Fragmen 8: Senja di Kota Tanpa Nama

IMGP0960

Aku ingin menceritakan padamu tentang senja. Di kota-kota yang tak pernah sedikitpun ingin kuberi nama. Boleh kau sebut aku semacam pria dengan cita rasa melankolia buta; karena meminjam cerita pada senja. Tapi benar kuingat, pada senja yang lalu, kau sempat protes karena aku ingin mengibaratkanmu seperti senja.

“Semua kekasih mengibaratkan kekasihnya seperti senja, lalu apa bedanya?”

Lalau, di suatu sore – di tepian kota yang tak ingin kuberi nama – aku berjalan di tepi pantai dengan deburan ombak dan angin. Ada sepasang kekasih menunjuk-nunjuk senja keemasan yang mengapung di batas cakrawala. Aku pun ingat kata-katamu. Mungkin dia ingin  mengibaratkan kekasihnya seperti senja. Cahaya keemasan di awan-gemawan dan langit yang ungu.

Aku tak ingin mengibaratkanmu senja.

Keesokan harinya, dan lagi-lagi di suatu sore di kota biarlah tetap tanpa nama, aku duduk di depan toko makanan siap saji. Makanan dari Amerika yang disesuaikan dengan cita rasa Indonesia. Lagi-lagi aku melihat sepasang kekasih menunjuk ke arah senja yang terselip di antara gedung-gedung dan menara. “Inda sekali, seperti kamu…,” mendengar itu si perempuan memukul manja bahu lelakinya.

Cahaya emas berkilat-kilat di kaca jendela gedung-gedung bertingkat. Membias di papan-papan reklame. Membias di kaca-kaca sepion kendaraan yang mengular. Membias di jalan-jalan aspal. Membias di lampu-lampu. Membias di gelas-gelas kosong di atas meja. Membias selaksa lukisan dewa. Aku tak ingin mengibaratkanmu senja.

Malam telah turun di kota tanpa nama. Lampu-lampu mulai nyala memanjang. Di seberang jalan toko makanan siap saji itu terdapat toko buku. Meskipun agak malas, aku akhirnya menyeberang juga. Dari atas jembatan layang, aku melihat wajah kota; penuh warna. Tapi di sepanjang jembatan yang mulai berkarat, kutemui satu-dua tunawisma menengadah, sekadar meminta sekeping-dua keping rupiah.

Inikah wajah lain senja?

Udara dingin kemudian menampar wajah saat kubuka pintu toko. Aku mulai berjalan pelan sambil meneliti tanda di atas rak-rak buku. Aku menyelinap di antara deretan. Menyelinap. Menyelinap lagi. Sampailah aku berdiri di depan sebuah rak buku. Aku tak pernah tertarik dengan buku yang masih tersegel, jadi sebisa mungkin harus kudapatkan buku yang sudah terbuka; yang benar-benar bisa kubaca sebelum menentukan pilihan untuk membelinya.

Aku harus mengibaratkanmu seperti apa?

Setelah meneliti buku satu per satu. Kudapati juga buku yang tampak kusam dan kusut dari buku lainnya, beberapa sudutnya sudah lungset dan tertekuk. Tak bersegel. Karena tak ada tempat duduk untuk membaca – jelas karena itu toko buku dan bukan perpustakaan – maka kubaca beberapa halaman yang telah kupilih dengan masih tetap berdiri:

“Kekasihku tercinta,

Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja–dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap? Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu lewat di jauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu persatu. Mestinya ada juga lokan, batu yang berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang yang berkeretap pada buih yang bagaikan impian selalu saja membuat aku mengangankan segala hal yang paling mungkin kulakukan bersamamu meski aku tahu semua itu akan tetap tinggal sebagai kemungkinan yang entah kapan menjadi kenyataan.

Kukirimkan sepotong senja ini untukmu Kekasihku, dalam amplop yang tertutup rapat, dari jauh, karena aku ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar kata-kata. Sudah terlalu banyak kata di dunia ini Alina, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa. Aku tidak akan menambah kata-kata yang sudah tak terhitung jumlahnya dalam sejarah kebudayaan manusia Kekasihku.

Kukirimkan sepotong senja untukmu Kekasihku, bukan kata-kata cinta. Kukirimkan padamu sepotong senja yang lembut dengan langit kemerah-merahan yang nyata dan betul-betul ada dalam keadaan yang sama seperti ketika aku mengambilnya saat matahari hampir tenggelam ke balik cakrawala.

Kekasihku yang manis, Kekasihku yang sendu. Keindahan berkutat melawan waktu dan aku tiba-tiba teringat padamu. “Barangkali senja ini bagus untukmu,” pikirku. Maka kupotong senja itu sebelum terlambat, kukerat pada empat sisi lantas kumasukkan ke dalam saku. Dengan begitu keindahan itu bisa abadi dan aku bisa memberikannya padamu.”[1]

Setelah membaca itu, tiba-tiba aku ingin memotong senja untukmu juga. Aku ingat kau tak ingin diibaratkan senja. Maka biarlah kau menjadi senja yang sesungguhnya, karena pengibaratan hanya akan menjadikanmu tak lagi tunggal, utuh. Biarkan esok, di sebuah sore, aku bergegas menuju pantai dan kukerat sepotong senja dengan mata pisau. Lalu kumasukkan dalam kartu pos dan mengirimkannya padamu.

Kukembalikan buku itu ke tempatnya semula. Aku tidak berniat membelinya. Lalu aku keluar, memasang earphone hape, menekan layar play, dan aku pun berjalan sepanjang trotoar kembali pulang. Musik mengalun lembut di telingaku, di tengah keriuhan deru kendaraan dan klakson metromini. Musik terus mengalun lalu sampai pada lirik aku mencintai seorang perempuan yang tidak pernah ada.[2] Aku mulai ragu melangkah. Aku mencintai perempuan yang tak pernah ada. Lalu akan kuberikan kepada siapa jika kukerat sepotong senja?

Aku mencintai perempuan yang tak pernah ada. Atau jika benar dia ada, mungkin dia sedang duduk di tepi pantai di kota lain tanpa nama – duduk bersama kekasihnya yang lain, atau mungkin sedang sendiri mencintai lelaki yang tak pernah ada. Ya, seperti itulah, jika belum menjadi kenyataan maka semuanya masih bersandar pada kemungkinan. Tapi kenyataannya sekarang adalah, jika benar ada, kau tak pernah memberiku kesempatan mengerat sepotong senja dan memberikannya padamu.

Kau tak ingin diibaratkan seperti senja. Karena itu sekarang aku menjadi curiga kau sudah berubah wujud menjadi senja itu sendiri. Kau kini berwujud cahaya jingga di mega-mega merona keungu-unguan; menjadi keindahan yang tak lagi bisa kusentuh. Senja adalah semacam perpisahan yang mengesankan.[3]

-di sudut kota tanpa nama-


[1] Potongan ini diambil dari cerpen “Sepotong Senja untuk Pacarku”, karya Seno Gumira Ajidarma (1993). Ada sedikit editan, termasuk nama “Kekasihku” yang sebenarnya adalah tokoh bernama “Alina”. Semoga tidak menyinggung penulis aslinya.

[2] Diambil dari cerpen “Senja di Pulau Tanpa Nama”, karya Seno Gumira Ajidarma (2004/2005). Judul “Senja di Kota Tanpa Nama” pada tulisan ini pun terinspirasi dari cerpen tersebut.

[3] Diambil dari cerpen “Senja dan Sajak Cinta” karya Seno Gumira Ajidarma. Cerita ini pun terinspirasi dan beberapa baris nenibjan dari cerpen Seno, “Sepotong Senja untuk Pacarku”.


About this entry