Apa Kabar Budaya Indonesia?

apa kabar budaya indonesia (cover)

Kita tentu sudah tidak asing lagi dengan jargon-jargon bahwa budaya adalah tiang dari sebuah negara. Tentu bukan tanpa alasan jargon seperti itu dibuat. Ini adalah salah satu upaya dari pemerintah untuk menunbuhkan kesadaran kita untuk sama-sama menjaga kelestarian budaya agar negara ini tidak mudah ditelikung oleh negara lain dari berbagai segi: ekonomi, sosial, politik dan budaya. Karena tanpa disadari, budaya bisa diibaratkan sebagai roh sedangkan negara adalah tubuh. Tidak bisa dibayangkan bagaimana nasib sebuah negara jika tidak memiliki budaya.

Budaya sendiri sejatinya selain sebagai tiang sebuah negara, juga merupakan jati diri bangsa. Sampai-sampai ada sebuah kalimat yang mengatakan “Jika ingin melihat dan menilai sebuah negara, maka lihatlah budayanya.” Ketika saya mendengar kalimat itu timbul pertanyaan di benak saya, bagaimana kabar budaya Indonesia sekarang? Saya kembali ingat perseteruan Indonesia dengan Malaysia beberapa bulan yang lalu. Pemerintah (juga rakyat) Indonesia berang dengan sikap pemerintah Malaysia yang mengklaim beberapa budaya Indonesia menjadi budaya mereka. Di antara budaya itu adalah seni batik dan Reog Ponorogo yang kemudian diganti nama menjadi Tari Barong. Lalu bagaimana penyelesaiannya? Sampai saat ini tak ada kabar.

Di saat permasalahanya dengan Malaysia masih megambang, pada tanggal 10 Februari 2008 di Gedung Kesenian Jakarta digelar pertunjukan seni tari-teater. Selanjutnya pada awal November lalu digelar pementasan seni tetabuhan yang diselenggarakan di Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya. Rabu kemarin, tangga 03 Desember 2008 malam, di Taman Budaya Jawa Timur juga digelar sebuh pementasan seni tari-teater tradisional. Ludruk dan Kentrungkah yang digelar di dua tempat berbeda itu? Bukan. Tapi, seni Kabuki dan Hono-I-Daiko, yang notabene adalah seni tari-teater dan seni tetabuhan drum tradisonal dari Jepang.

Kabuki muncul pertama kali pada sekitar abad ke-16. Tidak beda jauh dengan kesenian tradisional asli Surabaya atau Jatim yakni ludruk, Kabuki juga merupakan kesenian yang memadukan seni tari dan teater. Kentrung dan Hono-I-Daiko juga memiliki kesamaan, yaitu seni tabuh-menabuh. Mana yang lebih populer? Tanpa merendahkan budaya negara sendiri, saya mengatakan Kabuki dan Hono-I-Daiko jauh lebih populer dari Ludruk dan Kentrung. Buktinya? Tidak sedikit warga Jakarta dan Surabaya yang menyaksikan pertunjukan itu. Selain itu, Kabuki telah ditetapkan menjadi salah satu dari 43 karya maestro warisan budaya dunia oleh Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Budaya (UNESCO) pada 2005. Bagaimana dengan budaya Indonesia?

Serangkaian pertunjukan-pertunjukan itu didatangkan dan digelar oleh Konsulat Jendral Jepang, Japan Foundation, dan Japan Art Council National Theater, untuk memperingati 50 tahun kerjasama Indonesia-Jepang. Tapi masalahnya adalah kenapa harus budaya atau seni Jepang yang dipentaskan? Kalau boleh mengajukan pertanyaan yang lebih ekstrim, apakah ini sebuah penjajahan bentuk baru dari segi kebudayaan?

Saya menilai, di tengah situasi kebudayaan Indonesia yang tidak stabil dan cenderung lemah di mata dunia dewasa ini, alangkah lebih bagus jika dalam ragka memperingati 50 tahun kerjasama Indonesia-Jepang ini dipentaskan beberapa kebudayaan Indonesia. Selain untuk mengenalkan budaya kita, dapat juga dipakai media untuk menguatkan citra budaya kita di mata dunia. Kalau perlu kita undang seluruh warga Jepang yang ada di Indonesia untuk menyaksikan seni pertunjukan Ludruk, Kentrung, Tari Remo, Reog, dan lain-lain. Agar mereka (warga asing)  tahu kalau kita, bangsa Indonesia, juga memiliki banyak kesenian yang tidak kalah bagus dengan kesenian mereka. (*)

(Radar Surabaya | Minggu, 22 November 2009)

apa kabar budaya indonesia


About this entry