Fragmen 3: Sepucuk Sayap Kelabu

fragmen 3

Jangan menangis, Dik!/Sebelum kapal bersauh/di pulau-pulau jauh/sepucuk sayapku yang kelabu/akan bangkit mengepak kepadamu//

(“Dik”, karya Raudal Tanjung Banua, 1997 – 1998)

Ketika mega mendadak pucat, dari pokok-pokok bakau ribuan peri menjinjit bingkisan nyala warna jingga. Bertebaran. Berbinar-binar. Mereka mengingatkanku pada pesta lampion di china town bertahun yang lalu. Namun, dayung harus terus dikayuh, layar harus terus terkembang. Keberangkatan ini semakin mendekatkanku padamu.

-di batas kota ini, tanpa tanggal, tanpa bulan, dan tanpa tahun-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s