Wanita yang Berbaring

1

(Ilustrasi: “Felice” by Escha Van Den Bogerd)

Cerpen Agus Budiawan

”Tempat ini begitu menyenangkan. Aku bisa merasakan ada kebahagiaan di sini. Tetapi, aku sangat merindukanmu, juga merindukan Istanbul.”
Swiss, 1959

Aku tetap tak bisa melupakan saat-saat indah bisa menemukanmu dalam penantian di depan pintu gerbang Dame de Sion seperti hari-hari sebelumnya. Dari pintu gerbang itu kuajak kau menuju Taksim dengan berjalan kaki seperti sepasang kekasih. Lalu kita berdua bergegas menyusuri sisi lain Istanbul yang murung – dunia lain yang dalam mimpi pun tak pernah kau singgahi. Rumah kayu Vezneciler, bangunan-bangunan kuno Bizantium, serta jajaran pohon ara yang dingin dan tampak rapuh menyaksikan seorang wanita kaya sepertimu masih tampak canggung memasuki dunia yang berbeda.
Kegelisahan di wajahmu pun tak bisa kau tutup-tutupi ketika melintasi gang Suleymaniye dan Zeyrek dengan jajaran bangunan-bangunan tua berusia ratusan tahun yang menyiratkan aroma kemiskinan. Kau juga merasa heran dengan kehadiran beberapa anak yang mengejarmu untuk sekadar menawarkan perhiasan jualannya. Kau disangka turis asing. Pasti. Dan langsung saja mereka menceracau.
”Turis, belilah walau cuma sebuah,” kata seorang anak kecil dengan muka berdebu.
Kau hanya tersenyum dengan mimik seperti risih, mungkin. Kau ingin lekas pergi. Setelah kurasa cukup mengajakmu berkunjung ke sudut-sudut kota yang menyajikan kegelapan dan kebobrokan setelah keruntuhan peradaban yang agung, aku pun mengajakmu menyelinap di antara koridor Museum Lukisan dan Patung pertama di Turki. Pada saat seperti inilah aku baru bisa memberanikan diri menggandeng tanganmu yang sehalus sutera dan berciuman dengan ciuman paling mesra di depan lukisan Wanita yang Berbaring (1) Halil Pashah.
“Tahukah kau, bahkan lukisan itu adalah lukisan dari tangan seorang pelukis yang juga seorang militer, yang tak pernah berhasil menjual satu pun lukisannya.”
Kau hanya menengok sekilas pada lukisan dan lebih banyak meneror mataku.
Perempuan bergaun putih tanpa alas kaki yang berbaring di sofa dalam lukisan itu tak sedikit pun memperlihatkan kebahagian di wajahnya. Aku membayangkan wanita dalam lukisan itu adalah kekasih Halil Pashah yang bersedia dilukis untuk terakhir kalinya sebelum mereka berpisah. Aku juga membayangkan barangkali Halil beberapa kali memohon kekasihnya itu menunjukkan rona kebahagian yang abadi dalam kanvas. Tapi, wanita yang sedang bersedih itu kiranya tak sanggup menutupi perasaannya sendiri. Wanita yang bersedih. Seperti Halil, aku pun hendak melukismu sebagai wanitaku yang berbaring di atas media kanvasku untuk yang terakhir kalinya, tapi dengan bahagia.
Aku tak akan pernah bisa lupa ketika pertama kali kau memasuki kemurunganku. Kau adalah wanita pertama yang melangkahkan kaki jenjangmu memasuki apartemenku yang penuh dengan lukisan kemurungan Istanbul.
”Kau pelukis?”
”Anggap saja seperti itu.”
Kau melangkah dari satu lukisan ke lukisan lainnya, seperti bertandang pada satu kegelapan menuju kegelapan yang lain. Dan kau pun berhenti pada lukisan yang menggambarkan bentuk bangunan tua dengan dinding-dindingnya yang kokoh. Tampak juga pohon judas yang tumbuh di perbukitan dan menjulang tinggi di atas bangunan seperti tumbuh dari atap yang berlumut.
Kau terus melangkah diiringi angin Bosphorus yang menyelinap melalui celah kusen jendela yang tak tertutup rapat; sedikit merusak tatanan rambutmu. Setelah itu dengan gerak gemulai kau letakkan tubuhmu di atas sofa. Sekejap saja kau sudah meraih sebotol Johny Walker yang teronggok lesu di atas meja, menenggaknya beberapa tegukan. Seperti ingin menyibukkan diri, kau berusaha tertarik pada sebuah buku yang kemudian menenggelamkanmu. Diam-diam aku melukismu ketika sedang hanyut dalam halaman-halaman Ensiklopedia di tanganmu.
“Kau belum tampak menyedihkan seperti Melling (2), Hakan.”
“Begitukah? Aku mengaguminya, bukan hendak menjadi sepertinya, Nerval.”
“Bosphorus dalam lukisanmu mencoba mendekati kepedihan Bosphorus-nya Melling.”
“Bosphorus memang tampak menyedihkan. Tapi, aku pikir lebih menyedihkan waktu Melling melukiskannya.”
“Terkadang orang asing seperti Melling bisa lebih peka melihat kemurungan di sekitarnya daripada kita.”
“Mungkin juga.”
“Mungkin?”
“Mungkin dia ingin melukis sejarah menyedihkan kota ini. Tidak denganku. Aku hanya melukis Istanbul seperti apa yang aku lihat ketika sedang merasa sendiri.”
“Apa bedanya?”
Aku tak berhasrat menanggapi pertanyaanmu dan lebih tertarik untuk menjamah Johny Walker dan menunangnya ke dalam gelas. Setelah meminum beberapa teguk, aku merasa ada sesuatu yang ingin memberontak di dalam dada. Bagusnya kau pun mengerti apa yang terjadi dalam diriku. Hari yang indah, dengan kegelapan yang mulai turun di atas langit Istanbul dasau napasmu terasa hangat di keningku.
“Aku juga tak keberatan, Hakan.”
“Tak keberatan?”
“Untuk melukisku.”
Sejak itu lukisan dirimu mulai menghiasi ruangan apartemenku yang tidak jauh menyedihkan seperti kota ini. Kehadiranmu seperti angin segar yang bisa menjadikan ruangan ini tampak menjadi lebih hidup. Gaun hitam yang selalu kau kenakan dalam setiap lukisanku memang tak seluruhnya meniggalkan kesan kemurungan, tapi paling tidak kau memberikan sedikit nafas perubahan yang bisa memberikan sentuhan kehidupan yang begitu nyata.
Sudah berkali-kali aku melukismu, tapi aku tak pernah berhasil sepenuhnya membuat tiruan dirimu dengan hidung yang kecil dan panjang. Mata yang cokelat dan hanya sedikit menyisakan hitam. Mulut mungil, dahi lebar, leher jenjang, badan tinggi, serta rambut berwarna cokelat kastanye dengan aroma almond yang menebar ke segala sudut ruangan saat angin berhembus mengibaskan rambutmu.
***
Tiba-tiba saja kau muncul di depan pintu apartemenku setelah satu bulan terakhir menghilang. Kekhawatiran tentang bocornya hubungan kita ke telinga orang tuamu akhir-akhir ini pun terbukti benar. Kebahagiaan yang sempat aku hirup dalam aroma pertemuan pertama tidak tampak lagi.
”Ayah sudah tahu, Hakan.”
”Hm. Aku sudah mengira.”
”Maukah kau menculikku?”
Aku akan menculikmu, Nerval. Tapi aku pikir terlambat jika aku harus menculikmu sekarang. Harusnya kuculik kau sejak awal ketika pertama kali mengenalmu di Taman Macka. Jika kuculik kau sejak awal mungkin aku akan merasa lebih senang dan memiliki cukup keberanian daripada harus menculikmu saat ini.
”Tak adakah jalan lain selain menculikmu?”
”Kau takut?”
”Bukan….”
”Ayah mengundang pemuda Besiktas ke rumah. Ekonom lulusan Amerika. Ayahku memilih seseorang yang kelak bisa melanjutkan pabrik keluarga, bukan pelukis.”
”Katakan aku calon insinyur.”
”Tidak, Hakan, kau pelukis.”
”Apa salahnya pelukis?”
”Tak ada yang salah, Hakan. Ayahku tidak menginginkan seorang pelukis.”
Aku diam. Aku memang pelukis, itu benar. Seorang pelukis tidak bisa mengurusi pabrik, dan aku juga tidak pernah membayangkan di kehidupan yang akan dating bekerja di pabrik. Aku akan melukis. Tidak bekerja di pabrik dengan hanya duduk-duduk di belakang meja dan dipusingkan dengan berkas-berkas berserakan yang harus segera diselesaikan.
Sejenak ruangan ini menjadi seperti dek kapal yang tertatih-tatih melintasi selat Bosphorus yang sedang gelisah diserang perubahan musim. Selat Bosphorus bukanlah kanal-kanal yang damai. Selat Bosphorus adalah gerbang kegelapan yang akan menenggelamkan siapa saja ke dalam dunia lain yang penuh dengan puing-puing sejarah keterpurukan yang menyedihkan.
”Setelah sekian lama, akhirnya kita harus berpisah, Hakan,” katamu waktu itu.
Kau berdiri. Gaun putih yang kau kenakan mengingatkan aku pada sosok perempuan yang terbaring di atas kanvas Halil Pashah.
”Rasanya belum terlalu lama aku mengenalmu, tiba-tiba kau sudah ingin pergi dariku.”
”Bukan keinginanku, Hakan. Tapi, ayahku.”
”Aku tahu itu.”
”Dan kau tak bisa melakukan apa-apa.”
”Aku hanya bisa melukis, Nerval.”
”Kalau begitu lakukan yang kau bisa.”
”Maksudmu?”
”Lukislah aku untuk yang terakhir kalinya.”
Berat rasanya mengabulkan permintaanmu itu.
”Lukislah aku sebagai Wanita yang Berbaring. Seperti wanita menyedihkan yang telah menyaksikan percintaan kita di museum itu.”
***
Kini, di ruangan apartemen ini hanya ada satu lukisan yang kubiarkan tetap hadir dalam kesendirianku. Lukisan seorang wanita yang sedang berbaring bertopang dagu di atas sofa merah bergaun putih tanpa alas kaki. Seperti sebelumnya, aku pun tidak sepenuhnya melukismu dengan kebahagiaan yang sempurna.
Dalam kesendirian ini, telah selesai kurapal setiap kata dalam satu-satunya surat balasan yang kau kirimkan padaku atas puluhan surat yang telah kualamatkan padamu; saat badai datang dengan begitu cepatnya. Sambil masih duduk terpaku di balik jendela apartemen yang telah kututup rapat-rapat, pandanganku tak pernah lelah membaca gemuruh Bosphorus yang masih menyisakan badai. Mataku seperti hendak menafsir kegelapan dasar Bosphorus untuk menemukan rindu yang mungkin tenggelam. (*)

Surabaya, November 2010

Catatan: Cerita ini diilhami kisah hidup Orhan Pamuk yang tertuang dalam buku memoarnya, “Istanbul”.

________
(1) “Wanita yang Berbaring” adalah judul lukisan karya Halil Pasha.
(2) Melling, pelukis berkewarganegaraan Jerman yang lahir pada 1763 dari nenek moyang Prancis dan Italia. Lukisan-lukisannya banyak yang menggambarkan kota Istanbul dengan begitu menyedihkan.


About this entry