Fragmen 5: Bukit Bercinta

1

(Ilustrasi: “Red Leaves on the Mountain” by Jimmy Quek, 2008) 

Angin menyeringai dalam balutan kabut yang menjadi dingin. Bukit bercinta. Di antara kabut yang membalut, dalam igau yang hanyut dalam duka, ia terjaga dalam setiap lamun yang menenggelamkan. Suara rintih, senyum, tangis, dan tawa menempa hati lewat gesekan dawai bermata nada. Angin menyeringai dalam lembut yang merenggut.

Seperti seorang pendosa menekuri altar dalam sisa pertobatan, ia menekuri nisan usang seperti seorang hamba menghadap tuhannya. Ia mengenal kekasihnya dalam rintik yang rinai. Perkenalan singkat yang ia tautkan berubah menjadi sebuah perasaan yang entah datang dari mana.

“Maukah kau pergi bersamaku?”

“Kemana?”

“Bukit.”

Kekasihnya menyanggupi. Lalu ia tuntun kekasihnya berjalan menuju bukit melewati padang ilalang dan liku-liku pematang pada sebuah pagi yang ranum. Saat ia dan kekasihnya sampai di bukit, sore yang jingga menampakkan wajahnya seperti gadis tersipu malu. Ia duduk bersanding dengan kekasihnya.

“Kau suka musik?”

Kekasihnya tersenyum. Ia kemudian membuka tas dan mengeluarkan sebuah biola klasik. Ia tersenyum. Kekasihnya tersenyum. Lalu dengan sedikit mengedipkan mata, ia memberi isyarat agar kekasihnya mau mendengarkan dengan seksama musik yang akan ia mainkan. Sejurus kemudian lantunan lagu sendu menyeruak bersama tiupan angin senja yang berubah menjadi dingin.

Ia dan kekasihnya telah bersatu menjadi sepasang kekasih yang direstui alam. Sebuah pernikahan kemudian semakin mempererat tali kasih antara ia dan kekasihnya.

“Kau bahagia?”

“Aku bahagia.”

“Maukah kau pergi bersamaku?”

“Aku mau.”

“Kenapa kau begitu yakin? Bahkan kau belum tahu kemana aku akan mengajakmu.”

“Aku tahu.”

“Kemana?”

“Apa masih perlu aku jawab?”

Kekasihnya tersenyum. Ia pun tersenyum. Lalu ia gandeng tangan kekasihnya menyusuri padang ilalang. Mekar bebunga. Liar angin menerpa sepasang kupu-kupu yang terbang sedikit gontai. Ia terus berjalan menggandeng kekasihnya menuju bukit berkabut. Ia dan kekasihnya rebah di rerumputan. Pada sebuah jeda, ia dan kekasihnya saling memandang. Lama sekali.

“Aku ingin mencari takdir di matamu.”

“Kaulah takdirku.”

Itu bertahun yang lalu. Kini waktu telah menguras habis tenaganya dan juga mencuri kekasihnya dari sisinya. Namun, ia terus saja menaiki bukit untuk sebuah janji. Ia tunaikan janji untuk selalu memainkan nada biola di depan pusara kekasihnya. Di depan pusara itu, entah sudah berapa kali, ia terus memainkan lagu kenangan itu. Di bukit yang sama, di senja yang mungkin juga masih sama.

Seperti seorang pendosa menekuri altar dalam sisa pertobatan. Ia menekuri nisan usang di hadapannya seperti seorang hamba menghadap tuhannya. Ia kirimkan doa bersama untaian melodi cinta dari biola yang ia dekap. Ia akan berlama-lama di situ hingga malam menjemputnya pulang. Saat itulah ia harus berpisah di bukit bercinta.

-di batas kota ini, tanpa tanggal, tanpa bulan, dan tanpa tahun-


About this entry