Berkenalan dengan Gie dan Semeru

1

Saya pertama kali melihat sosok Gie muda memakai kaos oblong sedang membaca buku dengan sampul warna merah bertuliskan ‘Soekarno’. Itu sekitar tahun 1956 dimana rakyat sedang gencar-gencarnya meneriakkan kata ‘Revolusi’ akibat ketimpangan dan kesewenang-wenangan pemerintah. Di saat gejolak politik seperti itulah saya melihat sosok Gie kemudian tubuh menjadi seorang idealis dan pemberontak.

Tentu saja saya tidak menyaksikan secara langsung apa yang saya ceritakan di atas. Pada tahun itu mungkin roh saya masih asik bermain dan bercengkerama dengan Tuhan di alam surga. Saya menyaksikan itu lewat sebuah film berjudul “Gie” sekitar tahun 2007 akhir. Film yang diproduksi tahun 2005 itu digarap oleh sutradara handal. Film ini mengisahkan seorang tokoh bernama Soe Hok Gie, mahasiswa Universitas Indonesia yang lebih dikenal sebagai demonstran dan pecinta alam.cFilm ini diangkat dari buku Catatan Seorang Demonstran karya Gie sendiri, namun ditambahkan beberapa tokoh fiktif agar ceritanya lebih dramatis. Menurut Riri Riza, hingga Desember 2005, 350.000 orang telah menonton film ini. Pada Festival Film Indonesia 2005, Gie memenangkan tiga penghargaan, masing-masing dalam kategori Film Terbaik, Aktor Terbaik (Nicholas Saputra), dan Penata Sinematografi Terbaik (Yudi Datau).

Tumbuh di lingkungan keluarga keturunan Cina minoritas – serta pergolakan politik – Gie muda tumbuh sebagai pemuda yang selalu ingin tahu. Keingintahuannya yang kuat membuat dia banyak melahap buku, mulai dari politik, biografi tokoh-tokoh berpengaruh, filsafat, dan sastra. Karena kebiasaannya itu pula Gie tumbuh menjadi pemuda yang memiliki karakter kuat, berpendirian, dan pada akhirnya menjadi pemberontak terhadap kesewenang-wenangan.

Dalam film ini digambarkan jiwa pemberontak Gie pada sikap otoriter pejabat di sebuah lembaga sudah mulai terlihat saat dia berada di bangku sekolah. Dia mendebat guru bahasa Indonesia dan sastra yang dia anggap tidak kompeten dalam bertugas:

Gie: “Pak, bukankah ada perbedaan antara pengarang dengan penterjemah?”

Guru: “Tapi dia bisa dikatakan pengarang karena sang pengarang aslinya tidak dikenal di sini. Jadi, dapatlah dikatakan Chairil adalah pengarang ‘Pulanglah Dia Si Anak Hilang’.”

Gie: “Tidak bisa. Tetap saja kita katakan kalau dia seorang penterjemah, bukan seorang pengarang. Dan lagi pula pengarang aslinya Andrey Gide dikenal disini.”

Guru: “Kamu tahu, tapi yang lainnya?” (melihat ke salah satu murid lain) “Yan, kamu kenal Andrey Gide?” (murid yang ditanya menggeleng)

Gie: “Tukang becak juga tidak mengenal Chairil.”

Guru: “Kamu yang tukang becak!” (guru bertambah emosi)

Gie: “Ya saya sama dengan tukang becak sebagai manusia.”

Karena tindakannya itu Gie dihukum dan nilai ujiannya pun dicurangi oleh guru tersebut. Kejadian itu bisa dijadikan sebuah titik balik persentuhan Gie muda dengan seorang guru (yang bisa dikatakan pejabat dalam lingkungan sekolah) yang otoriter dan sewenang-wenang dalam bertindak di ruang lingkupn yang lebih kecil seperti sekolah. Dendam pun mulai membatu. Tidak mau menyerah dan tunduk, Gie memutuskan pindah sekolah. “Kita nggak mungkin bisa hidup bebas begini kalau bukan karena melawan. Soekarno, Hatta, Syahrir, mereka semua berani memberontak dan melawan. Mereka semua berani melawan kesewenang-wenangan.”

Gie semakin banyak membaca, bukan hanya buku, tetapi juga membaca kehidupan di lingkungan sosialnya yang penuh dengan kesemrawutan, kesewenang-wenangn, ketidakadilan, dan ketimpangan social membuat Gie membulatkan tekat: lawan! Memasuki tahun 1959, keadaan politik semakin meruncing. Teror dan pembunuhan ada di mana-mana, keadilan semakin runtuh, dan kemiskinan menjerat leher-leher rakyat. Saat itulah Gie yang bersekolah SMA di Collese Canisius mulai secara langsung menyampaikan kritikan tajam kepada pemerintah lewat tulisan di mading sekolah.

Saat masuk di Universitas Indonesia jurusan Sejarah, Gie semakin menjadi sosok yang idealis. Tulisannya mulai sering dimuat Koran nasional, tentu saja berisi kritik pedas terhadap pemerintahan Soekarno. Memasuki tahun 1963, kondisi semakin kacau dengan pergulatan antara ABRI dan PKI. Gie semakin gencar melancarkan kritik pada pemerintah, baik lewat tulisannya di koran maupun di kelompok diskusi.

Karena keberaniannya itu, dia menjadi salah satu orang yang “diawasi” dan tak jarang menerima teror. Termasuk teror berupa surat kaleng berbunyi “Cina tak tahu diri, pulang sana ke Negara asalmu!”. Meskipun membenci politik, pada suatu ketika dia juga terlibat dalam gerakan politik meskipun pada akhirnya dia menyesalinya.

Selain menjadi aktivis yang lantang menuntut kesejahteraan dan keadilan, Gie juga membentuk kelompok diskusi dan nonton film di kampus. Film yang ditonton juga tidak jauh-jauh dari tema politik, kemanusiaan, budaya maupun agama. Selain itu, Gie mencetuskan komunitas mahasiswa pecinta alam pertama kali.

Setelah selesai dari universitas dia sempat mengajar di almamaternya, tapi kebrobrokan sistem membuat dia risau tentang masa depan para pemuda. Dia mulai mengkritik kinerja sesama dosen dan lembaga secara keseluruhan. Kritikan itu semakin membuat Gie terpojokkan di lingkungannya sendiri, tapi dia tidak peduli dan memiliki pandangan yang tegas “lebih baik saya diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan”.

Mengambil setting sejarah besar pergolakan politik Indonesia, film Gie memang bisa dijadikan salah satu kokumen sejarah, dan media film membuat hal itu menjadi lebih menarik jika dibandingkan dengan buku sejarah misalnya. Namun, ada hal lain yang menarik dari pandangan saya selain aktivitas Gie di dunia politik, yaitu sosok Gie sebagai laki-laki dan hubungannya dengan perempuan dan sumbangsih Gie dalam terbentuknya kelompok pecinta alam untuk pertama kalinya.

MAPALA UI

Mapala UI adalah salah satu mapala yang dikenal sebagai pionir berdirinya mapala di Indonesia. Kini, hampir seluruh perguruan tinggi di Indonesia memiliki mapala baik di tingkat universitas maupun fakultas hingga jurusan.  Sebelum dibentuk Mapala, di Fakultas Sastra UI (kini Fakultas Ilmu Budaya), sudah ada kelompok-kelompok mahasiswa yang gemar bertualang di alam bebas. Mereka yang terdiri dari mahasiswa Arkeologi dan Antropologi yang banyak turun ke lapangan serta mereka yang pernah tergabung dalam organisasi kepanduan. Sayangnya kelompok-kelompok ini tidak terkordinir dengan baik dalam statu wadah dan mereka juga tidak pernah membuka diri dengan peminat-peminat baru di luar jurusannya.

Soe Hok Gie adalah orang yang mencetuskan ide pembentukan suatu organisasi yang dapat menjadi wadah untuk mengkoordinir kelompok-kelompok tadi, termasuk kegiatan mereka di alam bebas. Gagasan ini mula-mula dikemukakan Gie pada suatu sore, 8 Nopember 1964, ketika mahasiswa FSUI sedang beristirahat setelah mengadakan kerjabakti di TMP Kalibata. Sebenarnya gagasan ini, seperti yang dikemukakan Gie sendiri, diilhami oleh organisasi pencinta alam yang didirikan oleh beberapa orang mahasiswa FSUI pada tanggal 19 Agustus 1964 di Puncak gunung Pangrango. Organisasi yang bernama Ikatan Pencinta Alam Mandalawangi itu keanggotaannya tidak terbatas di kalangan mahasiswa saja. Semua yang berminat dapat menjadi anggota setelah melalui seleksi yang ketat. Sayangnya organisasi ini mati pada usianya yang kedua. Adapun organisasi yang diidamkan Gie itu merupakan organisasi yang dapat menampung segala kegiatan di alam bebas, dan ini dikhususkan bagi mahasiswa FSUI saja.

Dalam pertemuan tanggal 8 Nopember 1964 itu, gagasan Sdr. Soe mendapat sambutan baik di kalangan mahasiswa FSUI yang senang ”keluyuran” di alam bebas”. Dalam pertemuan yang dihadiri juga  Herman O. Lantang yang pada saat itu menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa FSUI, terbentuklah IMAPALA (Ikatan Mahasiswa Pecinta Alam). Karena dirasa mewakili nama yang terlalu borjuis (dan saat itu borjuis adalah sasaran pengganyangan) maka diubah IMAPALA menjadi MAPALA PRAJNAPARAMITA (Mahaisiwa Pecinta Alam) dan Prajnaparamita berarti dewi pengetahuan.

Sampai tahun 1970-an, di beberapa fakultas di UI terdapat beberapa organisasi pencinta alam antara dan untuk menyatukan diri di bawah bendera MAPALA UI yang sudah oleh Rektor UI (Prof. DR. Sumantri Brojonegoro (Alm.)) dan Dewan Perwakilan Mahasiswa. Selanjutnya seiring perjalanan waktu, proses perekrutan anggota mapala dilakukan secara sisitematis dan profesional berdasarkan pengalaman organisasi dan riset akademis.

Alam menjadi “pelarian” dan tempat terbaik untuk mengenal diri sendiri. Alam juga menjadi tempat Gie dalam mengasingkan diri dari pergolakan politik yang rakus. Gie yang suka menulis buku harian (yang kemudian menjadi sumber terbitnya beberapa bukunya) juga menulis kutipan dari Walt Whitman dalam catatan hariannya saat memimpin pendakian gunung Slamet:

Now I see the secret of the making of the best person. It is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth.”

Gie, Aktivis Garang yang Melankolis

Minat Gie yang besar terhadap politik dan filsafat membuat dia tumbuh menjadi sosok yang garang melawan kesewenang-wenangan, tetapi tidak demikian jika berhadapan dengan perempuan. Di depan perempuan, Gie menjadi sosok pemalu dan selalu salah tingkah. Pada saat seperti itu tak terlihat sosok Gie yang garang. Gie juga dapat dikatakan sosok yang melankolis jika membaca sajak-sajaknya.

Selain politik dan filsafat, Gie gemar membaca buku-buku sastra, maka tidak heran kalau sajak-sajak Gie bisa dibilang setara penyair yang populer seperti Chairil Anwar. Dan tidak bisa dipungkiri, sosok perempuan bernama Ira menjadi penting bagi dia dalam lahirnya sajak-sajak tersebut.

Gie mengenal Ira (gadis manis yang diam-diam merebut hatinya) saat masuk universitas. Sebagai sahabat, mereka sering terlibat dalam diskusi setelah nonton film. Mereka juga sama-sama menyukai puisi dan naik gunung. Intensitas pertemuan itu membuat timbul rasa cinta di antara keduanya, tapi entah karena apa dari keduanya tak pernah keluar pernyataan cinta. Masing-masing dari mereka masih ingin mencintai di balik status persahabatan. Namun, pada suatu ketika, setelah perkenalannya dengan perempuan-perempuan lain, ada keinginan kuat dalam dirinya untuk berterus terang:

“Aku tak tahu mengapa, aku merasa agak melankoli malam ini. Aku melihat lampu-lampu kerucut dan arus lalu lintas Jakarta dengan warna-warna baru. Seolah-olah semuanya diterjemahkan dalam satu kombinasi wajah kemanusiaan. Semuanya terasa mesra tapi kosong. Seolah-olah aku merasa diriku yang lepas dan bayangan-bayangan yang ada menjadi puitis sekali di jalan-jalan. Perasaan sayang yang amat kuat menguasaiku. Aku ingin memberikan suatu rasa cinta pada manusia…”

Dari beberapa gunung, Pangrango mungkin menjadi gunung yang paling berkesan bagi Gie. Lembah Mandala Wangi yang berada di gunung ini masuk dalam sajak yang dia tulis:

Sebuah Tanya

akhirnya semua akan tiba
pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah kau masih berbicara selembut dahulu?
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku

(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mendala wangi
kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)

“apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika ku dekap
, kau dekaplah lebih mesra, lebih dekat”

(lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi, kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya. kau dan aku berbicara. tanpa kata, tanpa suara ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)

“apakah kau masih akan berkata, kudengar derap jantungmu. kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta?”

(haripun menjadi malam, kulihat semuanya menjadi muram. wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti. seperti kabut pagi itu)

“manisku, aku akan jalan terus

membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan

bersama hidup yang begitu biru”

Selain lewat sajak puitis yang dia tulis di buku hariannya ini Gie tak pernah memiliki kesempatan lagi untuk mengungkapkan perasaannya kepada Ira sampai dia bersama Herman O lantang dan Idhan Lubis pergi ke Semeru seperti yang sudah mereka rencanakan sebelumnya. Lewat sosok garang tapi pemalu di depan perempuan yang dia cintai inilah pertama kali saya mengenal Semeru, tempat tertinggi di Jawa.

Namun, tidak ada yang menyangka kalau Semeru menjadi tempat pertama dan terakhir yang dia daki di bulan Desember 1969. Gie menghembuskan napas terakhirnya di sana, menyatu bersama alam. Dari puncak tertinggi di Jawa itulah, sebuah sajak cinta seperti terkirim untuk kekasih hatinya Ira:

ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke mekkah
ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di miraza
tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu sayangku

bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mendala wangi
ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danang

ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra

tapi aku ingin mati di sisimu manisku
setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu

mari, sini sayangku

kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
tegakklah ke langit luas atau awan mendung
kita tak pernah menanamkan apa-apa,
kita takkan pernah kehilangan apa-apa

nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan

yang kedua, dilahirkan tapi mati muda

dan yang tersial adalah berumur tua

berbahagialah mereka yang mati muda

makhluk kecil

kembalilah dari tiada ke tiada

berbahagialah dalam ketiadaanmu”

 

makhluk kecil

kembalilah dari tiada ke tiada

berbahagialah dalam ketiadaanmu”

Lembah Mandala Wangi di Pangrango menjadi tempat favorit yang kembali mengiasi baris sajaknya. Mungkin juga di sanalah cinta Gie pada Ira bersemi bersama kelopak-kelopak abadi Edelweiss. Itulah pesan terakhir darinya untuk Ira, gadis yang menunggu di sudut Jakarta. Atau bisa jadi pesan bagi dirinya sendiri dari alam.

Setelah meninggal di puncak Mahameru tanggal 16 Desember 1969, jenazah Gie dimakamkan di Menteng Pulo. Namun, pada 24 Desember 1969 jenazahnya dipindahkan ke Perkuburan Kober, Tanah Abang agar dekat dengan makam ibunya. Karena ada proyek pembangunan prasasti, makam Gie terpaksa digusur. Keluarga dan kawan-kawan Gie pun sepakat untuk menumbuk tulang-belulang Gie dan kemudian di sebar di antara bunga-bunga Edelweiss lembah Mandala Wangi, Pangrango. Di situlah biasanya Gie merenung seperti sebuah patung.

Gie telah mengenalkanku pada Semeru, atap tertinggi Jawa. Dalam sajaknya, dia seperti telah menuliskan takdirnya sendiri. Di atap tertinggi pulau Jawa, beralaskan pasir, berselimut dingin, dan beratapkan langit biru, di pangkuan sahabatnya Herman O Lantang, Gie telah meninggal dengan bahagia di usianya yang masih muda (tepat sebelum ulang tahun ke-27).

Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan. Yang kedua, dilahirkan tapi mati muda. Dan yang tersial adalah berumur tua. Berbahagialah mereka yang mati muda. Makhluk kecil, kembalilah dari tiada ke tiada.Berbahagialah dalam ketiadaanmu. Dan sejak saat ini juga, timbul keinginan suatu saat nanti untuk menziarahimu di antara bunga-bunga abadi Edelweiss di lembah Mandala Wangi dan di puncak tertinggi pulau Jawa. (*)

Agus Budiawan, akhir 2007 

Artikel Terkait: Soe Hok Gie, Idhan Lubis, dan Mahameru


About this entry