Menziarahi Mereka yang Beristirahat dalam Dekapan Semeru

IMGP2766

“Ukuran kesuksesan dalam mendaki gunung bukanlah ketika berhasil mencapai puncak, tetapi ketika berhasil kembali ke rumah dalam keadaan selamat.”

Penggalan kalimat di atas sudah menjai pegangan para pendaki untuk selalu berhati-hati dalam setiap pendakian yang mereka lakukan. Bagi para pendaki yang melakukan pendakian ke gunung Semeru, mereka tidak hanya disuguhi keindahan panorama danau Ranu Kumbolo, hamparan Oro-oro Ombo, atau puncak Mahameru. Tapi mereka juga akan mendapati prasasti-prasasti mereka yang beristirahat dalam dekapan Semeru.

Di tepi danau Ranu Kumbolo terdapat beberapa prasasti, setidaknya tiga prasasti dari keramik. Satu prasasti berukuran lebih besar dari dua prasasti lainnya. Prasasti itu berada lebih dekat dengan danau, dibatasi dengan pagar besi, dan sempat saya lihat terdapat semacam sesajen di sampingnya. Dua prasasti lainnya berada agak jauh dari danau. Satu prasasti keramik berwarna hitam berukuran 2×60 centimeter, satu prasasti lainnya berada tidak jauh dari situ berwarna putih.

Salah satu penanda yang berada di Ranu Kumbolo tertulis:

 “Dalam kenangan saudara kami Andika Listyono Putra,

jejakmu tertinggal di sini,

senyummu kubawa pergi”.

Juli 2009

Andika menjadi korban ganasnya alam Semeru pada Juli 2009 lalu. Sebelumnya, pada 2000 juga tercatat ada dua pendaki yang meninggal dunia. Pada 2001 satu pendaki hilang, serta pada 2005 satu orang pendaki meninggal dunia.

Tidak sedikit pendaki yang menyempatkan diri menziarahi mereka yang telah beristirahat dengan tenang dan menyatu dengan Semeru. Mereka menyempatkan diri untuk mendoakan mereka atau sebagai refleksi diri untuk selalu berhati-hati dalam pendakian. Ukuran kesuksesan dalam mendaki gunung bukanlah ketika berhasil mencapai puncak, tapi ketika berhasil kembali ke rumah. Karena selain sampah, nyawa juga tidak boleh ditinggalkan di gunung.

Ada banyak penyebab pendaki menjadi korban Semeru, terutama faktor alam dan kondisi pendaki. Menurut Kepala Resor Ranu Pane, Cahyo, rata-rata para pendaki yang meninggal karena terjatuh atau tersesat ketika mereka turun dari puncak. Foktor lelah membuat konsentrasi berkurang sedang jalur yang dilalui sangat curam. (okezone.com, 16 Juni 2013)

Menurut data di Pos Ranu Pane, sejak tahun 1996 – di mana Soe Hok Gie dan Idan Lubis meninggal dunia di puncak karena menghirup gas beracun – tercatat ada 28 pendaki yang meninggal dunia (3 orang tidak ditemukan/meninggal), serta ada 25 pendaki lainnya yang mengalami luka-luka/selamat. Data ini belum termasuk pendaki asal Gresik pada 6 Juni 2013 lalu yang terkena serangan jantung di Pos 1.

Selain di Ranu Kumbolo, prasasti untuk mengenang mereka yang telah menyatu dengan Semeru banyak terdapat di Arcopodo, Kelik, dan batas vegetasi menuju puncak Mahameru. Bahkan, dulu prasati untuk mengormati tokoh pergerakan mahasiswa dan pencetus MAPALA FIB UI, Soe Hok-Gie dan Idhan Lubis yang meninggal tanggal 16 Desember 1969 ditempatkan di pos Arcopodo sebelum dipindahkan ke puncak Mahameru tahun 2002.

“Soe dan Idhan sungguh sudah tiada, di tanah tertinggi di Pulau Jawa. Mereka jumpai jasad kedua tersebut sudah kaku. Semalam suntuk mereka lelap berkasur pasir dan batu kecil G. Semeru. Badannya yang dingin, sudah semalaman rebah berselimut kabut malam dan halimun pagi. Mata Soe dan Idhan terkatup kencang serapat katupan bibir birunya. Mereka semua diam dan sedih.”

Dikutip dari buku :
Soe Hok-Gie: Sekali Lagi (2009)

Beruntung bagi saya masih sempat menziarahi mereka yang telah menyatu dengan Semeru, terutama prasasti Soe Hok-Gie dan Idhan Lubis di puncak Mahameru. Saya memulai pendakian tanggal 18 Oktober 2012 dari pos Ranu Pane dan sampai di puncak Mahameru tanggal 20 Oktober 2012. Di puncak tertinggi Pulau Jawa inilah tubuh Gie dan Idhan membujur kaku beralas pasir, berselimut dingin, peratapkan langit; pergi menuju keabadian.

Foto0492

IN MEMORIAM SOE HOK GIE & IDHAN LUBIS

Puncak MAHAMERU

MAHAMERU
Yang mencintai udara jernih
Yang mencintai terbang burung-burung
Yang mencintai keleluasaan & kebebasan
Yang mencintai bumi

Mereka mendaki ke puncak gunung-gunung
Mereka tengadah & berkata, kesana-lah Soe Hok Gie & Idhan Lubis pergi
Kembali ke pangkuan bintang-bintang

Sementara bunga-bunga negeri ini tersebar sekali lagi
Sementara saputangan menahan tangis
Sementara Desember menabur gerimis

24 Desember 1969
Sanento Yuliman

Sebelum menikmati keindahan alam dari puncak Mahameru, saya sempatkan sejenak mengirim seuntai doa untuk mereka yang abadi di puncak tertinggi; menyatu dengan Semeru.

DSC02401 Memasuki bulan Desember 2012, saat keinginan untuk kembali menjejakkan kaki di pasir tertinggi di Pulau Jawa membuncah, tersiar kabar bahwa pihak Badan Taman Nasional Gunung Bromo Tengger Semeru akan melakukan pembersihan segala atribut yang tidak perlu di puncak Mahameru untuk kepentingan pelestarian. Tanggal 20 Desember 2012 saya melakukan pendakian lagi ke gunung Semeru untuk kedua kalinya. Saat mencapai puncak tanggal 21 Desember 2012, saya tak lagi menemukan prasasti Gie dan Idhan Lubis dan hanya mendapati lubang pasir bekas galian. Demi kelestarian Mahameru, benda yang boleh ada di puncak hanya berupa plakat bertuliskan MAHAMERU 3676 MDPL dan bendera Merah Putih yang terus berkibar di puncak tertinggi.

“Aku tidak pernah berniat menaklukan gunung!

Mendaki gunung hanyalah bagian kecil dari pengabdian…

… pengabdianku kepada Yang Maha Kuasa!”

Idhan Lubis, 10 Maret 1969


About this entry