Sajak untuk a

kau termangu dalam ragu
seperti mengeja malam kelam
menakar rasi tanpa tepi
dan, mungkin aku serupa nelayan
di malam buta
berlayar tanpa dermaga
hilang lenyap
kabut

ia tak butuh peta
hanya ingin serupa cahaya
yang berpendar di kerling matamu

kau pernah berkata
: benar aku mencintai malam.
sedang aku belum sempat berkata
: benar aku mencintaimu.

Sebab itulah aku ingin menemukanmu
menemukan pelukan

Surabaya, 14/05/12

Advertisements

2 Replies to “Sajak untuk a”

  1. pada akhirnya yang hilang memang bukan milik kita,
    meski kadang kembali dalam bentuk yang lain.
    waktu tak pernah terlambat,
    hanya kadang ia menunjukkan rahasianya
    disaat yang telah lewat
    tapi, apakah waktu pernah salah?
    setelah perjalanan yang cukup jauh
    waktu tiba-tiba menarikku ke belakang,
    menunjukkan sebah pesan, pesan yang kini sampai walau terlambat
    tapi sekali lagi waktu tak pernah salah, tak pernah terlambat.
    ia hanya menyampaikan apa yang semestinya aku tahu,
    meski bukan untuk aku rasakan
    waktu; yang diam-diam membawaku pada sebuah perjalanan
    waktu; yang diam-diam menculikku
    waktu; yang memiliki rahasianya sendiri
    di persimpangan ini:
    kini segalanya telah tuntas.

    salam, A.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s