. Tapi yang lebih membuatku dan warga lainnya terkejut adalah temuan tumpukan buku-buku tentang pergerakan kemasyarakatan yang menuntut kesejahteraan kaum tani di beberapa pelosok Jawa Timur. Rupanya kota telah merubah Wak Tasripin yang dulunya gemar mendalami buku-buku serta ilmu-ilmu agama menjadi suka membaca buku-buku penggugah semangat pergerakan. Wak Tasripin yang dulunya memiliki pribadi yang terbuka pun menjadi penyendiri dan tertutup sepulangnya dari kota.
Dalam rumah Wak Tasripin yang seakan mau roboh itu kami menemukan tumpukan tali tambang yang masih dalam keadaan rapi teronggok di salah satu sudut ruangan. Ada juga beberapa tali yang telah dipotong-potong dengan panjang kurang lebih dua meter berserakan di lantai dan tempat tidur Wak Tasripin. Di sudut lain terdapat pula tumpukan batu-batu cukup besar dan seperangkat alat jebakan tikus di sisi lainnya.
Melihat barang-barang itu berada di dalam rumah Wak Tasripin kami menjadi maklum. Mungkin saja laki-laki tua itu hendak memperbaiki sendiri rumahnya yang sudah hampir roboh dimakan rayap. Jika tidak demikian dia tak akan memiliki tempat tinggal lagi ketika rumahnya nanti benar-benar roboh. Tapi rupanya dengan tubuh yang tua itu Wak Tasripin tak mampu memperbaiki sendiri rumahnya. Orang tua itu kemudian putus asa dan dengan tali tambang itu pula dia mengakhiri hidupnya. Paling tidak seperti itulah dugaan yang kemudian muncul di benak para warga, tak terkecuali aku.
Selain itu, Wak Tasripin juga pernah bercerita tentang anak dan memantunya yang hilang entah kemana hingga membuat dia memutuskan kembali ke kampung. Tentu saja hal itu sedikit banyak mempengaruhi keputusan Wak Tasripin untuk mengakhiri hidupnya. Dengan tubuhnya yang sudah menua tentu dia tak sanggup menyambut rumahnya yang akan roboh perlahan-lahan atau penyakit ketuaan yang mungkin bertubi-tubi menyerang tubuhnya yang renta, dan bunuh diri adalah jalan keluar terbaik baginya.
Terhitung satu bulan sejak kematian Wak Tasripin ditandai dengan perubahan musim yang begitu menyengsarakan bagi warga kampung kami yang hidup hanya dengan mengandalkan sawah dan ladang. Musim kemarau membuat tanaman kami terancam gagal panen. Tanah butuh air sedang hujan tak lagi turun setetes pun. Air telaga perlahan-lahan surut dan dipercepat dengan banyaknya warga yang mengambil air untuk pengairan tanaman mereka yang terancam mati.
Air telaga semakin surut dan malam-malam pun menjadi semakin riuh dengan lolongan anjing yang jumlahnya semakin bertambah. Sejak itu semakin banyak anjing-anjing yang kemudian berdatangan tidak hanya di malam hari. Ketika matahari sudah mulai meninggi dan beberapa warga sudah hendak pergi ke ladang atau ke sawah masih saja mendapati beberapa anjing yang mondar-mandir di sekitar telaga.
Beberapa hari kemudian barulah diketahui apa sebabnya anjing-anjing itu tak henti-hentinya menyerbu telaga pada setiap malam hari kemudian semakin berani dengan datang di pagi dan siang hari. Bahkan ada beberapa anjing yang seharian penuh tak beranjak dari sekitar telaga. Bau busuk yang menyeruak dari dasar telaga menjadi pemicu datangnya sekawanan anjing-anjing itu. Bau busuk itu menyambut kami ketika kami hendak mengusir anjing-anjing itu dari telaga. Bau yang kemudian membuat lambung kami menjadi bergemuruh serasa ada sesuatu yang ingin dimuntahkan. Bau busuk itu kemudian menyerang hati kami seperti pisau yang menyayat dengan beringas hingga membuat mata kami menjadi ikut-ikutan menahan duka kepedihan ketika mata kami menjenguk ke dasar telaga.
Tak ada yang bisa menyangka bahwa apa yang selama ini kami cari dengan susah payah menyembul begitu saja di hadapan kami dari dasar lumpur telaga yang airnya telah surut. Warga menjadi histeris menemukan mayat anak-anak kampung yang selama ini hilang seperti di telan bumi tiba-tiba menampakkan diri di hadapan kami dengan wujud yang tak lagi bisa dikenali. Tak ada yang tahu persis mana mayat Suroto, mana mayat Dedi, Hamid, Ali, Zudi, Zaenal dan Amin dengan tubuh yang telah lumat dengan lumpur yang menempel.
Mengetahui kenyataan itu, keluarga korban tak kalah histeris. Ibu Sumi yang merupakan ibu dari Zaenal tersungkur di tanah, hampir pingsan. Ibu-ibu dari korban yang lain pun tak bisa berbuat apa-apa dan lunglai seperti kehilangan seluruh kekuatannya. Hanya saja Bapak Sarikan, Mbah Matrub, Pak Subhan, dan bapak dari korbain lainnya masih mencoba berdiri tegak, mencoba menerima keyataan pahit ini dengan lapang dada. Dari wajah mereka terlihat kesedihan yang begitu mendalam. Tapi terlihat juga sedikit raut kelegaan dengan terungkapnya misteri hilangnya anak-anak mereka itu.
Setelah dievakuasi, dari kaki ketujuh mayat tersebut masing-masing ditemukan seutas tali tambang yang diikatkan pada sebuah batu besar. Batu besar sebagai pemberat itulah yang membuat mayat mereka tak pernah ditemukan mengambang di permukaan telaga. Tali tambang dan batu-batu yang digunakan sebagai pemberat itu sama persis seperti yang kami temukan di rumah Wak Tasripin. Tapi benarkah Wak Tasripin pelakunya? Tak ada yang bisa memastikan. Tapi yang jelas beberapa utas tali tambang dan batu-batu itu sudah cukup memberi jawaban dalam kebisuannya. Sementara itu, dari kejauhan sekawanan anjing-anjing yang setiap malam menyerbu telaga, tetap mengintai seakan-akan bersiap menunggu waktu yang tepat untuk menyerbu telaga anjing. (*)

Kosan, 1-15 Januari 2011
———————–
(1) Lagu “Badai Selatan” saya lupa siapa penyanyinya.

*Masuk antologi cerpen “100 Topeng Kematian” 2011.


About this entry