Fragmen 7: Alisa

1

(Ilustrasi: Pascale Pratte)

Alisa mulai terisak. Dia merasa tak pantas untuk kembali kepada kenangannya. Dia tak tahu bagaimana cara membunuh ingatannya yang begitu dalam mendera. Angin malam membelai lembut pipi Alisa yang merona. Dalam sengau hidungnya oleh kelenjar air yang mulai tak bisa ditahan lagi, Alisa mencoba untuk mengatakan suatu penghabisan di malam yang beranjak pagi, di sebuah bingkai jendela dan langit yang semakin muram.

“Hai kenangan, perkenalkan namaku Alisa.”

Alisa terisak. Sayup-sayup terdengar lagu dari piringan CD yang sejak tadi diputar terus mengalun lembut. Seperti mengiris-iris dadanya.

Like a flower waiting to bloom

Like a lightbulb in a dark room

I’m just sitting here waiting for you

To come home and turn me on…[1]

Alisa menatap awan hitam dan bulan yang menggantung di langit dari ketinggian kamar hotel. Ia telah memantapkan diri. Ia ingin menemukan jalan pkembali. Ia telah memilih jendela kamarnya yang terbuka dan bulan yang muram sebagai jalan untuk pulang. Alisa telah menetapkan hati pada satu pilihan; pulang ke pelukan malam.

-di batas kota ini, tanpa tanggal, tanpa bulan, dan tanpa tahun-


[1] Lagu dari Norah Jones, “Turn Me On”


About this entry