Refleksi Pandangan Hidup Jawa Tokoh Sumarni dan Rahayu dalam Novel Entrok Karya Okky Madasari

1A.      PENDAHULUAN

Lahirnya suatu karya sastra tidak bisa lepas dari keadaan lingkungan sosial pengarangnya. Karya sastra diciptakan oleh sastrawan untuk dinikmati, dipahami, dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Sastrawan sendiri adalah anggota masyarakat yang terikat oleh status sosial tertentu (Damono, 1984: 01). Menurut Ratna (2004: 336) di antara genre karya sastra yaitu prosa, puisi, dan drama, genre prosalah khususnya novel yang dianggap paling dominan dalam menampilkan unsur-unsur sosial. Karena novel menampilkan unsur cerita paling lengkap.

Skema utama dalam menghadirkan karya sastra bertema sosial terletak pada kehadiran tokoh. Tokoh menjadi landasan awal dalam membentuk serta mengurai sebuah gagasan. Wellek mengartikan penokohan adalah sejenis cara memberi kepribadian menghidupkan tokoh. Menghidupkan penokohan erat hubungannya dengan karakter. Melalui sebuah tokoh dan penokohan digambarkan sebuah karakter tertentu. Tokoh cerita mengandung perwatakan tertentu, yang diberi bentuk dan isi pengarang (dalam Terj. Budianta Melani, 1990: 287).

Tokoh cerita menempati posisi strategis sebagai pembawa dan penyampai pesan, amanat, tindakan, perilaku, akal budi, moral, atau sesuatu yang sifatnya implisit. Budaya dalam kaitannya dengan akal dan budi manusia, akan memunculkan berbagai acuan tindakan yang digunakan sebagai pedoman bertingkah laku yang berisi pandangan dan sikap hidup tokoh. Nilai budaya suatu masyarakat begitu dominan tersaji dalam novel Entrok karya Okky Madasari yang lahir dan besar dalam lingkungan Jawa (Magetan) yang pada akhirnya memberi pengaruh yang besar dalam karyanya.

Adapun pandangan dan sikap hidup Jawa sangat dominan dalam Entrok Dari novel tersebut peneliti menemukan kekhasan dan keterikatan terhadap sikap dan pandangan hidup tokoh Sumarni dan Rahayu sebagai wanita Jawa. Perbedaan pandangan hidup Jawa antara Sumarni dan Rahayu tentang laku hidup Jawa menimbulkan konflik di antara mereka.

B. TOKOH DAN PENOKOHAN SUMARNI DAN RAHAYU

Novel Entrok karya Okky Madasari terdiri atas delapan bab, yaitu “Setelah Kematian”, “Entrok (1950–1960)”, “Tuyul-Tuyul Ibuku (1970–1982)”, “Dewandaru (1982–1983)”, “Kentut Kali Manggis (1984–1985)”, “Kembang Setalon (1985–1989)”, “Kedung Merah (1987)”, dan “Raga Hampa (1990–1994)”. Kedelapan bab tersebut dihadirkan dengan model penceritaan sorot balik atau flashback.

Penamaan sorot balik atau flashback didasarkan pada bab pertama, “Setelah Kematian” yang menjadi bab permulaan sekaligus sebagai cerita yang menggambarkan keadaan atau kenyataan saat ini. Sedangkan bab kedua sampai dengan bab terakhir merupakan kenangan-kenangan dari tokoh Sumarni dan Rahayu mulai dari kehidupan awal sampai saat ini lewat penceritaan Sumarni dan Rahayu secara bergantian dengan proporsi yang hampir seimbang.

Entrok adalah padanan dari BH atau kutang. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia definisi kutang adalah pakaian dalam wanita untuk menutupi payudara. Adapun tema yang diusung dalam novel Entrok adalah tentang dua tokoh wanita Jawa yang memiliki perbedaan pandangan hidup berkaitan dengan nilai-nilai kejawaan dan religi. Adanya perbedaan pandangan hidup tersebut disebabkan adanya proses interaksi dengan tokoh-tokoh lain.

Tokoh adalah bagian dari unsur yang terbentuk di dalam struktur teks. Unsur-unsur tersebut menjadi pendukung atau bisa mendominan. Tokoh merupakan replika pengarang atas realitas, dimana tokoh dihadirkan dalam suatu karya dibekali dengan muatan moral dan diekspresikan dalam ucapan serta tindakan yang dilakukan (Nurgiyantoro, 2005: 176).

Unsur tokoh dalam novel Entrok menjadikan stigma dalam keutuhan teks. Kehadiran tokoh-tokoh di dalam teks mampu membentuk kompleksitas ruang tersendiri. Komposisi karakter pada setiap tokoh mempresentasikan nilai yang beragam, hal itu mengacu setiap peranan tokoh menciptakan ruang gerak kehadirannya.

Karakteristik yang dikonstruksi dalam tokoh tidak semua mengandung ide atau gagasan, karena dari keseluruhan tokoh terdapat beberapa tokoh yang hanya memiliki kapasitas pendukung terbentuknya pandangan hidup tokoh Sumarni dan Rahayu, baik dari keyakinan atau tindakan yang berpengaruh dalam cerita. Namun kehadiran tokoh-tokoh pendukung dalam terbentuknya pandangan hidup tersebut berhasil menyita sudut pandang peneliti.

Tokoh Sumarni dan Rahayu dikonotasikan sebagai penggerak alur utama dalam teks. Pengarang memberikan kapasitas ruang lebih sehingga tokoh ini mampu mengeksplorasi peranannya secara maksimal. Tokoh Sumarni dan Rahayu memiliki kapabilitas dalam menghadapi lingkungan sosialnya dengan kreasi sehingga mempermudah langkah dalam mengambil posisi di tengah-tengah lingkungannya.

Sebagai penggerak alur cerita, tokoh Sumarni dan Rahayu dihadirkan dalam kapasitas yang dominan. Dari delapan bab, tokoh Sumarni dan Rahayu secara bergantian berperan sebagai penggerak alur cerita dalam proporsi yang hampir seimbang. Adapun penentuan tokoh utama dalam teks tidak hanya dilihat dari intensitas kemunculan tokoh, tetapi juga didasarkan pada seringnya mereka terlibat dengan tokoh-tokoh lain. Konflik yang muncul juga menjadi acuan dalam menentukan pentingnya peran tokoh dalam cerita. Konflik antartokoh utama terjadi karena keteguhan mereka dalam memegang pandangan atau keyakinan hidup. Adanya perbedaan cara pandang tentang hidup tersebut timbul setelah adanya interaksi tokoh utama dengan tokoh pendukung lain, yaitu Simbok, Suteja, Tinah, Koh Cayadi, Pak Waji, Amri Hasan, dan Nyai Dimah.

Tokoh Sumarni dihadirkan sebagai wanita Jawa, buta huruf, masih memegang keyakinan terhadap kekuatan ruh leluhur, dewa-dewa, dan benda-benda tertentu. Ia hidup di lingkungan keluarga Jawa yang tidak memiliki latar belakang pendidikan formal sehingga pelajaran yang ia peroleh hanya dari tokoh Simbok ibunya. Sumarni dengan teguh memegang ajaran ibunya tentang nilai kejawen, seperti membuat sajen, panggang, atau tumpeng pada hari kelahiran, kematian, hari baik, atau pada waktu-waktu tertentu.

Upaya batin berupa selametan dipandang sebagai ritual yang harus dilakukan agar selalu diberi kemudahan oleh Tuhan dalam menjalani hidup. Meskipun tokoh Sumarni digambarkan sebagai perempuan dengan budaya kuno, di sisi lain dia memiliki pandangan modern tentang pendidikan untuk anaknya, Rahayu. Kondisi ekonomi pas-pasan tidak membuat dia menyerah untuk memberikan pendidikan kepada anaknya dan terbukti dia bisa menyekolahkan anaknya hingga universitas.

Sumarni memiliki harapan besar agar anaknya kelak bisa memperbaiki kehormatan keluarga serta bisa mendapatkan pekerjaan yang layak dan berpenghasilan tinggi. Meskipun memiliki ambisi yang besar, dalam bekerja Sumarni tetap patuh pada nilai-nilai tradisi agar usahanya lancar, termasuk patuh pada sikap megalah dan cenderung menghindari konflik, seperti ketika dia terlibat perselisihan dengan anaknya atau dengan pejabat pemerintah.

Lain hanya dengan Sumarni, tokoh Rahayu dihadirkan sebagai wanita Jawa modern dengan pikiran maju. Pendidikan yang diperolahnya membuat Rahayu meninggalkan tradisi yang diajarkan ibunya saat masih kecil yang dianggap kuno dan tidak rasional. Agama Islam yang diterima Rahayu di sekolah mengajarkan tentang bagaimana cara berdoa kepada Tuhan secara baik dan benar. Pendidikan pada akhirnya membuat pandangan Rahayu dan ibunya menjadi sangat berbeda tentang konsep “Tuhan” dan ritual-ritual yang berbau mistik, serta pandangan tentang posisi wanita dalam pernikahan. Selain menjadi penentang keyakinan ibunya, dia juga menjadi penentang bagi pejabat pemerintah yang berlaku sewenang-wenang. Sikapnya sebagai pemberontak sangat bertentangan.

Perbedaan pandangan hidup yang mencolok antara Sumarni dan Rahayu dikarenakan adanya interaksi dengan tokoh lain yang secara tidak langsung sangat berpengaruh pada keduanya, di antaranta Simbok, Tinah, Suteja, Koh Cayadi, Pak Waji, Amri Hasan, dan Nyai Dimah. Simbok, adalah ibu dari Sumarni, seorang wanita Jawa tradisional, buta huruf, dan masih percaya pada kekuatan ruh leluhur. Dalam bahasa Jawa, kata “Simbok” merupakan sebutan untuk ibu dan memiliki tingkatan yang lebih rendah (miskin). Simbok merupakan cerminan wanita Jawa yang memiliki sifat pasrah pada nasib. Tinah, dihadirkan sebagai wanita Jawa yang membawa kebaruan dalam sikap berpakaian wanita Jawa. Saat orang-orang tua dan anak-anak gadis masih memakai kemben, Tinah yang masih muda menghadirkan kemoderenan lewat entrok. Kondisi ekonomi Tinah yang baik membuat dia bisa memili entrok. Suteja, seorang buruh angkut di pasar dan dihadirkan sebagai cerminan laki-laki Jawa saat itu yang kebanyakan bertelanjang dada saat bekerja. Dia memiliki karakter pasrah, pengekor tanpa inisiatif, peselingkuh, dan gemar mabuk. Dia kemudian bertemu dengan Sumarni dan menikahinya dan dari pernikahan itu lahirlah Rahayu. Nyai Dimah, dihadirkan sebagai sosok wanita Jawa yang sukses dalam berdagang dan memiliki inisiatif untuk mengambil kesempatan yang ada demi kemajuan usahanya. Koh Cayadi, seorang Tionghoa dengan karakter pekerja keras dan masih percaya kepada kekuatan ruh leluhur. Sejak kecil dia diajari untuk sembahyang di depan abu leluhurnya serta menziarahi makam untuk meminta berkat. Pak Waji, guru agama di SD tempat Rahayu bersekolah. Dia termasuk golongan priyayi, hidup mapan, dan terhormat. Pak Waji bisa dibilang sebagai orang pertama yang membuka pandangan Rahayu tentang kebiasaan ibunya yang masih menyembah leluhur. Amri Hasan, dihadirkan sebagai dosen sebuah universitas yang pintar, teguh memegang keyakinan, pembela kaum lemah, dan penuh kreasi. Amri Hasan inilah nantinya yang akan menjadi suami Rahayu yang memberikan banyak pengaruh tentang pandangan hidup.

B.1 Sumarni, Rahayu, dan Hubungan dengan Lingkungan Sosialnya

Penggunaan nama Sumarni dan Rahayu serta tokoh-tokoh pendukung lain yang dipaparkan di atas (Simbok, Tinah, Teja, Pak Waji, Nyai Dimah) merupakan nama-nama orang desa yang bisa dibilang “masih tradisional”, “ndeso”, atau juga “tidak modern”. Pengambilan latar pedesaan di daerah Singget (Magetan) dalam teks menjadi indikasi kuat munculnya nama-nama di atas.

Sebagaimana kehidupan di desa pada umumnya, tokoh Sumarni dan Rahayu hidup di lingkungan yang bisa dikatakan “serba terbuka”, dalam artian setiap permasalahan satu keluarga bisa saja diketahui oleh orang lain. Kebiasaan orang Jawa yang gemar rasan-rasan atau ngrasani (membicarakan atau mempergunjingkan) membuat setiap orang selalu ingin tahu urusan orang lain. Edi Priyanto (dalam “Ana Catur Mungkur”, 2009) mengatakan bahwa ngrasani bisa juga disebut dengan ana catur mungkur, arti lugasnya adalah “ada pembicaraan membelakangi”. Secara kiasan ungkapan itu dimaksudkan untuk menggambarkan pembicaraan yang menyangkut keburukan atau kelemahan orang lain. Catur artinya ngrasani eleking liyan (membicarakan keburukan orang lain) dengan maksud menjatuhkan atau menghina orang tersebut.

Lingkungan mereka tinggal juga masih mengenal penggolongan strata sosial, seperti wong gedhe dan wong cilik. Wong gedhe dalam hal ini bisa diartikan sebagai orang yang memiliki jabatan, atau priyayi, yang diwakili oleh tokoh Pak Waji dan tokoh Amri Hasan. Sedangkan wong cilik bisa diartikan sebagai orang miskin atau rakyat biasa yang diwakili oleh tokoh Simbok, Sumarni, Rahayu, Tinah, Suteja, dan Nyai Dimah. Selain tokoh-tokoh Jawa, dihadirkan pula satu tokoh Tionghoa bernama Koh Cayadi yang menjadi tokoh minoritas.

Pengklasifikasian nama-nama tokoh berdasarkan pada latar sosial budayanya didasarkan pada teks, yaitu adanya akulturasi budaya Jawa, budaya Islam, dan budaya Tionghoa. Ketiga budaya tersebut saling mengisi pada tingkah laku masing-masing tokoh. Namun di antara ketiga budaya tersebut lebih dominan bergerak pada wilayah budaya Jawa-Islam. Sedangkan budaya Tionghoa sebagai budaya minoritas, dihadirkan pada proporsi yang minim. Meskipun begitu, nafas budaya tersebut masih bisa dirasakan keberadaannya bersama dengan dua budaya yang lain.

Indikasi adanya percampuran budaya-budaya tersebut (akulturasi budaya) ditandai dengan adanya penggunaan istilah “Gusti” untuk menyebut “Tuhan” dalam budaya Jawa-Islam.

Anakku Rahayu sekarang sudah lulus SMA. Matur nuwun, Gusti, aku yang buta huruf ini punya anak yang sekolahnya tinggi. Sama tingginya dengan anak Pak Lurah atau anak priyayi-priyayi guru itu. anakku, yang orangtuanya buta huruf semua, malah lebih pintar dibanding anak-anak orang-orang pintar itu. ini semua karena berkatmu, Gusti, Mbah Ibu Bumi Bapa Kuasa.

(Okky,2010: 123)

Penggunaan islitah “Gusti” dan juga “Mbah Ibu Bumi bapa Kuasa” merupakan penanda spiritualitas tokoh Sumarni sebagai orang Islam (yang) Jawa. Istilah “Gusti” digunakan untuk menyebut Tuhan, Sang Pencipta sedangkan “Mbah Ibu Bumi Bapa Kuasa” digunakan untuk menyebut ruh nenek moyang yang dipercaya bersifat aktif dan bisa memberikan rezeki dan keselamatan. Simuh (2003: 41 – 42) membedakan dua jenis pandangan tentang ruh, yaitu ajaran ruh aktif dan ruh pasif. Prinsip ruh aktif menurut keyakinan animisme adalah bahwa ruh orang yang mati tetap hidup dan bahkan menjadi sakti seperti dewa, bisa mencelakakan atau mensejahterakan manusia. Apa yang dikemukakan Simuh kemudian dipertegas oleh Ridwan (dalam “Mistisisme Simbolik dalam Tradisi Islam Jawa”, 2008), bahwa dalam masyarakat Jawa pendewaan dan pemitosan terhadap ruh nenek moyang melahirkan penyembahan ruh nenek moyang (ancestor worship) yang pada akhirnya melahirkan hukum adat dan relasi-relasi pendukungnya.

Selanjutnya terdapat pula akulturasi budaya Jawa-Hindu-Islam yang tercermin dari ritual selametan yang dilakukan oleh tokoh Sumarni.

Ibu juga rajin selametan. Seminggu sekali, setiap hari kelahirannya, dia menyembelih ayam untuk dipanggang. Tonah membuat tumpeng kecil, menyiapkan semua ubo rampe. Ada kulupan, jenang merah, dan jenang putih. Ibu memanggil beberapa tetangga laki-laki. Mbah Sambong, perangkat desa yang dipercaya punya kekuatan lebih, membacakan ujub. Bapak dan yang lainnya membaca, “Amin… Amin…!”

 (Okky, 2010: 56)

Percampuran budaya Jawa-Hindu-Islam sangat kentara dalam tradisi selametan. Selametan bertujuan untuk mengharap keselamatan bagi yang masih hidup atau untuk seseorang yang sudah meninggal. Adanya akulturasi budaya Islam dalam selametan itu adalah adanya bacaan atau doa yang  dilakukan secara Islam. Keyakinan dari perpaduan ketiga budaya itulah yang kemudian melahirkan suatu agama yang kemudian dikenal dengan Agama Jawi atau Islam Kejawen, yaitu suatu keyakinan dan konsep-konsep Hindhu-Budha yang cenderung ke arah mistik yang tercampur menjadi satu dan diakui sebagai agama Islam (Koentjaraningrat, 1994: 312).

Sebagian besar masyarakat Jawa telah memiliki suatu agama secara formal, namun dalam kehidupannya masih nampak adanya suatu sistem keyakinan yang masih kuat dalam kehidupan religinya, seperti keyakinan terhadap adanya dewa, makhluk halus, atau leluhur. Semenjak manusia sadar akan keberadaannya di dunia, sejak saat itu pula ia mulai memikirkan akan tujuan hidupnya, kebenaran, kebaikan, dan Tuhannya (Koentjaraningrat, 1994: 105).

Sedangkan budaya Tionghoa sebagai budaya minoritas yang berkembang di Indonesia juga memiliki ritual untuk hormat dan bakti kepada leluhur. Penghormatan terhadap orang tua dalam tradisi Tionghoa disebut Hao (Hshiao)[1] yang bagi mereka harus disertai sikap hormat pada orang-orang yang lebih tua sebagai pernyataan kasih. Sikap hormat ini berlangsung setiap hari kepada mereka yang masih hidup dan setelah meninggal dilakukan dengan cara yang berbeda. Oleh sebab itu seorang anak sangat dipentingkan oleh keluarga orang Tionghoa, terutama anak laki-laki. Bagi mereka anak bukan hanya untuk melanjutkan marga (She) dan membawa berkat (Hokky), tetapi yang terutama untuk mengganti sang ayah merawat abu leluhur.

Dari pemaparan tentang ketiga budaya di atas dapat dilihat adanya akluturasi tiga kebudayaan. Dari ketiga budaya tersebut, Jawa, Islam, dan Tionghoa (yang menganut keyakinan atau filsafat Buddhisme, Konfusianisme, dan Taoisme) mengalami peleburan dalam satu bentuk tradisi selametan. Selametan yang dilakukan bisa bertujuan untuk mendoakan leluhur atau keluarga yang telah meninggal sekaligus meminta berkat dan keselamatan.

Selain latar tempat dan sosial budaya, latar politik menjadi keadaan sosial yang secara langsung maupun tidak langsung mampu mempengaruhi pola pikir tokoh utama dalam bentuk pandangan hidup. Latar politik dalam teks dapat dibagi ke dalam tiga zaman pemerintahan yang berbeda, yaitu zaman Orde Lama (1950–1959), zaman Orde Baru (1966–1989), dan awal-awal Reformasi (1999). Peristiwa dalam novel ini tidak terlalu vulgar menceritakan tentang bentuk pemerintahan Orde Lama itu sendiri, tetapi hanya bermain di wilayah efek yang ditimbulkan.

Sebagaimana kondisi masyarakat di awal-awal kemerdekan yang masih miskin, kondisi keluarga tokoh Simbok dan Sumarni pun tidak jauh berbeda. Dalam kondisi kemiskinan seperti itu kebutuhan yang paling utama adalah makan. Hal itu dipertegas oleh Dhika Harbi (dalam tulisannya “Kondisi Masyarakat Indonesia Pada Masa Penjajahan dan Setelah Kemerdekaan” 2009), bahwa pada masa Orde Lama, mayoritas masyarakat Indonesia pribumi masih tetap bekerja sebagai petani. Elit politik berperan sebagai birokrat negara tanpa basis ekonomi, tak ada pengusaha pribumi yang berarti dan tak ada borjuasi yang berperan dalam ekonomi, bahkan yang menguasai perdagangan Indonesia. Hal tersebut membuat kondisi masyarakat Indonesia dalam hal ekonomi menjadi semakin terpuruk.

Memasuki tahun 1970-an, ditandai pula dengan pergantian bentuk pemerintahan dari Orde Lama ke Orde Baru. Pada zaman peralihan ini kemiskinan tetap menjadi kondisi yang sulit diatasi. Selain itu, efek yang ditimbulkan oleh kebijakan pemerintah sangat dirasakan oleh Sumarni dan Rahayu. Pada masa ini, kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh oknum penguasa terhadap rakyat biasa menjadi gambaran yang sering ditonjolkan dalam beberapa peristiwa. Kondisi lain yang menyaran pada kondisi zaman Orde Baru adalah kesewenang-wenangan dalam hal hukum. Hukum tidak ditegakkan secara benar. Seseorang bisa dihukum hanya karena ia adalah seorang Tionghoa yang masih rajin ke kelenteng.

Firdaus (dalam “Politik Hukum di Indonesia” 2005), mengatakan bahwa pemerintahan Orde Baru terlihat lebih mementingkan kelompok atau golongan tertentu tanpa memperhatikan nasib rakyat. Undang-undang yang responsive dibuat menjadi konservatif. Dengan demikian dalam pelaksanaannya sering terjadi permasalahan dan pertikaian, terutama dalam masalah pembebasan tanah yang nyata-nyata tidak proporsional dan merugikan rakyat.

Selain zaman Orde Lama dan Orde Baru, novel ini juga mengambil latar pada awal-awal Reformasi. Kondisi yang mencolok pada zaman ini adalah adanya perubahan perlakuan pemerintah terhadap orang-orang yang dulu (pada zaman Orde Baru) menyandang gelar PKI atau mantan tahanan politik (tapol). Kondisi itu memberikan perubahan pula pada tokoh Rahayu sebagai mantan tahanan politik dengan cap PKI. Sebagai mantan tahanan politik, ia menjadi terkucilkan dari pergaulan masyarakat. Puncaknya adalah ketika ia gagal menikah hanya gara-gara cap PKI yang tertera di KTP-nya. Hal itulah yang membuat tokoh Sumarni terguncang jiwanya dan akhirnya menjadi gila.

Keberadaan tokoh Sumarni dan Rahayu dalam teks yang terus melakukan proses interaksi dengan tokoh-tokoh lain dan latar sosialnya secara bertahap mampu memberikan pengaruh dalam terbentunknya pandangan hidup tokoh utama. Mengingat tokoh Sumarni dan Rahayu hidup di lingkungan sosial budaya Jawa yang sarat dengan nilai, norma, konvensi, serta tata aturan baik yang tertulis maupun tidak tertulis, maka pandangan hidup yang ada pada diri Sumarni dan Rahayu adalah pandangan hidup Jawa.

C. REFLEKSI PANDANGAN HIDUP JAWA TOKOH SUMARNI DAN RAHAYU

Pandangan hidup Jawa bukanlah suatu agama, tetapi suatu pandangan hidup dalam arti yang luas, yang meliputi pandangan terhadap Tuhan dan alam semesta beserta posisi dan peranan manusia di dalamnya. Hal ini meliputi pula pandangan terhadap segala aspek kehidupan manusia, termasuk pula pandangan terhadap kebudayaan manusia beserta agama-agama yang ada. Adapun posisi tokoh Sumarni dan Rahayu dalam novel Entrok digambarkan sebagai wanita yang hidup di lingkungan keluarga Jawa yang diinternalisasi dengan nilai kewanitaan, bahwa wanita itu harus mampu menempatkan (memposisikan) diri di bawah laki-laki;  pasrah, nrimo, sabar dan ikhlas. Hal itu seperti yang dikemukakan  Christina (2004: 24) bahwa kata “wanita” berasal dari kata wani (berani) dan ditata (diatur). Artinya, seorang wanita adalah sosok yang berani ditata atau diatur. Dalam kehidupan praktis masyarakat Jawa, wanita adalah sosok yang selalu mengusahakan keadaan tertata hingga untuk itu pula dia harus menjadi sosok yang mau diatur. Pendapat tersebut dipertegas oleh  Damardjati Supadjar ahli filsafat yang mengungkapkan bahwa kata “wanita” berasal dari kata wani (berani) dan tapa (menderita). Maksudnya, wanita adalah sosok yang berani menderita bahkan untuk orang lain.

Dalam makna yang lain, yaitu “perempuan”, tampaknya tidak cukup bisa menggambarkan kenyataan praktis sehari-hari wanita Jawa. Akar kata “perempuan” adalah empu yang berarti guru. Makna kata ini lebih menggambarkan kenyataan normatif daripada kenyataan praktis sehari-hari. Bahkan, dalam penggunaannya kita lebih sering mendengar kata perempuan dipakai untuk ungkapan hal yang kurang sedap seperti “main perempuan’, dan lain-lain.

Pandangan hidup Jawa dalam teks berangkat dari realitas yang ada pada masyarakat Jawa. Walau begitu, pandangan hidup Jawa dalam teks bukanlah realitas pandangan hidup Jawa, tetapi hanya refleksi, citraan, atau imaji. Adapun tentang pandangan hidup Jawa dalam teks bertolak dari pembedaan antara dua segi yang fundamental, yaitu segi lahir dan segi batin. Sebagai makhluk alam, manusia merupakan makhluk jasmani, ia memiliki dimensi lahir. Kita mengerti orang lain pertama-tama melalui dimensi lahirnya. Akan tetapi di belakang dimensi lahirnya itu terselubunglah segi batinnya (Franz Magnis-Suseno, 2001: 117-118).

Tokoh Sumarni memiliki pandangan hidup Jawa yang kuat pada rutual nyuwun (berdoa) kepada ruh leluhur, memegang pakem ilok ora ilok, serta sabar dan nrima yang didapat dari tokoh Simbok ibunya. Kaitannya dengan pandangan dunia Jawa yang erat dengan kebatinan, Niels Mulder (1999: 62-64) mengungkapkan bahwa inti penting dari kejawen adalah kebatinan, yaitu pengembangan kehidupan batin dan diri yang terdalam seseorang. Diri terdalam itulah yang sebenarnya menyusun mikrokosmos dari kehidupan yang meliputi segala-galanya. Dalam pandangan kejawen, gerakan diri ini harus mengalir dari luar ke bagian dalam, dari penguasaan yang lahir ke pengembangan yang batin, dari menjadi sungguh-sungguh sadar terhadap situasi sosial sampai menjadi peka terhadap kehadiran “Kehidupan” dan perwujudan “Kehidupan” itu di dalam batin.

Sementara itu, pakem ilok ora ilok bukan hanya terbatas pada pengertian ‘pantas tidak pantas’, melainkan memiliki kandungan makna filosofi, yaitu berisi tentang nilai luhur berkaitan dengan batasan moral mana yang baik untuk dilakukan dan mana pula batasan moral yang tidak pantas untuk dilakukan. Adapun sifat nrima, pasrah, dan ikhlas di sini oleh tokoh Simbok dipandang bukan sebagai kelemahan atau kekalahan, tetapi lebih pada menjaga keselarasan hidup dengan cara menjalankan perannya masing-masing. Ratnawati (dalam “Perempuan dan Ajaran Perenialis dalam Serat Wulang Putri”, 2008) mengungtarakan pendapat bahwa sabar, legawa dan lila adalah sebuah permainan emosi dalam usaha mengatasi konflik. Penyabar bukanlah bawaan lahir atau kodrat melainkan harus dipelajari terus menerus sepanjang hayat.

Sedangkan tokoh Rahayu dalam novel Entrok diposisikan sebagai wanita Jawa yang hidup di dalam keluarga yang sudah mengalami kemajuan dalam pendangan tentang pendidikan, tapi masih memegang teguh tradisi kejawen. Tokoh Rahayu dihadirkan sebagai anak dari tokoh Sumarni yang memiliki peran sangat besar dalam memberi landasan pendidikan kepada tokoh Rahayu tentang hormat dan memohon kepada ruh leluhur. Sebagai anak yang berpendidikan (lebih-lebih agama Islam), Rahayu kemudian tumbuh menjadi wanita Jawa modern. Adanya interaksi dengan tokoh lain seperti tokoh Pak Waji dan Amri Hasan membuat dia memiliki pandangan dan keyakinan yang berbeda dengan ibunya. Tokoh Rahayu menjadi wanita yang memiliki karakter keras memegang keyakinan dan cenderung tertutup terhadap perbedaan. Hal itu membuatnya sering bersitegang dengan ibunya. Perkenalan Rahayu dengan tokoh Amri Hasan membuat ia terinspirasi untuk memberontak dari kesewenang-wenangan dan itu bertentangan dengan laku hidup Jawa yang diajarkan oleh ibunya untuk nrima dan pasrah.

Tokoh Rahayu menjadi wanita Jawa yang hilang kejawaannya. Dia tidak berusaha untuk menghindari konflik demi memperoleh ketenangan dan ketenteraman hidup. Akan tetapi, dia justru lebih memilih menghadapinya daripada harus diam dan pasrah.

C.1 Pandangan Hidup Jawa Tokoh Sumarni dan Rahayu tentang Nilai Religi

Sistem nilai religi yang terdapat di dalam novel Entrok meliputi tiga nilai, yaitu darma, takdir, dan karma. Orang Jawa percaya bahwa Tuhan adalah pusat alam semesta dan pusat segala kehidupan. Tuhan tidak hanya menciptakan alam semesta beserta isinya tetapi juga bertindak sebagai pengatur, karena segala sesuatunya bergerak menurut rencana dan atas izin serta kehendak-Nya. Adapun pusat alam semesta yang dimaksud dalam pengertian ini adalah sumber yang dapat memberikan penghidupan, keseimbangan dan kestabilan yang dapat juga memberi kehidupan dan penghubung individu dengan dunia atas. Pandangan orang Jawa yang demikian biasa disebut Manunggaling Kawula Lan Gusti, yaitu pandangan yang beranggapan bahwa kewajiban moral manusia adalah mencapai harmoni dengan kekuatan terakhir dan pada kesatuan terakhir, yaitu manusia menyerahkan dirinya selaku kawula terhadap Gustinya.

Darma, normalnya sebagai manusia yang masih hidup, seseorang tentu memiliki kewajiban yang dibebankan kepadanya. Dengan begitu, diharapkan setiap orang memenuhi kewajibannya (darmanya) dengan setia demi kesejahteraan, keselarasan, dan demi mencapai ketentraman batin. Sebagai ibu, Sumarni memiliki pikiran maju dalam memandang masa depan memiliki kewajiban memberikan pendidikan kepada anaknya yang bisa dia realisasikan. Sedangkan posisi tokoh Rahayu sebagai pelajar dia laksanakan hingga sampai ke perguruan tinggi. Takdir, adalah kesadaran bahwa hidup manusia sudah ditetapkan dan tidak bisa dihindari. Hidup atau mati, nasib buruk, dan penyakit merupakan nasib yang tidak dapat dilawan. Sebagai seorang pribadi, istri, dan juga sebagai seorang ibu dia percaya sepenuhnya akan keberadaan takdir yang telah menentukan hidupnya, meskipun berat untuk dijalani, begitu pula dengan pandangan Rahayu tentang takdir. Karma, merupakan balasan dari perbuatan yang telah dilakukan. Sebagai pribadi, seorang istri, dan juga sebagai seorang ibu, tokoh Sumarni telah berupaya sekuat tenaga untuk melaksanakan darmanya. Meskipun begitu, sebaik-baik manusia dalam menjalankan darmanya dipastikan terdapat sedikit kesalahan yang mungkin saja tak pernah disadari yang bisa menyebabkan turunnya karma. Atas pandangan seperti itu, Sumarni yakin kesusuhan dalam hidupnya saat ditinggal mati suaminya karena kecelakaan, menantunya meninggal, anaknya dipenjara, adalah karma yang dia dapat karena kesalahan yang tidak disadarinya. Orang Jawa senantiasa memiliki keyakinan kuat tentang adanya sebuah balasan (karma) atas apa yang sudah dilakukan dalam hidup ini. Karena hal itu, setiap orang Jawa selalu berpikir dengan hati-hati ketika akan melaksanakan darmanya yang di dalamnya terdapat sebuah tanggung jawab. Sedangkan tokoh Rahayu yang berpendidikan dalam hal agama memiliki pandangan lain. Rahayu tidak percaya akan adanya karma, tapi lebih pada teguran atau cobaan yang diturunkan Tuhan untuk menguji keimanan hambanya.

C.2. Pandangan Hidup Jawa Tokoh Sumarni dan Rahayu tentang Makna Eling

Dalam budaya Jawa, eling merupakan suatu aktivitas mengenal diri sendiri, kekuatan pikiran yang diikuti membangkitkan kekuatan batiniah. Eling menekankan penguasaan terhadap diri sendiri dalam merespon sesuatu yang bermakna. Penguasaan diri mempunyai kaitan logis dengan nilai keseimbangan, orang yang sanggup menguasai dirinya sendiri akan sanggup menciptakan keseimbangan serta keselarasan hidup dalam masyarakat (Ratnawati, “Perempuan dan Ajaran Perenialis dalam Serat Wulang Putri”, 2008).

Keadaan yang terjadi dalam batin tokoh Sumarni dalam menghadapi konflik dengan anaknya membuatnya menjadi manusia yang berusaha untuk tetap “eling”. Menurut Sastrowardoyo (1992: 109) kata ‘eling’ dapat dianggap sebagai kemampuan jiwa, sebagai nilai etika atau sebagai tahap penghayatan religi. Adapun pemaknaan “eling’ muncul dari sikap tokoh Sumarni sebagai wanita Jawa dalam mengatasi masalahnya.

a. Eling sebagai Kemampuan Jiwa

Sebagai wanita Jawa, tokoh Sumarni memiliki sikap “eling” sebagai sebuah kemampuan jiwa sehingga dia tidak menjadi sosok yang pasrah atas kesulitan yang dialaminya. Setiap peristiwa yang terjadi di sekitarnya dikembalikan lagi pada keyakinan atau kebatinannya. Eling merupakan sebagai upaya menandai keberadaan dirinya yang selalu ingat dan bersyukur pemberian Tuhan. Sebagai kemampuan jiwa eling tertuju kepada segala yang pernah dialami secara jasmani atau ruhani (Sastrowardoyo (1992: 110).

Di tengah kemampuan jiwa yang lain seperti melihat, mendengar, berbicara dan berpikir, yang menangkap dan mengolah pengalaman kini, maka eling menghubungkan pengalaman dulu dengan pengalaman saat ini sehingga ada kesadaran akan kelanjutan antara masa lalu dan masa kini. Daya ingat menyadarkan akan eksisitensi diri yang berkelanjutan. Sikap “eling” sebagai kemampuan jiwa membuat tokoh Sumarni mampu bangkit dari belenggu kenangan buruk dengan anaknya dan terus melanjutkan hidup dengan perasaan optimis. Ia yakin masih memiliki kemampuan untuk terus bekerja meskipun kini hanya seorang diri.

Sedangkan Rahayu sebagai wanita Jawa yang berpendidikan tinggi, memiliki sikap eling sebagai kemampuan jiwa untuk tidak menjadi wanita yang pasrah kepada keadaan. Ia juga menjadi manusia sosialis yang memiliki sikap prihatin terhadap orang lain yang terlihat saat dia ingin membantu sekelompok penduduk yang akan digusur.

Eling sebagai kemampuan jiwa pada diri tokoh Sumarni dan Rahayu bergerak dalam wilayah yang berbeda. Jika tokoh Sumarni lebih melihat kemampuan jiwa adalah usaha untuk bangkit dari keterpurukan hubungan keluarga, maka tokoh Rahayu melihatnya sebagai upaya untuk membela kepentingan orang lain sebagai sesama manusia.

b. Eling sebagai Nilai Etika

Memiliki anak yang tidak patuh membuat tokoh Sumarni bisa saja tidak dapat mengendalikan dirinya, seperti pada waktu sedih, marah atau bingung. Tetapi sebagai orang Jawa yang memiliki sikap eling sebagai nilai etika, dia tetap berusaha memiliki kesadaran diri dan penguasaan diri. Walaupun Sumarni memiliki rasa sakit hati dan kecewa atas tindakan anaknya, dia tetaplah seorang ibu yang tidak akan pernah bisa terus-terusan menyimpan dendam dan sakit hati. Sikap eling sebagai seorang ibu membuatnya harus bisa meredam semua perasaan itu.

Sedangkan sikap eling  sebagai nilai etika yang ada pada diri tokoh Rahayu muncul ketika dia dihadapkan pada situasi yang sulit. Etika seorang anak ketika melakukan kesalahan yang bisa menyakiti hati orang tua adalah meminta maaf. Hal itu pula yang disadari oleh Rahayu setelah sekian lama. Sikap itu muncul ketika dia berada di penjara. Sikap eling yang ditunjukkan tokoh Rahayu adalah hormat kepada orangtuanya untuk memperbaiki hubungan menjadi lebih baik lagi.

Eling sebagai nilai etika pada tokoh Sumarni adalah bentuk usaha untuk menghindari terjadinya tegangan-tegangan atau konflik-konflik yang lebih besar dengan anaknya. Sedangkan pada tokoh Rahayu, eling sebagai nilai etika merupakan bentuk usaha untuk memperbaiki hubungan yang selama ini tidak baik (penyelesaian konflik).

c. Eling sebagai Tahap Penghayatan Religi

Kata “eling” dalam suasana religi ini dapat diartikan sebagai kesadaran yang tinggi dalam penghayatan keaagamaan yang intens.  Sastrowardoyo (1992: 112) menjelaskan keberadaan tahap “eling” ini dapat dicapai dengan melalui persiapan sikap serta penglihatan batin yang disebut neng (singkatan kata meneng) yang berarti diam dan ning (singkatan dari wening) yang berarti bening atau jernih. Sikap batin yang diam dapat diperoleh dari pengendalian penonjolan ke-aku-an yang terlalu besar.

Sikap eling berupa pendekatan kepada Yang Kuasa menjadi sebuah harapan bagi tokoh Sumarni. Dalam kebahagiaan maupun kesulitan, ia tetap mengingat Yang Kuasa sebagai sumber segala rezeki dan takdir. Akhirnya yang akan dicapai dalam kesadaran religius “eling” itu adalah iman yang teguh dengan hilangnya segala perasaan bimbang dan takut. Dari sikap batin yang dibawa tokoh Sumarni, keberadaan eling sebagai sikap batin paling inti merupakan bentuk kesadaran tertinggi yang bergantung kepada Ilahi yang mengendap dalam sanubari tokoh Sumarni.

Berbeda dengan tokoh Sumarni, ketika ditimpa musibah tokoh Rahayu bisa dikatakan merasa kehilangan keyakinan terhadap Tuhan yang selama ini memberinya kekuatan. Selama di penjara dan setelah keluar, dia berubah menjadi manusia yang kalah dan lemah. Selanjutnya, Rahayu yang awalnya memberontak menjadi anak yang penurut pada ibunya. Ia juga mulai terbuka dengan keyakinan dan ritual kebatinan ibunya yang dulu sangat dia tentang.

C.3. Tokoh Sumarni dan Rahayu sebagai Agen Perubahan

Tokoh Sumarni dan Rahayu dikonotasikan sebagai tokoh yang tidak diam, tetapi cenderung terus bergerak. Sebagai tokoh yang terus bergerak dapat dipastikan terjadi interaksi-interaksi dengan tokoh-tokoh lain. Hal itu secara sadar maupun tidak sadar mengakibatkan adanya perubahan pandangan mereka tentang nilai-nilai hidup Jawa.

Perubahan pandangan tokoh Sumarni dan Rahayu tentang nilai Jawa dipengaruhi oleh dua faktor yang paling dominan, yaitu faktor lingkungan dan faktor pendidikan. Faktor yang pertama, bertolak dari kekunoan pikiran tokoh Simbok membuat tokoh Sumarni tidak pernah sekolah, sehingga pelajaran yang ia dapat hanya dari simbok dan lingkungan sosial di sekitarnya. Lingkungan Pasar Ngranget kemudian menjadi tempat dimana tokoh Sumarni menjalin interaksi yang cukup intens dengan tokoh Teja dan Nyai Dimah. Dari kedua tokoh itulah ia kemudian mendapat inspirasi untuk melakukan kreasi dalam bekerja untuk merubah keadaan yang dirasa kurang ideal. Dari tokoh Teja dia kemudian bekerja sebagai kuli angkut pasar yang kemudian mendobrak tatanan awal bahwa wanita Jawa harus melakukan pekerjaan yang lembut dan ringan saja. Didasari atas keinginan untuk memiliki uang membuat Sumarni berubah dari wanita yang patuh pada pakem ilok ora ilok menjadi berubah.

Kehadiran tokoh Sumarni di lingkungan pasar juga memperkenalkan dia dengan pedagang sukses bernama Nyai Dimah. Dari Nyai Dimah-lah ia menemukan usaha lainnya untuk memperbaiki ekonomi keluarga, yaitu dengan cara berdagang. Dalam hal ini tokoh Sumarni berlaku sebagai manusia yang sangat percaya diri akan kemampuannya, meskipun sempat diragukan oleh simboknya. Dengan upaya lahir dan batin, dia yakin bisa merubah kondisi keluarganya untuk lebih baik secara ekonomi dan dihormati.

Sedangkan pertemuan Sumarni dengan tokoh Koh Cayadi memberikan inspirasi untuk melakukan usaha kebatinan yang lain di luar memuja leluhur, yaitu menziarahi makam di Gunung Kawi. Lingkungan sosial tokoh Sumarni pada akhirnya memang dapat memberikan pandangan baru baginya sekaligus menciptakan pergeseran-pergeseran nilai yang sudah ada. Lingkungan di mana tokoh Sumarni berada menjadi semacam pengekang eksistensinya sebagai wanita dan sekaligus menjadi tempat di mana ia menjadi wanita Jawa yang terus berkembang.

Faktor kedua, bertolak pada tokoh Sumarni yang masih memegang kuat tradisinya, sejak kecil tokoh Rahayu juga diperkenalkan ritual-ritual menyembah leluhur. Selain masih memegang tradisinya, tokoh Sumarni juga memiliki pandangan maju tentang pendidikan, karena itu sejak kecil pula tokoh Rahayu sudah disekolahkan. Interaksi Rahayu dengan lingkungan sekolah merupakan mekanisme awal yang dapat membentuk pandangannya tentang agama Jawa yang dianut ibunya dan agama Islam yang dia pelajari. Proses interaksi yang intens terjadi antara Rahayu dengan tokoh Pak Waji, guru agama di SD-nya. Proses interaksi Rahayu dengan tokoh Pak Waji menghasikan pola pikir dan pandangan baru tentang bagaimana cara berdoa sesuai tuntunan agama Islam. Selain itu, dia juga mendapatkan gambaran tentang perbuatan-perbuatan dosa menyekutukan Tuhan. Hal itulah yang kemudian menciptakan pertentangan-pertentangan pandangan antara dia dan ibunya.

Pada akhirnya pendidikan yang dia terima di sekolah menimbulkan adanya pergeseran-pergeseran nilai yang berbeda dengan yang diajarkan ibunya. Pendidikan juga menjadi semacam jurang pemisah, baik secara pola pikir maupun cara pandang nilia-nilai religi antara tokoh Rahayu dan Sumarni. Tokoh Sumarni buta huruf, tidak pernah mengenal pendidikan agama dari sekolahan, dan hanya tahu tentang leluhur dan Mbah Ibu Bumi Bapa Kuasa sebagai tempat memohon. Sementara tokoh Rahayu anak pintar yang sudah mendapatkan pendidikan agama.

C.4. Entrok sebagai Simbol Perubahan

Entrok adalah padanan dari BH atau kutang. Istilah Entrok dalam teks merupakan simbol yang menarik bagi peneliti untuk menemukan makna yang tersirat dalam teks tersebut. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Teeuw bahwa sebagai tanda, karya sastra merupakan dunia dalam kata yang dapat dipandang sebagai sarana komunikasi biasa. Oleh karena itulah, karya sastra dapat dipandang sebagai gejala semiotik (Teeuw, 1988:43).

Entrok dalam teks bisa diartikan sebagai simbol wanita sekaligus sebagai simbol perubahan. Hal itu didasarkan pada pembacaan atas teks secara mendalam. Entrok tersebut merupakan simbol wanita memiliki makna ganda, baik ketika ia berdiri sebagai simbol yang utuh dan independent tanpa dikaitkan dengan teks, maupun ketika dikaitkan dengan teks secara keseluruhan. Jika dikaitkan dengan teks, entrok tersebut adalah simbol peran wanita yang terbatas hanya di ruang domestik (privat). Simbol entrok dalam teks juga dapat dimaknai sebagai simbol perubahan peran wanita dari ruang domestik ke ruang publik dan dari wanita tradisional menjadi wanita modern.

Benda bernama entrok yang ada dihadirkan lewat tokoh Tinah dalam teks menjadi sebuah motif yang selanjutnya mampu merubah pandangan tokoh Sumarni tentang kerja keras. Keinginan yang kuat untuk memiliki entrok membuat tokoh Sumarni menjadi pekerja keras dengan mendobrak pakem ilok lan ora ilok sekaligus perlahan-lahan bisa lepas dari kemiskinan. Dalam perkembangan selanjutnya, tokoh Sumarni memiliki kapabilitas dalam menghadapi lingkungan sosial di sekitarnya dengan penuh kreasi. Pada akhirnya dia tumbuh menjadi wanita dengan pribadi yang ulet dan memiliki keinginan yang kuat untuk terus maju. Meskipun begitu, dia tetap tidak bisa sepenuhnya lepas dari sikap pasrah, nrima, ikhlas, dan sabar dalam menghadapi situasi tertentu sebagai laku wanita Jawa.

D. SIMPULAN

Berdasarkan analisis data dalam penelitian ini, maka peneliti mengambil empat kesimpulan, antara lain: (a) Struktur sastra dalam novel Entrok merupakan pendukung pencarian karakter dan proses terbentuknya pandangan hidup Jawa tokoh Sumarni dan tokoh Rahayu. Struktur sastra berupa tokoh, latar, alur, dan tema merupakan representasi yang menggambarkan proses terbentuknya karakter tokoh Sumarni dan tokoh Rahayu dan merupakan indikasi menuju perubahan pandangan hidup; (b) Proses terbentuknya pandangan hidup Jawa tokoh Sumarni dan Rahayu melalui dua tahap; pertama, pandangan hidup tokoh Sumarni dan Rahayu terbentuk dari proses interaksi di dalam keluarga. Bagi tokoh Sumarni, proses ini lebih dominan dibentuk oleh Simbok. Sementara bagi tokoh Rahayu lebih dominan dibentuk oleh Sumarni. Kedua, proses perubahan pandangan hidup tokoh Sumarni dan tokoh Rahayu terbentuk dari interaksi dengan tokoh-tokoh lain di luar keluarga; (c) Perubahan pandangan hidup Jawa tokoh Sumarni dan Rahayu mengonfigurasi keadaan sebelumnya yang dianggap kurang ideal. Hal itu memicu tokoh Sumarni dan tokoh Rahayu untuk mengonversi ke arah yang ideal bagi mereka; (d) Disadari maupun tidak disadari, pandangan hidup adalah aspek dinamis dalam menjalani kehidupan. Pandangan hidup juga mampu mengatur perilaku seseorang dalam batas tertentu sehingga seseorang dapat menyesuaikan perilakunya sendiri dengan perilaku orang-orang di sekitarnya.

Agus Budiawan, Surabaya, 18 Agustus 2011

DAFTAR PUSTAKA

Bertens, K. 1993. Etika. Jakarta: PT. Gramedia.

Budianta, Melanie, dkk. 2003. Membaca Sastra: Pengantar Memahami Sastra untuk Perguruan Tinggi. Magelang: Indonesia Tera.

Ciptoprawiro, Abdullah. 1992. Filsafat Jawa.  Jakarta: Balai Pustaka.

Damono, Sapardi Djoko. 1984. Sosiologi Sastra Sebuah Pengantar Ringkas.    Jakarta : Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan  dan Kebudayaan.

_________. 1997. Mengungkap dan Mengenal Budaya Jawa. Jakarta: Pradnya Paramita.

_________. 2002. Pedoman Penelitian Sosiologi Sastra. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.

Firdaus. “Politika Hukum di Indonesia (Kajian Dari Sudut Pandang Negara Hukum)”, Hukum Islam. Vol. 12 No. 10. September 2005.

Handayani, Christina S. 2004. Kuasa Wanita Jawa. Yogyakarta: LKiS

Harbi, Dhika. 2011. “Kondisi Masyarakat Indonesia Pada Masa Penjajahan dan Setelah Kemerdekaan”. http://dhika-harbi.blogspot.com. Selasa, 02 Agustus.

Hoerip, Satyagraha. 1982. Sejumlah Masalah Sastra. Jakarta: Sinar Harapan.

Jong, Suffridus de. 1976. Salah Satu Sikap Hidup Orang Jawa. Yogyakarta: Penerbit:  Kanisius.

Karim, M. Rusli. 1985. Dinamika Islam Indonesia. Yogyakarta: PT. Hanindita.

Kartodirdjo, Sartono. & Djoko Suryo. 1991. Sejarah Perkebunan Indonesia. Yogyakarta: Aditya. Media.

Koentjaraningrat. 1975. Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Djambatan.

_________. 1994. Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka.

Laurenson and Swingewood.  The Sociology of Literature. London: Journal of Sociology, August 1974.

Madasari, Okky. 2010. Entrok. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Magnis Suseno, Franz. 2001. Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafi Tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Mulder, J. A. Niels. 1973. Kepribadian Jawa dan pembangunan nasional. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

_________. 1999. Agama, Hidup Sehari-Hari Budaya; Jawa, Muangthai, dan Filipina (Terjemahan). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

_________. 2000. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada Press.

Pabichara, Khrisna. “Ketika Entrok Bicara”, http://dusunkata.blogspot.com, 13 April 2011.

Priyanto, Edi. “Ana Catur Mungkur”, http://mutiarabudaya.blogspot.com, 23 Juni 2011.

Ratna, Nyoman Kutha. 2004a. Penelitian Sastra: Teori, Metode, dan Teknik. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

_________. 2004. Paradigma Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

_________. 2007. Sastra dan Cultural Studies Representasi Fiksi dan Fakta. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Ratnawati, Sri. “Perempuan dan Ajaran Perenialis dalam Serat Wulang Putri”, Bahasa dan Seni: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Pengajarannya. Tahun 36. Nomor 1. Februari 2008.

Rauf, Maswadi. “Partai Politik dalam Sistem Kepartaian di Indonesia Antara Kenyataan dan Harapan”, Akbar Tandjung Institute, Jurnal Politik, Vol. 2, No. 2, Tahun 2006, hal. 11.

Ridwan. “Mistisisme Simbolik dalam Tradisi Islam Jawa”, Ibda`: Jurnal Studi Islam dan Budaya, P3M STAIN Purwokerto. Vol. 6, No. 1, Jan-Jun 2008, hal. 91-109.

Saputra, Ari. “Membaca Masa Lalu Lewat Entrok”, http://www.detiknews.com, 13 April 2011.

Sastrowardoyo, Subagio. 1992. Sekilas Soal Sastra dan Budaya. Jakarta: Balai Pustaka.

Semi, Atar. 1984. Metode Penelitian Sastra. Bandung: Angkasa.

Simuh. 2003. Islam dan Pergumulan Budaya Jawa. Jakarta: Penerbit TERAJU.

Smart, Ninian. Worldview, Crosscultural Explorations of Human Belief, Charles Sribner’s sons, New York, n.d. 1-2

Stanton, Robert. 2007. Teori Fiksi (terj. Sugihastuti dan Rossi Abi Al Irsyad). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Tasrif, S. 1981. Beberapa Hal tentang Cerita Pendek, dalam Lubis (Ed). Teknik Mengarang. Jakarta: Kurnia Esa.

Teeuw, A. 1980. Tergantung Pada Kata. Jakarta : Pustaka Jaya.

________. 1988. Sastra dan Ilmu Sastra, Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka

Thinker. “Kebudayaan dan Relasi Kekuasaan”, http://thinker-asratisme.blogspot.com, 02 Agustus 2011.

Thomas, F Wall. 2001. Thinking Critically About Philosophical Problem, A Modern Introduction, Wadsworth, Thomson Learning, Australia.

Wellek, Rene dan Austin Warren. 1990. Teori Kesusastraan. (Terj. Melani Budianta). Jakarta: PT. Gramedia.

_________. 1993. Teori Kesusastraan. (Terj. Melani Budianta). Jakarta: PT. Gramedia.

Zaimar, Okke KS. 2005. “Strukturalisme dan Psikoanalisa” makalah Pelatihan Kritik Sastra, 7-10 Desember 2005. Depok: Departemen Susastra Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.


[1] Hao juga merupakan bakti anak terhadap orangtua, yang dalam kata mandarin dirangkaikan dengan kata tua dan anak.


About this entry