Mancing Bersama Ernest Hemingway

1

Santiago membutuhkan waktu sekitar 87 hari berlayar seorang diri di teluk Meksiko untuk menangkap seekor marlin besar. Meskipun perahu kecil yang dinaikinya terseret, nelayan tua itu enggan melepaskan pancingannya. Setelah perjuangan selama tiga hari, marlin kelelahan dan menyerah. Karena tidak bisa dinaikkan ke perahu, Santiago hanya mengikatnya ke perahu. Selama perjalanan, darah marlin yang tercecer menarik hiu-hiu ganas yang kemudian memangsanya. Santiago mencoba sekuat tenaga menghalanginya, tapi upaya itu gagal dan hanya menyisakan tulang-belulang dan kepala marlin yang masih terikat di perahu ketika dia sampai di rumah.

Penggalan cerita di atas termaktub di dalam prosa fenomenal The Old Man and The Sea karya Ernest Hemingway. Novella (novel pendek) yang diterbitkan tahun 1952 itu boleh jadi terinspirasi dari hobinya memancing. Sosok nelayan tua Santiago pun sering diidentikkan dengan diri penulis sendiri. Terkait hal itu, Hemingway menekankan:

“No good book has ever been written that has in it symbols arrived at beforehand and stuck in. … I tried to make a real old man, a real boy, a real sea and a real fish and real sharks. But if I made them good and true enough they would mean many things”.

Pada kata-katanya Hemingway mencoba menekankan bahwa lelaki tua, seorang anak, laut, ikan (marlin), dan hiu yang ada dalam ceritanya benar-benar nyata. Meski begitu, sebagai karya sastra, kisah nyata dan kisah imajinatif posisinya menjadi kabur dan itu disadari oleh Hemingway. Oleh karena itu, dia membebaskan pembaca maupun kritikus untuk memberikan iterpretasi.

Sebagai bocah yang tumbuh di desa yang memiliki telaga cukup luas, hampir setiap hari libur sekolah – sering juga saat pulang sekolah dan sebelum mengaji – saya menghabiskan dengan mancing. Peralatan yang saya gunakan waktu itu masih sangat sederhana; sebilah bambu dengan seuntai senar yang diikatkan di ujungnya, pelampung menggunakan potongan sandal, dan hanya menggunakan satu mata pancing. Menggunakan peralatan seperti itu saya bisa mendapatkan ikan mujaer, nila, mas, betik, atau ikan gabus menggunakan umpan cacing.

er

Kesukaan saya mancing dan ikan tidak luntur sampai masuk ke universitas. Di kota memang cukup sulit menemukan teman yang memiliki hobi serupa, mengingat kebiasaan orang kota kalau tidak nongkrong di café ya kluyuran di mal. Tapi perlahan-lahan saya mulai bisa “meracuni” beberapa teman kuliah untuk ikut mancing dan sejauh ini cukup berhasil.

Lingkungan universitas mengenalkanku pada banyak orang dan banyak kisah. Namun, momen yang paling berkesan bagi saya tentu saja ketika berkenalan dengan Ernest Hemingway, seorang jurnalis dan penulis besar yang selain hobi berburu juga memiliki hobi mancing. Dia sudah menjadi reporter muda untuk The Kansas City Star (1971) pada usia 17 tahun meskipun hanya enam bulan, setelah itu dia bergabung dengan Corps Ambulans untuk bertugas di Italia pada Perang Dunia I. Setelah melalui berbagai hal dalam perjalanan hidupnya, jadilah Hemingway seorang penulis berpengaruh dalam sejarah sastra dunia.

er2

Semasa hidupnya (dia bunuh diri tanggal 2 Juli 1961 dengan menembakkan senapan ke kepalanya) pria kelahiran 21 Juli 1899 di Illinois, Amerika ini berhasil melahirkan beberapa karya monumental, seperti novel The Torrents of Spring (1925), The Sun Also Rises (1926), A Farewell to Arms (1929), To Have and Have Not (1937), For Whom the Bell Tolls (1940), Across the River and Into the Trees (1950), The Old Man and the Sea (1952), Adventures of a Young Man (1962), Islands in the Stream (1970), The Garden of Eden (1986), dan kumpulan cerpen Three Stories and Ten Poems (1923), In Our Time (1925), Men Without Women (1927),  The Snows of Kilimanjaro (1932) , Winner Take Nothing (1933),  The Fifth Column and the First Forty-Nine Stories  (1938), The Essential Hemingway (1947), The Hemingway Reader (1953), The Nick Adams Stories (1972), The Complete Short Stories of Ernest Hemingway (1976), Collected Stories (1995).

er1

Untuk menghargai Hemingway sebagai penulis yang memiliki hobi mancing, The Old Man and the Sea patut untuk dibaca. Karya ini juga bisa disebut sebagai masterpiace dari pecinta kucing ini, yang diberi ganjaran berupa penghargaan Pulitzer tahun 1953. Penhargaan tertinggi dia capai saat menerima Nobel Sastra tahun 1954, dimana Nobel mencatat penghargaan tersebut adalah “untuk kepiawaiannya dalam seni narasi, yang belum lama ini ditunjukkannya dalam Lelaki Tua dan Laut, dan untuk pengaruh penting yang diberikannya untuk gaya penulisan saat itu.”

Lelaki Tua dan Laut

Mengenai hobi mancing Ernest Hemingway, hampir tidak ada satu pun literatur yang mencatat kapan dia mulai menyukainya. Hanya saja ada kejadian dimana Hemingway disebut berusaha menangkap ikan saat diberi tugas menenggelamkan kapal-kapal Jerman di lepas pantai Kuba dan Amerika pada Perang Dunia II tahun 1941. Informasi tersebut memang tidak menyebut bahwa itu pertama kali Hemingway mulai menyukai kegiatan mancing. Namun, ketika membaca The Old Man and the Sea, saya seperti melihat Hemingway dalam sosok Santiago, nelayan tua berpengalaman, tangguh, dan pantang menyerah. Sedangkan saya di sini hanyalah pemuda yang ingin berlayar bersamanya untuk menangkap ikan-ikan besar, seperti muridnya Manolin.

The Old Man and the Sea mengisahkan ulang tentang perjuangan nelayan tua dengan seekor ikan marlin raksasa yang disebut sebagai tangkapan terbesar dalam hidupnya. Cerita berawal dari Santiago yang telah melewati 84 hari tanpa menangkap seekor ikan pun (kemudian disebutkan dalam cerita ternyata 87 hari). Dia tampaknya selalu tidak beruntung dalam menangkap ikan sehingga murid mudanya, Manolin dilarang orangtuanya berlayar dengan Santiago. Namun, sang murid tetap mengunjungi sang guru di gubugnya setiap malam untuk membantu menyiapkan peralatan. Santiago berkata pada Manolin bahwa di hari berikutnya dia akan berlayar sangat jauh ke tengah teluk untuk menangkap ikan dan dia yakin bahwa gelombang nasibnya yang kurang beruntung akan segera berakhir.

Maka di hari ke-85, Santiago berlayar sendirian, membawa perahu kecilnya jauh ke tengah teluk Meksiko. Dia mengatur kailnya, dan di siang selanjutnya, seekor ikan besar yang dia yakin adalah seekor marlin menggigit umpannya. Bukannya berhasil menarik ikan, perahu kecil Santiago yang justru ditarik oleh sang ikan raksasa. Dua hari dua malam lewat dalam situasi tersebut dan selama itu dengan susah payah si lelaki tua menahan tali jeratnya dengan tenaganya sendiri. Walaupun dia sangat kesakitan dan terluka dalam perjuangannya, Santiago merasakan rasa kasih, haru dan penghargaan untuk lawannya, kerap menyebut sang ikan sebagai saudaranya. Dia juga memutuskan bahwa karena martabat besar sang ikan, tak ada seorang pun yang layak untuk memakan ikan tersebut.

Di hari ketiga perjuangannya, sang ikan mulai mengitari perahu kecilnya, menunjukkan kelelahannya pada si lelaki tua. Santiago, sekarang telah kehabisan tenaga, mulai mengigau, dan hampir tidak waras, menggunakan seluruh sisa tenaga yang masih dimilikinya untuk menarik sang ikan ke sisi perahunya dan menikam sang marlin dengan sebuah harpun sekaligus mengakhiri perjuangan panjang antara si lelaki tua dan sang ikan.

Santiago mengikat bangkai sang marlin di sisi perahu kecilnya dan mulai berlayar pulang, berpikir tentang harga tinggi yang akan diberikan sang ikan di pasar ikan dan jumlah orang yang dapat menikmati hasil tangkapannya tersebut. Selama Santiago melanjutkan perjalanannya pulang ke tepi laut, ikan-ikan hiu mulai tertarik dengan jejak darah yang ditinggalkan sang marlin di air. Yang pertama adalah ikan hiu mako yang dibunuh Santiago dengan harpunnya, menyebabkan dia kehilangan senjata tersebut. Dia kemudian merakit sebuah harpun baru dengan mengikat bilah pisaunya ke ujung sebuah dayung untuk mengusir pergi hiu-hiu yang berdatangan selanjutnya. Lima hiu dibunuhnya dan banyak hiu lain yang akhirnya pergi. Di malam harinya hiu-hiu tersebut telah melahap habis seluruh bangkai sang marlin, meninggalkan hanya kerangka tulang punggung, ekor, dan kepalanya, di mana di kepalanya masih tertancap harpun. Santiago sangat sedih dan menghukum dirinya sendiri karena telah mengorbankan sang marlin, dan akhirnya sampai di tepian laut sebelum subuh keesokan harinya. Dia berjuang untuk berjalan menuju gubuknya, membawa tiang kapalnya yang berat di atas pundak. Setelah tiba di rumah, dia merebahkan diri di tempat tidur dan masuk ke dalam tidur yang panjang.

Keesokan harinya sekelompok nelayan berkumpul di sekeliling perahu dimana kerangka ikan masih terikat. Salah satunya mengukurnya sepanjang 18 kaki dari moncong ke ekornya. Bahkan para turis yang duduk di kafe sekitar situ salah menyangkanya sebagai ikan hiu. Manolin yang terus khawatir selama perjalanan si lelaki tua, menangis terharu saat dia mendapati Santiago sedang tertidur lelap. Anak laki-laki itu kemudian membawakan surat kabar dan kopi untuk si lelaki tua. Saat Santiago terbangun, Manolin berjanji untuk pergi menangkap ikan bersama-sama lagi dengan gurunya tersebut, dan saat kembali tidur, Santiago kemudian bermimpi tentang singa di pantai Afrika.

Terlepas dari kisah perjuangan nelayan tua untuk mengalahkan marlin raksasa, dalam karyanya tersebut banyak hal yang bisa diketahui pandangan Hemingway tentang laut, ikan, dan hobinya memancing. Ketika memandang laut, dia memberikan gambaran cara pandang yang berbeda antara nelayan muda dan nelayan tua:

(American author Ernest Hemingway with Pauline, Gregory, John, and Patrick Hemingway and four marlins on the dock in Bimini, 20 July 1935.)

“He always thought of the sea as ‘la mar’ which is what people call her in Spanish when they love her. Sometimes those who love her say bad things of her but they are always said as though she were a woman. Some of the younger fishermen, those who used buoys as floats for their lines and had motorboats, bought when the shark livers had brought much money, spoke of her as ‘el mar’ which is masculine.They spoke of her as a contestant or a place or even an enemy. But the old man always thought of her as feminine and as something that gave or withheld great favours, and if she did wild or wicked things it was because she could not help them. The moon affects her as it does a woman, he thought.”

Nelayan muda (dalam pandangan Hemingway) cenderung memandang laut sebagai sosok ‘maskulin’ yang dianggap sebagai saingan atau bahkan musuh ketika memberikan hal-hal buruk. Sedangkan pada pandangan nelayan tua, laut tak ubahnya seperti perempuan (feminin). Ketika laut memberikan keburukan, itu adalah pengaruh bulan. Bulan memang sangat penting di kalangan nelayan karena akan mempengaruhi pasang atau surutnya permukaan laut dan banyaknya ikan. Seperti laut, pasang-surutnya emosi perempuan juga dipengaruhi oleh datang(nya) bulan.

Bagi seorang nelayan (atau pemancing), ikan besar adalah primadona: “Fish, I love you and respect you very much. But I will kill you dead before this day ends.” Ikan besar selalu memberikan pelawanan maksimal sehingga menyajikan pertarungan sengit, dan dalam kondisi semacam ini kemungkinannya hanya dua; membunuh atau dibunuh: “Fish, I’ll stay with you until I am dead.”  Selain menjadi musuh, ikan juga bisa menjadi teman: “The fish is my friend too…I have never seen or heard of such a fish. But I must kill him. I am glad we do not have to try to kill the stars. Imagine if each day a man must try to kill the moon, he thought. The moon runs away. But imagine if a man each day should have to try to kill the sun? We were born lucky; he thought.

Dari beberapa ikan raksasa yang menjadi primadona para nelayan, marlin menjadi ikan raksasa yang dikenal memiliki perlawanan yang tangguh dengan ukurannya yang sangat besar, ujung mulut, ekor tajam, dan memiliki lompatan yang tinggi: “He remembered the time he had hooked one of a pair of marlin. The male fish always let the female fish feed first and the hooked fish, the female, made a wild, panic-stricken, despairing fight that soon exhausted her, and all the time the male had stayed with her, crossing the line and circling with her on the surface. He had stayed so close that the old man was afraid he would cut the line with his tail which was sharp as a scythe and almost of that size and shape. When the old man had gaffed her and clubbed her, holding the rapier bill with its sandpaper edge and clubbing her across the top of her head until her colour turned to a colour almost like the backing of mirrors, and then, with the boy’s aid, hoisted her aboard, the male fish had stayed by the side of the boat. Then, while the old man was clearing the lines and preparing the harpoon, the male fish jumped high into the air beside the boat to see where the female was and then went down deep, his lavender wings, that were his pectoral fins, spread wide and all his wide lavender stripes showing. He was beautiful, the old man remembered, and he had stayed.”

(This picture is from Peru where they went to catch the big Marlin for the movie.)

Seorang pemancing tidak menangkap ikan hidup-hidup untuk kemudian memeliharanya, atau kemudian membunuhnya dan berakhir dengan menjualnya sebagai makanan. Bagi nelayan, membunuh ikan adalah sebuah kebanggan dan itu dilakukan karena kamu adalah seorang nelayan (pemancing): “You did not kill the fish only to keep alive and to sell for food, he thought. You killed him for pride and because you are a fisherman. You loved him when he was alive and you loved him after. If you love him, it is not a sin to kill him. Or is it more?”

Kejadian dimana Santiago mebunuh hiu-hiu yang memangsa marlin yang sudah susah payah dia tangkap boleh jadi (pasti) terinspirasi dari kejadian di Bahama tahun 1935. Selama perjalanan memancing di Bahama itu Hemingway seperti orang kalap – tidak biasanya seperti itu – menembaki sekelompok hiu dengan senapan Thompson Submachine untuk menghentikan hiu-hiu itu memangsa tuna. Bukannya berhasil mengusir, darah yang berhamburan membuat hiu-hiu itu semakin ganas.

Prestasi Hemingway dalam memancing pernah dia ukir pada tahun 1938. Pada saat itu dia berhasil mencatatkan rekor dunia berhasil menangkap tujuh ekor marlin dalam satu hari. Dia juga menjadi orang pertama yang pernah menangkap ikan tuna raksasa dalam keadaan perahu yang rusak.

Hemingway Fishing Tournament

Diadakan di Marina Hemingway, 9 km sebelah barat dari Havana (Kuba), Hemingway International Billfishing Turnament diikuti oleh nelayan dari seluruh dunia untuk menangkap marlin dan ikan besar laut lainnya termasuk tuna dan wahoo, menggunakan pancing 50-pon. Turnamen ini pertama kali diadakan pada tahun 1950. Selama empat hari, para nelayan akan bertempur dengan ikan besar – seperti yang dilakukan Hemingway. Ini adalah turnamen tag-and-release.

(He is there somewhere.  This is Hemingways boat which has been preserved in Cuba)

Awalnya pada tanggal 26 Mei 1950, sebanyak 36 kapal nelayan terbaik dari Havana berlayar melalui saluran Castillo del Morro, terletak di pintu masuk pelabuhan Havana dalam mencari Gulf Stream. Salah satunya adalah “Pilar,” (yang saat ini disebut Q-Ship) milik Ernest Hemingway, yang ikut berpartisipasi dalam turnamen pertama mewakili Yacht International Club de La Habana.

Sekelompok nelayan mengusulkan untuk menamai turnamen itu dengan namanya sebagai penghormatan pada gairah Hemingway pada pertandingan besar dalam memancing. Bukan hanya setuju, Hemingway juga memenangkan tiga piala turnamen pertama.

Pada tahun 1959, Hemingway pindah ke Idaho, tetapi kembali ke Kuba pada tahun 1960 untuk menerima penghargaan di 11th International Tournament Hemingway, diadakan dimana sekarang dikenal sebagai Marina Hemingway.

(Photograph of Ernest Hemingway in Havana Harbor after catching a marlin.Included in the picture are Carlos Gutiericz, Ernest Hemingway, and SidneyFranklin. Others are unidentified.. Tahun 1934)

Pada tahun 1961 dan 1962 turnamen tidak diadakan karena terjadi ketegangan serius antara Kuba dan Amerika Serikat, puncaknya terjadi invasi Teluk Babi. Pada tahun 1963 turnamen kembali diadakan, tetapi hanya bertaraf nasional sampai tahun 1977. Pada tahun 1978, turnamen mulai mengundang peserta internasional.

Dalam perkembangannya pada tahun 1992, Hemingway International Yacht Club of Cuba (CNIH of Cuba), turnamen Hemingway telah menemukan inspirasi baru. Turnamen mempromosikan hubungan baik dengan klub memancing dan nelayan – yang mendorong partisipasi olahraga memancing dan menghabiskan waktu untuk melindungi lingkungan dan spesies.

(Some pictures of my grandfather Lou Jennings with Ernest Hemingway, they are mostly from Cuba during the filming of the Old Man and the Sea.)

Pada tahun 1997, dengan bantuan dari Billfish Foundation dan keterlibatan langsung dari Mr Ralph “Agie” Vicente, perwakilan dari Billfish Foundation for the Caribbean, HIYC Commodore Jose Miguel Diaz of Cuba Escrich memperkenalkan metode tag-and-release di turnamen Hemingway, yang telah membantu menyelamatkan ratusan billfish. Turnamen Ernest Hemingway International Billfish dianggap sebagai salah satu turnamen menangkap ikan besar air asin tertua di dunia.

Kepiawaian Ernest Hemingway dalam memancing juga dimanfaatkan oleh akademisi. Pada tahun 1934, Academy Managing Director Charles M.B. Cadwalader meminta bantuannya untuk sebuah proyek penelitian penting di perairan Kuba. Kepala dan ahli ikan dari akademi tersebut, Henry W. Fowler, memimpin Gulf Stream Marine Test 1934-1935 dan Hemingway, yang telah menjadi anggota Academy pada tahun 1929, bersedia turun tangan untuk membantu.

(Ernest Hemingway at Sea From a new book focusing on Papa’s beloved fishing cruiser, the Pilar)

Proyek penelitian itu meliputi mempelajari sejarah hidup, migrasi, dan klasifikasi marlin Atlantik, tuna, dan sailfish. Pada bulan Agustus tahun 1934, Fowler, Cadwalader dan Hemingway menghabiskan satu bulan di perahu Pilar Hemingway untuk menangkap, mengukur, dan mengklasifikasikan banyak tangkapan. Kesesuaian antara Cadwalader dan Hemingway setelah perjalanan terlihat dari hasil keberhasilan Fowler membuat klasifikasi yang akurat tentang marlin dari Samudra Atlantik. Lebih dari 40 surat antara Cadwalader, Fowler, dan Hemingway disimpan di arsip Academy, dan rumah Academy’s Ichthyology Collectio menyimpan beberapa ikan yang diteliti Hemingway.

Pada akhirnya, Ernest Hemingway tidak hanya dikenal sebagai penulis besar berpengaruh di dunia. Sebagai pemancing handal, dia dia juga memiliki pengaruh besar dalam kegiatan memancing bertaraf internasional dengan memperhatikan keberlangsungan lingkungan dan spesies. Selain itu, dia juga memiliki andil besar dalam ilmu pengetahuan di bidang yang dia kuasai, ikan marlin dan ikan-ikan besar laut lainnya. Mengetahui fakta tersebut, sebagai pecinta mancing (dan juga sastra), keinginan terbesar saya adalah mencing bersamanya. (*)

Agus Budiawan, 2010-2011

 

Sumber:

“Biography”. The Hemingway Resource Center. Diakses 25 Agustus 2013.

“Ernest Hemingway”, Ensiklopedia.com. Diakses 25 Agustus 2013.

“Ernest Hemingway held a world record in Marlin fishing!”. (2013). OMG Fact.com. Diakses 25 Agustus 2013.

Hemingway, Ernest. (1952). The Old Man and the Sea. New York: Charles Scribner’s Sons. hardcover: ISBN 0-684-83049-3, paperback: ISBN 0-684-80122-1.

“Hemingway Fishing Tournament”. (2012). Hemingwaycuba.com. Diakses 25 Agustus 2013.

“Michael Palin’s Hemingway Adventure: Cuba”. PBS. Diakses 25 Agustus 2013.

Story 25: “Ernest Hemingway’s Fish”. (2012). The Academy of Natural Sciences of Drexel University. Diakses 25 Agustus 2013.

“The Nobel Prize in Literature 1954”. The Nobel Foundation. Diakses 25 Agustus 2013.


About this entry