Anton Chekov, Raja Cerpen dari Rusia

Anton ChekovSetiap goresan cerita yang disuguhkan Chekov merupakan cipratan catatan tentang harapan dan kecintaan terhadap kehidupan (Maxim Gorky).

BOLEH jadi, komentar Gorky di atas benar adanya. Karena, memang sastra —atau lebih khusus lagi cerpen— bukanlah sekadar fantasi, khayalan atau produk imajinasi belaka. Namun, ia juga seperti yang di ungkapkan Richards Kuhns (1974), adalah satu rekonstruksi dari realitas, strukturasi pengalaman, fenomenologi imajinasi atau pembelaan moralitas yang mungkin telah menghilang —atau sengaja dihilangkan— dari realitas. Singkat kata, sastra meskipun berniat melukiskan tentang kehidupan di balik awan, namun juga memiliki jejaknya di bumi.

Meski lahir dan besar di Rusia —yang struktur masyarakatnya dikenal kental dengan darah sosialis atau tepatnya komunis— Chekov dalam cerpennya malah menceritakan tentang soal-soal yang sangat sepele dan remeh tentang wacana keseharian yang hampir tak pernah digubris, kesederhanaan, kebersahajaan, kemanusiaan, dan tentang orang-orang kecil yang sangat jauh dari heroisme.

Namun, dari “kesepelean”-nya itulah, ternyata kemudian menjadi tuas inspirasi, imajinasi, dan kreativisasinya dalam menjangkarkan satu struktur cerita yang unik, menarik, dan satir, yang bisa dengan leluasa menyelipkan belati tajamnya untuk mengkritik struktur totalitarianisme komunis.

Dalam aktivitasnya, dia menjauhkan diri dari semua partai, kepercayaan, pemberian nama, dan asosiasi-asosiasi institusional. “Tempat yang sangat suci” begitu tulisnya “adalah tubuh, kesehatan, kecerdasan, bakat, inspirasi, cinta, dan kebebasan yang paling mutlak dimiliki manusia yakni kebebasan dari kekerasan dan kebohongan dalam bentuk apa pun yang dapat dieskpresikan” (Ernest J Simmons, 2001; v)

Nama lengkapnya Anton Pavlovich Chekhov, lebih dikenal dengan sebutan Anton Chekhov. Ia adalah raja cerpen Rusia kelahiran kota Taganrog —salah satu pelabuhan kecil di desa kecil di Laut Azov tepatnya di Rusia selatan— 29 Januari 1860. Ayahnya seorang pedagang kebutuhan sehari-hari, yang mempunyai kedudukan resmi sebagai Pedagang dari Gilda. Ibunya Yevgeniya, adalah seorang juru cerita yang hebat dan Chekhov diduga memperoleh bakat menulis dan bercerita darinya.

Ayahnya Pavel Yegorovich Chekhov, seorang yang sangat berdisiplin dan fanatik, menuntut semua anaknya mengabdikan diri kepada Gereja Ortodoks Timur dan bisnis keluarganya. Pada 1875, ketika terancam bangkrut, ia terpaksa melarikan diri dari para kreditur ke Moskwa, tempat kedua anak sulungnya belajar di universitas. Selama beberapa tahun berikutnya keluarganya hidup dalam kemiskinan. Untuk mendukung keluarganya, Chekhov mulai mengarang cerita-cerita pendek, sketsa humor dari kehidupan Rusia masa itu. Berdasarkan kenyataan itu Chekov berkata, “tidak ada ‘masa kanak-kanak’ dalam masa kanak-kanak saya.”

Menurut Koesalah Soebagyo Toer (2004) ada tiga periode kepengarangan Chekov yakni 1880-an, 1890-an, dan 1900-an. Tulisan-tulisannya pertama muncul dalam majalah-majalah humor populer 1880-an seperti Oskolki (Pecahan-Pecahan) dan Strekoza (Capung). Periode 1890-an ditandai dengan keluarnya kumpulan cerpen Pyostriye Rasskazi (Cerita Pusparagam), merupakan awal perubahan drastis dalam proses kreatif Chekov yang beralih ke tingkat perkembangan kreatif yang lebih tinggi dan sudah menjadi penulis matang serta memiliki nama di Eropa. Pada masa inilah ia menulis cerpen-cerpennya yang kemudian sangat terkenal seperti Palata No 6 (Ruang Inap No 6), Chelovyek V Futlyare (Manusia Dalam Kotak), Dama S Sobachkoi (Wanita Dengan Anjing), dan Skuchnaya Istoriya (Riwayat Yang Membosankan).

Tetapi, pada periode ini pula ia mengalami apa yang dinamakan “siksa cipta”. Sebab bila 1886-1887 ia dapat menulis seratus cerita dalam setahun, 1888 Chekov hanya mampu menulis sepuluh cerita. Pada tahun yang sama, dengan kemunculan koleksinya In The Twilight, dia di anugerahi Pushkin Prize.

Pada akhir dasawarsa 1890-an, Chekov menderita TBC. Produktivitasnya sangat merosot. Tetapi, di masa inilah dia menciptakan drama-drama yang kemudian melejitkan namanya—lebih daripada cerpen-cerpen maupun novel-novelnya —seperti Dyadya Vanya (Paman Vanya), Tri Sestri (Tiga Bersaudara), dan Veshnyovii Sad (Kebun Ceri). Pada 2 Juli 1904, ia meninggal di Badenweiler, tempat peristirahatan kesehatan Jerman di Black Forest.
(Tedi Taufiqrahman, alumni Studiklub Teater Bandung (STB) angkatan XVII, penggemar cerpen)***


About this entry