FRAGMEN 1: Earphone

fragmen 1

Aku adalah kenangan yang ditinggalkan di bilik sunyi. Di sana hanya ada aku dan puing-puing kenangan yang sengaja dibuang di antara sisa-sisa kertas lusuh dan rongsokan yang acuh. Kudapati diriku yang membisu, seperti instrumen yang ditinggalkan melodi; diam, kaku, dan tak berguna.

Tempatku ada di keranjang rongsokan atau paling siksa di tong sampah. Namun, lamat-lamat, dari batang-batang persendianku, dari celah-celah lubang skrup yang tanggal, dari lengkung serupa bianglala, terdengar bisik, “Kau tak perlu bersuara untuk menunjukkan keindahanmu.”

Aku terkesiap – sebuah sabda alam kiranya – hanya tertegun dalam detik, diam dalam keheran dalam menit. Bukankah takdirku adalah alat untuk mendengar keindahan melodi-melodi individualistis? Jika dengan aku masih ada yang sanggup mendengar bukankah aku telah menyalahi takdirku? Atau jika aku tak lagi berguna atau telah ditinggalkan dalam keadaan rusak bukankah takdirku sudah berakhir? Dan aku pun hanya menjadi seonggok benda dungu yang bertanya-tanya dalam kebisuanku.

Mungkin aku putus asa dan menjadi tak berguna. Mungkin juga tidak. Bukankah setiap hal bersandar pada mungkin? Ya, karena kepastian adalah muskil. Nyatanya, dengan tangannya yang lembut seorang gadis (izinkan kunamai ia ‘Melody) memungutku. Ia seperti tak peduli aku barang rusak atau masih berfungsi.

Suatu waktu, di pagi yang cerah, ia duduk di bangku sebuah taman. Ia tampak sangat menikmati melodi-melodi yang keluar dari kedua tanganku yang membekap telinganya. Ia juga tidak merasa terusik dengan kedatangan seorang laki-laki (izinkan kunamai dia ‘Langit’) yang kemudian duduk di sampingnya; sedikit agak jauh. Pada sebuah detik, wajah mereka saling menoleh. Mata mereka bertaut yang kemudian melahirkan senyum.

Langit terus memperhatikan Melody yang tetap asik dengan earphone-nya. Menyadari ada yang memperhatikan, Melody langsung menawarkan benda itu kepada Langit. Laki-laki asing itu menerimaya dengan senyum. Namun, yang terjadi kemudian, Langit tampak heran karena menyadari tak ada suara apapun yang keluar dari benda tersebut.

Langit menatap heran pada Melody, tapi gadis yang sejak lahir sudah tidak bisa mendengar dan tidak bisa berbicara itu hanya tersenyum manis dengan menunjukkan sebuah gerakan tangan (sebagaimana biasa ia berkomunikasi dalam kesehariannya). Langit mengerti, “Ya. Keindahan sejati hanya bisa datang dari hati.”

-di batas kota ini, tanpa tanggal, tanpa bulan, dan tanpa tahun-


About this entry