Argo dan Peran Hollywood di Dunia Politik

1

Awalnya saya tidak begitu tertarik dengan judul film “Argo” yang sudah meringkuk di folder laptop selama beberapa bulan. Hal itu tidak lepas dari judulnya yang mengingatkan saya pada mesin argo yang terdapat di taxi. Apalagi di sana tidak ada cover maupun sinopsis film yang bisa membuat saya tertarik. Adalah menipisnya koleksi film yang belum saya tonton yang akhirnya membuat saya ‘terpaksa’ melihatnya juga.

Argo adalah sebuah film thriller Amerika Serikat tahun 2012 yang disutradarai oleh Ben Affleck, diangkat dari kisah nyata “Canadian Caper”, saatTony Mendez, seorang agen CIA, memimpin penyelamatan enam diplomat di Teheran, Iran, selama terjadinya krisis sandera Iran 1979. Film tersebut dibuka dengan sejarah singkat pemerintahan Iran dan hubungannya dengan Amerika dan sekutunya.

Kekaisaran Persia, atau yang kini dikenal dengan Iran, selama 2.500 tahun daerah ini dikuasai oleh seorang Raja yang dikenal dengan sebutan “Shah”. Pada tahun 1950 rakyat Iran memilih seorang demokrat Mohammad Mosaddegh sebagai Perdana Menteri. Di bawah pemerintahannya, dia berhasil menasionalisasi tambang minyak Inggris dan Amerika untuk dikembalikan kepada rakyat Iran.

Tidak terima dengan sepak terjang politik Mosaddegh yang dirasa membahayakan kepentingan Amerika dan sekutu, tahun 1953 Amerika dan Kerajaan Inggris memprakarsai kudeta untuk menggulingkan Mosaddegh. Setelah terguling, Amerika dan Inggris kemudian menunjuk Reza Pahlevi sebagai Shah berikutnya. Shah muda ini dikenal suka menghambur-hamburkan kekayaan. Istrinya dirumorkan mandi menggunakan susu dan makan siang Shah diterbangkan Concorde langsung dari Paris, Prancis.

Pola hidup glamour Shah dan keluarganya itu sangat berbanding terbalik dengan kehidupan rakyat Iran yang miskin dan kelaparan. Untuk mempertahankan kekuasaan, Shah membentuk kelompok polisi internal Savak yang dikenal sangat kejam. Di situlah penyiksaan dan ketakutan mulai ditebar rezim Shah Pahlevi. Dia juga mulai mengkampanyekan misi membaratkan Iran. Hal itu membuat marah rakyat tradisional Iran yang mayoritas adalah Syiah.

Pada tahun 1979, rakyat Iran berhasil menggulingkan Shah dan sebagai gantinya Ayatollah Khomeini yang diasingkan kembali untuk memerintah iran. Pemerintahannya segera dipenuhi militer mematikan dan kekacauan. Sementara itu, Shah Pahlevi yang sekarat karena kanker, diberi suaka pengobatan di Amerika. Rakyat Iran yang marah kemudian turun di jalan-jalan dan dipusatkan di depan Kedutaan Besar Amerika di Iran untuk meminta Shah dipulangkan untuk diadili dan digantung. Aksi unjuk rasa tersebut berhasil menguasai gedung, tapi enam diplomat Amerika berhasil lolos.

Terlepas dari kekacauan politik yang tentu saja penuh propaganda di mana-mana, baik dari pihak Amerika maupun Iran, yang menarik dari kaca mata saya adalah peran Hollywood dalam misi pembebasan keenam diplomat Amerika tersebut. Setelah beberapa opsi pembebasan dengan menyamar sebagai guru, wisatawan, jurnalis, sampai dengan misi kemanusiaan, dan setelah melalui perdebatan panjang akhirnya disepakati misi pembebasan dilakukan dengan cara menyamar sebagai kru film yang sedang meninjau lokasi untuk syuting di Iran.

Tony Mendez sebagai “superhero” dalam misi penyelamatan ini mungkin tidak akan berhasil segemilang itu kalau saja tidak mendapat inspirasi dari film Hollywood “Battel For The Planet Of The Apes” yang selalu tampil dengan setting tempat-tempat eksotis dan make-up kostum yang unik. Rencana dibuat sedemikian rupa dan terpilihlah naskah berjudul “Argo” untuk membuat film palsu terebut.

Naskah Argo ini bergenre fiksi ilmiah yang bercerita tentang makhluk luar angkasa yang mendarat di Timur Tengah. Pertempuran makhluk asing dengan rakyat berhasil dimenangkan rakyat. Cerita itu sesuai dengan gerakan rakyat Iran yang ingin melawan Amerika yang mungkin di benak mereka adalah perwujudan dari makhluk asing yang sedang menjajah negara mereka. Dengan rencana tersebut Tony dapat dengan mudah memasuki Iran lewat Turki dengan identitas palsu menyamar sebagai warga negara Kanada.

Sineas Hollywood yang terlibat dalam rencana ini adalah ahli make-up John Chambers. Tidak dapat dipungkiri bahwa film-film Hollywood kala itu sudah menjadi magnet perfilman dunia. Tidak ada yang tidak tahu film Star Wars, termasuk di belahan bumi di Timur Tengah. Kebesaran hollywood jelas sangat membantu mereka memasuki Iran. Selain itu, film Hollywood bisa menjadi media iklan yang besar jika suatu wilayah dijadikan lokasi syuting, termasuk Iran. Oleh karena itu, Dinas Kebudayaan Iran pun dengan mudah memberikan izin niat tersebut saat menunjukkan naskahnya.

“Kru film-nya hanya kau saja?” (tanya pejabat Dinas Kebudayaan)

“Tidak, enam orang lagi dari Kanada akan menemuiku hari ini.” Jawan Tony yang menyamar sebagai warga negara Kanada.

“Kau mengambil film di Bazaar”?

“Di Bazaar, mungkin juga di Istana. Tempat-tempat terkenal.”

“Aku Paham. Ke-eksotisan Timur Tengah: pengendali ular, permadani terbang. Kau datang ke sini dalam di saat yang sulit. Sebelum revolusi, 40 bioskop di Teheran menayangkan film porno.”

“Aku paham.”

“Fungsi pemurnian kantor ini adalah untuk mempromosikan kesenian. Akan aku tinjau ini untuk Menteri.”

“Baik. Terima kasih.”

Langkah yang diambil agen CIA Tony Mendez memang tidak mudah, dia harus menemui aral rintangan sebelum akhirnya berhasil membawa keenam diplomat keluar dari Iran yang menyamar sebagai kru film Hollywood berkebangsaan Kanada. Misi rahasia ini berjalan sukses. Naskah Argo dan hal lain yang berkaitan dengan itu menjadi dokumen penting yang disimpan di gedung CIA. Tony mendapatkan penghargaan Bintang Intelijen dan kehormatan tertinggi Clandestine Services dari Amerika. Mengingat ini misi rahasia, maka upacara penghargaan pun dilakukan secara rahasia. Jadi setelah diberi penghargaan, pemerintah akan mengambilnya kembali saat itu juga.

Krisis penyanderaan Iran berakhir tanggal 21 Januari 1981 setelah semua sandra dibebaskan. Mereka menghabiskan 444 hari dalam tahanan. Keenam diplomat tetap bekerja di Dubes Amerika sementara make-up artis pemenang OSCAR, John Chambers diberi anugerah Medali Intelijensi CIA, yang merupakan penghargaan tertinggi untuk warga sipil. Dia tetap bersahabat dengan Tony Mendez sampai meninggal tahun 2001.

Setelah diambil pemerintah, bintang penghargaan Tony Mendez dikembalikan kepadanya tahun 1997 saat operasi Argo dibeberkan presiden Clinton. Saat ini dia tinggal di Maryland bersama keluarganya. Mendez dan Oprerasi Argo masuk dalam 50 Operasi Terbesar CIA Sepanjang Masa.

Peran Hollywood dalam Politik Amerika

Penikmat film mana yang tidak tahu Hollywood? Rasanya tidak ada yang tidak mengenal Hollywood. Film-film yang berasal dari industri perfilman terbesar dunia ini hampir selalu menyedot ribuan penonton. Cerita tentang perang, patriotisme, maupun isu kemanusiaan menjadi media jitu bagi Amerika dalam berpolitik.

Dalam film Argo jelas sekali aroma politik dan pencitraan diri Amerika terkait permasalahannya dengan Iran. Terlepas dari film-nya yang memang menghibur, bisa dilihat adanya pengaburan-pengaburan sejarah dan upaya menyebarkan sikap anti-islam dan juga Iranphobia.

“Gambaran negatif dan buruk tentang Iran dan Islam selalu menjadi fokus utama Barat untuk menyebarluaskan Iranphobia dan Islamphobia di tengah opini publik dunia. Hollywood dan media-media Barat biasanya menyerang Iran melalui klaim-klaim pelanggaran hak asasi manusia, dukungan terhadap terorisme, dan produksi senjata nuklir. Aksi terbaru Barat untuk menghantam Republik Islam adalah produksi dan pemberian penghargaan tertinggi di ajang Oscar 2013 kepada film Argo karya Ben Affleck.” (Indonesian.irib.ir, 02 Maret 2013).

Argo berhasil menyingkirkan kandidat lain seperti Amour, Beasts of The Southern Wild, Django Unchained, Les Miserables, Life of Pi, Silver Linings Playbook, Zero Dark Thirty, dan pesaing terberatnya, Lincoln. Jelas, pemilihan Argo sebagai yang terbaik tidak lepas dari isu politik yang diangkat.

Kritik kebenaran film tersebut juga datang dari pelaku sejarah yang masih hidup, yaitu Ken Taylor yang merupakan Duta Besar Kanada di Iran yang menampung keenam diplomat Amerika saat melarikan diri. “”Sisi lucunya adalah si penulis naskah (Chris Terrio) di Hollywood tidak tahu apa yang dia bicarakan. Argo adalah ciri orang dengan cara yang tidak benar”.

Di sini Taylor menyesalkan Amerika yang terkesan meremehkan bantuan Kanada yang juga memberikan paspor palsu kepada keenam diplomat Amerika. Dia menurutkan kepada Canada.Com bahwa ketika menghabiskan hampir tiga tahun di Teheran, selama itu ia tak pernah merasa kehidupannya terancam. Ia malah menggambarkan keramahan Iran ‘tulus dan hangat’.

Jika dilihat lagi kebelakang, maka Argo bisa dibilang sebagai mata rantai upaya Amerika menutupi kekalahan militer di bawah kepemimpinan presiden Jimmy Carter dalam upaya pembebasan di Gurun Tabes, Iran pada 25 April 1980. Militer Amerika menyerang Iran pada tengah malam oleh pasukan elit dengan peralatan lengkap. Tapi misi yang dibantu operasi Eagle Claw untuk membebaskan para diplomat Amerika yang ditahan di Tehran itu gagal karena tiga helikopter mengalami kerusakan teknis.

Pendapat tentang film Argo juga dikemukakan oleh kritikus budaya Kim Nicolini. “Argo merupakan bagian dari propaganda liberal konservatif yang dibuat oleh Hollywood untuk mendukung politik konservatif pemerintahan liberal Barack Obama saat kita bergerak menuju pemilihan presiden. Ini juga bilangan prima roda perang Amerika yang mendukung serangan Israel terhadap Iran.” Nicolini mengecam Argo karena benar-benar mengabaikan cerita versi Iran, dan mencatat bahwa film ini adalah versi yang menghapus peristiwa sebenarnya.

Dalam sebuah wawancara dengan Press TV, pejabat tinggi Iran Masoumeh Ebtekar yang terlibat langsung dalam peristiwa pendudukan Kedutaan Besar AS pada tahun 1979, mengatakan, awalnya mengira bahwa film tersebut akan menjadi representasi seimbang tentang kejadian, tapi setelah menyaksikannya, dia mengatakan itu tidak menceritakan kisah pendudukan yang sebenarnya. Ebtekar mengatakan, “Kelompok yang mengambil alih Kedubes Amerika adalah sekelompok pemuda, pria dan wanita yang sangat tertib dan cukup tenang. Adegan yang Anda lihat di Argo sama sekali tidak benar.”

Kebohongan realitas dalam film Argo juga dikemukakan oleh warga Amerika yang berkunjung ke Iran sekitar tahun 2008. Penulis gaek artikel perjalanan Rick Steves mengatakan bahwa apa yang selama ini dibicarakan tentang Iran terlalu dilebih-lebihkan. “Warga Amerika menyadari ternyata begitu banyak hal terkait pemerintah Iran yang dilebih-lebihkan dengan keterlaluan,” kata Steves seperti dilansir USA Today.

“Orang Iran kerap terkejut saat mengtahui kami orang Amerika dan bisa mendapatkan visa ke negara mereka. Begitu menerima fakta itu, mereka langsung menyambut kami dengan hangat, semuanya, dari salam, senyum, pelukan, hadiah hingga undangan ke rumah, terutama bila pemandu kami sedang tidak terlihat bersama kami,” kata warga AS lain Daniel Noll dan Audrey Scott, yang berkeliling Iran pada 2011.

Menariknya, menurut hasil poling World Public Opinion 2009, 51% warga Iran memiliki pandangan positif terhadap orang AS, jumlah itu juga sebanding dengan poling lain yang menyatakan orang AS disukai di Iran ketimbang di tempat lain di Timur Tengah. Asal tahu saja, rating presepsi bagus AS tidak pernah tinggi di negara-negara sekutunya seperti India atau Turki.

Dari kenyataan ini misi Argo sebagai media yang menyebarkan paham anti-islam dan Iranphobia sepertinya tidak terlalu berjalan mulus. Boleh jadi pemerintah Iran dan Amerika memiliki hubungan yang memanas terkait program nuklir yang sangat ditentang Amerika dan Negara barat lainnya, tapi di antara wagra Negara keduanya memiliki hubungan yang cukup baik.

Hingga saat ini, Hollywood tetap menjadi magnet perfilman dunia dan pemerintah berhasil memanfaatkan dengan baik apa yang mereka miliki ini. Lewat film-film yang diproduksi Hollywood ini banyak sekali dimuat cerita-cerita kepahlawanan dan sikap mereka pada misi kemanusiaan. Lewat film mereka bisa membentuk mindset penonton bahwa Amerika adalah negara superior, menjunjung tinggi rasa kemanusiaan, dan mereka adalah pahlawan. Disadari atau tidak, .Hollywood (lewat film-filmnya) telah berhasil menjadi mesin politik yang sangat berpengaruh dalam peran mereka di percaturan politik dalam dan luar negeri. (*)

Agus Budiawan, 2013


About this entry