Pendakian Mahameru, Sekali Lagi

599653_190014297806434_384844796_n

22-25 Desember 2012 – Semeru tidak akan pernah habis untuk dibicarakan dan tak akan pernah bosan untuk dijejaki. Pendakian Mahameru kali ini menjadi yang kedua bagi saya dan memiliki kesan berbeda dari pendakian pertama.

Lihat dulu saja sebagian foto-fotonya.. :)

Memasuki musim hujan, Semeru setiap harinya selalu diguyur hujan yang membuat jalur pendakian sedikit becek dan licin. Pendaki harus berhati-hati mencari pijakan yang aman agar tidak terpeleset mengingat sebelah kiri jalur adalah lereng. Pendaki juga perlu hati-hati dengan ranting-ranting yang menutup jalan maupun pohon yang setiap saat bisa tumbang.

22 Desember 2012

Pada Sabtu siang tanggal 22 Desember 2012 kami memulai pendakian. Namun, sebelum berangkat baiknya mengisi perut dulu agar memiliki tenaga yang cukup untuk sampai di Ranu Kumbolo. Maka dari itu kami memesan rawon di warung Ranu Pane. Setelah kenyang, sekitar pukul 10 siang, kami bergegas memulai pendakian.

Pendakian dari Pos Perijinan Ranu Pane sampai dengan Pos 3 bisa dibilang tidak ada sesuatu yang berkesan, kecuali rasa lelah dan jalanan yang agak licin tentunya. Belum lagi kalau-kalau hujan mulai mengguyur. Namun ketika mendekati Pos 4 yang berada di atas Ranu Kumbolo, sekitar pukul 15.30, pemaindangan berbeda kemudian dapat kami tangkap.

Ranu Kumbolo terlihat lebih cantik dengan padang rumput di sekelilingnya yang tampak lebih hijau. Sayangnya ketika sampai di Ranu Kumbolo hujan turun sehingga danau tertutup kabut. Kali ini pun Semeru dibanjiri banyak pendaki, mungkin mereka merasa penasaran setelah melihat film 5cm yang mengambil setting Semeru.

Karena hujan yang terus turun kami berdiam cukup lama di Pos 4 sambil menikmati keindahan Ranu Kumbolo dari atas. Sekitar jam empat lebih hujan turun dan kami pun melanjutkan perjalanan menuju selter Ranu Kumbolo untuk beristirahat. Di sekitar danau banyak tenda berdiri dan kami memilih untuk bermalam di dalam selter bersama pendaki-pendaki lainnya.

Tidak banyak yang kami lakukan di selter, kecuali ngobrol sesama pendaki, masak-masak bareng dan ketika di tengah malam sulit tidur kami luangkan untuk bermain kartu sampai kantuk menyergap. Hawa dingin Semeru di musim hujan memang membuat tidur tidak terlalu nyenyak, tapi sudah cukuplah untuk mengumpulkan tenaga sebagai bekal pendakian keesokan harinya.

23 Desember 2012

Ranu Kumbolo bertudung kabut tipis, hawa dingin, dan semangat kebersamaan, itulah keindahan pagi hari yang menyambut kami. Hari Minggu, setelah berkemas dan selesai sarapan, kami menyiapkan mental untuk mendaki Tanjakan Cinta. Tentu kalian sudah tahu tentang mitos tanjakan ini, jadi kalian bebas menafsirkannya sendiri. Saya sendiri berhasil menaiki tanjakan itu tanpa berhenti sampai di atas tanjakan, tidak seperti pada pendakian pertama.

Wow, setelah itu Padang Oro-Oro Ombo menyambut kami dengan pemandangan hamparan rerumputan dengan perpaduan rerumputan yang masih kering dan yang sudah menghijau. Di sini kami bertemu pendaki lain yang juga fans United. Pertama, kami bertemu lelaki agak tambun ini dan ternyata berasal dari surabaya juga. Ketika sampai di rerumputan, kami bertemua pasangan muda yang juga fans United. Mereka pinjam bendera saya untuk berpose tentunya.

Oke kita lanjutkan. Melintasi padang ini menjadi semakin nyaman karena tidak ada debu bertebaran seperti pada pendakian pertama dan tentu saja tidak lupa pose dulu dengan bendera United! Sampai di Pos Cemoro Kandang baiknyalah istirahat dulu sebelum beranjak ke Pos Kalimati. Di tempat ini pun kami tidak akan pernah lupa berpose dengan bendera dan syal United.

Setelah badan oke, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Pos Kalimati. Seperti kata saya di awal, kali ini banyak sekali pendaki, jadi kadang kami berpapasan atau jalan bersama-sama, dan di antara mereka ada juga fans-fans United, sayangnya tidak sempat foto bareng. Setelah sampai di Kalimati, wow…banyak sekali pendaki yang mendirikan tenda di sana. Kami pun seakan berebut tempat ternyaman untuk mendirikan tenda.

Baiklah, di sini kami mendirikan tenda, makan, ngrokok, dan istirahat untuk mengumpulkan tenaga yang terkuras untuk menaklukkan Mahameru. Sebaiknya memanglah tidak begadang, jadi selepas isya’ sekitar jam delapan kami sudah tidur pulas.

24 Desember 2012-10-01

Pukul 00.30 dini hari, alarm di hape berbunyi pertanda kami sudah harus bangun untuk bersiap-siap mencium bau pasir Mahameru. Setelah berkemas, tanpa makan, kami memulai pendakian di tengah malam, sekitar pukul 01.00. Di sinilah mental pendaki kemudian diuji, karena jalur dari Kalimati-Arcopodo sangat menanjak dan sempit, belum lagi ada longsoran yang membahayakan jika tidak berhati-hati.

Jika berniat menaklukkan Mahameru, hal harus diperhatikan adalah jangan sampai tidak membawa air minum atau makanan ringan, karena musim dengan hawa dingin seperti saat itu cukup berpotensi menguras tenaga dengan cepat. Jika sudah begitu dan perut dalam keadaan kosong, dijamin puyeng kepala ente, dan perut krucuk-krucuk, pucat pasi mukamu! Hahaha…(ini pengalaman pribadi gan!)

Kalau sudah begitu, saya harus menghilangkan urat malu saya untuk sekadar meminta minum pada pendaki lainnya. Untungnya banyak pendaki , kalau gak ada bagaimana? Wassalam mungkin. So, pendakian dari Blank 75 sampai ke Puncak Mahameru menjadi pendakian paling berat. Cukup hati-hati dan bulatkan tekat, karena tidak sedikit pendaki yang memiliki tekat kurang kuat akhirnya berhenti di tengah jalan tanpa sempat mencapai puncak, seperti dua teman saya.

Sekitar jam tujuh pagi saya baru berhasil sampai puncak, tentu saja dengan perjuangan berat, belum lagi saya harus memungut coklat milik pendaki lain yang jatuh di pasir dan terabaikan untuk mengisi perut. Gak gitu bisa fatal sob! Hahaha… sampai di Mahameru saya gak bisa langsung berpose di plang “Mahameru” karena antrinya bukan main, maklum banyak sekali pendakinya.

Sambil menunggu antrian foto, saya mencari pendaki yang mau memberi sedekah, ya sekadar minum dan sedikit makanan kecil. Alhamdulillah ada pendaki dari Malang yang berbaik hati. Setelah mengusir dahaga dan perut kosong dengan meminta-minta dan para pendaki yang berfoto agak sepi kami langsung saja berpose.

Namun ada pemandangan berbeda ketika sampai di puncak. Memoriam Gie dan Idhan Lubis sudah tidak ada. Ya, pihak Taman Nasional Bromo, Tengger, Semeru memang mengeluarkan peraturan untuk membongkar semua plang atau benda-benda memoriam yang ada di puncak demi kelestarian Mahameru dan hanya meninggalkan satu plang bertuliskan “Mahameru”. Sekitar pukul 09.30 kami sudah harus turun mengingat udara dingin yang menusuk tulang, belum lagi bahaya dari letusan Wedus Gembel.

Kami kembali ke tenda di Kalimati dan harus bermalam lagi karena hujan yang mengguyur menumpas semangat kami untuk segera turun ke Ranu Kumbolo. Tidak banyak yang kami lakukan selain masak, makan-makan, dan tidur sampai angin pagi membelai mesra.

25 Desember 2012

Selasa siang, setelah makan, membongkar tenda, dan packing selesai kami bergegas turun menuju Ranu Kumbolo. Tidak ada yang paling menyenangkan selain perjalanan turun, canda-tawa riang-gembira tak jarang hinggap di sepanjang jalur perlintasan. Bahkan beberapa kali kami adu kecepatan dengan berlari! Ya, mungkin pendaki lain memandang heran, tapi ya enjoy saja….

Tak terasa perjalanan cepat sampai di Ranu Kumbolo. Di sini kami berhenti sejenak untuk menghela napas. Di tempat ini tidak sengaja bertemu dengan Milanisti Indonesia yang meminta foto bareng dengan saya yang membawa nama United Indonesia Chapter Surabaya (UICS).

Tidak lama di sini, hujan kembali turun yang menunda niat kami untuk segera turun. Kami berteduh sebentar di selter menunggu hujan reda. Hampir setengah jam kami menunggu akhirnya reda juga. Tanpa menunggu lama-lama kami segera bergegas meninggalkan Ranu Kumbolo. Sayo nara Semeru, sampai berjumpa lagi di lain waktu. (*)

***


About this entry