Wiji Thukul Melesat Bagai Peluru

1

Sastra dan Perjuangan: Refleksi 68 Tahun Indonesia Merdeka

“Kalau hidupmu tidak mudah, keras, penuh tekanan, kejam dan hampir-hampir kau tak tahu harus berbuat bagaimana, maka menulislah puisi.”

“Kalau hidupmu terjepit, kau dikejar-kejar, kau bersembunyi, kau berganti kaos, celana, sandal bahkan nama, sampai-sampai kau nyaris alpa dirimu sendiri, maka menulislah puisi.”

“Puisi apa yang kau tulis?Apa pun itu, puisi akan melembutkan pikiranmu, setidaknya jemarimu sendiri.”

Memasuki bulan Agustus semarak kemerdekaan begitu saja menyita perhatian setiap lapisan masyarakat di Indonesia. Tentu saja bulan Agustus sangat istimewa di negara kepulauan ini, karena 68 tahun lalu Ir. Soekarno memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, tepat tanggal 17 di bulan Agustus tahun 1945.

Seakan larut dalam euforia kemerdekaan, mulai dari lapisan masyarakat terbawa sampai dengan atas, lebih-lebih di masyarakat kalangan bawah-menengah yang sibuk mempercantik kampung dengan berbagai macam atribut merah-putih dan menyusun serangkaian acara. Stasiun televisi pun gencar menyajikan program acara kemerdekaan dan juga menyiarkan secara Live upacara kemerdekaan langsung dari ibu kota Jakarta tepat tanggal 17 Agustus.

Saya yang juga ikut larut dalam acara-acara di televisi tanggal 17 Agustus tersebut sejenak merasa terganggu nada dering hanphone yang menandakan pesan masuk. Ternyata pesan broadcaste HUT RI 68. Dengan agak malas saya mulai membaca pesan tersebut, bunyinya: “MERDEKA! DIRGAHAYU INDONESIA 68. JAYALAH BANGSAKU SEJAHTERALAH NEGERIKU. Dengar teks proklamasi …. (dengan mencantumkan link) (tarif data berlaku) KOMINFO-PAREKRAF.

Setelah membaca pesan itu entah angin apa yang kemudian membuat menjadi begitu tertarik dengan kata “Merdeka!” yang sebenarnya sudah terdengar jauh-jauh hari. Tapi pesan itu begitu saja mengingatkan aku pada sosok Wiji Thukul yang sering memekikkan kata-kata “Merdeka!” dalam puisi-puisinya. Apalagi pada malam sebelumnya (tanggal 16 Agustus), diputar ulang biografi singkat Wiji Thukul di sebuah stasiun televisi swasta yang mendorong saya untuk mencoba mengingatnya kembali lewat tulisan ini.

Saat ini kita bisa dengan lantang teriak Merdeka! Tapi, Thukul adalah anak bangsa yang hidup di zaman Orde Baru dimana meneriakkan “Merdeka!” sama artinya dengan meneriakkan kata “lawan!”. Dia adalah anak bangsa yang dilenyapkan karena benar-benar ingin merdeka dalam arti yang sebenarnya. Tapi kini benarkah Indonesia sudah benar-benar merdeka? Bukankah bangsa yang merdeka tak punya waktu untuk memperdebatkan arti kemerdekaan?

Meneriakkan merdeka mengingatkanku padanya, sebutir peluru yang melesat dan tak pernah diketahui menancap pada belahan bumi yang mana. Meski begitu, ia akan tetap hidup dan selalu dikenang sebagai anak bangsa yang ingin benar-benar merdeka.

Mengenal Sosok Wiji Thukul

Wiji Thukul lahir di kampung Sorogenen, Solo, pada tanggal 24 Agustus 1963 dengan nama asli Wiji Widodo. Ia dibesarkan di lingkuangan keluarga tukang becak beragama katolik dan sempat mengenyam pendidikan SD, SMP dan Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) jurusan tari, namun hanya sampai kelas dua karena dia memutuskan keluar pada tahun 1980.

Dia putus sekolah karena kesulitan ekonomi yang membelit keluarganya. Hal itu diperparah dengan kemajuan transportasi dimana bis-bis mulai banyak beroperasi di jalan-jalan sehingga penghasilan orang tua Thukul sebagai tukang becak semakin seret. Untuk membiayai hidup, dia bekerja apa saja mulai dari menjadi tukang koran, tukang pelitur mebel, sampai buruh harian. Selain itu dia juga mengamen dengan membacakan puisi yang diiringi musik gamelan.

Dia memiliki istri bernama Sipon yang bekerja sebagai tukang jahit. Bersama istrinya dia dikaruniai dua anak perempuan dan laki-laki yang dia beri nama Fitri Nganti Wani dan Fajar Merah. Dia juga bekerja membantu istrinya dengan menerima pesanan sablon kaos, tas, dan lain-lain.

Bersama istri dan kedua anaknya, Thukul tinggal di Kalangan. Menurut penuturan Linda Christanty (kawan dekat Thukul yang pernah berkunjung ke rumahnya), daerah tempat tinggalnya adalah daerah kumuh di tengah kota Solo yang dihuni para buruh pabrik, tukang becak, kuli rendahan, dan orang-orang yang paling tak diperhitungkan pendapatnya dalam sebuah pemerintahan otoriter. Dengan kaos oblong, pria kurus cadel itu menerima kawannya itu di rumah kontrakan dan menyuguhkan singkong rebus pada tamunya itu.

Kehidupannya miskin. Rumah itu berlantai tanah. Di ruang muka membentang sehelai plastik biru bahan tenda pedagang kaki lima yang berfungsi sebagai alas duduk. Sebuah mesin jahit berada di tengah ruangan tersebut, alat pencari nafkah istri Thukul. Kamar mandi berbau tak sedap terletak di luar, tanpa kran air ledeng.

Tapi, Thukul punya sebuah ruang istimewa; perpustakaan. Ini satu-satunya kemewahan yang dimiliki keluarga kecil ini. Di sana ada buku Antonio Gramsci, Bertolt Brecht, Raymond Williams, Marx, kebanyakan buku berbahasa Inggris.

Persentuhan Thukul dengan Sastra dan Politik

Wiji Thukul sudah mulai menulis puisi sejak masih duduk di bangku SD. Sembari bermain teater Thukul terus menulis puisi sampai namanya menjadi dikenal secara luas. Dalam menulis puisi, Thukul memiliki prinsip tersendiri. Bagi dia puisi adalah media yang mampu menyampaikan permasalahan orang-orang kecil yang ditindas seperti dirinya, yang kemudian bisa mewakili kaum tertindas secara keseluruhan. Dia sering ikut ambil bagian dalam pembacaan puisi, di antaranya di Monumen Pers Surakarta, Pusat Kesenian Jawa Tengah, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Yayasan Hatta di Yogyakarta serta radio PTPN.

Sajak-sajaknya secara teratur muncul di berbagai majalah dan surat kabar. Pada tahun 1984 kumpulan sajaknya berjudul Puisi Pelo diterbitkan dalam bentuk stensilan oleh Taman Budaya Surakarta. Karya stensilan berikutnya Darman dan lain-lain telah pula diterbitkan. Sajak-sajaknya pun muncul dalam Antalogi 4 Penyair Solo. Kumpulan terbaru Thukul berjudul Suara dia produksi sendiri bulan Juli 1987 dalam bentuk fotokopi yang dikomentarinya : “Aku sedang belajar untuk tidak tergantung pada lembaga-lembaga kesenian resmi.”

Secara keseluruhan karya-karya Wiji Thukul telah dihimpun dalam sebuah buku yang diberi judul Aku Ingin Jadi Peluru (Penerbit Indonesia Tera, 2000) di Magelang. Buku tersebut berisi 136 puisi yang dibagi atas lima buku kumpulan puisi, yaitu Lingkungan Kita Si Mulut Besar (46 puisi), Ketika Rakyat Pergi (17 puisi), Darman dan Lain-lain (16 puisi), Puisi Pelo (29 puisi), dan Baju Loak Sobek Pundaknya (28 puisi). Dalam catatan penerbit, buku terakhir ini adalah kumpulan puisi-puisi yang ditulis Wiji Thukul dalam masa pelarian.

Puisi-puisi tersebut dikumpulkan oleh Penerbit Indonesia Tera dari puisi-puisi Thukul yang tersebar baik berupa manuskrip atau terbitan. Dari Taman Budaya Surakarta, diperoleh dua buah manuskrip, yakni “Darman dan Lain-lain”, dan “Puisi Pelo”. Kumpulan terakhir “Baju Loak Sobek Pundaknya” diperoleh dari Jaap Erkelens (Perwakilan Koninklijk Instituut Voor Taal, Land en Volkenkunde [KITLV] di Indonesia). Sisanya diperoleh dari Mbak Sipon (istri Wiji Thukul). Terbitnya buku ini sangat memudahkan kita menelusuri karya-karya Wiji Thukul.

Prestasi tertinggi Thukul di bidang sastra adalah ketika menerima penghargaan WERTHEIM ENCOURAGE AWARD (1991) dari Wertheim Stichting di Negeri Belanda bersama WS Rendra. Pada tahun 2002 dia diganjar dengan penghargaan Yap Thiam Hien Award 2002. Dewan Juri Yap Thiam Hien Award 2002 terdiri dari Prof Dr Soetandyo Wignjosoebroto, Prof Dr Azyumardi Azra, Dr Harkristuti Harkrisnowo, HS Dillon, dan Asmara Nababan, pada 27 November 2002, memutuskan secara bulat Thukul sebagai penerima Yap Thiam Hien Award ke-10, menyisihkan Sembilan puluhan peserta dan dua nominator.

Dalam keterangan pers, Selasa 10/12/02, alas an dewan juri memilihnya adalah karena Thukul dianggap sebagai seorang reminder dan representasi orang yang tidak mengerti HAM secara teoretis, tetapi aktif dalam memperjuangkannya.

Dunia teater mulai diguluti Thukul ketika berada di SMP. Dia juga bergabung dalam kelompok teater JAGAT (Jagalan Tengah). Bersama kelompok ini dia pernah keluar masuk kampung ngamen puisi dengan iringan berbagai instrumen musik: rebana, gong, suling, kentongan, gitar, dan sebagainya.

Meskipun kehidupannya sulit, di kampungnya Kalangan, dia tetap aktif mengajar anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya untuk menggambar, mengarang, membaca, dan belajar teater di sebuah sanggar yang diberi nama Sanggar Suka Banjir. Bahkan, suatu hari sanggar ini mementaskan lakon tentang banjir dan di akhir pertunjukannya pemain serta penonton beramai-ramai mengunjungi rumah lurah untuk mengadukan tanggul yang jebol. Melalui permainan, Thukul menanamkan rasa percaya diri pada anak-anak kampung agar tak gentar menyatakan kebenaran.

Selain anak-anak, Thukul juga melatih buruh-buruh pabrik bermain teater dengan konsep yang berkiblat pada konsep teater buruh di Afrika Selatan. Mereka memerankan lapisan sosial mulai pengusaha, satpam, mandor, supervisor, dan diri mereka sendiri sebagai buruh. Lewat teater tersebut Thukul mencoba membangkitkan rasa percaya diri para buruh untuk tidak gentar berhadapan dengan pemegang modal.

Belum cukup dengan hanya menulis puisi dan aktif di dunia teater, Thukul juga dikenal sebagai aktivis dan ikut dalam organisasi-organisasi bentukan partai politik. Dia bergabung dalam Jaringan Kesenian Rakyat (Jaker) yang merupakan underbow Partai Rakyat Demokratik (PRD). PDR adalah sebuah partai politik yang lahir, dibesarkan, dan diisi oleh anak-anak muda yang dipimpin oleh Budiman Sujatmiko. Wajar kiranya kalau politik juga banyak disuarakan Thukul dalam puisi-puisinya. Salah satu sajaknya yang terkenal “Peringatan”, yang memberi kesan mendalam pada seorang tokoh pejuang Hak Asasi Manusia (HAM), Munir, yang kemudian meninggal karena diracun di atas pesawat Garuda. Tag line yang terkenal dari puisi tersebuat adalah: hanya ada satu kata: lawan!

PERINGATAN 

Jika rakyat pergi
Kita penguasa berpidato
Kita harus hati hati
Barangkali mereka putus asa

Kalau rakyat sembunyi
Dan berbisik bisik
Ketika membicarakan masalahnya sendiri
penguasa harus waspada dan belajar mendengar

Dan bila rakyat tidak berani mengeluh
Itu artinya sudah gawat
Dan bila omongan penguasa
Tidak boleh dibantah
Kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversi dan menggangu keamanan
Maka hanya satu kata : LAWAN !

(Solo,1986)

Bersama organisasi-organisasi yang diikutinya, Thukul sering melakukan aksi, seperti pada tahun 1994 dia ikut bergabung dengan aksi perjuangan petani di Ngawi (1994), dia memimpin pemogokan buruh di PT Sritex (1995). Selanjutnya, dengan kalangan mahasiswa dan orang muda yang kritis, Wiji terlibat untuk memperjuangkan kebebasan sipil melalui aksi-aksi di jalan di berbagai kota di Pulau Jawa.

Pada tahun yang sama (1994) dibentuk organisasi Persatuan Rakyat Demokratik dan Thukul didapuk sebagai ketua divisi budaya organisasi ini. Bersama Linda Christanty, dia kemudian sepakat membangun Jaringan Kerja Kesenian Rakyat dan sepakat berpihak pada rakyat tertindas lewat karya. Organisasi ini dibentuk saat pemerintah dengan gencar memberantas perkumpulan ataupun organisa sejak tahun 1965. Partai politik yang diperbolehkan pun hanya tiga; yaitu Partai Persatuan Pembangunan, Partai Demokrasi Indonesia, dan Golongan Karya.

Pada saat itu tidak banyak seniman yang berani berseberangan dengan pemerintah dan Thukul adalah sebuah pengecualian. Baginya perlawanan terhadap ketidakadilan adalah naluri.

Sastra dan Perjuangan Wiji Thukul

Wiji Thukul bisa dibilang menjadi segelintir dari sastrawan yang dengan lantang menentang kesewenang-wenangan rezim Orde Baru yang digawangi Presiden Soeharto. Para pejabat yang berkuasa sering dibuat panas oleh puisi-puisi dan aktivitas politiknya. Sebagai kaum ‘cilik’, Thukul bergerak untuk membela kaumnya (kaum buruh) yang diperlakukan semena-mena. Sebagai penulis, seharusnya dengan tulisan itu dia bisa menyuarakan kaumnya tanpa harus tampil di garda terdepan yang bisa membahayakan nyawanya.

Puisi-puisi Wiji Thukul memiliki warna tersendiri dalam perjalanan sastra Indonesia modern. Seperti pendapat Luxemburg yang menyatakan bahwa lewat media bahasanya sastra mengungkapkan hal yang tidak terungkapkan (terj. Hartoko, 1989: 5-6), Thukul tidak terbatas pada bentuk tetapi lebih pada bagaimana bahasa bisa menyuarakan hatinya. Oleh karena itu puisi-puisi Thukul jauh dari unsur-unsur estetika. Alih-alih indah dan romantis, puisi-puisi Thukul  justru terkesan sangat kumuh dan miskin seperti kehidupan buruh, tukang becak, atau masyarakat urban, dan sangat vulgar melawan penguasa.

Keindahan tak bisa beriringan dengan protes yang mengandung kemarahan, tuntutan, dan kekecewaan, seperti apa yang disebut Thukul puisi. Puisi Thukul adalah suara-suara perlawanan pada penindasan: Suara-suara itu tak bisa dipenjarakan/di sana bersemayam kemerdekaan/apabila engkau memaksa diam/aku siapkan untukmu: pemberontakan! Dalam bait Sajak Suara-nya yang terkenal itu Thukul menyuarakan rasa ketertindasan rakyat kecil di masa Soeharto, yang dirinya pun menjadi bagian dari mereka. Seni bagi Thukul adalah seni yang terlibat, menyatu dalam dinamika masyarakatnya, bukan hasil imajinasi belaka. (Linda Christanty, 2002)

Kehadiran Thukul seperti menjawab kerinduan Y.B Mangunwijaya pada sosok ‘Slendor Veritatis’ dalam sebuah pertemuan di Solo (30/10/1984). ‘Splendor Veritatis’ (dalam bahasa Latin, Splendor berarti kecemerlangan atau cahaya; Veritas berarti kebenaran). Splendor Veritatis atau Cahaya Kebenaran adalah orang yang mampu memberikan sumbangannya yang relevan dalam pergulatan hidup sekian juta manusia yang mendambakan pemanusiawian dirinya.

Wiji Thukul muncul dengan prinsip kreativitas puitik yang tegas: menyuarakan kenyataan yang keras dan menekan dalam kehidupan nyata. Seperti yang diharapkan Mangunwijaya, estetika untuk penikmatan pancaindra ataupun intelektual bagi Thukul bukanlah hal yang utama. Hal yang utama justru adalah penjaminan eksistensial dalam pergulatan to be or not to be. Seperti “Rumah Jawa,” kata Mangunwijaya memberikan analogi, bukan soal teknis-pragmatis, melainkan merupakan sumber energi kehidupan (Yoseph Yapi Taum, 2002).

Thukul adalah Thukul, dia benar-benar ingin merdeka. Tanpa mempedulikan keselamatannya, dia sendiri yang berdiri di depan dan dengan lantang membaca puisi-puisinya. Dia benar-benar telah menjadi peluru yang menembus dada pejabat-pejabat haus kuasa. Puisi-puisi Thukul membuat panas kuping-kuping mereka. Nyawa Thukul terancam!

Pada tahun 1994, aksi petani terjadi di Ngawi, Jawa Timur. Thukul yang memimpin massa dan melakukan orasi ditangkap serta dipukuli militer. Dalam aksi-aksi massa semacam inilah, sajak-sajak Thukul sering dibacakan. Aksi yang terkadang memakan waktu berjam-jam dan tak jarang di tengah terik matahari membuat pembacaan sajak menjadi hiburan, selain memberi semangat dan ketidakgentaran menghadapi militer yang selalu menghadang tiap aksi protes.

Ada tiga sajak Thukul yang populer dan menjadi sajak wajib dalam aksi-aksi massa, yaitu Peringatan, Sajak Suara, dan Bunga dan Tembok (ketiganya ada dalam antologi Mencari Tanah Lapang yang diterbitkan oleh Manus Amici, Belanda, pada 1994. Tapi, sesungguhnya antologi tersebut diterbitkan oleh kerjasama KITLV dan penerbit Hasta Mitra, Jakarta. Nama penerbit fiktif Manus Amici digunakan untuk menghindar dari pelarangan pemerintah Orde Baru).

Bunga dan Tembok   

seumpama bunga
kami adalah bunga yang tak
kaukehendaki tumbuh
engkau lebih suka membangun
rumah dan merampas tanah

seumpama bunga
kami adalah bunga yang tak
kaukehendaki adanya
engkau lebih suka membangun
jalan raya dan pagar besi
seumpama bunga
kami adalah bunga yang
dirontokkan di bumi kami sendiri

jika kami bunga
engkau adalah tembok
tapi di tubuh tembok itu
telah kami sebar biji-biji
suatu saat kami akan tumbuh bersama
dengan keyakinan: engkau harus hancur!
dalam keyakinan kami
di mana pun – tirani harus tumbang!

Solo, ’87 – ‘88

Sajak Suara

Jika rakyat pergi
Ketika penguasa pidato
Kita harus hati-hati
Barangkali mereka putus asa

Kalau rakyat bersembunyi
Dan berbisik-bisik
Ketika membicarakan masalahnya sendiri
Penguasa harus waspada dan belajar mendengar

Bila rakyat berani mengeluh
Itu artinya sudah gawat
Dan bila omongan penguasa
Tidak boleh dibantah
Kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!

Harus diakui bahwa puisi-puisi tukul telah menjadi alat perjuangan untuk merontokkan rezim yang zalim. Dalam pendekatan ekspresif, karya sastra dipandang sebagai ekspresi sastrawan. Kriteria yang dikenakan adalah ketepatan karya sastra dalam mengekspresikan kejiwaan sastrawan. Ketika menulis karya sastra, sastrawan tidak bisa lepas dari sejarah sastra dan latar belakang budayanya (Pradopo, 1995: 108). Karya sastra tidak lahir dalam kekosongan budaya (Teeuw, 1980: 11, 12).

Karena puisi-puisi dan aktivitas politik praktisnya itu Thukul diculik dan dilenyapkan oleh kaki tangan rezim Orde Baru, namun semangat perjuangan yang tercermin dalam sajak-sajaknya akan terus hidup. Karena demikianlah hukum alam yang berlaku di dunia kepenyairan: kata-kata yang dilahirkan oleh penyair akan panjang usianya dibandingkan dengan penyairnya itu sendiri.

Wiji Thukul Melesat Bagai Peluru

Awalnya Wiji Thukul tidak dianggap sebagai salah satu orang yang diculik. Linda (kawan Thukul) dan Sipon (istri Thukul) mengira dia bersembunyi di Solo atau di suatu tempat yang dirahasiakan karena situasi politik sedang kacau. Bahkan Sipon menyangka ada kawan yang menyembunyikan suaminya dari kejaran militer. Namun, setelah sekian lama Thukul tak ada, masing-masing pihak mulai saling bertanya. Ternyata Thukul memang tak disembunyikan pihak mana pun.

Pada kekacauan tanggal 27 Juli 1996. Thukul, bersama dengan Budiman Sujatmiko, dan Pius Lustri Lanang (yang notabene aktivis taraf nasional) menjadi buronan utama pemerintah. Sejak itu, Budiman ditahan, diadili, dan dipenjarakan; Pius diculik orang dari Tim Mawar, Kopassus (Kopassus saat itu dipimpin oleh Prabowo Subianto sebagai komandan) ; sedangkan Tukul hilang – konon juga dihilangkan oleh Tim Mawar Kopassus.

Pencarian Thukul mulai dilakukan. Keluarga dan kawan-kawan Thukul mendatangi lembaga bantuan hukum, mulai percaya bahwa Thukul memang termasuk orang-orang yang hilang di masa Soeharto. Pencarian ini terkesan sangat terlambat. Thukul bahkan tak termasuk dalam daftar orang hilang yang poster-posternya disebarkan Komisi Orang Hilang dan Tindak Kekerasan, yang suatu kali pernah terpampang di berbagai tembok kota dan rumah-rumah. Secara resmi, Thukul masuk daftar orang hilang pada tahun 2000.

Masuknya nama Thukul dalam daftar buronan cukup mengejutkan mengingat aktivitasnya tidak seluas kedua nama terakhir. Namun, Jaap Erkelens dari Koninklijk Instituut Voor Taal, Land en Volkenkunde, yang juga teman baik Thukul, mengatakan bahwa Thukul sudah langganan ditangkap dan di siksa Koramil Solo. Thukul sudah dianggap menentang pemerintah jauh sebelum ia terlibat dalam partai lewat aktivitas seninya.

Pada 1989, Badan Koordinasi Intelijen Negara, menelepon Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jakarta lantaran lembaga ini dianggap merekomendasikan aktivitas berkesenian Thukul. Bahkan, pada masa itu, Thukul sempat ditahan Koramil di Solo gara-gara menerima paket buku dari Belanda. Pihak kantor pos yang bekerja sama dengan militer telah melaporkan soal kiriman tersebut.

“Sajak-sajak Thukul itu berisi protes sosial, yang dalam hal ini terbentur pada politisi,” kata Erkelens.

Sebelum benar-benar di nayatakan hilang dalam masa kekacauan tahun 1996, pada awal tahun 1997 ditemukan puisi-puisi Thukul di internet. Dalam masa pelarian itu dia tidak menyebutkan tempat di mana dia berada.

“Tapi, puisi-puisinya berganti warna, lebih murung dan kontemplatif, meski masih bernada protes sosial. Saya kira, situasi dalam pelarian tidak menyenangkan hatinya. Ia juga terpisah dari gejolak sosial dan politik yang memberinya inspirasi. Belakangan saya baru tahu kalau ia pergi ke Kalimantan dan hampir setengah tahun tinggal di sana,” kenang Linda.  

Thukul kembali dari Kalimantan tahun 1997 menjelang pemilu. Dia diminta membantu kawan-kawan di Jakarta. Thuku kembali bekerja bersama dengan Linda. Tapi, pada November 1997, Thukul meminta izin untuk pulang ke Solo dan berjanji menghubungi Linda seminggu kemudian. Janji tersebut tidak dipenuhinya. Itulah kontak terakhir Linda dengan Thukul.

“Terakhir kali saya ketemu dia Desember 1997,” kata Jaap Erkelens. Namun, sejumlah orang masih melihatnya di Jakarta pada April 1998. “Pada Mei 1998, ia benar-benar menghilang,” lanjut Erkelens.

Mei 1998, Soeharto turun. Kerusuhan terjadi di Jakarta. Pencarian orang-orang hilang kemudian dilakukan sampai hari ini. Tapi, sampai saat ini belum ada titik terang. Sejumlah anggota Komando Pasukan Khusus yang tergabung dalam Tim Mawar telah diadili, tapi mereka mengaku semua aktivis yang mereka culik telah dibebaskan dan dalam keadaan hidup. Prabowo Subianto juga menegaskan hal serupa. Wiji Thukul dan orang-orang yang hilang itu seolah terkubur bersama kejatuhan Soeharto. Thukul benar-benar telah melesat bagai peluru yang entah jatuh di belahan bumi bagian mana. Selongsongnya tak pernah ditemukan.

Dalam momen peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional, Majalah Tempo memilih kumpulan sajak Thukul—Aku Ingin Jadi Peluru—sebagai salah satu dari 100 teks yang paling berpengaruh di Indonesia. Pemilihan ini terasa amat istimewa karena di antara ratusan penyair yang telah lahir di Indonesia, Thukul terpilih sebagai salah satu dari lima penyair Indonesia yang puisi-puisinya dianggap memengaruhi semangat kebangsaan rakyat Indonesia. Ia sejajar dengan Chairil Anwar, Taufiq Ismail, dan WS.Rendra.

Benarkah Kita Telah Merdeka?

Benarkah kita telah merdeka? Pertanyaan itu hanya bisa dijawab dengan melihat pada kondisi sosial yang ada. Di mana belum ada keadilan, kesejahteraan, dan kebebasan mengungkapkan pendapat, maka di situlah terdapat tunas-tunas ketidakmerdekaan.

Masa reformasi memang bisa dikatakan lebih longgar dan “merdeka” dibandingkan dengan Orde Baru, tapi jika dikatakan benar-benar merdeka masih sangat jauh. Di segala bidang masih terdapat ketimpangan-ketimpangan. Penyampaikan kritik kepada pemerintah juga dibatasi dengan akan dibuatnya undang-undang yang melarang rakyat mengkritik atau menghina presiden secara keras.

Oleh kelompok Mazhab Frankfurt, kritik dimaknai sebagai tindakan yang memprotes kondisi kekinian pada berbagai ranah yang dianggap mapan. Maka, kritik memang tidak memiliki metode yang baku dalam prosesnya. Kritik hanya terangkum dalam media berupa aksi massa, tulisan dan karya-karya sastra berupa buku, puisi, esai dan sebagainya.

Pada akhirnya, kemerdekaan hanyalah milik mereka yang memiliki kuasa.

sebelum malam mengucap selamat malam
sebelum tidur mengucapkan selamat datang
aku mengucap kepada hidup yang jelata
m e r d e k a !

-Wiji Thukul

*** 

Sumber: 

A. Kohar Ibrahim, “Puisi Kemerdekaan Wiji Thukul”.

Asep Sambodja, “Wiji Thukul: Sekali Berarti, Sudah Itu Mati”, 05 Desember 2006.

Haris Firdaus , “Wiji Thukul dan Kuburan Purwoloyo”, 11 Februari 2009.

Linda Christanty, “Wiji Thukul dan Orang Hilang,” Jakarta, November 2002

Nurgiyantoro, Burhan. 1998. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University

Teeuw. A. 1955. Pokok dan Tokoh dalam Kesusastraan Indonesia. Jilid I. Pembangunan: Jakarta
__________ 1980. Tergantung pada Kata. Jakarta: Pustaka Jaya
__________ 1984. Sastra dan Ilmu Sastra. Pustaka Jaya: Jakarta.
__________1991. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Yoseph Yapi Taum, “Wiji Thukul: Setitik Cahaya Kebenaran”, Jurnal Puisi Edisi Desember 2002.


About this entry