Soliloqui VII

Galih Pandu Adi

setelahnya hujan menaksir kita pada demam dan peluh. kita hendak menakar apalagi dari kota yang jauh. saat ingatan-ingatan diberangkatkan. aku memunguti puing-puing tubuhmu di trotoar yang resah. sepanjang jalan, sepanjang kecemasan.

di sebuah bilangan yang tak pernah sampai dilewati putaran jarum jam, aku akan menemukanmu. cahaya yang membikin sebuah bilik paling rahasia di dadaku. dan kita berdua saja. tanpa jam dinding yang resah menjangkaumu, tanpa langit yang menakar kita sebegitu jauh.

Semarang, 23 Mei 2012


About this entry