Sarip Tak Mati-mati

1

(Ilustrasi: “American Homeless Man” by Pablo Picasso)

Cerpen Agus Budiawan

Pelajaran segera dimulai. Pak Baki sudah berada di balik mejanya. Pak Baki adalah guru sejarah yang ketika bercerita air liurnya ikut tersembur. Maklum saja, sebagian gigi depannya telah tumpas dimakan ulat. Saat bercerita matanya yang sudah sedikit rabun sering terlihat melotot di balik kaca mata besarnya. Anak-anak kasak-kusuk menggeser pantatnya di atas kursi untuk menemukan posisi duduk senyaman mungkin. Mereka menunggu dengan tidak sabar. Anak-anak kelas II SD yang diajar Pak Baki biasanya akan diam saat cerita dimulai dan bersorak gembira ketika pelajaran usai.
Setelah bertahun-tahun mengajar, kegemilangan Pak Baki sebagai guru sejarah baru didapat beberapa tahun terakhir saja. Sebelumnya, Pak Baki tidak terlalu bersemangat ketika memberikan pelajaran sejarah tentang hari kemerdekaan, tanggal-tanggal penting, presiden-presiden nasional, atau tentang kepahlawanan. Hal itu dikarenakan anak-anak terkesan cepat bosan dan lebih senang bergurau sendiri dengan sesamanya daripada mendengarkan Pak Baki. Lama-lama Pak Baki sadar, harus ada cara lain dalam mengajar agar murid-muridnya tertarik. Pak Baki memutar otak. Entah sudah sampai berapa derajat otak Pak Baki berputar, akhirnya dia menemukan cara.
Semua berawal saat Pak Baki memulai pelajaran dengan sebuah cerita: sejarah Lontong Balap. Anak-anak bersorak-sorai saat dengan penuh semangat Pak Baki mempraktekkan bagaimana dulu penjual Lontong Balap dengan pikulan di pundak berlari saling berbalapan. Atau anak-anak ketakutan dan akan meringkuk di bawah meja masing-masing saat Pak Baki bercerita tentang Rawon Setan.
“Anak-anak, hari ini Bapak akan bercerita tentang sejarah Sura-baya,” kata Pak Baki memulai pelajaran. Anak-anak tak memberi respon. Dalam pikiran mereka yang akan diceritakan Pak Baki adalah seputar perang di Surabaya. Pak Baki tidak terlalu gusar dengan sikap anak-anak didiknya yang terkesan malas-malasan, karena dia yakin saat cerita dimulai mereka akan bersemangat dan mendengarkan dengan antusias.
Anak-anak yang awalnya tidak memberi respon apa-apa berubah menjadi tegang saat Pak Baki bercerita tentang ikan hiu dan buaya yang terus-terusan berkelahi untuk memperebutkan daerah kekuasaan. Dalam bercerita Pak Baki menggunakan kedua tangannya laiknya kedua binatang itu. Wajah anak-anak terlihat tegang saat Pak Baki mempraktekkan perkelahian dengan mengadu kedua tangannya. Di penghujung cerita, Pak Baki meletakkan kedua tangannya di atas meja seraya berkata, “Dalam pertarungan dahsyat ini, Buaya mendapat gigitan Ikan Hiu Sura di pangkal ekornya sebelah kanan. Sementara ikan Sura juga tergigit ekornya hingga hampir putus, lalu ikan Sura kembali ke lautan. Buaya puas dapat mempertahankan daerahnya.”
Anak-anak bertepuk tangan, dan ada juga yang sampai melompat-lompat kegirangan. Pak Baki tersenyum melihat kegirangan anak-anak didiknya lalu bergegas merapikan buku-buku di atas mejanya. Tapi di antara anak-anak yang sedang sibuk menata buku-buku dan alat tulis, seorang anak yang tadi melompat-lompat kegirangan melontarkan sebuah pertanyaan.
“Minggu depan cerita apa, Pak?”
Pak Baki mengangkat kepala dan berusaha mencari-cari wajah anak yang melontarkan pertanyaaan itu. Pak Baki menemukan sosok Syarifuddin berdiri di samping mejanya. Anak itulah yang selalu bersemangat ketika Pak Baki bercerita tentang sejarah, legenda, maupun mitos tentang kota yang tidak banyak orang tahu. Pak Baki berpikir sejenak. Dia juga belum sepenuhnya tahu cerita apa yang akan dia sampaikan pada pertemuan berikutnya.
“Sejarah Sarip!”
Pak Baki menenteng tas lalu keluar kelas saat pelajaran usai. Keluarnya Pak Baki kemudian diikuti oleh anak-anak lain yang berhamburan berebut keluar kelas. Sementara itu, Syarifuddin masih berdiri di tempatnya semula, mencoba menerka-nerka cerita apa yang hendak disampaikan Pak Baki minggu depan. Hal lain yang menarik baginya adalah nama “Sarip”. Meskipun nama anak itu Syarifuddin, tapi di keluarga maupun di sekolah orang-orang lebih sering memanggilnya “Sarip!”

***

Sarip terlihat berkelebatan di antara rumah-rumah juragan kaya tapi kikir, yang berlindung di bawah ketiak kompeni, saat ditinggal penghuninya. Meskipun setiap rumah menempatkan pendekar untuk berjaga-jaga, Sarip bisa dengan mudah menyusup ke dalam rumah dan menguras isi brangkas mereka. Dengan kecerdikannya, Sarip selalu berhasil mengelabuhi pendekar penjaga rumah tanpa sempat diketahui. Tahu-tahu pemilik rumah telah kehilangan hartanya.
Meskipun Sarip terkenal cerdik dan susah ditangkap, dia tetap merasa harus berhati-hati dalam setiap aksinya. Dia tak ingin apa yang dilakukannya diketahui oleh ibunya. Karena hal itu Sarip selalu melancarkan niat di tempat-tempat yang jauh dari rumahnya. Sama seperti hari-hari sebelumnya, saat ini Sarip sudah berada di tempat pengintaian. Sarip mengendap-endap di cela-cela gang sempit. Dia sedang mengintai sebuah rumah yang dihuni pribumi kaya yang menjadi antek Belanda. Rumah itu milik Juragan Tambak yang tak lain adalah paman Sarip. Dia akan mencuri di rumah itu untuk kemudian dibagi-bagikan kepada warga miskin. Di Tambak Oso, Sarip dikenal sebagai orang yang berhati keras, mudah marah, namun sangat menyayangi kaum miskin, terutama kepada ibunya yang seorang janda.
Sarip bergerak dengan hati-hati. Di Wetan Kali mungkin dia yang berkuasa, tapi saat ini dia sedang berada di daerah musuh, Kulon Kali, yang kekuasaannya dipegang oleh pendekar bernama Paidi. Paidi, kusir dokar paman Sarip, seorang pendekar sakti yang mempunyai senjata andalan Jagang Baceman, yang sekaligus ditugaskan sebagai penjaga keamanan rumah paman Sarip. Selain harus berhati-hati pada Paidi, Sarip juga harus berhati-hati terhadap serdadu Government Belanda yang terus memburunya. Karena dianggap sering berbuat keonaran dan memprovokasi masyarakat untuk menentang kebijakan Belanda, Sarip menjadi target utama pencarian Belanda.
Dari tempat pengintaian, Sarip melihat Paidi sedang bercakap-cakap dengan beberapa serdadu Belanda di sebuah gubuk kecil di depan rumah pamannya. Siang yang terik membuat Sarip gerah. Bulir-bulir keringat bermunculan di keningnya yang hitam berkilat. Dia terus berpikir. Biasanya yang berjaga di rumah pamannya hanya Paidi, tapi sekarang serdadu-serdadu Belanda pun terlihat.
“Apa paman sudah tahu kedatanganku?” Sarip bergumam sendiri.
Sarip tahu ini adalah hari yang tepat untuk menguras habis harta pamannya. Kebencian Sarip terhadap pamannya disebabkan selain menjadi antek Belanda dan suka menjajah rakyat miskin, pamannya pun diketahui sudah menggelapkan uang ibunya. Karena perbuatan pamannya itu ibu Sarip dihajar Lurah Gedangan karena tak bisa membayar pajak tanah garapan berupa tambak. Melihat hal tersebut Sarip marah dan langsung menghabisi nyawa Lurah Gedangan dengan sebilah pisau dapur yang menjadi senjata andalannya. Sekiranya hal itulah yang ingin dia lakukan juga pada pamannya.
“Paidi seorang bukan masalah bagiku, tapi ditambah serdadu-serdadu bersenjata itu…” Sarip mencoba menakar-nakar kekuatannya.
Sudah beberapa lama Sarip bertahan di dalam persembunyiannya. Matahari sudah mulai surup dan hanya meninggalkan warnah jingga yang merona.
“Aku harus segera bertindak!” Sarip memantapkan niat saat melihat serdadu-serdadu Belanda bersiap untuk pergi. Tidak lama kemudian serdadu-serdadu Belanda itu meninggalkan Paidi seorang diri. Setelah mengantar serdadu-serdadu itu sampai di depan dagar, Paidi kembali duduk di gubugnya untuk menikmati jajanan yang tersedia.
Sarip segera keluar dari persembunyian dan melesat menuju rumah pamannya. Tepat di depan pagar, Sarip dihadang Paidi yang sudah mengunus Jagang Baceman. Senjata yang terhunus di tangan Paidi memiliki ukuran yang lebih panjang daripada pisau dapur yang tersembunyi di balik pinggang Sarip. Dengan gerak cepat Paidi menerjang Sarip dan mengayunkan Jagang Baceman dari samping untuk menebas leher Sarip, tapi Sarip masih bisa menghindar. Sarip melompat mundur beberapa langkah lalu mencabut pisau dapur dari balik pinggangnya.
Sarip membalas dengan melompat dan mengayunkan pisaunya sekuat tenaga menerjang Paidi. Sarip berusaha menyentuh perut Paidi, namun gagal. Paidi bisa melompat dengan cepat dan mendarat lagi di tanah tanpa terhuyung. Paidi bisa menata keseimbangan posisi berdirinya, bersiap untuk menangkis serangan Sarip yang melancarkan serangan lanjutan.
“Rupanya sampean cukup berani menghadapiku seorang diri, Bocah,” kata Paidi.
“Lebih baik sampean minggir, biarkan aku menguras harta antek kompeni itu!”
Bagaikan melayang di atas angin, Paidi menerjang Sarip yang sudah bersiap-siap menangkis serangan. Sebelum Jagang Baceman milik Paidi menerjang perutnya, Sarip sudah berhasil menghindar. Namun di luar dugaan, Paidi sedikit berputar dan mengayunkan kakinya menerjang kaki Sarip yang sedikit lengah sehabis melakukan gerakan menghindar. Paidi berhasil menjegal kaki Sarip dari belakang yang kemudian roboh ke tanah.
Mengetahui Sarip tak berdaya, Paidi mengarahkan ujung Jagang Baceman ke perut Sarip. Dalam posisi masih berbaring di tanah, Sarip masih bisa melakukan sedikit perlawanan. Sarip mengangkat satu kakinya untuk menahan tangan Paidi dan menendang wajah Paidi dengan kaki yang lain. Paidi terpental beberapa langkah sementara Sarip bergegas bangkit dan menghunus pisau dapurnya kembali.
Pertempuran dua pendekar Tambak Oso terus berlangsung. Di dusun Tambak Oso memang dikenal ada dua pendekar sakti, yaitu Sarip sendiri yang membela rakyat miskin pribumi dan Paidi yang menjadi salah satu antek Kompeni penjajah. Meskipun dia seorang maling, paling tidak dia akan dikenal sebagai maling yang budiman, pikir Sarip.
Setelah berhasil menghindar dari dua serangan Paidi, Sarip merasa gerakannya sudah bisa dibaca oleh Paidi yang saat ini masih berdiri di hadapannya. Sarip mengamati Paidi yang napasnya tersengal seperti dirinya, diam, seperti mencoba menyusun strategi.
“Ilmumu lumayan juga, asu Kompeni!” cibir Sarip.
Kini giliran Sarip yang menyerang Paidi. Paidi tersenyum puas, strategi berjalan seperti apa yang dipikirkannya. Dengan hanya menunggu Sarip menyerang, Paidi bisa dengan mudah mengalahkan Sarip. Sambil berlari Sarip menyorongkan ujung pisau dapur ke arah Paidi. Dengan gerak cepat Paidi menghindar lalu mengayunkan kakinya dan mengenai perut Sarip. Tubuh Sarip limbung. Rasa sakit di perut membuat keseimbangan Sarip hilang. Dia bersungkur di tanah untuk kedua kalinya. Tapi sepertinya keberuntungan Sarip tidak datang untuk yang kedua kalinya. Jagang Baceman milik Paidi berhasil menembus perut Sarip.
Sarip si maling Budiman telah tumpas – lambungnya berlubang dan mengeluarkan darah seperti lelehan lahar di puncak gunung berapi. Perihal kematian Sarip itu, konon katanya, dulu setelah dia lahir, ayahnya datang dari bertapa di Goa Tapa di daerah Sumber Manjing selama beberapa waktu dengan membawa sebongkah kecil “Lemah Abang”. Selanjutnya tanah tersebut dibelah dan diberikan pada Sarip dan ibunya untuk dimakan. Dikatakan oleh ayah Sarip, bahwa Sarip bisa bangkit lagi dari kematian apabila ibunya masih hidup, meskipun dia terbunuh seribu kali dalam sehari.
Hari sudah mulai gelap. Sinar jingga yang tadi masih tampak terang di balik rumah paman Sarip menjadi redup. Saat itu, Paidi yang berhasil membunuh Sarip berusaha mengangkat tubuh Sarip. Tapi, sebelum sempat membuang mayat Sarip ke sungai, Sarip bangkit kembali saat mendengar teriakan ibunya, “Sariiiip, wes wayahe muleh, le….!”
Sarip dan teman-temannya mengakhiri permainan hari ini, tepat saat adzan maghrib mulai berkumandang dari corong langgar. Sarip dan teman-temannya memang sering mempraktekkan apa yang diceritakan Pak Baki di kelas dalam permainan mereka: tentang sejarah Lontong Balap atau pertarungan Sura dan Baya. Begitu juga ketika kemarin di kelas Pak Baki bercerita tentang “Sarip Tak Mati-mati”, Sarip dan teman-temannya pun mempraktekkan cerita itu dalam permainan mereka hari ini.
Dengan malas Sarip kembali ke rumah. Sesekali dia masih menengok ke belakang demi melihat teman-temannya seakan tak rela berpisah; mengakhiri permainan. Sehabis adzan maghrib mereka sudah harus berada di langgar untuk mengaji bersama. Dalam langkahnya yang pelan, Sarip masih mencoba menerka-nerka cerita apa lagi yang akan diceritakan Pak Baki minggu depan di sekolah.

Surabaya, 15 Mei 2011


About this entry