Monolog: MATINYA TOEKANG KRITIK

wap20091116-_07

Sebuah Monolog Karya Agus Noor

Terdengar detak nafas waktu…

Sebelum pertunjukan – sebelum dunia diciptakan – denyut waktu itu mengambang memenuhi ruang – semesta yang hampa. Seperti denyut jantung. Terdengar detak-detik waktu bergerak. Seperti merembes dari balik dinding. Seperti muncul dan mengalir menyebar di antara kursi-kursi yang (masih) kosong…

Ketika para penonton mulai masuk ruang pertunjukan, mereka mendengar waktu yang terus berdedak berdenyut itu. Mereka mendengar suara detik jam yang terus berputar. Suara detak-detik waktu yang bagai mengepungnya dari mana-mana. Sementara pada satu bagian panggung, mereka menyaksikan kursi goyang yang terus bergerak pelan seakan mengingatkan pada ayunan bandul jam. Bergoyang-goyang. Kursi itu temaram dalam cahaya. Terlihat selimut menutupi kursi itu, seperti ada orang yang tertidur abadi di atas kursi itu. Waktu berdenyut. Kursi terus bergoyangan.

Sesekali menggema dentang lonceng, terdengar berat dan tua.

Kemudian bermunculan orang-orang berjubah gelap, lamban berkelindan, seperti bayangan yang muncul dari rerimbun kabut waktu. Mereka bergerak menuju kursi goyang yang berayun-ayun pelan itu, berputaran mengepungnya, seperti para immortal yang tengah melakukan ritus purba. Dan cahaya bagai gugusan kabut yang berputaran. Sampai kemudian sosok-sosok berjubah menjauhi kursi goyang itu.

Kini, di bawah cahaya yang kepucatan, di kursi itu terlihat Raden Mas Suhikayatno, tokoh dalam monolog ini. Dia terlihat terlelap, bagai tertidur di rahim waktu yang abadi. Tapi ia juga terlihat gelisah, seperti dikepung mimpi. Makin lama ia terlihat semakin resah. Dan ia tiba-tiba tersentak meledak, tepat ketika terdengar jerit waktu: dering jam weker terdengar dari semua sudut. Jutaan jam weker berdering serentak di seluruh dunia. Disertai dentang berualang-ulang. Gema lonceng gereja. Bermacam-macam suara. Tumpuk-menumpuk. Mengembang dan menyusut. Kelebatan gambar-gambar. Semua seperti muncul dan menggulung-gulung dalam ingatan Raden Mas Suhikayatno: Suara pesawat supersonik. Badai menggemuruh beergulung-gulung. Teriakan-teriakan. Suara perang. Suara-suara kemerosak gelombang radio. Di antara suara-suara itu terdengar suara Bung Karno membacakan Proklamasi, lalu menghilang. Muncul suara lain, suara iklan yang lebih modern, lalu kemerosak gelombang radio lagi. Suara-suara dan gambar-gambar yang terus mengalir. Suara Bung Karno pidato berapi-api. Lenyap lagi. Dentang lonceng. Jam berdering. Suara Presiden Soeharto berpidato di depan MPR. Gambar-gambar masa silam. Gambar bertumpuk-tumpuk terus menerus. Kemudian perlahan menghilang…

Dan kesenyapan perlahan menjalar. Hanya terdengar waktu yang terus berdeyut.

Di kursi goyang itu. Raden Mas Suhikayatno terlihat begitu kelisah. Meracau kacau. Sampai kemudian dia terjaga, terengah-engah gelisah, kebingungan. Raden Mas Suhikayatno, mengigau risau, “Ini jam berapa?. Tahun berapa?…”

Sunyi, hanya terdengar desah nafas waktu yang pelan…

Kemudian Denmas – begitu Raden Mas Suhikayatno biasa dipanggil – pelan-pelan terbangun, berteriak memanggil, “Bambaaang.[1] Bammbanggg!!!” Jeda. “Di mana anak itu…” Lalu mendengus kembali berteriak, jengkel, “Bambaaaannggg!!… Ya, ampun, Mbang… Baru jadi pembantu saja sudah susah kalau dibutuhkan. Gimana nanti kalau jadi presiden!” Denmas benar-benar jengkel dan terus berteriak-teriak memanggil, “Mbaaanggg….. Bambanggg!!!”

Terus saja sunyi, hanya terdengar desah nafas waktu.

Raden Mas Suhikayatno kemudian bersandar di kursi goyang. Terlihat begitu kesepian. Seperti mengeluh. Seperti mendesah, “Ini kutukan… Ataukah kemuliaan….”

Seperti bergema dalam kesunyian, tiba-tiba terdengar jam tua bertendang, kemudian ada ketukan-ketukan, seperti suara tik-tak jam berdetak.

Denmas seakan hanyut oleh gema suara yang didengarnya, kemudian bertanya entah pada siapa, “Kalian dengar suara itu?… Tua dan purba. Kalian bisa merasakan? Begitu lembut… bersijengkat lembut mendatangimu.”

Suara tik-tak itu pelan konstan, seirama bicara Raden Mas Suhikayatno.

“Suara waktu! Berabab-abad aku mendengarnya… Terdengar di keretap hujan…, diantara kereta yang menderu… Dengung di sayap lebah… Desah di setiap percintaan…” dan Denmas terlihat menjadi melankolis dan merasa bahagia, seperti menghayati butiran-butiran waktu yang merembes ke dalam tubuhnya. “Ya, itu suara waktu…”

Tapi tiba-tiba suara tik-tak itu berubah cepat – berdetak-detak dipukul-pukul jadi suara ketukan orang jualan siomay. Dan terdengar teriakan pedagang itu, “Maaayy…. Siomay…”

Denmas seketika jengkel, berteriak ke arah suara pedagang siomay itu, “Brengsek!” Lalu ngomel sendiri, “Saya kira suara waktu!”

Dan ia tiba-tiba tergeragap, seperti tersadar, ingat sesuatu, “Waduh… Jangan-jangan saya memang sudah ditinggalkan waktu. Terlambat! Ini ‘kan tanggal tujuh belas Agustus! ” Raden Mas Suhikayatno gugup, bergegas, berteriak memannggil mencari-cari pembantunya, “Bambaaangg… cepet ambilkan jas saya! Mereka pasti sudah menunggu saya!”

Terdengar celetukan dari para pemusik; “Hai, Mas… gugup begitu kenapa, to?”

Denmas menjawab, “Saya mau ikut upacara tujuh belasan di Istana Negara.”

Para pemusik itu keheranan, “Tujuh belasan apa?! Merdeka saja belum, kok!… Mas, ini masih jaman pra sejarah. Homo sapien saja belum ada… Adanya homoseks…”

Raden Mas Suhikayatno jadi bingung, tak percaya. Linglung kembali duduk di kursi goyang. “Apa saya menderita amnesia, ya?” Memegangi kepalanya yang terasa sakit. “Waktu seperti ingatan yang bertumpuk-tumpuk… “

Semakin tampak linglung dia.

“Saya mengira Minggu… ternyata Rabu. Sering saya mendapati diri saya berada di waktu yang salah.”

Bersamaan dengan itu terlihat lagi tumpukan gambar-gambar berbagai peristiwa, menyorot ke arah Raden Mas Suhikayatno, seperti ingatan-ingatan yang berpusaran dalam kepalanya. Dan Denmas kembali meracau mengigau,

“Ini tahun berapa sebenarnya… Ini tahun berapa…”

Sampai kemudian di layar muncul bayangan orang-orang bersorban putih, berbaris berteriak. Tapi bersamaan itu terdengar suara derap dan ringkik kuda.

Tiba-tiba terdengar suara, bernada menggema: “Ta-hun… 1.9.9.8…”

Mendengar itu Raden Mas Suhikayatno menjadi semakin bingung, tak percaya, “1998? Yang bener!”

Suara itu terdengar bergema lagi, menegaskan: “Ta-hun… 1.9.9.8…”

“Bukannya ini tahun 1828?” kata Denmas.

Suara itu kembali menegaskan dengan nada sama: “Ta-hun… 1.9.9.8…”

“Lha itu siapa? Orang-orang yang pakai seragam putih-putih itu?”

Suara itu menjawab: “Pasukan jihad.”

“Pasukan Jihad?” Denmas begitu heran, lalu mulai menyadari dirinya berada di waktu yang salah, waktu yang tak sebagaimana dikiranya. “Saya kira pasukannya Pangeran Diponegoro…” Masih tak percaya, ia kembali bertanya meyakinkan, “Bener, ini bukan tahun 1828?!”

Suara itu memotong tegas menggema: “In-i Ta-hun 1.9.9.8… In-i Ta-hun 1.9.9.8… In-i Ta-hun 1.9.9.8…”

Denmas jadi jengkel. “Iya! Iya!” bentaknya. “Tapi ngomongmu nggak usah bergaya begitu dong! Sok diangker-angkerin! Malah kayak film hantu. Persis Uka-uka!”

Tiba-tiba suara itu menjawab dengan memaki: “Oo asu!”

“Eeeh, malah memaki! Saya kutuk jadi Presiden Indonesia, mampus kamu!” Denmas seperti tiba-tiba sadar,kaget dengan apa yang barusaja diucapkannya. Ia mencoba menjelaskan, ke arah penonton. “Lho iya kan? Jadi Presiden Indonesia itu seperti dapat kutukan kok! Apa sih enaknya jadi Presiden Indonesia, coba? Di Indonesia, profesi presiden itu profesi yang sama sekali tidak menarik. Dari dulu kerjanya ya gitu-gituuuu melulu: selalu nyusahin rakyat. Makanya, kalau kalian termasuk golongan orang kreatif, tolong deh, nggak usah punya cita-cita jadi Presiden Indonesia. Malah nanti kelihatan bodonya… Jadi Presiden Indonesia itu sama sekali tidak menarik!”

Ekspresi Denmas terlihat sinis mencibir.

“Tugas, kewajiban dan tanggung jawab Presiden Indonesia itu monoton kok. Dari tahun ke tahun, siapa pun yang jadi presiden, ya tugasnya tetap sama: meningkatkan angka… pengangguran; menambah jumlah devi… apa? Devisit uang Negara; mencari pijaman luar negeri sembari menikmati hasil komisinya, menaikan harga BBM, menyelenggarakan busung lapar di mana-mana… Sama sekali nggak kreatif, kan? Mbosenin… Saya ngomong gitu, bukan karena saya dengki nggak jadi presiden, lho.” tegas Denmas.

Ia terlihat seperti orang yang jijik pada sesuatu. “Hiiihhh…., saya nggak mau jadi presiden! Apaan tuh presiden?! Jijey aku…Emoh! Jangankan Presiden Indonesia, ditawarin jadi Raja Hastina saja saya tidak mau kok. Emoh! Padahal Romo Semar sendiri lho yang nawarin. Katanya, saya ini lebih pantas jadi Raja Hastina, ketimbang Yusdhistira, si Pandawa paling tua itu.”

Ia mencoba mengenang peristiwa yang diceritakannya itu, “Saya ingat betul kok waktu itu… Itu jaman ketika belum ada kerajaan-kerajaan di Jawa. Tapi saya sudah ada. Sudah tua dan imut seperti ini. Sudah metroseksual kayak gini. Waktu itu terjadi krisis di Hastina, karena Pandawa kalah main dadu. Saat itulah Romo Semar langsung tergopoh-gopoh menemui saya.”

Lalu Denmas bergaya wayang orang, menirukan bicara Semar ‘Kakang Raden Mas Suhikayatno, kamu harus menyelamatkan Hastina. Kamu harus jadi Raja Hastina!’ Berhenti, dan menjawabnya sendiri, “Dengan halus saya menjawab, ‘Maaf, Dimas Semar…, maaf. Bukannya menolak, Dimas Semar. Tapi Maaf, Dimas Semar…, maaf. Saya sama sekali tidak punya cita-cita jadi raja di dunia wayang. Maaf lho, Dimas Semar…, maaf. Sekali lagi, maaf Dimas Semar… maaf…” Denmas bicara seperti itu dengan bergaya seperti tengah memainkan wayang orang .

“Itulah track record saya… Saya menolak segala bentuk iming-iming kekuasaan. Saya memilih konstinten sebagai Tukang Kritik yang martabat. Itu yang saya pegang teguh sejak dulu. Sejak zaman Musa, zaman Babilonia! Sejak zaman saya masih jadi pacar gelapnya Cleopatra. Saya menolak diagung-agungkan seperti Julius Caecar. Saya menolak jadi tangan kanan Napoleon…”

“Lho kenapa, Mas?” tanya para pemusik.

“Sebab kan Napoleon kidal.” kemudian Raden Mas Suhikayatno melanjutkan, “Saya ini terlalu low profile untuk dijadikan pemimpin… Itulah sebabnya, dulu saya sempet berantem sama Gajah Mada – karena saya menolak membantunya. Padahal kami temen sepermainan sejak kecil. Temen gaul gitu loh! Suka main gundu dan mencuri buah maja sama-sama.”

Kemudian Denmas mendekat ke arah pemusik, dan berbisik, “Sssttt, saya mau cerita…. Tapi ini rahasia lho ya! Jangan disebar-sebarin. Nanti penonton tahu…” Ia bergaya membisik, seolah berahasia, tapi bersuara keras hingga suara itu tetap saja sampai didengar penonton, “Dulu…, semasa remaja, si Gajah Mada itu hobinya ngintip…”

“Ngntip apa to, Mas?” tanya seorang pemusik.

“Ya ngintip perempuan mandi…. Nggak nyangka ‘kan, orang yang doyan ngintip begitu, bisa menyatukan Nusantara.”

Para pemusik tak mempercayai cerita itu.

“Dibilangin kok ndak percaya!! Saya ini sering diajak dia ngintip perempuan yang lagi mandi di sungai kok…. Tapi, sebagai orang yang sadar jender, yang menghargai perempuan, ya saya jelas tidak mau …

“Wah bagus itu, bagus…” para pemusik memuji.

“Maksud saya… tidak mau ketinggalan ikutan ngintip…”

Denmas hanya garuk-garuk kepala ketika para pendengarnya menyorakinya.

“Nah, suatu senja….” Denmas mulai kembali bercerita dan bergaya mempraktekkan apa yang dikisahkannya, “Si Gajah Mada mau ngintip nih… Ia mengendap-endap, sembunyi di balik belukar dan pepohonan. Persis Jaka Tarub ngintip bidadari mandi. Saya ngikut dibelakangnya, gemeteran. Takut ketahuan. Saya bilang, ‘Mad, Mad… Mada, kita pulang saja yuk…’ Tapi dia tak mau. Dia malah naik ke pohon. Welah, sial! Di pohon itu ada sarang lebah, dan si Gajah Mada menyenggolnya. Langsung tawon-tawon itu menyerbu wajahnya…. Wuuut…wuuut…”

Seakan ribuan tawon menyerang…

“Yah, begitulah…” Denmas mengakhiri ceritanya. “Itulah sebabnya, seperti pada gambar di buku sejarah yang sering kalian lihat: Gajah Mada bengkak wajahnya…”

Raden Mas Suhikayatno berjalan ke arah meja yang di tempatkan sedemikian rupa menurut kebutuhan tata setting dan artistik. Meja itu bergaya kuno, dengan sepasang kursi yang juga tua. Mengingatkan pada perabot seorang priyayi Jawa. Ada cangkir dan gelas di atas meja itu. Juga majalah dan koran yang tak rapi. Raden Mas Suhikayatno yang kecapaian karena terus-terusan bercerita, segera duduk di kursi. Menikmati minuman. Tapi kaget tersedak, menyemburkan minuman dari mulutnya, dan ngomel, “Astaga… Bambang! Ini kan teh dua hari lalu.”

Ia tersedak seperti mencoba mengeluarkan sesuatu dari kerongkongannya.

“Ya, Ampum sampai ada cicak… Bambanggg!!! Bambanggg…”

Sepi. Tak ada jawaban.

“Bener-bener punya bakat jadi presiden dia: kagak dengar meski sudah diteriakin… Alias budeg! Kata orang, budeg itu memang penyakit permanen presiden.”

Denmas terus ngedumel, mengomel sambil mengambili majalah dan koran, “Meja sampai berantakan begini…” Denmas mencari-cari sesuatu di tumpukan koran dan majalah itu, sambil terus ngomel dan memanggil, “Mbang, apa ada surat buat saya?”

Tetap tak juga muncul pembantunya itu.

“Saya ‘kan sudah bilang, semua mesti rapi. Biar saya tidak bingung begini. Dibilangin dari dulu, eh tetap nggak didengerin. Apa sih susahnya ndengerin. Dibilangin baik-baik, eh malah ngata-ngatain, ‘Dasar Tukang Kritik sirik!’ Saya ngritik bukan karna sirik. Saya ngritik karena saya ingin semuanya baik. Hingga hidup bertambah baik. ‘Kan enak kalau semua kelihatan baik. Saya nggak seneng kalau kamu jorok. Baju kotor. Jangan kayak seniman: celana dalem, lima minggu sekali baru ganti.”

Merasa tak menemukan apa yang dicarinya, Denmas jadi kian dongkol, lalu mengomel lagi entah pada siapa.

“Dikritik memang sakit… Itu tak seberapa. Sebab orang yang suka mengritik itu justru lebih merasa sakit, bila kritiknya nggak didengerin.” Behenti, menarik nafas dalam, kemudian mendengus. “Untung saya cukup sabar sebagai Tukang Kritik. Saya nggak pernah marah, meski disepelekan. Buat apa marah? Nggak ada gunanya…”

Lalu berteriak memanggil pembantunya lagi, pelan “Mbang… Bambangg…. Orang itu mesti yang sabar…. Bambaaangg…” Lama-lama teriakannya makin tinggi dan bernada marah. “Diancuk! Mbang, mana surat itu!… Bambaaang!!”

Nafasnya tersengal, lalu bicara ke arah penonton, masih mengeram marah, seakan mencari pembenaran. “Kalian lihat sendiri kan, dia selalu menyepelekan saya… Tapi saya tetep sabar…” Nyatanya, ia kembali berteriak marah, “Kamu taruh mana surat itu?!”

Sampai kemudian merasa benar-benar disepelekan, dan mulai mengeluh kepada siapa pun yang mendengarnya.

“Sakiiittt ati saya. Sakit, sakit, sakitttttt kit kik kit…. Kadang saya pikir, buat apa saya teriak-teriak marah begitu. Buat apa saya terus-terusan mengritik… Kadang saya merasa lelah juga kok jadi Tukang Kritik. Saya pingin berhenti mengritik. Tapi kalau berhenti mengritik, saya sendiri yang malah sakit. Baru semenit tidak mengritik, mulut saya langsung pegel-pegel. Sehari tidak mengritik, langsung bisulan pantat saya.”

Lihatlah, ia terus saja ngedumel.

“Yaah, barangkali memang beginilah resiko jadi orang yang sudah terlanjur dicap sebagai Tukang Kritik. Saya cuma dianggap kutu pengganggu. Tapi saya menerima dengan lapang dada semua perlakuan itu. Saya sabar, sabaarrr… saya sabar…” tapi kata ‘sabar’ itu diucapkan dengan intonasi mengeram tajam. “Meski kalian terus menyepelekan orang macam aku.[2] Orang yang kalian cibir sebagai Tukang Kritik!! Kalian hendak mengapusku dari ingatan zaman. Kalian menatapku dengan mata penuh penghinaan…”

Raden Mas Suhikayatno tersengal kelelahan, kepayahan di puncak kemarahannya. Kemudian ia berjalan ke meja lagi. Marah. Mengeram. Kalap mencari-cari sesuatu di tumpukan koran dan majalah yang langsung diacak-acaknya hingga berhamburan kemana-mana.

Suaranya kemudian terdengar meninggi, “Kalian memang mau melupakanku! Kalian mau melupakanku! Melupakanku!”

Sampai teriakan dan kemarahan itu perlahan melemah. Raden Mas Suhikayatno terisak, terhuyung-huyung menuju kursi goyangnya. Ia duduk di kursi goyang itu dengan tubuh gemetar. Meraih selimut dan segera menutupi tubuhnya yang gemetaran. Suaranya terdengar seperti menghiba, seperti suara orang yang bersikeras mempertahankan harga dirinya, “Apa salah saya? Saya selalu tulus mengritik kalian… Tapi kenapa kalian memperlakukan saya begini?”

Tubuhnya kian gemetaran.

“Tak ada yang lebih menyakitkan, selain dilupakan…”

Lalu ia mencoba mengagah-gagahkan diri, seperti sikap seorang terhormat di hadapan kematian. “Penjarakan saya! Ayo! Bunuh saya!” Ia mendengus. “Itu jauh lebih terhormat bagi Tukang Kritik macam saya…”

Lalu kembali gemetaran. Tak berdaya. Mendesah pelan, “Alangkah mengerikan dilupakan…”

Kemudian Raden Mas Suhikayatno memegangi dadanya. Ia dihantam nyeri yang sangat. Kemudian berteriak serak dengan sisa-sia tenaganya. Teriakan itu terdengar tertahan di kerongkoannya, “Bambaaaannggg…. Obat saya… Obat saya… Tolong… Air… Bam-banggg… Bammmmbaaannggg….”

Suara Raden Mas Suhikayatno makin lama makin pelan, makin terdengar sebagai rerancauan. Cahaya di kursi goyang itu menggelap, ketika Raden Mas Suhikayatno sudah menutupi seluruh tubuhnya. Kursi itu hilang dalam gelap. Hanya terdengar suara Raden Mas Suhikayatno yang terus memanggili pembantunya:

“Bambaaang…. Bambaaang… Baaammmbaanngg…” [3]

Pada saat itulah, seperti muncul dari rerimbun gelap – dari sebelah kiri kanan kursi – perlahan muncul dua sosok hologram yang sama persis dengan Raden Mas Suhikayatno. Tubuh dan wajahnya. Pakaiannya. Persis. Kedua sosok hologram itu memandang ke arah kursi goyang yang kini terlihat pucat di bawah cahaya yang menyorotnya, bergoyang-goyang, tertutup selimut – dimana Raden Mas Suhikayatno gemetaran menggigil di balik selimut itu. Kursi goyang terus berayun-ayun pelan, dan terus terdengar rintihan suara Raden Mas Suhikayatno yang sesekali meracau demam, sesekali memanggili pembantunya. Kedua hologram itu mulai bicara. Sebut saja mereka dengan nama Hologram 1 dan Hologram 2.

Terdengar Hologram 1 bersuara nyaris seperti bisikan, “Dia kelelahan…”

“Dia berusaha bertahan…” Hologram 2 menyusul bersuara.

“Nasibnya akan sama, seperti para Tukang Kritik lainnya. Pingsan di kursi kekuasaan!”

“Dia sedang menghimpun kekuatan…” tegas Hologram 2.

Sementara suara erang Raden Mas Suhikayatno terkadang masih mengambang terdengar di sela percakapan dua hologram itu…

Hologram 1, “Dia sedang belajar menerima kekalahan…”

Hologram 2, kearah hologram satunya, “Kau sinis karena tak percaya takdir!”

Hologram 1, “Aku tak menyerah pada takdir, karena tak ingin jadi kentir! Atau jadi kaum munafik sepertimu…”

Sementara suara erang Raden Mas Suhikayatno terkadang mengambang di sela percakapan dua hologram itu.

“Tapi aku tak menyerah… Seperti dia yang juga tak menyerah. Seperti semua Tukang Kritik yang hidup sepanjang sejarah!” tegas Hologram 2 itu. Terdengar yakin.

“Taik!” tukas Hologram 1. “Tukang kritik tak lebih cuma kaum munafik! Munafik! Munafik! Munafik….” Ia menuding dan menghardik.

Gema teriakannya bagai menyebar ke mana-mana. Teriakan-teriakan ‘munafik! munafik! munafik!’ itu terus terdengar berulang-ulang, makin meninggi, hingga dua sosok hologram itu lenyap. Kursi goyang berayun cepat, gelisah. Raden Mas Suhikayatno yang disergap suara-suara itu kian meracau. Memanggil-manggil nama pembantunya. Suara Raden Mas Suhikayatno, makin lama makin meninggi, “Tidak! Tidak! Tolong… Bambang… Toloonggg…”

Mimpi buruk seperti menyergapnya.

Sampai kemudian teriakan-teriakan dan reracauan itu menghilang. Senyap mengendap. Kursi goyang itu masih bergoyang-goyang gelisah…

MUNCUL Bambang,[4] membawa sapu lidi, tergopoh-gopoh mendekati kursi goyang. “Iya, Tuan…. Ada apa, Tuan…. Maaf…… Ya, Tuan…”

Bambang bingung dan gugup memandangi kursi goyang itu, melihat majikannya yang meracau memanggil-manggil namanya, “Bambang… Baammbbaaangg…” Sampai kemudian suara itu meredup lemah. Raden Mas Suhikayatno tertidur lelap. Diam. Tak ada suara.

Bambang membetulkan selimut, seakan-akan menyelimuti majikannya agar lebih tenang tidurnya, dan mendesah. “Kasihan Tuan…”

Tiba-tiba terdengar suara ribut benda jatuh, begitu mengejutkan. Krompyanggg.

Bambang langsung mengarah ke asal suara itu, “Sssssttttt!!! Tolong, jangan berisik. Biar Tuan bisa istirahat…” Ia menunjuk kursi goyang itu. “Kasihan dia. Akhir-akhir ini kelihatan gelisah. Bingung… “ Sejenak ia mendesah jengah. “Yaa, sebenarnya dari dulu sih Tuan saya itu orangnya membingunkan. Saking membingungkannya, sampai-sampai saya juga ikut bingung.”

Bambang pun mulai bercerita.

“Tuan saya orangnya eksentrik. Kerjanya nyalahin orang. Ada ajah yang diomelin. Inilah, itulah. Saya dikatain ginilah, gitulah. Tiap hari kerjanya ngritiiiiikkkk melulu. Apa saja dikritiknya… Kalau Anda pakai kaos kuning, dan dia ngelihat, pasti langsung ngritik, ‘Ih kuning kayak tai…’ Nanti kalau Anda ganti pakai kaos merah, tetep saja dikritik, ‘Ih, apa hebatnya kaos merah! Kalah ajah nggaya…’ Ya, begitulah tabiat Tuan saya…”

Bambang kemudian melihat majalah dan koran yang berhamburan berantakan, dan segera memberesi. “Nanti kalau bangun, pasti ngomel-ngomel…” Ia pun menirukan majikannya, ‘Ngapain kamu berantakin! Dasar nggak becus jadi pembantu!’ Ia berhenti memberesi, sedikit mencibir. “Saya memang nggak becus atuh jadi pembantu. Nama saya ajah Bambang. Mana teh ada pembantu namanya Bambang. Saya mah pantesnya jadi presiden, uiy… Meski jerawatan gini!”

Lalu ia senyum-senyum sendiri, sambil melirik ke arah kursi goyang itu.

“Yang nyebelin, nanti kalau udah saya beresin, tetep ajah saya diomelin…” Dan ia kembali menirukan gaya majikannya, ‘He, siapa yang suruh ngrapiin! Lihat, halamannya jadi sobek gini!’ Ia berhenti, tetap cemberut. “Begini salah, begitu salah.” Lalu mengangkat bahu “Begitulah Tuan saya. Di dunia ini nggak ada yang bener dimatanya.”

Bambang mau menaruh koran dan majalah itu di atas rak, tetapi mendadak terdengar suara Raden Mas Suhikayatno, setengah mengigau, “Jangan di situ…”

Bambang kaget mendengar suara itu. “Gila kan…lagi tidur ajah masih tetep suka ngritik!”

Dengan sebel ia lalu membawa kembali koran-koran itu dan menaruhnya di atas meja, agak dilempar begitu saja. Dan Langsung terdengar suara Raden Mas Suhikayatno, meracau: “Yang bener… yang rapi…”

Bambang, gemes dan jengkel. “Hhmm. Gemes aku! Sebel aku! Binguuuuuuuuunngggg!!!”

Ia mencoba sabar, menghembuskan nafas kesal.

“Kalian bisa bayangkan, bagaimana stressnya saya jadi pembantu Raden Mas Suhikayatno Sengaro Mulyo ini… Sejak kecil saya jadi pembantu di sini. Bapak saya juga jadi pembantu di sini. Kakek saya. Juga simbah buyut saya. Begitu juga simbahnya simbah, simbanhnya simbahnya simbah saya… semua jadi pembantu di sini. Turun temurun dikutuk jadi pembantu!

Tapi Simbah saya pernah bilang, ‘Jadi pembantu seperti ini bukan kutukan, le. Tapi keberuntungan. Kita ini orang-orang pilihan, le.’”

Bambang tersenyum sendiri mengingat apa yang diomongkan Simbahnya itu.

“Jadi, trah saya itu trah pembantu. Asli. Orisinil. Darah saya itu darah murni seorang pembantu. Kalau di dunia sihir, saya ini disebut penyihir murni. Bukan penyihir keturunan mugle, seperti Harry Potter. Jadi darah pembantu yang mengalir di tubuh saya ini termasuk jenis darah yang ningrat. Jenis pembantu priyayi. Ini kasta tertinggi di tingkatan pembantu. Kalau kasta paling rendah ya kasta pembantu jenis TKI itu… Disiksaaaa melulu…”

Sejenak ia mulai diruapi perasaan bangga.

“Kadang saya ini merasa nggak jauh beda kok sama para priyayi raja-raja itu. Paling beda dikit lah. Mereka turun-temurun jadi raja, saya turun-temurun jadi pembantu. Kalau raja-raja itu punya gelar, sebenernya saya juga berhak menandang gelar… Mereka bergelar Amangkurat I. Karena pembantu, saya cukup bergelar Amongtamu I. Nanti, keturunan saya akan bernama Amongtamu II…, Amongtamu III, dan seterusnya. Kalau keturunan raja-raja itu bergelar Pakubuwono… ya sebagai keturunan pembantu saya cuku[p bergelar Pakureng… Kalau ada raja bergelar Hamengku…, ya saya cukup bergelar Hamengkukusan atau Hamengkudapan. Pokoknya yang berbau-bau dapur lah. Karena sebagai trah pembantu, kami memang mesti mawayu hayuning dapur.”

Lalu ia mengambil sapu lidi yang tadi dibawanya, kemudian mulai menyapu, sambil terus bicara. “Tapi ya ada senengnya juga kok jadi pembantunya Raden Mas Suhikayatno ini… Beliau itu orang hebat. Dia itu….”

Mendadak terdengar suara Raden Mas Suhikayatno, mengigau, seperti memanggil: “Mmbaaaang…. Bambanggg….”

Bambang jadi tergeragap, “Ehh… iya, Tuan….” Lalu bicara ke arah penonton, “Tuh ‘kan, apa saya bilang. Beliau itu orang hebat. Seperti wali. Kalau digunjingin langsung kerasa…”

Raden Mas Suhikayatno terus meracau, dan Bambang buru-buru mendekat ke kursi goyang itu, seolah menjawab pertanyaan Denmas.

“Iya, Tuan… Saya cuma ngobrol sendirian kok, Tuan. Main monolog… Apa, Tuan? Tamu? Tidak ada tamu, Tuan… Tidak, tidak ada yang ngantar surat… Surat apa, sih? Dari tadi kok nyari-nyari surat terus?! Maksud Tuan surat apa? Surat gadai? Surat tagihan? Surat tilang? … Nggak ada surat apa pun, Tuan… WR. Suratman juga nggak ada…”

Terdengar bunyi dengkur…

Kemudian Bambang sadar, kalau majikannya ternyata tertidur.

“Wahhh, lama-lama Tuan ini mirip Gus Dur…” Bambang ngedumel. “Diajak ngomong kok malah tidur.”

Lalu dengan pelan, takut membuat majikannya terbangun, Bambang berjalan menjahui kursi goyang itu. Kembali melanjutkan cerita…

“Tadi sampai mana?” Mengingat-ingat. “ Eemm. Oh, ya… hebat…” Bambang terlihat antusias bercerita. “Dia itu terkenal banget sebagai Tukang Kritik nomor wahid. Banyak versi cerita seputar sosoknya. Kisah kelahirannya saja ada lebih 1.501 versi. Ada yang mengisahkan ia lahir dari bonggol pisang. Ada yang bilang ia muncul begitu saja dari kabut waktu. Tapi ada juga bilang: dia itu anak hasil kawin silang manusia dan genderuwo.”

Bambang menenggok ke arah kursi goyang, agak ketakutan. Takut kedengeran…

Kemudian suaranya jadi agak berbisik ketika melanjutkan ceritanya, “Kalau dilihat dari tampangnnya, ada benernya juga sih cerita itu… Serba tanggung. Cakep enggak, buruk iya. Setengah manusia, setengah makhkuk sengsara… Beda jauh ‘kan sama saya?… Bahkan ada yang percaya: dia sudah ada sejak permulaan dunia! Jangan-jangan, dia itu sesungguhnya pacar pertama Hawa, sebelum Hawa akhirnya menikah sama Adam…”

Tiba-tiba gugup, dan langsung mendekat ke arah penonton…

“Sebentar…. Saya harus klarifikasi sebentar soal Adam dan Hawa dulu. Biar tak terjadi salah interpretasi. Biar tidak diprotes. Dianggap melecehkan. Adam di sini bukan Adam manusia pertama yang jadi nabi itu lho, tapi Adam Malik… Sedangkan Hawa…” Ia jadi bingung sendiri dan mikir mencari-cari. “Hmmm.., kalau Hawa apa ya? Oh ya, Hawa itu maksudnya Hamid Hawaludin.”

Ia malah cekikikan sendiri.

“Sejak saya di sini, Beliau ya begitu-gitu terus. Nggak tua-tua. Seperti nggak bisa mati. Dulu Kakek saya pernah bilang, ‘Tukang Kritik sejati seperti dia nggak bakalan mati! Dia itu legenda setiap zaman. Tahu tidak, di zaman Yunani… dia mengubah namanya jadi Socrates.’ Begitu…”

Seperti takut dituduh membual, Bambang cepat-cepat melanjutkan, “Itu kata Kakek saya lho ya. Saya sih percaya-pecaya saja. Lagi pula, kalau dirunut secara etimologi ilmu gotak gatuk, ada benernya juga kok: Socrates… ‘Sok-krates’… asal katanya ‘Sok’ dan ‘protes’. Sok-protes. Nah, Raden Mas Suhikayatno ini kan juga seneng protes. Jadi antara Socrates dan Suhikayatno, bisa jadi emang orang yang sama… Yah, minimal namanya sama-sama berawalan S. Menurut sahibul hikayat, Raden Mas Suhikayatno ini memang dikenal memiliki banyak nama. Dia pernah dikenal sebagai Gallileo. Di Perancis dia dipanggil Voltaire. Tapi begitu di Jawa dipanggil Empu Gandring. Lalu jadi Gandhi waktu di India. Kata Kakek saya lagi, ‘Mereka memang berbeda nama… Tapi lihat, apa yang mereka lakukan… Mereka semua sesungguhnya orang yang sama.” Ia berhenti, ragu. Raut wajahnya terlihat bingung menimbang-nimbang apa yang barusan dikatakannya. Lalu seolah bicara pada dirinya sendiri, “Iya juga sih… Tapi gimana nalarnya ya: dari Gandring kok jadi Gandhi? Aneh kan kalau nanti di tulis: Gandhi bin Gandring…”

Ia tersenyum sendiri memikirkan kemungkinan itu.

“Nama Raden Mas Suhikayatno ini juga meragukan kok. Ini nama beneran, atau nama jadi-jadian.”

Ia jadi terlihat sedikit malu, karena merasa semua itu hanya bualan.

“Yah, Anda kan tahu, yang namanya legenda, pasti banyak nggak masuk akalnya. Apalagi ini legenda menyangkut seorang tokoh. Tahu sendirilah, syndrome para tokoh: suka membesar-besarkan peran mereka dalam sejarah. Saya kira, majikan saya ini pun mengindap syndrom macam itu…”

Bambang sejenak memandang ke arah kursi goyang, takut omongannya kedengaran Raden Mas Suhikayatno.

Tampak kursi itu bergoyang-goyang kencang.

Buru-buru Bambang bergaya menyanjung majikannya itu, “Saya nggak menghinanya lho… Bagaimana pun saya hormat kok sama Beliau. Memang dia suka banget ngritik. Tapi pada dasarnya dia baik kok. Kalau dirasa-rasa, terasa betul kok kebenaran dalam kritik-kritiknya. Kritikannya tulus. Jujur.”

Perlahan kursi itu langsung menjadi tenang….

Bambang cekikikan tertahan. “Hihihi…begitu di puji langsung bobo lagi…”

Setelah yakin kalau majikannya sudah kembali lelap, Bambang pun kembali bicara, “Sebagai tukang kritik, majikan saya itu pada dasarnya ya memang baik kok. Bedalah dengan para tukang kritik lainnya. Soalnya orang yang suka mengritik itu kan banyak macamnya. Ada yang mengritik asal mengritik. Ada yang mengritik, supaya dianggap berani dan kritis.Ada yang ngritik cuman buat dijadikan bahan monolog… Ada yang selalu mengkritik, agar dapat perhatian. Ada yang terus-terusan mengkritik, karena sudah nggak sabar nunggu giliran duduk di kursi kekuasaan. Di luar pagar teriak-teriak, begitu udah di dalam malah tambah rusak…Tuan saya ini nggak silau kedudukan. Dari dulu ya di situ terus duduknya. Nggak pindah-pindah. Ditawari jadi Presiden Indonesia yang pertama juga nggak mau…”

Bambang sedikit menahan tawa. “Untung juga ya dia nggak jadi Presiden Indonesia.” Dan ia terkikik. “Bisa berabe kalau yang jadi presiden pertama dia. Kalau Sukarno sih memang pantes. Namanya cocok buat jadi presiden” Mengeja dengan nada melodius, “Su-kar-no. Terdengar enak ditelingakalau dalam upacara kenegaraan ya kedengaran gagah…’Inilah presiden pertama kita: Sukarno…no no no’ terdengar enak kalu dikasih echo. Lha kalau dia?”

Bambang kembali meniru suara pembawa acara upacara, “Ladies and gentlement, inilah presiden pertama Republik Indonesia: Suhikayatno..yat yat yat yat…” Bambang tertawa sendiri. “Kita yang ndenger saja jadi tersayat-sayat… Kayat.. Ka-yat… nama apa itu?! Bener-bener nama yang amat sangat tidak nasionalistis!”

Cepat-cepat Bambang melirik ke arah kursi goyang itu lagi, takut majikannya mendengar. Kursi goyang itu terlihat tenang.

“Lagi pula nama Kayat kan berbau kekiri-kirian. Ka-yat. Kedengaran seperti ‘rak-yat’. Jenis nama-nama yang bisa membawa nasib buruk buat para pemiliknya.”

Tiba-tiba terdengar suara erangan dari arah kursi goyang: “Bambaaangggg… Bambaanggg…. Jam berapa…”

Cepat-cepat Bambang pura-pura sibuk menyapu.

Kembali terdengar suara Raden Mas Suhikayatno bertanya: “Ini jam berapa…. Ini Tahun berapa…”

Sambil terus pura-pura sibuk menyapu, Bambang menjawab, “Jam 4… Tahun 2011…”

Sementara Raden Mas Suhikayatno terus mengigau memanggil nama “Bambang” sesekali-kali. Tapi Bambang tetap pura-pura sibuk menyapu. Sampai kemudian suara igauan Raden Mas Suhikayatno berhenti. Bambang melihat sebentar ke arah kursi goyang itu, lalu segera ke arah penonton.

“Ngegosip lagi aahhh…”

Pelan-pelan, ia mulai kembali bercerita.

“Saya ingat. Empat tahun lalu. Tepatnya tahun 2008. Ya. Tahun 2008. Kira-kira 8 bulan sebelum penyenggaraan Pemilu. Raden Mas Suhikayatno diminta jadi pimpinan KPU. Tapi dia nggak mau. Takut terlibat karupsi berjamaah seperti KPU periode sebelumnya… Saat Pemilihan Presiden tahun 2009, Beliau juga diminta jadi wakil SBY. Soalnya Jusuf Kala maju sendiri jadi Capres didukung Partai Golkar. Waktu itu memang banyak pengamat yang bilang, kalau majikan saya dan SBY itu pasangan ideal. Lebih cocok, begitu. Ya, setidaknya dibanding wakil SBY sebelumnya, yang dianggap terlalu kreatif, dan terlalu banyak inisiatif.”

Bambang garuk-garuk bingung sendiri.

“Saya sih nggak terlalu ngerti politik. Nggak tahulah, gimana kelanjutannya. Yang jelas, pada Pemilihan Presiden tahun 2009 itu pemenangnya adalah calon yang didukung Partai Panji Tengkorak. Yakni, Butet Kertaredjasa. Inilah pertama kalinya, seorang seniman berhasil menjadi presiden di Indonesia….” Bangbang tampak bangga, tapi kemudian agak geli, “Gimana seniman ngatur Negara ya? Ngurus Dewan Kesenian saja rebut melulu…”

Kemudian bertanya ke arah penonton, “Tahu nggak, apa program pertama Butet Kertaredjasa sebagai presiden? Mengganti nama-nama jalan. Nama jalan yang tadinya dipenuhi nama tentara, diganti dengan nama para seniman. Jalan Gatot Subroto diganti menjadi Jalan Sapardi Djoko Damono. Jalan S. Parman diganti Jalan S. Bagio. Pokoknnya semua jalan diberi nama seniman. Dari jalan tol, jalan tembus, sampai jalan buntu. Bahkan Jalan Taman Lawang juga diganti menjadi Jalan Djaduk Ferianto. [6] Hanya satu nama jalan yang tidak di ganti. Yakni Jalan Gajah Mada. Karena Gajah Mada itu teman sepermainan majikan saya.”

Terdengar suara Raden Mas Suhikayatno memanggil, “Bambangggg… Pukul berapa sekarang…..”

Bambang tergopoh mendekati kursi goyang, “Iya Tuan…. Jam 8 malam… Mau air panas sekarang?”

Suara Raden Mas Suhikayatno datar. “Capek…” Setengah mengeluh. “Ini tahun berapa?”

“Tahun 2011, Tuan…” Bambang duduk bersimpuh di dekat kursi goyang itu. “Saya pijit ya…”

Suara Raden Mas Suhikayatno masih lelah datar, “Kamu yakin…” terdengar nafasnya yang pelan. “Bukan tahun 3050?”

Bambang sembari (seakan-akan) memijiti kaki Raden Mas Suhikayatno menjawab, “Wah, kejauhan loncatnya, Tuan…”

Suara Raden Mas Suhikayatno masih lelah datar, “Saya yakin ini tahun 3050… Samar-samar saya melihat bayangan bertumpuk-tumpuk….”

“Ooo, itu Borobudur dibikin jadi tingkat lima, Tuan…” jawab Bambang seenaknya sambil memandang ke arah kejauhan.

Sejenak sepi. Bambang terus memijiti.

“Apa surat itu sudah datang?.. Siapkan pakaian saya…” Suara Raden Mas Suhikayatno masih lelah datar.

Bambang segera bergegas mengambil baju majikannya.

Begitu muncul kembali, Bambang segera menyerahkan baju yang diambilnya ke arah kursi goyang itu. “Yang ini kan…” Lalu membentangkannya di selimut yang menutupi kursi itu, seakan menyerahkan baju itu ke majikannya.

“Saya pijit ya, Tuan.. “ Bambang kemudian kembali memijiti kaki Raden Mas Suhikayatno – terdengar desah nafasnya yang keenakan dipijit – terus ke atas, ke atas…

Tiba tiba Bambang melonjak kaget, sementara tangannya terbenam masuk selimut seakan dicengkeram majikannya. Bambang meringis kesakitan, “Aduh, Maaf Tuan… Sumpah nggak sengaja mijit yang itu. Saya kira tangan Tuan… Tapi kok lembek…. Aduuhhh… Sakit, Tuan… Aduhhhh….”

Tangan Bambang terpiting, ia kesakitan berdiri. Lalu pelan-pela ia mengubah diri menjadi Raden Mas Suhikayatno. Perubahan ini terjadi dengan perubahan situasi: dari Bambang yang dipuntir tanggannya, menjadi Raden Mas Suhikayatno yang memuntir tangan Bambang.

Kini Raden Mas Suhikayatno memakai selimut di pundak dan menutupi tubuhnya hingga seperti menenakan jubah, berdiri dari kursi goyang, memegangi tangan pembantunya.

“Kurang ajar!” bentak Denmas galak. “Bener-bener tidak punya tata karma. Barang keramat milik majikan kok dimain-mainin… Enak tau! Kamu mau apa kok grayang-grayang begitu…”

Lalu seperti bayangan, kembali bergerak, berubah menjadi Bambang, sembari melepas selimut itu. Kini ia bersembah ketakutan di depan kursi goyang itu, “Ampun, Tuan… Saya cuma mau ngetes… onderdil tuan masih tokcer tidak…”

Balu bangkit, bergerak berubah menjadi Raden Mas Suhikayatno lagi, memakai selimut itu lagi, berdiri memandangi ke arah pembantunya yang bersimpuh dekat kakinya, “Eee…menghina ndoromu ini ya?!” Mendelik, sebel dan keki. “Biar prostat sering kumat, tetap saja masih kuat… Dari Ken Dedes sampai Ken Norton, sudah membuktikan keampuhan onderdil saya ini…”

Kemudian Denmas melepas selimut itu, dan menggantinya dengan baju yang tadi diambilkan Bambang. “Cepat ambilkan air putih…”Lalu pandangan Denmas mengikuti kepergian pembantunya. Ia berteriak “Eh, sekalian tusuk gigi…”

Sejenak Denmas bisa mengeliatkan badan dan olahraga kecil melemaskan otot. Sampai kemudian seolah-olah menerima gelas yang diulurkan oleh Bambang, berkumur, menyembur-nyemberkan air kumur ke samping kursi, kemudian memakai tusuk gigi.

Terdengar suara bambang, “Sekarang Tuan mau mandi dulu, apa langsung sarapan?…Sikat gigi? Sikat gigi sudah saya siapin. Odol masih ada… Kalau tusuk gigi sudah habis, yang Tuan pakai itu ajah bekas yang kemarin…”

Raden Mas Suhikayatno, langsung membuang tusuk gigi yang sedang dipakainya itu, dan bergerak mau memukul, “Bajigur! Kurang ajar kamu!”

Denmas melihat (seolah) pembantunya lari ketakutan. “Sial benar saya punya pembantu macam kamu. Awas kamu, ya!… Hai, sini! Ngapain kamu malah naik genting begitu. Sudah, nggak usah alasan mau benerin atap. Ayo, turun! Turun! cepet, Mbang… Turun kamu, Mbang! Disuruh turun kok malah mendelik. Kamu itu bener-benar keterlaluan kok. Ayo turun! Cepet turun! Bambang, kamu dibilangin kok ngeyel buanget sih! Sudah nggak becus, ngeyel lagi… Ayo toh turun, Mbang! Turun! Turun, bambang!”

Tiba-tiba Denmas berhenti, dan langsung menghadap kepada penonton. “Jangan salah faham ya… Saya ini nyuruh turun Bambang pembantu saya. Bukan Bambang yang lain…”

Kembali meneriaki ke arah pembantunya itu, mulai sabar. “Mbaannggg… Ayo toh turun… Sekarang kamu lihat di kotak surat, ada surat buat saya tidak. Nggak ada? Coba kamu cari di bawah keset, mungkin nyelip di situ… Nggak ada juga? Ya sudah, sekarang kamu nunggu saja di halaman. Iya! Siapa tahu tukang pos itu lewat…” Sembari berbicara, Raden Mas Suhikayatno meneliti tupukan koran dan majalah di atas meja, mencari-cari sesuatu. Memeriksa, membacanya…

Sampai kemudian Denmas tampak kecewa, ketika ia tidak menemukan surat yang diharapkannya.

Ia mendesah.

“Pasti mereka lupa mengirimkannya!” Kemudian ia terdiam, menimbang, menduga, mengira-kira. “Lupa mengirimkan, apa tidak mau mengirimkan?” Ia mulai mendengus marah. “Mereka anggap saya ini siapa?!”

Tatapannya menghunjam, memandangmu.

“Maaf, saya bukannya mau mengungkit-ungkit. Tapi hargai dong sejarah saya. Apa dikira Tukang Kritik macam saya nggak menyumbangkan apa-apa? Bagaimana jadinya bangsa ini kalau nggak ada orang macam saya. Sayalah yang memulai sejarah. Orang macam sayalah yang menggerakkan sejarah. Orang-orang yang berani menyampaikan kritik. Waktu negeri ini masih dijajah Kumpeni…, kalian pikir siapa yang berani sama Kumpeni?” Ia seperti bertanya pada siapa pun yang mendengarnya. “Siapa coba yang berani melawan Kumpeni?!” Dengan dongkol dijawabnya sendiri, “Si Pitung.”

Ia mendengus.

“Kalian terlalu meremehkan peran saya. Apa kalian pikir saya tidak kenal Ki Hadjardewantara, Cokroaminoto, Agus Salim, Sjahrir dan Hatta? Saya sangat kenal mereka…, meski mereka tidak kenal saya. Mereka semua itu sahabat-sahabat saya. Saya selalu menemani mereka berdiskusi hingga dini hari. Ketika mereka diskusi, saya menemani membikinkan kopi.”

Ia seperti merasakan ucapannya disepelekan, lalu berkata keras, “Ini sejarah, Bung! Kebenaran paling kecil pun harus ditulis. Saya tak ingin sejarah kita penuh kebohongan. Meski banyak yang bilang: sejarah sesungguhnya tidak lebih dari berbagai macam versi kebohongan!”

Dengan tergesa ia mengambil album foto di atas meja, dan seolah menunjukkan pada semua orang. “Coba kalian lihat lagi foto-foto sejrah bangsa ini. Yang ini! Yang ini! Lihat foto pembacaan Proklamasi…”

Terlihat (di layar) foto Pembacaan Proklamasi itu.

Denmas terlihat begitu jengkel tapi tak berdaya. “Perhatikan dengan cermat. Itu, di sebelah kanan… Kalian pasti tidak melihat saya. Hanya bidang kosong hitam. Disitulah mestinya saya berdiri. Tapi kalian telah menghitamkannya…”

Ia tampak makin merasa disepelekan dalam kesendiriannya.

“Selama ini saya diam. Kalian menulis para pendiri bangsa berjumlah 68. Saya rela nama saya tak disebutkan. Sebab, ditambah nama saya, berarti jadi 69. Angka 69 kan bisa ditafsirkan macam-macam…Tapi kenapa kalian hanya menyebut para Bapak bangsa?! Dimana para ibu yang melahirkan mereka? Ibu-ibu Bangsa yang merawat dan membesarkan sejarah bangsa ini? Sungguh, saya tak menuntut apa-apa…”

Suaranya kian terdengar seperti ratapan getir dan panjang.

“Tidakkah kalian ingat di tahun 1995, lebih limabelas tahun lampau, di zaman Soeharto… Ketika semua bungkam… Tukang Kritik seperti sayalah yang mempertaruhkan nyawa. Ketika koran dan majalah di breidel… Ketika kalian masih takut bicara demokrasi… Tidakkah kalian ingat saya? Bagaimana mungkin, kini kalian perlahan-lahan mengapus saya dari ingatan…”

Nada suaranya mulai meninggi, “Sayalah yang selalu mengritik! Karena saya punya suara… Siapa yang bisa membunuh suara? Suara bisa kamu bungkam. Tapi tidak mungkin kamu bunuh. Kamu tak mungkin bisa membunuh saya…”

Di puncak kemarahan, Raden Mas Suhikayatno terhuyung… Bersandar di kursi goyang, kelelahan. Dadanya sakit. Ia memanggil-manggil pembantunya, “ Bambaaang…. Toloooonggg…. obat saya….” Lalu meracau, “Kalian tidak bisa membunuh saya… Saya suara zaman… Gema yang terus berpantulan…”

Suara racauan Raden Mas Suhikayatno terus terdengar, makin pelan dan tenggelam, tak jelas. Pada saat itulah, pelan-pelan muncul suara nyanyian. Seperti angin yang muncul dari pusaran waktu. Pada saat ini video menggambarkan waktu yang berdenyut, semesta yang mengembang dan mengerut. Gerigi mesin waktu yang bergemeretak bergerak. Gambar-gambar itu tumpah pecah ke seluruh panggung. Nyanyian itu, kau dengarkah nyanyian itu?

Yang berdiam di rahim waktu

Engkau siapakah itu?

Kami mendengar di desau hujan

Keluhmu pelan tertahan

Kami melihat ada yang berkelat

Engkaukah itu berbaring lelap

Di pusaran waktu

Di rahim waktu

Siapakah itu?

Bersamaan gema lagu yang meredup, muncul dua hologram itu lagi. Memandangi Raden Mas Suhikayatno yang mengerang gelisah dalam tidurnya.

Hologram 1, “Lihatlah dia yang selalu tertidur tapi setiap saat merasa terjaga… Ia menderita disiksa mimpi-mimpi yang ia kira kenyataan hidupnya.”

Hologram 2, “Bangun… Ini sudah tahun 2028.”

Hologram 1, “Ia masih tersesat di abad silam…”

Terdengar genta waktu menggema.

Suara Hologram 2 membahana, “Tahun 2045.”

Terdengar lagi genta waktu menggema.

Suara Hologram 1 membahana, “Tahun 2066.”

Hologram 2, “Kau dengarkah yang berdenyut di jantungmu. Suara-suara yang mengepungmu.”

Sementara itu Raden Mas Suhikayatno terbangun, antara tidur dan jaga, memangdangi sekililing yang bagai tak dikenalinya.

“Di mana saya…” Raden Mas Suhikayatno mendesah.

Hologram 1, “Kamu ada di mana kamu merasa ada…”

Hologram 2, “Kamu tak ada di mana-mana…”

Raden Mas Suhikayatno kebingungan menatap sosok bayang-bayang itu…

“Siapa kamu!” teriak Denmas. Cemas.

Hologram 1, “Aku Tukang Kritik yang berjalan melintasi waktu… Akulah kamu yang selalu menyebunyikan wajahmu… Mereka yang membanggakan diri jadi Tukang Kritik, padahal bermuslihat pura-pura baik.”

Denmas berteriak-teriak, “Tidak….Tidak….”

Hologram 2, “Kamu marah karena kamu dilupakan. Kamu selalu menunggu surat itu datang. Surat yang akan mencatat namamu di barisan para pahlawan…”

Denmas berteriak-teriak memanggil pembantunya, “ Bambanggg!!! Bambanggg!!!”

Hologram 1, “Lihat sekelilingmu… Ini tahun 2070… Kamu terselip dipojokan sejarah. Tak ada lagi yang mengingatmu. Tak ada lagi yang membutuhkanmu.

Denmas terus berteriak-teriak, “ Bambanggg..!!! Bambanggg!!!….”

Terdengar genta waktu menggema, berulangkali.

Sementara Raden Mas Suhikayatno terus berteriak memanggil pembantunya. Memegangi kepalanya yang kesakitan. Gelombang waktu berpusaran dalam kepalanya.

Terdengar terompet pergantian tahun. Dua sosok hologram itu perlahan menghilang. Hanya tinggal terdengar suaranya di sela pekik keramaian dan sorak-sorai menyambut pergantian tahun. Cahaya kembang api meledak warna-warni!

Terdengar suara mekanis: “Tahun 3001.”

Gerigi mesin waktu berderak-derak bersama lengking terompet pergantian tahun dan pijar kembang api warna-warni, berpijar di langit kota modern…

Kembali terdengar suara mekanis: “Tahun 3028.”

Waktu terus bergemeretak berderak.

Kembali terdengar suara mekanis: “Tahun 3045.”

Abad-abad berlarian bersama deru waktu yang melaju.

Kembali terdengar suara mekanis: “Tahun 3068.”

Gerigi mesin waktu terus berderak-derak. Lengking terompet pergantian tahun terus ditembakkan ke udara. tamak kota-kota ultra modern yang menjulang.

Kembali terdengar suara mekanis: “Tahun 3099.”

Terdengar ribuan rentetan terompet yang mengumandang.

Terdengar lengking jeritan Denmas yang panjang:

“BAMBAAAANGGGGGGGG!!!!!”

CAHAYA tiba-tiba benderang dan semua keriuhan dan suara seketika berhenti. Sepi. Panggung seperti ruang steril hampa udara. Pucat perak.Segalanya tampak bersih dan steril.

Raden Mas Suhikayatno tersandar di kursi goyang diterangi cahaya terang monokrom. Raden Mas Suhikayatno memandang bingung sekeliling. Tampak silhuet gedung menjulang, siluet kota-kota ultra modern. Jalan-jalan layang metalik, mobil-mobil terbang. Kota futuristik. Raden Mas Suhikayatno jadi terlihat terpencil dan kecil dibawah semua bayang-bayang yang menjulang itu. Ia hanya memandangi semua itu seperti orang bingung.

Di sekelingnya terhampar ketertiban. Segala yang serba tertib.

Suara Denmas terdengar penuh kebosanan, “Pernahkan kalian merasa begitu kesepian seperti yang kini saya rasakan?… Kesepian karena kehilangan peran… Mau apa saya… Semua sudah serba rapi. Tertib. Terkomputerisasi. Tak ada lagi yang bisa dikritik…”

Raden Mas Suhikayatno menggerak-gerakkan kepalanya, memain-mainkan tangannya seperti kanak-kanak yang bermain menciptakan bayang-bayang. Tapi Ia kemudian segera bosan. Apa pun yang ia lakukan, ia segera merasa bosan.

“Makan sudah… Baca sudah… Tidur sudah… Masturbasi sudah… Apa lagi ya?”

Dalam keusyian seperti itulah, perlahan muncul Robot pembantu rumah tangga. Mekanis. Robotik. Robot itu membawakan minuman dalam gelas bening. Robot itu menyapa,

“Good morning… Good morning…”

Raden Mas Suhikayatno hanya diam ketika Robot itu memberikan minuman kepadanya. Semua itu seperti telah menjadi rutin yang membosankan. ia meminum isi gelas itu, juga dengan keengganan dan kebosanan, dan terdengar seperti mengeluh, “Bahkan minuman pun sudah pas betul… Saya tidak bisa mengritik kurang pahit atau kurang manis… Bahkan yang namanya bau, panas, dingin… semua sudah sesuai dengan keinginan setiap orang! Ternyata negeri adil makmur tentram karta raharja bukanlah utopia…”

Raden Mas Suhikayatno lalu dengan males menyerahkan gelas itu lagi kepada robot itu, yang segera menjawab mekanik,

“Thank you… thank you… Kamsiah…”

Raden Mas Suhikayatno tampak termangu kelu ketika memandangi robot itu kembali meninggalkannya sendiri.

“Itu tadi hasil cloning Bambang… Pembantu saya yang sudah mati tahun 2022 lalu. Dia keturunannya yang ke 4. Bergelar Raden Mas Bambang Mangkukulkas XI. Dengan kode mesin: PRT 3005 GX …”

Cahaya datar. Monokrom. Raden Mas Suhikayatno kembali merasa bingung. Kesepian. Ia tak tahu harus berbuat apa. Duduk tak betah. Berdiri tak betah. Berjalan tak betah. Ia tak tahu harus bagaimana.

Sampai terdengar suara-suara (para pemusik) bertanya, “Kenapa, Mas?… Kok bingung begitu?”

“Bingung mau ngritik apa… Kalau nggak ada yang dikritik begini kan saya jadi ndak ada kerjaan…Ndak ada kegiatan…” jawab Denmas malas-malasan. “Punya pembantu saja robot. Nggak bisa disiksa pakai setrika… Zaman macam apa ini, kok semua serba tertib! Serba teratur.” Raden Mas Suhikayatno duduk bingung. Membuka-buka majalah. Koran. Tabloid sepintas lalu. Bosan… “Semua berita baik… Nggak ada pembunuhan. Nggak ada banjir.. nggak ada korupsi…. Nggak ada polisi nggebuki mahasiswa… Nggak ada gosip artis kawin cerai… Bosen!”

Tampak ia begitu berharap pada keadaan…

“Ayo dong kalian bikin keributan… Apa saja deh! Merkosa kambing juga boleh… Ayo, yang penting biar saya ada kegiatan ngritik… Ayo, para Anggota Dewan, ayo kembali studi banding ke luar negeri sehari lima kali juga ndak papa… Bapak-Bapak Hakim, ayo silahken jual beli pasal-pasal sebagai mana dulu… Mau ya? Ya? Apa kalian seneng hidup tertib begini. Sekali-kali bikin masalah kan ya nggak papa.”

Kemudian Raden Mas Suhikayatno langsng mencoba menghasut para pemusik, “Gini saja, kalian saya bayar… Kita demonstrasi ramai-ramai… Biar keadaan jadi dinamis begitu… Oke?!”

Para pemusik menggeleng. Tanpa ekspresi. Kompak. Serempak. Mengang-guk serempak. Mekanik.

Karena tak memperoleh tanggapan sebagaimana yang diharapkan, Raden Mas Suhikayatno segera menuju ke kursi goyang. Duduk di sana. Kembali kesepian…

“Inilah jaman di mana bahkan nabi pun sudah tidak lagi diperlukan…” Kembali memain-mainkan tangan,, seperti orang menghitung berulang-ulang, mencoba mengatasi kesepiannya. “Makan sudah…tidur sudah… mandi sudah… makan sudah… tidur sudah… mandi sudah… makan sudah….. tidur sudah… mandi sudah…” Gerakan tangan dan tubuhnya makin lama makin seperti orang yang menderita tremor.

Suara Raden Mas Suhikayatno terdengar seperti bandul yang berayun-ayun monoton. Terdengar juga detak waktu yang menyertai nada suara Raden Mas Suhikayatno itu.

Doorrrr!!!! Doorrrr!!!!

Mendadak seperti terdengar letusan yang mengagetkan. Raden Mas Suhikayatno meloncat, gembira, begitu bahagia, mengepalkan tangan senang, “Yes!! Cihuuiiyyy! Akhirnya ada mahasiswa yang mati tertembak! Alhamdulillah… Akhirnya ada yang bisa dikritik… Ayo, kita protes! Ayo…”

Tetapi tak ada yang yang menanggapinya. ia mendadak tampak bengong, “Apa? Itu tadi bukan suara mahasiswa ditembak? Lalu apa? Mahasiswa mati bahagia? Aneh, ya,… mahasiswa kok matinya tidak heroik…”

Kembali duduk kecewa. Kembali ke kursi goyang. Kembali mencoba mengingat membunuh sepi yang nyeri.

“Makan sudah…tidur sudah… mandi sudah… makan sudah… tidur sudah… mandi sudah… makan sudah….. tidur sudah… mandi sudah…” makin lama suara Raden Mas Suhikayatno perlahan melemah, dan menghilang. Kini yang terdengar hanya detak waktu yang monoton. Bersamaan itu cahaya yang monokrom dan datar itu perlahan menyurut. Kursi goyang itu terlihat tenang di bawah sorot cahaya yang kuat pucat. Waktu mendengung panjang. Menggelisahkan.

Kemudian mucul Robot. Berjalan mekanik mendekati kursi goyang. Tangan Robot itu terulur kaku ke depan, membawa selembar surat.

“Good morning…. Good morning… Bangun, Tuan… Wake up… Wake up… Bangun, Tuan… Ada surat… Ada surat… Bangun, Tuan… Bangun, Tuan… Ada surat… Ada surat…”

Tapi Raden Mas Suhikayatno tak bergerak. Kursi goyang itu tetap tenang. Robot itu terus memanggil-manggil mekanik. “Ada surat! Ada Surat!… Ada surat! Ada Surat!…”

Sampai semua cahaya perlahan meredup. Tinggal menyorot ke arah kursi goyang yang tetap tenang itu. Suara robot itu terus-menerus terdengar berulang-ulang. Berulang-ulang. “Ada surat! Ada Surat!… Ada surat! Ada Surat!…”

Sampai semua cahaya menggelap.

Yogyakarta, 2003-2005

 

[1] Bambang adalah tokoh pembantu dalam monolog ini. Nama Bambang dipakai, karena ketika naskah ini ditulis, nama Presiden RI adalah Susilo Bambang Yudhoyono. Kelak, bila presiden berganti dan naskah ini dipentaskan, maka nama Bambang harus diganti dengan nama presiden yang sedang menjabat. Pilihan nama seperti itu dimaksudkan sebagai cara untuk menunjukkan: bahwa jabatan presiden itu sesungguhnya “pembantu rakyat”. Yakni Pembatu yang “diperintah konstitusi” untuk bekerja mensejahterakan rakyat yang menggaji dan membayarnya melalui bermacam pajak.

[2] Perhatikan perubahan kata ganti orang pertama, dari “saya” menjadi “aku”. Ketika Raden Mas Suhikayatno menyebut dirinya dengan “aku”, maka ego dia sudah mengempal. Ada dendam dan kegeraman di situ, yang menyulut kemarahannya. Dan itu muncul sebagai ekspresi terakhir untuk menunjukkan harga diri dan keberadaannya.

[3] Ketika cahaya di kursi goyang sudah gelap, maka aktor-pemeran Raden Mas Suhikayatno segera beringsut dari kursi itu, untuk berganti peran. Selimut dirungkupkan ke kursi goyang, hingga mengesankan masih ada Raden Mas Suhikayatno di kursi goyang itu. Sambil beringsut dan pergi itulah, aktor terus memanggil-manggil nama pembantunya itu. Atau untuk efek tertentu, suara itu bisa saja sudah direkam sebelumnya. Jadi selama aktor berganti kostum/berganti peran, suara memanggil-manggil terus terdengar. Atau, suara itu bisa digantikan oleh suara aktor pembantu/pemusik, yang diusahakan mirip dengan intonasi dan warna suara si aktor.

[4] Dimainkan oleh aktor yang sama, yang memerankan Raden Mas Suhikayatno, setelah berganti kostum.

[5] Penyebutan Butet Kertaredjasa di sini, karena monolog ini pertama kali akan dimainkan oleh dia. Apabila naskah ini dipentaskan oleh aktor lain, maka nama aktor yang memainkan itulah yang disebut.

[6] Di sini penyebutan nama-nama itu juga situasional. Yang penting nama itu familiar dengan audiens. Dan bisa juga “menggarap” beberapa nama seniman yang kebetulan saat itu hadir menyaksikan pertunjukan. Jadi penyebutan nama-nama itu fleksibel, dan kira-kira tak menjadi preseden yang bisa merugikan pementasan itu sendiri.


About this entry