Fragmen 4: Secangkir Cappucino

1

(Ilustrasi: deviantart.com)

Sudah hampir tumpas kesabaranku menunggumu. Aku menggerutu. Di meja ini aku masih saja iseng sendiri. Aku terus mencari kesibukan dengan memencet-mencet layar hapeku, meskipun aku tak sedang ingin mengirim pesan atau menelpon seseorang. Aku hanya ingin terlihat sibuk. Di sudut lain, seorang laki-laki terus saja mengamatiku. Dia terus menggangguku. Dia pelayan kafe. Wajar dia terus mengamatiku. Sudah hampir satu jam aku duduk di sini dan belum memesan apa-apa. Aku tak akan pesan sebelum kau datang seperti janjimu.

Di luar hujan turun cukup deras. Kaca kafe menjadi berembun dan buram. Pemandangan di luar kafe yang biasanya bisa terlihat dengan jelas kini menjadi samar; hanya terlihat seperti bayangan lalu-lalang di balik jendela. Aku selalu berharap satu dari bayangan-bayangan itu adalah kau. Tapi, sudah sampai hampir satu jam kau tak juga menampakkan senyummu yang tak pernah bisa aku lupa.

Kalau saja. Ya, kalau saja kemarin kau tak memintaku untuk datang, mungkin aku tak akan berada di sini seorang diri. Tapi apalah dayaku menolak permintaanmu kala itu. Tiba-tiba saja kau muncul dengan senyummu itu di sebuah halte saat mendung mulai risau. Kau memintaku untuk datang. Ya, bagaimana aku bisa menolakmu. Kata-katamu selalu bisa meyakinkanku. Rona wajahmu pun penuh harap.

Sudah satu jam lebih dan kau tak juga datang. Aku mulai kesal. Apalagi pelayan kafe itu mulai menggangguku lagi. Setelah yang pertama gagal, dia kembali menawarkan daftar menu kepadaku. Aku tak tertarik. Tapi lelaki berdasi kupu-kupu itu kemudian berlagak membantuku memilih minuman atau makanan dengan menyebutnya satu per satu. Meskipun aku kesal didikte seperti itu toh akhirnya aku memesan juga.

“Cappucino panas.”

“Baik mbak. Mungkin ada yang mau dipesan lagi?”

“Sudah cukup.”

Pelayan itu pergi setelah mengambil daftar menu di hadapanku. Tidak lama kemudian pelayan itu sudah datang kembali dengan nampan berisi secangkir cappucino. Ia meletakkannya di hadapanku dan langsung pergi meninggalkan punggung untuk mataku yang masih terus mengamatinya sampai menuju meja kasir. Saat berbalik dan menyadari aku memperhatikannya, ia tersenyum. Aku rasa dia berniat menggodaku. Ah, ingin rasanya kukeluarkan pistol dari dalam tas dan melubangi keningnya. Tapi sayang aku tak punya pistol. Lagi pula aku tak ingin membunuhnya. Aku hanya kesal.

Belum sempat kuteguk cappucino di hadapanku, handphone di tasku berbunyi. Ada satu pesan masuk. “Maaf sayang, sebentar lagi sampai”. Tak ada sedikit pun keinginan untuk membalasnya setelah membaca pesanmu. Bukankah lebih baik kau segera menemuiku daripada membuang-buang waktu untuk menulis pesan seperti itu. Aku semakin kesal. Kuminum cappucino yang masih mengeluarkan uap panas. Seketika ruangan menjadi sedikit hangat. Hatiku mulai tenang.

Tak lama kemudian aku melihatmu di balik pintu kafe, sedang merapikan rambut. Sebentar kau melihat ke setiap sudut kafe untuk menemukan keberadaanku. Kau pun tersenyum setelah berhasil menemukanku di sudut kafe dekat jendela. Ah, senyummu itu yang selalu bisa meredam amarahku.

“Maaf sayang, di luar hujan. Jalanan macet,” katamu sambil menarik kursi mendekat ke tempat dudukku.

Melihat ada yang datang, laki-laki berdasi kupu-kupu tadi bergegas datang dan memberikan daftar menu. Kau menolak menerima daftar menu dan hanya memesan satu cappucino panas.

“Sudah satu jam lebih aku menunggu.”

“Aku tahu. Aku minta maaf.”

“Apa yang ingin kau bicarakan. Aku sudah bosan di sini.”

“Jadi begini…”

Percakapan kami membuat suasana cafe menjadi semakin hangat. Namun, pada saat tertentu suasana ini menjadi sedikit janggal bagiku. Saat gelak tawa kami mulai pecah justru lagu yang mulai mengalun adalah lagu Pedih-nya Last Child. Atau ketika ada risau yang sejenak menggelayuti pikiranku lagu yang mengalun justru Tak Gendong-nya Mbah Surip. Hm. Biar bagaimana pun, hatiku adalah hati perempuan yang begitu pandai menyimpan rahasia, bahkan kepada cermin aku enggan berbagi. Biarlah percakapan kami hanya kami yang tahu. Dan aku yakin bisa menjaganya baik-baik, karena aku adalah perempuan.

Secangkir cappucino milikku hampir habis, begitu juga milikmu. Jam dinding juga sudah mengingatkan kafe akan segera tutut, tapi hujan belum juga redah. Namun, kami harus segera pergi. Pertemuan dan perpisahan hanyalah soal pergantian waktu dan kita tidak pernah benar-benar berpisah. Kita masih berputar di dunia yang sama, di orbit yang tidak pernah berbeda. Kami bergegas keluar kafe saat lagu Menerobos Gelap-nya Padi masih mengalun pelan.

 -di batas kota ini, tanpa tanggal, tanpa bulan, dan tanpa tahun-


About this entry