Pendakian Gunung Rinjani

IMGP3820

Setelah tahun lalu dua kali mengibarkan bendera United di Gunung Semeru (Mahameru) dengan ketinggian 3676 mdpl dan satu kali di Gunung Welirang 3156 mdpl, tahun ini saya memiliki kesempatan untuk mengibarkan bendera United di puncak Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat dengan ketinggian 3726 mdpl.

Saya dan dua teman lainnya, Lintang dan Bakhtiar, memulai perjalanan dari Terminal Purabaya, Sidoarjo tanggal 06 Juni 2013 pukul 12:13 WIB. Untuk menghemat biaya kami memutuskan untuk membeli tiket bus eceran. Dari Purabaya kami membayar tiket bus biasa (tanpa AC) tujuan Probolinggo Rp 20.000. Di Probolinggo kami kembali membayar tiket Rp 15.000 menuju Jember. Di Jember kami kemudian dioper ke bus lain menuju Banyuwangi dengan biaya Rp 18.000. Tiket eceran juga bisa untuk jaga-jaga apabila dioper seperti ini. Jika sudah bayar penuh dan ternyata dioper, maka kita yang rugi karena harus bayar lagi.

1

Sampai terminal Banyuwangi jam sudah menunjukkan pukul 22:06 WIB. Pada jam seperti itu sudah tidak ada angkutan yang beroperasi. Angkutan yang ada tinggal ojek dan taxi. Harap hati-hati karena tukang ojek cenderung agresif dan ongkosnya pun lumayan mahal, Rp 20.000 per orang menuju Ketapang. Agar bisa berpikir jernih, kami memutuskan untuk makan dulu di warung pinggir jalan sebelum meluncur ke Pelabuhan Ketapang. Nah, di warung tersebut kami kenal dengan seseorang yang bersedia membantu kami mendapatkan tiket murah dari Ketapang langsung menuju Mataram. Dia mengaku kenal baik dengan petugas di Ketapang sehingga dia menjamin hal itu. Setelah makan, kami pun berangat ke Ketapang dengan taxi dengan ongkos Rp 50.000 diisi empat orang, lebih murah Rp 10.000 dibanding ojek. Naik taxi juga atas saran seseorang tadi.

Foto0676

Pukul 23:12 WIB kami sampai di Pelabuhan Ketapang. Di sana kami bertemu 9 pendaki lainnya (7 laki-laki dan 2 perempuan) dari Undip Semarang. Mereka kami ajak bergabung agar mendapatkan tiket bus murah menuju Terminal Mandalika, Mataram, Lombok. Petugas awalnya meminta harga Rp 175.000, tapi setelah tawar-menawar disetujui harga Rp 150.000 (harga resminya Rp 220.000). Di luar itu kami hanya harus membayar tiket kapal Rp 6000 saja untuk menyeberang ke Pelabuhan Gilimanuk, Bali.

Setelah mendapat tiket murah, kami yang kini menjadi ber-12, tidak langsung berangkat karena harus menunggu bus yang belum datang. Sekitar pukul 01:09 WIB kami baru bisa memasuki kapal. Tepat pada pukul 02:15 WITA kapal bersandar di Pelabuhan Gilimanuk, Bali dan pukul 05:49 WITA bus memasuki Terminal Ubung, Denpasar. Di terminal ini bus ngetem cukup lama. Hampir satu jam lebih berhenti, bus akhirnya berangkat dan sampai di Pelabuhan Padang Bai, Bali pada pukul 08:09 WITA. Kami semua turun dari bus dan kemudian naik kapal menuju Pelabuhan Lembar, Lombok.

2

Sekitar empat jam lamanya kami berada di atas kapal. Selama waktu itu lebih banyak kami habiskan untuk istirahat atau tidur. Tepat pukul 13:30 WITA kapal bersandar di Pelabuhan Lembar, Lombok.  Kami bertiga yang sudah membayar tiket bus sampai Mataram harus turun di Lembar karena salah satu teman sudah janjian dengan teman lainnya yang sudah berada di Lombok untuk nyarter mobil pick-up. Kami bertiga turun di pelabuhan sementara sembilan orang dari Undip Semarang lanjut ke Mataram.

Tak disangka, awalnya biaya nyarter mobil yang kami pikir akan lebih murah ternyata lebih mahal dan mobilnya pun bukan pick-up melainkan kijang yang hanya diisi tujuh orang! Entah bagaimana ceritanya per anak kena Rp 100.000. Mau tidak mau kami ikut saja karena sudah terlanjur turun. Pukul 14:30 WITA kami tidak langsung ke pos pendakian, tetapi ke Bandara Lombok dulu untuk menjemput satu teman lainnya yang akan terbang dari Jakarta. Dari pukul 16:10-17:37 WITA penantian kami belum berujung sebelum akhirnya ada kabar bahwa pesawat Lion Air dari Jakarta menuju Lombok mengalami delay.

4

Menerima kabar tersebut, kami langsung bertolak menuju basecamp sebelum keesokan harinya mulai melakukan pendakian. Sebelum ke basecamp, lebih dulu kami belanja logistik tambahan di Pasar Pancor, Lombok Timur. Setelah selesai berbelanja kami langsung meuju tempat istirahat dan sampai pukul 18:12 WITA. Di sana kami (yang sudah berjumlah delapan orang karena satu orang yang dari Jakarta sudah tiba) sempat nonton bareng laga persahabatan antara Indonesia vs Belanda sebelum tidur.

Pendakian Hari Pertama (08 Juni 2013)

Untuk memulai pendakian, kami memilih memulainya dari jalur Sembalun. Pagi pukul 05:39 WITA kami bersiap-siap menuju POS Rinjani Information Center (RIC) Sembalun. Sebelum berangkat kami pesan nasi bungkus untuk sarapan dan makan siang. Harga per bungkusnya Rp 5000, bisa pilih lauk ayam atau telur. Tepat pukul 06:45 WIB kami bergegas menuju RIC Sembalun. Pukul 08:37 kami tiba di POS RIC Sembalun untuk melakukan pendaftaran. Namun, saya sedikit heran karena ternyata perizinan di Sembalun tidak seberapa ketat (tidak harus menyerahkan foto-copy KTP maupun surat keterangan sehat dari dokter). Biaya tiket pun terbilang murah, kami berdelapan hanya Rp 20.000.

5

Pukul 09:30 WITA, setelah sarapan (satu bungkus lainnya untuk bekal) kami memulai pendakian. Tidak lama setelah melangkahkan kaki menuju Pos I, kami disambut hamparan padang savana hijau yang begitu indah. Bukit-bukit yang tampak manis dengan kabut tipis. Angin sepoi dan ketenangan alam Rinjani membuat perjalanan awal terasa begitu mendamaikan. Tapi tak lama setelah itu kami disambut trek yang berkelok-kelok, naik-turun dan melewati dua jembatan beton untuk sampai di POS I, tepatnya pukul 12:10 WITA. Tidak perlu lama-lama beristirahat, pada pukul 12:32 kami melanjutkan perjalanan menuju POS II.

22

Sampai di POS II, jam digital di pergelangan tanganku menunjukkan pukul 13:13 WITA. Di Pos ini terdapat sebuah jembatan beton yang di bawahnya mengalir sungai. Dengan pohon rindang, pendaki bisa menikmati waktu istirahat dengan damai. Di sini juga terdapat sumber air bersih yang bisa langsung diminum. Di POS II kami bergabung dengan kawan pendaki lainnya dari Patrapala (nama untuk komunitas pecinta alam Pertamina Cilacap). Kami diberi makan, kopi, dan juga rokok jadi tak perlu bongkar karier.

25

Kejadian lucu cenderung tragis dimulai dari Pos ini. Bakhtiar, yang mulai awal jalannya cenderung lebih lamban daripada saya dan Lintang, berinisiatif untuk berjalan lebih dulu menuju POS III, dengan asumsi saya dan Lintang akan segera menyusul. Kami berdua mengiyakan. Cukup lama setelah Bakhtiar jalan, kami baru akan melanjutkan perjalanan ketika tiba-tiba hujan turun cukup deras (kira-kira pukul 14:00 WITA). Kami berdua mencemaskan Bakhtiar. Tapi ya sudahlah mau bagaimana lagi. Akhirnya kami dan pendaki lainnya saling berbagi tempat untuk berteduh di gardu POS II. Sambil menunggu hujan redah kami sempatkan memasak dan berbagi kopi dan rokok.

13

Satu jam lebih kami berteduh dari hujan. Memasuki sekitar pukul 15:10 WITA, hujan mulai redah dan kami pun mulai melanjutkan perjalanan menuju POS III. Sebelum sampai ke POS III masih ada POS EXTRA dimana untuk menuju ke sana trek yang kami lalui cukup terjal dan menanjak. Tepat pukul 16:28 WITA kami sampai di POS III, bertemu dengan Bakhtiar yang sudah bertelanjang dada setelah kehujanan. Ketika tas kariernya saya angkat, beratnya juga semakin bertambah (nasibmu kawan,hehe). Karena waktu sudah sore dan kondisi fisik yang sudah mulai melemah, kami memutuskan mendirikan tenda dan bermalam di POS III.

38

Di POS III ada sedikit hiburan dari sekawanan monyet yang bisa sedikit menghilangkan rasa lelah. Salah satu monyet dari kawanan itu (kemungkinan kepala sukunya) sepertinya sudah terbiasa akrab dan meminta makanan kepada pendaki. Dengan bermodal makanan ringan kami bisa berdekatan dengan monyet liar itu, bahkan kami bisa menyentuhnya. Setelah hari mulai malam, kami sempatkan makan malam terlebih dulu sebelum beristitahat untuk memulihkan tenaga.

Pendakian Hari Kedua (09 Juni 2013)

39

Pukul 08:00 WITA kami sudah selesai makan. Sebelum berkemas kami sempatkan kembali memberi makanan kecil untuk monyet. Setelah membongkar tenda, packing, gosok gigi dan buang air besar, pukul 10:00 WITA kami melanjutkan pendakian menuju POS VI. Nah, tanjakan menuju POS VI inilah ujian yang sesungguhnya sedang menunggu. Pada fase ini kami dipertemukan dengan tujuh bukit penyesalan yang melegenda itu! Kami harus melewati tanjakan dengan kemiringan yang ekstrim, sebanyak tujuh bukit! Setelah melewati (mungkin) dua bukit, kami disambut Pos Bayangan (pukul 11:44 WITA) yang kondisi atapnya sudah rusak. Setelah tertatih-tatih, napas terputus-putus, kaki patah-patah, akhirnya kami sampai di plang POS VI atau lebih dikenal dengan nama POS Plawangan Sembalun, tepat pukul 14:04 WITA.

50

Di sini kami sempat istirahat beberapa menit sebelum berjalan lagi agak ke atas menuju ground untuk mendirikan tenda. Pukul 15:23 WITA kami sudah berada di tempat untuk membangun tenda, bergabung dengan pendaki dari Pertamina dan kawan-kawan dari Undip Semarang kemudian menyusul. Di sini kami habiskan waktu untuk istirahat, makan, ngobrol, dan becanda dengan kawan-kawan pendaki lainnya.

51

Tapi jangan kaget kalau di Pos ini kalian menemukan kios penjual minuman! Ya, karena memang di Pos ini ada yang menjual softdrink. Tapi jangan kaget lagi kalau harganya melambung tinggi. Karena berjualan di ketinggian seperti ini jelas harga menjadi tidak logis. Harga 1 kaleng Pocari Sweat=Rp 40.000, Coca-Cola= Rp 30.000, Bintang=Rp 70.000…!!!!! Baiklah, kalau tak ada uang tidak usah memaksakan diri untuk membeli.

Lebih baik kita seduh kopi atau teh bawaan. Atau kalau kehabisan air, tinggal turun sekitar 100 meter dari ground. Di situ ada sumber air bersih yang jauh lebih menyegarkan dan gratis. Setelah itu, tak perlu berpikir Pocari Sweat, Coca-Cola, atau Bintang lagi. Lebih baik istirahat supaya tenaga bisa cepat kembali terkumpul untuk menuju puncak Rinjani dini hari nanti.

Pendakian Hari Ketiga (10 Juni 2013)

56

Sesuai kesepakatan bersama, kami, kawan-kawan pendaki dari Pertamina dan dari Undip Semarang bangun pukul 01:22 WITA untuk bersiap menuju puncak. Langit terlihat cerah dengan taburan bintang. Kami sempat khawatir karena malamnya hujan turun. Tapi sebelum tengah malam hujan sudah redah. Berkat hujan yang sebentar itu, trek menuju puncak juga tidak terlalu berdebu. Setelah mengisi perut secukupnya (bisa makan nasi, mie, atau agar-agar) kami cecking perlengkapan. Setelah semua siap, kami tidak lupa memanjatkan doa bersama demi kelancaran dan keselamatan dalam pendakian menuju puncak kali ini. Sekitar pukul 02:03 WITA kami mulai perjalanan.

59

Dari Pos Plawangan menuju puncak didominasi trek terjal berpasir. Kami harus melewati jalan berkelok-kelok, mendaki bukit dan trek mudah longsor jika dipijak. Kondisi yang gelap dan dingin mengharuskan kami untuk tetap waspada dan konsentrasi agar tetap aman. Sebelum benar-benar puncak, tiba-tiba badai dan kabut menerjang sehingga cuaca menjadi sangat dingin. Angin kencang yang bertiup disertai kabut dingin sangat menguji mental pendaki. Ada yang kemudian memutuskan turun sebelum sampai puncak, tetapi banyak juga yang bisa menapakkan kakinya di puncak 3.726 mdpl.

Saya sendiri bisa sampai puncak kurang lebih pada pukul 08:13 WITA, setelah berjuang dengan lelah dan dingin. Di puncak kami tidak bisa leluasa dan berlama-lama mengambil gambar mengingat angin yang semakin kencang dan kabut tak kunjung pergi. Kabut membuat Danau Segara Anak tidak terlihat dari puncak. Tepat pukul 11:20 saya memutuskan untuk turun. Jalan turun juga tidak semudah yang dibayangkan. Bisa dibilang turun dan mendaki memiliki penderitaannya sendiri-sendiri.

Butuh sekitar satu jam setengah bagi saya untuk sampai ke basecamp. Sampai di tenda saya tidur untuk mengumpulkan tenaga sebelum kembali melakukan perjalanan. Setelah membongkar tenda dan selesai packing, tepat pukul 14:14 WITA kami turun menuju Danau Segara Anak. Ternyata untuk menuju danau tidak kalah menyiksa. Untuk turun kami harus menyusuri pinggir tebing curam dengan trek yang didominasi bebatuan. Setelah beberapa kali berhenti istirahat untuk menghimpun tenaga, kami akhirnya sampai di danau pukul 18:37 WITA. Jangan dibayangkan jam seperti itu hari sudah menjadi gelap seperti di Jawa, karena di Lombok pada jam seperti itu justru hari masih terang, kendati pun di Lombok satu jam lebih cepat dari Jawa.

96

Setelah menentukan tempat, di samping tenda kawan Pertamina, kami langsung mendirikan tenda, masak, makan, dan tiduuuuuurrrr….!!!

Nge-Camp Hari Kedua di Danau (11 Juni 2013)

99

Pukul 07:20 WITA saya terbangun. Sinar matahari sudah mulai hangat menerpa tenda. Ketika membuka pintu tenda, mataku yang masih belum sempurna terbuka langsung disambut angin sejuk serta pemandangan Danau Segara Anak yang indah berselimut kabut tipis. Sebelum beraktivitas (memasak, makan, dll) kami menyempatkan diri untuk mandi.

118

Jangan takut kedinginan karena di sekitar danau ada sumber air panas. Letaknya tidak jauh dari ground tenda. Sumber air panas yang bercampur dengan air terjun dari danau membuat air menjadi hangat. Di sana kami bisa berendam sesuka hati, tapi juga harus tahu diri karena masih banyak pendaki lain yang juga ingin berendam, terlebih turis-turis mancanegara. Jadi tidak perlu kaget jika berendam bersama turis-turis yang mengenakan bikini. Enjoy saja…jarang-jarang kan di gunung bisa seperti itu.

119

Pukul 09:12 WITA kami selesai mandi dan berendam. Efek berendam di air hangat adalah rasa lelah bisa hilang dengan sendirinya, tapi juga kulit bisa menjadi kering karena habis kena dingin langsung kena panas. Tapi tak apa-apa lah, yang penting badan terasa segar kembali. Selain dimanjakan dengan sumber air hangat, di basecamp ini juga menjadi surga bagi para pemancing. Di danau pagi itu sudah banyak yang mulai memancing. Saya sempat menyesal karena tidak bawa pancingan, tapi untung saja porter dari kawan Pertamina punya pancing yang bisa dipinjam. Pukul 11:24 WITA waktunya Manciiiiinggg…..!!!!!

105

Memancing di Danau Segara Anak sangat menyenangkan. Selain pemandangannya yang menakjubkan, ikan-ikan di sini juga mudah dipancing. Cukup dengan umpan cacing yang bisa dicari di pinggir-pinggir danau, pemaincing sudah bisa ‘panen’ ikan nila atau mujaer. Atau jika kalian beruntung kalian bisa mendapatkan ikan tombro, atau orang setempat menyebutnya sebagai ikan kiper. Ikan yang didapat juga lumayan besar-besar sehingga pemancing akan merasa terpuaskan.

109

Cukup lama saya memancing. Setelah merasa sudah cukup, akhirnya saya mengakhiri kegiatan mancing-memancing ini. Saya sendiri mendapatkan tiga ikan nila berukuran besar dan dua berukuran kecil. Setelah mencari kayu bakar, ikan-ikan tersebut saya bakar. Ikan-ikan itu hanya saya nikmati bersama Paijo (kawan lainnya yang saya kenal saat nyarter mobil dari lembar tempo hari) karena Bakhtiar dan Lintang gak suka ikan; rugi).

113

Pukul 16:02 WITA kegiatan bakar-membakar dan santap-menyantap ikan bakar selesai sudah. Kegiatan berikutnya adalah kembali berendam di air hangat. hehehe… Setelah cukup lama kami berendam di air hangat, kami memutuskan kembali ke tenda setelah merasa udara menjadi semakin dingin. Beruntung bagi kami. Malam ini kami tidak perlu masak karena porter turis Singapur yang mendirikan tenda di sebelah tenda kami dengan baik hati menawari kami makan. Makan Enak….!!!!!!

Persiapan Turun Gunung (12 Juni 2013)

116

Kami bangun sekitar pukul 06:55 WITA dan lagi-lagi kami tak perlu masak karena porter yang semalam memberi kami makan, kembali memberi kami makan pagi ini. Saya pikir nasib kami memang beruntung pada pendakian kali ini. Tapi selain itu kami juga buntung. Sebagian logistik yang kami taruh di luar tenda hilang dicuri babi hutan! Ya, hati-hati karena di sekitar danau ini masih banyak babi hutan yang berkeliaran di malam hari.

122

Sekitar pukul 08:01 WITA kami sudah selesai makan. Kegiatan selanjutkan yang akan kami lakukan adalah membongkar tenda dan packing barang-barang untuk persiapan turun gunung. Tepat pukul 09:08 WITA kami sudah melakukan perjalanan untuk turun gunung melalui jalur Senaru. Untuk keluar dari danau juga tidak mudah, kami harus melewati trek menanjak melewati tebing curam yang rawan longsor. Tanjakan trek di jalur ini lebih menyiksa dari trek-trek sebelumnya. Kami benar-benar berjalan di pinggir-pinggir tebing. Bahkan di beberapa ruas tanjakan harus dipasang pagar dan tangga dari besi demi keamanan pendaki dan porter. Setelah tubuh bercucuran keringat, napas tersengal-sengal, dan tenaga hampir tumpas, sekitar pada pukul 12:15 WITA kami sampai di POS Plawangan Senaru.

128

Dari Pos ini kami bisa melihat pemandangan Danau Segara Anak dengan sangat jelas dan indah. Agar tidak menyesal, kami sempatkan sejenak untuk mengambil foto sambil istirahat sebelum melanjutkan turun gunung.

134

Ketika mendaki lewat jalur Sembalun kami disambut padang savana, sedangkan saat turun melewati jalur Senaru kami disambut rimbun hutan yang minim sinar matahari. Tapi sebelum memasuki hutan, jalur turun terasa gersang karena minim pepohonan sebelum sampai di POS III (sekitar pukul 13:53 WITA). Dari pos inilah jalur yang kami lewati mulai berupa rimbun pepohonan dan semak belukar. Jalur ini memang lebih cepat daripada jalur Sembalun dan pada pukul 15:24 WITA kami sudah sampai di POS II. Kami terus berjalan tanpa banyak berpikir tentang lelah karena kami ingin segera sampai. Meskipun kadang-kadang tengkuk terasa merinding ketika melewati rerimbun pepohonan yang cukup gelap. Tapi kami tak peduli, kami hanya ingin cepat turun!

130

Sekitar pukul 16:26 WITA kami sudah sampai di Pos Ekstra. Di pos ini saya mulai kehabisan air. Terpaksa jalan dari Pos Ekstra menuju Pos II tanpa air minum. Masing-masing pos berjarak antara 1-1,5 km. Sampai di Posi I jam sudah menunjukkan pukul 17:13 WITA dan saya masih tanpa air minum. Berkat inisiatif Lintang, akhirnya kami berdua berjalan mengikuti rombongan pendaki yang menyewa jasa porter. Degan begitu kami kami bisa mendapat setidaknya sedikit minuman dan makanan kecil dari mereka..hehehe…

1013414_4945057713416_1403736274_n

Saat kami sampai di plang pintu masuk jalur Senaru, jam sudah menunjuk pukul 17:51 WITA, tapi itu belum selesai. Di pintu masuk/keluar jalur Senaru ini ada yang berjualan makanan dan minuman, tapi di sini harga masih mahal sehingga kami hanya menunggu ada pendaki lain yang membeli dan kami tinggal meminta…hehe. Setelah sejenak istirahat, kami masih harus berjalan sekitar 1,5 km lagi untuk benar-benar menyelesaikan turun gunung ini. Kami harus turun ke Rinjani Trek Center (RTC) Senaru. Kami sampai di RTC Senaru pukul 18:35 WITA. Malam itu kami tidak langsung pulang, tapi menginap di RTC. Bukan satu malam, tetapi dua malam!

138

Di sana kami mengenal Bapak Simalam, penjaga Pos RTC Senaru yang berbaik hati. Beliau memberi kami tempat untuk istirahat, memberi makan, kopi, rokok, dan mengajak wisata gratis ke air terjun Sindang Gila dan Tiu Kelep. Kami juga diajak singgah ke rumah sederhana nan ramah milik keluarganya di desa Senaru. Sikap humoris yang beliau tunjukkan membuat kami cepat merasa nyaman dengan beliau. (baca selengkapnya di sini)

Pulang ke Surabaya (14 Juni 2013)

IMGP3965

Sekitar pukul 10:03 WITA saya, Lintang dan Paijo (sementara Bakhtiar malam harinya sudah meninggalkan RTC Senaru karena tergiur ikut berwisata ke Gili Trawangan dengan kawan Undip Semarang) berpamitan untuk pulang ke Surabaya. Dari RTC Senaru kami harus naik ojek untuk sampai ke Bayan (ongkos ojek Rp 20.000). Dari Bayan kami naik angkutan L300 menuju terminal Mataram dengan ongkos Rp 30.000.

IMGP3708

Sampai di terminal Mataram sekitar pukul 13:45 WITA. Sebelum lanjut ke Pelabuhan Lembar, kami bertiga menyempatkan diri untuk mengisi perut di warung pinggir jalan. Di terminal ini kami berdua berpisah dengan Paijo yang akan menuju Mataram kota. Tepat pukul 14:50 WITA kami berdua berangkat dengan angkutan umum menuju Pelabuhan Lembar dengan ongkos Rp 15.000.

Sekitar pukul 15:06 WITA kami berdua sampai di Pelabuhan Lembar. Setelah membeli tiket kapal Rp 36.000 kami memasuki kapal dan siap berlayar menuju pelabuhan Padang Bai, Bali. Sekitar pukul 20:16 WITA kapal bersandar di pelabuhan Padang Bai. Kami tidak langsung menuju Terminal Ubung, tapi kami sempatkan makan nasi goreng terlebih dulu sebelum melakukan perjalanan panjang.

139

Setelah selesai makan dan tawar-menawar ongkos angkutan umum menuju Terminal Ubung, tepat pukul 21:22 WITA kami meluncur. Awalnya sopir minta Rp 50.000, tapi setelah kami pasang wajah memelas dan tahu kami pendaki, sang sopir yang berbadan tegap bertato akhirnya luluh dan memberi kami harga Rp 30.000 (penumpang lainnya tetap Rp 50.000).

Sekitar pukul 22:38 WITA kami sampai di terminal Ubung. Sampai di sana kami langsung membeli tiket Bus AC Rp 50.000 menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Sekitar pukul 23:00 WITA kami berangkat dari Ubung menuju Ketapang. Sampai di Ketapang jam tangan sudah menunjukkan pukul 03:25 WIB. Kami tidak buang-buang waktu lagi dan langsung nangkring di kursi bus Akas menuju Jember (Rp 30.000).

IMGP3661

Di terminal Jember kami berpindah bus. Setelah sarapan ala kadarnya di bus yang baru kami naiki itu, kami langsung bergerak menuju Surabaya dengan ongkos Rp 28.000. Apes. Di daerah Lumajang terjadi kecelakaan sehingga perjalanan semakin lama, sampai-sampai sopir harus ngebut untuk mengejar jam setoran. Dan akhirnya pukul 14:33 WIB kami sampai di Terminal Purabaya, Sidoarjo. Di sini saya dan Lintang berpisah. Lintang langsung menuju kos-nya di Madura, sementara saya menuju Wonocolo. Oke…. sampai jumpa di pendakian selanjutnya…!!!

Nature

6

12

13

18

27

30

32

51

68

64

61

65

–***–


About this entry