Fragmen 2: Jangan Kirimi Aku Rindu

fragmen 2

Aku selalu melihat rumah. Seakan-akan rumah itu terapung, melambai-lambai memintaku untuk lekas kembali pulang. Di kaki langit. Seakan-akan aku selalu melihat sebuah rumah. Di batas pandangan mata. Saat matahari mulai terbit, aku akan melihat rumah itu tampak cerah dan berbinar oleh kilauan embun. Dan ketika hari mulai senja, aku akan melihat rumah itu merona jingga di batas mega. Aku seperti melihat kepulangan.

Kapan kau akan pulang?

Pertanyaan itu memenuhi otakku. Menyusup di antara tidur gelisahku. Menyelinap di bawah bantal hingga membuat tidurku tak lagi nyenyak. Rasanya aku ingin membuang jauh-jauh pertanyaan tentang itu. Kapan aku akan pulang? Aku juga tak tahu.

Jangan terlalu lama terpenjara pada masa lalu. Kau musti melihat perempuan yang menunggu di seberang pulau. Itu juga kalau kau masih punya hati.

Punya hati? Kau datang begitu saja di hadapanku lalu dengan sesuka hatimu menanyakan apakah aku masih punya hati atau tidak. Dan itu., masa lalu, untuk apa kau tanyakan itu. Aku sudah membuangnya jauh-jauh.

Lalu mengapa sampai saat ini kau belum pulang juga?

Aku belum bisa pulang. Berada di sini aku seperti mendapat kehidupan baru, kawan-kawan baru, dan terlebih aku seperti menemukan hidup baru. Lagi pula, aku masih ingin berada di antara orang-orang asing. Kadang, orang asing bisa lebih bersahabat.

Kau ingin lari dari kenyataan?

Jangan bodoh. Tak ada seorang pun yang bisa lari dari kenyataan. Setiap orang hidup dalam kenyataannya masing-masing. Begitu juga aku. Ketika kau diam-diam menaruh hati padaku itu juga kenyataan. Dan kenyataan pula kalau aku belum bisa berbagi hati denganmu. Saat ini kehadiranmu mungkin hanya akan menjadi angin lalu di sisa badai. Namun, kau rupanya sejenis perempuan yang keras kepala. Atau lebih tepatnya tak mudah menyerah.

Kau berlagak tak butuh siapa-siapa. Padahal aku melihat kesendirian di matamu.

Kau mungkin benar. Tapi satu hal yang perlu kau tahu, sejak mula aku memang sudah berkarib dengan kesendirian.

Di atas lekuk ombak aku melihat camar berputar-putar, menukik, lalu kembali naik menantang langit. Kau dan aku, saling terdiam. Secangkir teh manis di hadapanmu kau acuhkan. Di pelabuhan itu seperti ada ombak yang membisu di matamu; berbuih. Wajahmu tertunduk menanti keberangkatan yang sebentar tiba.

Benar kau tidak ikut pulang bersamaku?

Tidak.

Baiklah. Tapi aku cuma ingin mengingatkanmu bahwa ada aku yang menunggu, di seberang pulau.

Ya. Dan aku juga memintamu satu hal. Tolong jangan kirimi aku rindu.

Setelah percakapan di sore itu, kau pun bergegas berjalan menuju kapal. Ada sedikit keinginan untuk menahanmu pergi. Tapi aku belum bisa memberimu harapan, jadi aku biarkan saja kau pergi.

Perlahan kapal menjauh dari pelabuhan. Ia bergerak pelan meninggalkan deru. Semakin jauh dan menjauh. Lalu ia seperti memasuki pintu rumah di kaki langit dan lenyap dari pandanganku.

-di batas kota ini, tanpa tanggal, tanpa bulan, dan tanpa tahun-


About this entry