Ziarah Tubuh

1

(Ilustrasi: “Pilgrimage” by Robert Burridge)

Cerpen Agus Budiawan

Tubuh-tubuh kami terpojok. Di hadapan kami batu-batu dan kayu-kayu beterbangan seperti kapuk diterpa angin ribut. Teriakan dan dentuman senapan berkoar-koar di atas sendunya langit kompleks pemakaman Mbah Bejo. Pasukan berseragam sedikit demi sedikit berhasil memukul mundur kami. Tubuh-tubuh kami semakin terpojok; menempel di tembok seperti cicak di balik lemari pakaian. Kekuatan yang masih ada hanya hati kami masing-masing; percaya bahwa tuhan tak akan pernah tidur. Tuhan akan selalu melihat perjuangan kami.
Sementara di depan kami, para peziarah yang lain sesekali masih berusaha melawan dengan lemparan batu atau kayu ke arah pasukan berseragam. Pasukan berseragam menjawab lemparan-lemparan itu dengan tembakan ke udara hampa kemudian mengacungkan moncong senapan ke arah para peziarah. Para peziarah mundur; mencari sedikit perlindungan untuk kemudian kembali menyerang. Tubuh kami tak gentar meskipun lawan kami dilengkapi dengan pentungan, senapan laras panjang, tameng, kendaraan lapis baja, atau watercanon yang siap melindas kami.
Dihadapkan pada situasi seperti itu, kami merasa maut begitu dekat dengan kami. Tapi bukankah sejatinya maut memang sangatlah dekat? Karena itulah kami tetap bertahan meskipun pasukan berseragam terus merangsek ke depan dan hampir memasuki kompleks pemakaman. Kami tak bisa tinggal diam menyaksikan sekawanan anjing-anjing yang akan memburu makam Mbah Bejo itu. Kami akan terus melawan meski dengan tubuh penuh luka. Kami akan terus bertahan meskipun hanya dengan bersenjatakan bambu dan batu.
***
Kota adalah tempat paling sunyi yang pernah kusinggahi, Adinda. Di tempat ini waktu seperti berjalan dengan begitu cepat, hingga hanya untuk bertegur sapa menjadi ucapan yang langka. Di tempat ini segalanya harus segera dilakukan; serba tergesa-gesa. Semua berjalan sendiri-sendiri. Tak ada senyum ramah. Semua memiliki rasa saling curiga. Segalanya kemudian menjadi sunyi. Serasa mereka diperbudak oleh kesunyian nasib masing-masin. (1)
Tentu kau tahu, Adinda, kota bukan tempat yang ramah bagi orang sepertiku. Kepercayaan telah menjadi barang langka disini. Banyak mata memandangku seperti sedang melihat malaikat pencabut nyawa berjubah putih. Hanya karena aku berasal dari udik, lulusan pesantren. Meskipun mereka tidak tahu apa-apa, tapi penampilanku sudah cukup membuat mereka melirikku curiga. Mereka menganggap aku sebagai orang yang berbahaya. Lebih berbahaya daripada tikus yang selalu menggerogoti kantong beras persediaan untuk makan mereka sehari-hari. Sedangkan aku tak pernah mengenal mereka, pun aku tak akan pernah mencuri harta apalagi nyawa mereka.
Kalau bukan karena wasiat ayahku, tentu aku tak akan pernah ada di kota ini, Adinda. Aku akan lebih senang bersamamu di gubug sederhana kita. Memanjatkan doa, cinta, dan pasrah dalam setiap sujud dan tahajud panjang kita di malam-malam yang mulia. Tapi aku harus secepatnya menemukan alamat yang diwasiatkan almarhum ayah, sebelum aku terlambat dan selamanya tersesat menemukan jalan untuk kembali ke pelukanmu.
Setelah melewati perjalanan yang tidak mudah, akhirnya aku sampai di sebuah kompleks pemakaman. Tempat inilah yang disebutkan dalam wasiat ayahku, Adinda. Makam Mbah Bejo. Mungkin tak kurang seribu peziarah yang mendatangi makam ini setiap harinya. Di makam inilah aku harus berada. Entahlah, ayah tak pernah diberi kesempatan lagi untuk menjelaskan alasannya. Aku hanya meyakini sepenuh hati bahwa pada setiap nasehat dan perintah ayah pasti tersimpan pelajaran yang akan sangat berharga buatku.
Kompleks pemakaman ini memiliki tiga bangunan utama. Bangunan pertama adalah sebuah mushallah, lalu disampingnya ada bangunan seperti sebuah rumah. Dan agak jauh dari kedua bangunan itu ada bangunan yang tampak lebih indah dari kedua bangunan yang tadi. Di tempat itulah Mbah Bejo dimakamkan.
Setelah mengamati sekeliling kompleks pemakaman, aku bertemu dengan seorang kiai bernama Kiai Wahid. Aku segera tahu dari pengakuan beliau bahwa beliau adalah pewaris yang berkewajiban menjaga makam Mbah Bejo. Dan dari percakapan singkat kami, aku tahu beliau adalah teman ayahku.
“Dimana ayahmu?”
“Beliau sudah wafat.”
“Innalillahi wa innailaihirajiun.”
“Beliau menuliskan wasit agar aku ziarah ke makam Mbah Bejo. Dan menyampaikan salam untuk Kiai Wahid.”
“Wa’alaikumsalam.”
Dari Kiai Wahid pula aku tahu alasan ayah memberi wasiat ini padaku. Konon ceritanya Mbah Bejo merupakan seorang Syekh yang berasal dari Gujarat, India. Beliau berlayar ke negeri ini untuk menyebarkan agama Islam pada waktu zaman penjajahan. Beliau kemudian mendirikan pondok kecil-kecilan untuk memperluas dakwanya. Tidak mudah memang. Tapi lama-lama Mbah Bejo memiliki banyak pengikut. Dari situ Mbah Bejo memiliki murid kesayangan bernama Mbah Anom. Kemudian Mbah Anom memiliki banyak pengikut dan termasuk diantaranya adalah Kiai Wahid dan ayahku sendiri.
Aku kemudian menyadari bahwa wasiat ayah adalah sebuah bakti terakhir yang ingin dilakukan oleh ayah kepada imamnya. Karena usia yang tak lagi bisa mempertemukan ayah sediri, maka ia memberikan wasiat itu padaku.
Aku kemudian berjalan menuju makam Mbah Bejo setelah mendapat izin dari Kiai Wahid. Tempat itu sudah penuh sesak oleh para peziarah yang datang dari berbagai kota. Aku melihat banyak orang memanjatkan doa dan shalawat dengan khusuk di depan makam Mbah Bejo. Tubuh para peziarah itu bergoncang-goncang mengikuti ritme bacaan mereka. Jika melihat mereka, aku seperti melihat orang-orang di depan makam Mbah Anom di kampung kita waktu ayah mengajakku ziarah untuk pertama kali. Waktu itu aku tak tahu pasti berapa usiaku. Yang pasti aku melihat tubuh orang-orang di hadapanku bergoyang-goyang seperti rerumputan dihempas angin.
Apa yang sering aku lihat di makam Mbah Anom di kampung kita (yang ternyata adalah murid kesayangan Mbah Bejo yang melakukan dakwah ke pelosok) aku lihat juga di tempat ini, Adinda; di sisi lain dari kesunyian ruang bernama kota. Setiap aku melihat tubuh-tubuh dengan jubah putih yang berguncang seperti dihempas angin itu membuatku teringat akan sebuah mimpi yang beberapa kali menjenguk tidur kanakku dulu. Ayah mengatakan kalau mimpi-mimpi itu adalah malaikat yang ingin menjengukku karena sudah mau berbuat baik menziarahi makam kekasih-kekasih Allah.
“Ziarah untuk mengingat mati, bukan memuja yang telah mati.”
Aku mengingat apa yang selalu dikatakan oleh ayah. Tentu ayah takut kalau aku akan tersesat dalam niat yang akan menggiringku menuju jalan kegelapan. Tidak bisa dipungkiri, tidak sedikit diantara orang yang datang ke makam adalah orang-orang resah dalam hidup. Mereka yang datang akan terus berdoa, memuja, dan meminta. Bersikap berlebihan. Berjalan menuju makam dengan menunduk serendah mungkin seperti seorang hamba menghadap raja. Membawa bebunga untuk di tabur di sekitar makam, lalu meratap mengharap kemudahan hidup. Tak lupa mereka mengeluarkan makanan atau minuman. Setelah itu mereka makan bersama dengan lahap bekal yang mereka bawa yang dipercaya sudah mendapat berkah dari makam Mbah Bejo. Terkadang kuburan seakan-akan menjadi tempat dimana maut dipuja secara berlebih-lebihan.
Tapi jangan selalu memandang orang yang ziarah seperti itu, Adinda. Tentu kau yakin aku tak akan melakukan hal seperti itu bukan? Dan tidak sedikit pula orang yang bisa meluruskan niat. Aku ingin menunaikan wasiat ayah; menziarahi makam imam dari segala sumber ilmu yang sudah diperoleh ayah. Aku hanya ingin menyampaikan salam terakhir ayah kepada Kiai Wahid, teman ayah, serta titipan doa keselamatan untuk Mbah Bejo; bukan untuk meratap dan meminta. Aku masih memegang teguh yang selalu diajarkan oleh ayah dan seperti yang selalu aku tanamkan dalam setiap niat kita, Adinda.
“Ziarah untuk mendoakan yang telah mati, bukan untuk meminta kepada yang mati.” (2)
***
Aku telah menunaikan wasiat ayah, Adinda. Tapi ketika aku ingin segera pulang dan kembali ke pelukanmu, tiba-tiba saja dari belakang tubuhku didekap oleh dua orang yang sama sekali tak kukenal. Tubuh kedua orang itu kekar seperti para pandai besi yang ada di kampung kita. Mereka menyeretku menuju mobil yang sudah menunggu. Entah kemana orang-orang itu akan membawaku. Aku hanya disuruh diam dan mengikuti perintah orang-orang itu.
Aku dibawah dengan sebuah mobil ke tempat yang asing bagiku. Setelah itu aku dimasukkan ke dalam sebuah ruangan yang tidak terlalu luas dan pengap. Aku didudukkan di sebuah kursi, berhadapan dengan seseorang yang sudah menunggu di seberang meja. Kedua orang itu kemudian meninggalkan aku dan orang yang duduk di seberang meja itu berdua saja. Wajahnya gelap akibat penerangan yang tidak terlalu sempurna. Aku mulai diberi pertanyaan.
“Apa yang kau lakukan di makam itu?”
“Ziarah.”
“Ziarah? Jangan bohong.”
“Aku tidak bohong.”
Meja digebrak dengan gagag senapan. Tubuhku bergetar. Tak pernah terbayangkan di benakku sedikitpun kalau ziarah sudah menjadi sesuatu yang melanggar hukum, hingga aku dijemput secara paksa dan diintrogasi seperti ini.
“Jawab dengan jujur apa yang kalian rencanakan di makam itu?”
“Kami rencanakan? Kami tidak merencanakan apa-apa. Kami hanyalah orang-orang yang berziarah.”
Sekali lagi gagang senapan menghantam meja. Bukankah aku sudah jujur? Bahkan di kota seperti ini kejujuran seakan tak mendapatkan tempat lagi; tidak dipercaya dan terpinggirkan. Entahlah. Tiba-tiba saja suara itu menyeruak dari mulut laki-laki berwajah gelap itu.
“Kalian semua pemberontak!”
Pemberontak? Sejak kapan seseorang yang ingin menziarahi makam imamnya dianggap sebagai bentuk pemberontakan? Bahkan aku tak pernah megenal seorang pemberontak pun di makam itu, Adinda. Yang aku tahu hanya orang-orang yang dengan tubuh bergoncang-goncang hanyut dalam kekhusukan doa demi doa mereka. Aku tidak melihat ada senapan dibalik jubah-jubah mereka. Aku hanya melihat kitab suci. Aku hanya melihat tangan kosong menengadah. Aku hanya melihat air mata. Aku hanya….
“Kalian akan memberontak lagi?”
“Memberontak?”
“Kalian disuruh pindah tapi melawan. Apa namanya kalau bukan pemberontak?”
“Kami bukan pemberontak. Kami hanya ummat yang menghormati imam kami.”
“Untuk sesembahan kalian?” Laki-laki berwajah gelap itu menertawaiku, menertawai kami.
“Ziarah, bukan menyembah.”
“Ah, apalah namanya itu tidak penting. Setiap hari kalian menyembah kuburan, meminta berkah, meminta rezeki. Itu kebiasaan yang tidak sehat. Menyekutukan tuhan!” Laki-laki berwajah gelap itu berdiri lalu berjalan menuju ke arahku. “Tempat itu akan dibongkar. Kalian harus segera mengosongkan tempat itu.”
“Dibongkar?”
“Lahan itu milik pemerintah. Nantinya akan dibangun rusun di tempat itu. Kami harap kalian tak lagi melawan.”
Aku diam. Aku tak tahu apa-apa tentang siapa laki-laki berwajah gelap dan orang-orang diluar itu, Adinda. Tapi tiba-tiba saja aku mulai membenci orang-orang itu. Orang-orang itu akan membongkar makam imam dari ayahku, imam ummat. Rasa memiliki membuatku ingin melawan. Hal ini pula yang pasti ada di hati ribuan peziarah lainnya. Mereka pasti telah menetapkan niat mulia dengan mantap. Mereka akan terus melawan.
Setelah penangkapan dan introgasi singkat itu aku kemudian dilepas dengan satu syarat. Setelah dilepas aku harus kembali ke makam membawa sebuah pesan. Seluruh peziarah harus segera mengosongkan kompleks pemakaman tanpa perlawanan. Aku menyanggupi. Saat itu pula otakku dipenuhi dengan seruan-seruan gaib yang muncul dengan begitu saja. Dalam setiap langkah aku hanya memikirkan satu tekat, “lawan!”.
Inilah salah satu dari kesunyian di kota ini, Adinda. Tidak hanya orang yang masih hidup saja yang harus bersaing untuk mendapatkan tempat tinggal. Tapi, bahkan seseorang yang sudah mati sekalipun masih harus berebut tempat dengan yang masih hidup. Lebih parahnya lagi keberuntungan jarang memihak kepada orang-orang kecil seperti kami. Segalanya bisa diatur dengan mudah oleh orang-orang yang memiliki kuasa. Tahulah, Adinda, kota bukan tempat yang enak untuk mati. Karena bukan hanya pedagang kali lima atau rumah-rumah kumuh, tapi makam pun tak luput dari penggusuran.
***
Aku baru sampai di pintu kompleks pemakaman Mbah Bejo ketika dari belakang terdengar deru beberapa mobil yang bergerak ke arah makam. Mobil-mobil itu berhenti agak jauh dari gerbang kompleks pemakaman. Dari bak mobil orang-orang berseragam kemudian turun satu persatu. Pasukan berseragam itu membekali tubuh mereka dengan pentungan, senapan, dan juga tameng antipeluru. Mereka kemudian berbaris rapi seperti pasukan upacara bendera. Aku tak habis pikir kenapa pesan dan pengirim pesan bisa sampai pada waktu yang bersamaan?
Aku masuk ke kompleks pemakaman. Tepat di depan makam Mbah Bejo yang diberi sekat pembatas itu, aku melihat peziarah jumlahnya bertambah banyak daripada saat pertama kali aku datang. Mereka bersimpuh, menengadah, bergoncang-goncang dan tenggelam dalam doa-doa mereka. Aku meneliti ke sekeliling makam. Aku mencari sosok Kiai Wahid.
“Gawat, Kiai.”
“Kau belum pulang?”
“Waktu akan pulang ada dua orang yang mencegatku.”
“Siapa?”
“Aku tidak tahu. Mereka menangkapku dan membawaku ke sebuah tempat.”
“Lalu?”
“Mereka memberiku beberapa pertanyaan.”
“Pertanyaan apa?”
“Orang-orang itu menuduh kita adalah pemberontak. Mereka menyuruhku untuk memberitahu kiai dan para peziarah untuk segera mengosongkan tempat ini.”
“Inilah waktunya.”
Kiai Wahid mengangguk-angguk. Beliau memang telah paham segala permasalahannya. Beliau kemudian mengatakan padaku kalau memang sudah lama makam ini akan digusur. Tapi beberapa kali penggusuran itu gagal dilakukan karena mendapat perlawanan dari para peziarah. Dan hari ini adalah batas terakhir dari kelonggaran yang diberikan pasukan berseragam itu untuk mengosongkan kompleks pemakaman. Itulah sebabnya para peziarah kali ini lebih banyak dari hari-hari biasanya. Para peziarah sudah siap untuk melawan. Mereka siap menjadi pagar hidup bagi makam imam yang selama bertahun-tahun mereka junjung tinggi.
Siang itu sinar matahari begitu menyengat. Keringat mulai mengalir dari pori-poriku. Entah karena sinar matahari yang terlalu panas atau karena aku merasa takut akan terjadi sesuatu yang mengerikan. Tapi kami seperti tak punya kesempatan lagi untuk terus berpikir. Kami harus membuang seluruh perasaan takut atau gentar. Kami selalu siap menghadapi serangan dari pasukan berseragam. Saat itu juga pasukan berseragam sudah mulai bergerak.
Selanjutnya apa yang terhampar di hadapan kami adalah sebuah pemandangan yang mengerikan. Batu-batu dan kayu-kayu beterbangan seperti kapas dihempas angin yang melayang-layang di langit kota. Teriakan demi teriakan lolos dari kerongkongan manusia-manusia yang bergumul menjadi satu di depan kompleks pemakaman. Para peziarah yang dari tadi bersimpuh di depan makam serempak bangkit ketika mendengar kegaduhan di luar. Entah siapa yang memulai kegaduhan itu. Saat ini bukan waktunya untuk saling menyalahkan.
Para peziarah kemudian berhamburan menuju depan kompleks pemakaman. Debu dan asap membuat pandangan sedikit menjadi rabun. Mereka membaur menjadi satu bersama kerumunan yang sudah saling menyerang. Suara benturan benda-benda keras kemudian menjadi suara yang terus bersahut-sahutan. Para peziarah terus memburu dengan semangat yang berlipat; tuhan bersama mereka. Teriakan kalimat-kalimat perjuangan allahuakbar membahana di langit kota dan mampu melecut keberanian para peziarah untuk terus melawan dan mempertahankan makam.
Aku bisa melihat dengan jelas dihadapanku korban-korban berjatuhan. Mereka saling menghajar, menendang, menyakiti. Ada beberapa juga yang kemudian ditangkap dan menjadi bulan-bulanan pasukan berseragam. Kami terus melawan. Semuanya menjadi serba kacau. Inilah sisi lain kesunyian kota, Adinda, dan aku ada di dalam kesunyian ini.
***
Pergulatan itu berlangsung cukup lama. Sesama manusia telah mengalirkan darah satu sama lain. Tubuh-tubuh kami telah terpojok. Di hadapan kami batu-batu dan kayu-kayu beterbangan bersama dentuman senapan di atas sendunya langit makam Mbah Bejo. Pasukan berseragam sedikit demi sedikit berhasil memukul mundur kami. Tubuh-tubuh kami semakin terpojok; menempel di tembok seperti cicak di balik lemari pakaian. Kekuatan yang masih ada hanya hati kami masing-masing; percaya bahwa tuhan tak akan pernah tidur. Tuhan akan selalu melihat perjuangan kami.
Sementara di depan kami, para peziarah yang lain sesekali masih berusaha melawan dengan melempar batu ke arah pasukan berseragam. Pasukan berseragam menjawab lemparan-lemparan itu dengan tembakan ke udara hampa kemudian mengacungkan moncong senapan ke arah para peziarah. Para peziarah mundur; mencari sedikit perlindungan untuk kemudian kembali menyerang. Tubuh kami tak pernah gentar.
Pergulatan masih terus berlangsung. Kami merasa maut semakin mendekat ke arah kami. Tapi bukankah sejatinya maut memang akan selalu bergerak mendekat? Karena itulah kami tetap bertahan dan akan terus melawan meski dengan tubuh penuh luka. Kami akan terus bertahan meskipun hanya dengan bersenjatakan iman, bambu dan batu. Kami akan tetap mempertahankan makam ini bersama ziarah tubuh kami. (*)

Surabaya, Maret 2011

_________________
(1) Sebenarnya adalah potongan sajak Chairil Anwar, “Nasib adalah kesunyian masing-masing”.
(2) Kutipan dari novel “Ziarah” karya Iwan Simatupang.

*Masuk Antologi Cerpen “Lelaki yang Dibeli” 2011.


About this entry